
Echa dan Leon bermain bersama seharian. Kedua anak kecil itu begitu akur, Echa persis seorang kakak yang terus mengajak bermain bocah berusia 2 tahun ini.
Saat ini mereka tengah berada di rumah Hanum. Atas permintaan Echa, yang ingin terus bersama Leon. Arfian tak kuasa menolak meskipun tahu jika Hanum mereka keberatan dengan kehadiran mereka.
Trak...
Arfian menoleh lalu tersenyum kaku kearah Hanum yang baru saja kembali dari dapur. Wanita meletakkan gelas minuman di atas meja dengan tidak sopan.
"Huuuhh... merepotkan saja. putrimu membuat ku kesal. ia manja dan menyebalkan persis ibunya." Dengus Hanum.
Arfian hanya tersenyum tak enak. Hanum terlalu blak-blakan membuat Arfian tak tahu harus menanggapinya seperti apa.
"dia hanya anak kecil." Ujar Arfian.
"ck...tetap saja. aku tak suka melihatnya karena persis dengan Rena. bahkan wajah itu mengingatkan ku pada nya." Decih Hanum tanpa sadar jika Arfian kini memandangnya dengan tatapan kesal dan marah.
Pria ini tak bisa lagi menahan emosinya. Kesabarannya hampir habis, Hanum terus saja melontarkan kata-kata yang tak pantas terhadap Echa sehingga Arfian marah.
"Echa putriku. jangan sekali-kali kau mengatakan dia mirip dengannya. Echa hanya seorang anak kecil yang tak mengerti apapun. kenapa kau terus saja melampiaskan kebencian terhadap nya." Ujar Arfian dengan marah.
Ia lalu berdiri, tak memperdulikan Hanum yang menatapnya. Arfian merasa jika keputusannya untuk menikahi Hanum meskipun hanya sebuah perjanjian adalah hal yang sangat salah. Ia tak boleh melanjutkan rencananya gila ini jika tidak maka Echa pasti akan menjadi pelampiasan Hanum karena kesalahannya dan Rena.
"Echa, ayo kita pulang." Arfian menggendong Echa lalu pergi begitu saja.
Leon yang menangis karena tak ingin di tinggalkan pun sama sekali tak di gubris olehnya. Hanum terdiam, terkejut atas apa yang dilakukan Arfian.
Pria itu begitu marah karena dirinya yang terus saja menyinggung Echa.
Hanum menghela nafas panjang, sama sekali tak ada niat untuk menahan Arfian untuk tetap tinggal. Justru ia merasa lega karena akhirnya dua orang itu pulang tanpa harus repot-repot mengusirnya.
Arfian mendudukkan Echa di kursi samping kemudi, mengecup keningnya sekilas lalu menutup pintu mobilnya. Ia berlari berputar untuk masuk. Hatinya merasa kasihan terhadap Echa, anak sekecil ini harus merasakan di benci seseorang. Sungguh tak adil baginya.
Arfian tahu betul Hanum membenci Rena dan dirinya, tapi tak sepantasnya wanita dewasa itu melimpahkan kebenciannya kepada Echa yang tak tahu apapun.
"Daddy, kenapa ibu Leon membenci Echa?" Tanya Echa membuyarkan lamunannya.
Arfian mengelus rambut Echa sayang.
"siapa bilang, ibu Leon tak membenci Echa."
"Daddy bohong. dari tadi ibu Leon melotot terus pada Echa. Echa pegang mainan Leon saja selalu di larang." Adunya.
Arfian tersenyum miris, meskipun Echa masih kecil tapi dia sudah mengerti mana orang yang baik terhadap dirinya dan mana yang tidak. Menyesali perbuatannya karena tanpa berpikir panjang sudah membuat keputusan seperti ini.
Seharusnya Arfian berpikir dulu, apa wanita yang dia ajak kerjasama akan menyayangi Echa atau tidak. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar Rada tak lagi menjodohkan dirinya dan Sena.
"uumm..." Arfian bergumam pelan, tak tahu harus menjawab apa.
Perasaan seorang anak lebih peka dari orang dewasa biasanya. Dia tak bisa pungkiri jika Echa pasti menyadari bahwa Hanum tak menyukainya.
...*****************...
Liliana menyiapkan sarapan pagi untuk Ben, ia melirik Rena yang tengah menyeduh kopi. Dua wanita itu saling melihat lalu memberikan kode satu sama lain begitu mendengar suara Ben dari ruang tamu.
Pria itu sepertinya baru bangun dan langsung mencari keberadaan Rena.
__ADS_1
"aku di dapur." Seru Rena, meletakkan gelas kopinya di atas meja.
Liliana membuka kertas putih yang berisi bubuk persis gula halus. Tersenyum tipis ke arah Rena lalu segera memintanya untuk memanggil Ben.
"aku akan mencuci piring, kau layani Ben."
"uumm...apa kau yakin? aku takut."
"ck..lakukan saja."
"tapi..."
"dia ayah putri mu kan? seorang ayah macam Ben tak pantas hidup."
Rena sedikit ragu, ia berjalan menuju ruang tamu. Takut jika apa yang di lakukannya akan membuat dirinya dalam masalah besar. Meskipun Liliana bilang semua akan baik-baik saja, ia tetap merasa tak yakin.
"Ben.." Panggilnya pelan.
Ben tersenyum, berjalan menghampiri Rena.
"kemana saja, pijat aku sebentar." Ben duduk di kursi lalu mengangkat kakinya keatas meja.
