
Arfian senang karena Echa akhirnya pulang. Dengan begitu ia tak perlu lagi bertemu dengan pria bernama Raja itu. Rahel tersenyum, mengelus punggung Arfian lembut.
"kak Ar, ku rasa kau perlu istirahat. pasti punggung mu sangat sakit."
"hum..tapi sentuhanmu membuat ku merasa lebih baik."
"kak Ar, jangan mulai deh." Rahel mencubit pinggang Arfian.
"hahaha..iya. boleh buatkan aku teh?"
"humm..tapi nanti ya, setelah aku mengganti pakaian Echa."
Rada yang mendengar itu langsung tersenyum, meletakkan piring berisi buah diatas meja depan mereka.
"biar mamah yang gantikan baju Echa. kau buatkan teh saja buat arfian." Ucapnya.
"baiklah."
Arfian tersenyum kepada Rada yang mengacungkan jempolnya. Wanita paruh baya itu begitu ingin Rahel dan Arfian segera menikah. Dengan begitu ia akan tenang, Echa akan memiliki orangtua lengkap. Rahel sangat baik juga lembut, bahkan menyayangi Echa dengan tulus.
Di dapur nampak Sena sedang membuat teh juga. Wanita itu sedikit menggerutu karena kesal Rega yang terus saja menyuruh ini itu dari sedari tadi.
"menyebalkan. bahkan teh saja dia tak bisa buat."
"ada apa? kenapa kau begitu kesal?" Tanya Rahel.
Mengambil cangkir lalu teh dan gula. Sena menghela nafas panjang.
"Rega benar-benar membuatku seperti pembantu." Keluhnya.
"loh, kenapa begitu? jangan berpikir seperti itu. sudah tugas seorang wanita bukan melayani kekasihnya, hanya membuat teh kok marah-marah." Goda Rahel sambil tertawa pelan.
Sena kembali menghela nafas. Ya, jika pria itu macam Arfian di layani pun bukan masalah. Rega beda lagi, dari tadi hanya duduk didepan komputer sambil bermain game. Mau makan minta di ambilkan lalu harus disiapi pula. Dan sekarang pria itu meminta Sena membuatkannya teh hangat.
Mendengar keluhan Sena membuat Rahel semakin tertawa.
"humm... sebaiknya, kau jangan beri gula kalau begitu?"
"lalu apa?"
Sena mengikuti arah pandang Rahel. Ia tersenyum lebar, sepertinya ide itu tak buruk baginya. Dengan semangat dia membuat teh baru, menyendok bubuk berwarna putih itu sebanyak 3 sendok teh.
"rasakan ini." Ujarnya.
"hahha.. sudah-sudah, apa kau ingin meracuni nya." Rahel menghentikan Sena yang akan menambah kembali bubuk itu kedalam gelas.
__ADS_1
"terimakasih kak." Ujarnya lalu segera pergi untuk memberikan pelajaran pada Rega sipemalas yang hanya bermain game seharian ini.
Arfian tersenyum tipis melihat Rahel yang kembali dengan membawa secangkir teh hangat juga sekotak kue kering.
"humm..kenapa kau terus tersenyum seperti itu? apa kau mencampur kan sesuatu pada teh nya?" Curiga Arfian sambil memicingkan matanya.
"jangan menuduh seenaknya." Rahel duduk di samping Arfian.
Arfian pun menyeruput teh nya. Manisnya pas, Rahel memang sangat tahu apa yang di sukai Arfian. Semua yang di buatnya begitu terasa pas di lidah pria ini.
Tapi, apa yang terjadi di kamar Rega? Pria itu memuntahkan teh yang hampir ditelannya. Mendelik tajam kepada Sena yang tertawa terbahak-bahak. Wanita itu sangat puas sekarang.
"Sena, kau..uhukk...apa ini?" Rega merasa mual karena rasa teh yang sangat aneh.
Gurih seperti rasa penyedap makanan. Sena mencebikkan bibirnya seraya berkata ketus.
"siapa suruh kau main game terus."
"ayolah..aku hanya ingin menyelesaikan ini saja." Ujar Rega, sambil terus memandangi layar komputer dengan serius.
Sena mendengus. Bahkan pria itu tak peduli dengan apa yang baru saja di lakukannya. Tak marah ataupun menghentikan permainannya.