Menarik lengan Rena agar duduk di sampingnya. Tangan Rena perlahan terangkat, memijit pundak Ben.
"aku sudah buatkan kopi."
"uuumm..." Ben memejamkan matanya saat di rasa pijatan Rena begitu nyaman.
"biar aku ambil..humm..."
"jangan, tetap pijat." Ben menahan tangan Rena agar tak menghentikan kegiatannya. "ana, bawakan kopi nya." Teriak Ben kemudian.
"ini sayang..." Liliana duduk di pangkuan Ben, membuat pria itu langsung membuka matanya.
"sudah cukup." Ben meminta Rena berhenti memijat.
Rena menatap kedua insan yang tengah bermesraan di depan matanya. Hatinya tak lagi secemburu dulu, justru sekarang ia merasa jika Ben begitu brengs*k di matanya.
"Ben, apa kau tak merindukan Echa?" Pancing Rena, hanya ingin tahu apa pria itu menyayangi putrinya atau tidak.
Ben melihat Rena, ia tak langsung menjawab. Menyesap kopinya sedikit.
"untuk apa merindukannya." Ujar Ben membuat Rena mengepalkan tangannya.
Liliana menghela nafas.
"kau tak menyayanginya?" Tanya Liliana.
Ben tertawa pelan. Ia mengelus pipi Liliana.
"sayang, aku bukan tak merindukannya. aku hanya merasa belum siap saja."
Jawaban Ben selalu saja begitu. Ia belum siap menjadi seorang ayah. Apa seberat itu mengakui darah dagingnya sendiri.
"sudahlah, aku harus segera bersiap." Ben berdiri, meninggalkan kedua wanita itu.
__ADS_1
Ia harus segera berangkat ke kantor. Rena dan Liliana hanya diam memperhatikan bagaimana jalan Ben yang sedikit sempoyongan. Sepertinya obat itu sudah mulai bereaksi.
"lihat saja, perlahan dia akan menerima ganjarannya." Desis Liliana.
...****************...
Echa mencium pipi Arfian. Gadis kecil itu semangat karena mulai pagi ini ia sudah kembali ke sekolah.
"Bu Wanda. saya titip Echa." Ujar Arfian pada guru Echa.
Guru wanita yang mengenakan hijab itu mengangguk. Ia menuntun Echa, mengajaknya masuk kedalam.
Arfian sudah menitipkan Echa pada gurunya, ia akan bekerja selama Echa sekolah. Memberikan nomor ponselnya agar saat Echa pulang sekolah nanti gurunya bisa menghubungi dirinya.
Sebelum tiba di kantor, Arfian sengaja menjemput Hanum. Wanita itu sepertinya butuh tumpangan karena pagi-pagi sekali sudah menelepon meminta Arfian untuk mengantarkan nya kekantor tempat dia bekerja.
Sebenarnya jarak sekolah Echa dan rumah Hanum lumayan jauh, Arfian butuh waktu satu jam untuk sampai kesana. Di tambah lagi harus mengantarkannya kekantor, jika di hitung secara keseluruhan maka Arfian butuh waktu 2-3 jam untuk kembali ke kantornya.
"masuklah." Arfian membuka pintu depan, ia melihat Hanum sudah berdiri di pinggir jalan depan rumahnya.
"kau terlambat, ini sudah jam 8 lewat." Ujar Hanum seraya masuk kedalam.
Arfian menarik nafas panjang,ia sudah berusaha secepat mungkin untuk tiba di sini. Hanum sama sekali tak menghargai usahanya.
"Hanum, aku tahu kau tak menyukai Echa."
"kau tahu dengan jelas bukan."
"jadi.. kurasa, kontrak antara kita jangan di lanjutkan. aku tak mau Echa terluka karena sikap mu."
Hanum berdecih pelan. Ia tak terima, Hanum sudah berencana untuk berhenti kerja agar bisa merawat Leon. Jika pernikahan kontraknya di batalkan maka semua akan kembali sia-sia. Leon harus tinggal di panti asuhan lagi. Hanum tak menginginkan itu.
"setelah kau memberikan harapan padaku sekarang kau menghancurkan semua. kau persis dengan dirimu 6 tahun yang lalu."
Arfian mengeryit, ia tak bermaksud begitu. Melirik Hanum tanpa memperhatikan jalanan.
"maafkan aku Hanum, tapi...."
"awas...Arfian.." Pekik Hanum.
Arfian yang terkejut langsung menginjak rem. Menghembuskan nafas lega begitu melihat orang yang akan di tabraknya baik-baik saja.
Buru-buru keluar untuk meminta maaf. Hanum pun ikut keluar. Nampak sang korban berdiri sambil memegang dadanya.
"kau baik-baik saja.?" Tanya Arfian.
Orang itu membuka matanya, menatap Arfian dengan wajah ketakutan. Tubuhnya gemetar karena terkejut.
"aku..."
"Rahel..." Hanum menyipitkan matanya, memastikan jika wanita yang akan tertabrak itu adalah Rahel.
"Bu Hanum."
Rupanya mereka satu tempat kerja. Rahel adalah seorang office girl di kantor Hanum.
__ADS_1
Arfian menatap wanita itu. Entah kenapa melihat tatapan matanya membuat Arfian terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya, terutama di bagian dada. Jantungnya berdetak lebih kencang, seolah terhipnotis oleh sorot mata wanita bernama Rahel itu.
...****************...