"kau menambah micin? kau pikir aku ini anak micin apa?" Seru Rega tanpa melihat Sena sedikit pun.
"kau pikir aku sejenis bumbu dapur?" Rega berucap santai.
Inilah yang membuat Sena kadang kesal terhadap Rega. Pria ini terlalu santai bahkan terlihat tak peduli jika sudah di hadapkan dengan game online.
...*******************...
Raja duduk dengan tenang didepan Haruka. Wanita itu meletakkan kotak kecil berwarna merah di atas meja. Matanya sama sekali tak menatap Raja, kepalanya terus menunduk.
"aku kembalikan." Lirihnya.
Raja mengerutkan keningnya. Mengambil kotak itu lalu membukanya. Menarik napas dalam begitu melihat cincin permata yang dulu dia berikan pada Haruka.
"cincin itu aku kembalikan, karena ku rasa kak Raja tak lagi mau bersama ku."
Raja diam. Kenapa di saat Haruka mengembalikan cincin ini hatinya merasa takut kehilangan. Pria yang masih memakai seragam dokternya itu membuka suara.
"apa kau menyerah?"
Haruka mengangkat wajahnya, memandang Raja dengan wajah bingung.
"kau bilang akan melakukan apapun untuk membuat ku mencintaimu. kenapa kau menyerah begitu saja." Lanjut Raja.
__ADS_1
Haruka memalingkan wajahnya. Memang dulu saat Raja mengatakan bahwa dia memiliki cinta pertama yang masih tersimpan dihatinya, dengan lantangnya Haruka berkata akan membuat Raja mencintainya dan melupakan cinta pertama nya.
Tapi, semua itu menjadi mustahil saat dengan jelas dia melihat sendiri bahwa pria yang di cintainya masih saja berharap untuk mendapatkan cintanya.
Membuat Haruka merasa bahwa dirinya harus mundur dari apa yang dia inginkan.
"kakak yang membuat ku melakukan itu." Ujar Haruka pelan.
Raja diam, memang ia sudah salah.
"jadi...kau benar-benar ingin berpisah dariku?" Tanyanya kemudian.
Haruka menelan ludahnya. Menatap Raja tanpa ragu lagi.
"karena berada di samping kak Raja sama saja dengan membuat luka di hatiku. kakak terus saja memikirkannya meskipun sedang bersamaku."
Perkataan Haruka memang ada benarnya. Raja jadi berpikir bahwa dirinya memang sudah sangat egois. Lagipula dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak membuat Rahel menjauh lagi dari hadapannya.
Rahel sudah bersama Arfian sekarang, jika dia mencoba untuk memisahkan keduanya sudah dipastikan Rahel akan membencinya.
Raja mengakui bahwa dirinya sangat lah tidak berpendirian. Hatinya selalu saja berubah-ubah setiap kali melihat Rahel.
Rasa ingin memiliki wanita itu sungguh lah besar, tapi melihat Haruka yang sudah berusaha selama ini pun membuatnya ragu untuk meninggalkannya.
...*****************...
Hanum berdiri di depan rumah Arfian. Mengepalkan tangannya saat melihat Rahel dan Arfian yang berdiri di balkon kamar. Kedua orang itu nampak bahagia.
Arfian memeluk Rahel dari belakang, menopang dagunya di bahu sempit wanita itu.
"jika mengingat seperti apa kita dulu, rasanya aku masih tak percaya bisa bersama mu hari ini." Gumam Arfian.
Rahel mengelus tangan Arfian yang melingkar di perutnya.
"humm...aku merasa jika semua ini adalah mimpi." Rahel sedikit terkejut saat Arfian tiba-tiba memutar tubuhnya menjadi saling berhadapan.
Rahel menyenderkan tubuhnya pada pagar balkon, sementara kedua tangan Arfian berada disisi kanan dan kiri memenjarakan dirinya.
Mereka saling menatap satu sama lain. Menyelami perasaan masing-masing, jantung keduanya berdebat kencang. Wajah Arfian semakin mengikis jarak diantara mereka.
Perlahan Rahel menutup matanya. Merasakan bibirnya yang terasa dingin.
Hanum yang melihat itu semakin terbakar emosi. Berjalan meninggalkan tempat itu dengan marah.
...*****************...
__ADS_1