Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 75


__ADS_3

Semua anggota keluarga nampak bahagia, apalagi Echa. Dari bangun tidur langsung bergelayut manja pada Rahel. Rada sudah menjelaskan semuanya, jika Rahel adalah mommy barunya. Tentu saja Echa senang mendengarnya, ia tak hentinya memanggil Rahel dengan sebutan mommy.


"mommy, sini." Ajaknya sambil menarik Rahel agar duduk di sampingnya.


"mommy, cobalah." Menyodorkan semangkuk sereal yang di buatkan Sena untuknya.


"sayang, ini untuk mu. makanlah." Rahel menyendoknya lalu menyuapkannya pada Echa.


Arfian tersenyum melihat Echa yang begitu bahagia. Ia melihat layar ponselnya. Sedikit menarik nafas lalu segera kembali kekamar. Malam tadi mereka tiba di rumah begitu larut, karena Echa yang terus merengek ingin pulang jadinya mereka tak menginap di rumah Rada.


Rahel yang merasa jika Arfian pergi pun segera berbalik untuk melihatnya. Ia ingat, belum menyiapkan baju untuknya.


"Sayang, mommy siapkan baju kerja Daddy dulu ya."


"iya mommy."


Arfian duduk di ranjang dengan gelisah. Meremat jemarinya lalu kembali melihat ponselnya. Pesan yang tertera disana membuatnya tak bisa tenang. Bagaimana pun ia mengenalnya dan tak mungkin mengabaikannya. Di tambah Leon pasti sedang ketakutan saat ini karena berada di rumah sakit dengan orang lain.


"kak Ar, ada apa?" Rahel mengusap pundak Arfian lembut, mengambil ponselnya lalu melihat pesan itu.


"jadi.. Hanum di rumah sakit?"


"humm...apa sebaiknya kita kesana? kau tahu kan aku sudah begitu membencinya." Arfian mengusap wajah nya kasar.


Rahel tersenyum.


"kita kesana bersama." Keputusan Rahel membuat Arfian mau tak mau harus ikut.


Mereka pun segera bersiap. Di rumah sakit nampak Leon berada di pangkuan seorang pria yang sangat mirip sekali dengannya, wajahnya begitu sama.


Pria itu berdiri, memberikan salam pada Arfian dan Rahel.


"Hanum, memintaku mengirim pesan padamu. kau Arfian?" Ujarnya.


"iya. apa yang terjadi?"


"sore itu aku hendak mengambil Leon. karena aku merasa sudah terlalu lama menelantarkan putraku sendiri. tak mengira jika aku akan menemukan Hanum dalam keadaan tak sadarkan diri. Leon menangis kencang di sampingnya."


Rahel menahan nafas mendengarnya, begitu juga Arfian. Mereka baru tahu jika ayah Leon masih hidup dan nampak luar biasa. Postur tubuhnya bahkan sangat tinggi melebihi Arfian. Hanya saja dari segi wajah, Rahel akui jika Arfian memang lebih tampan.


"aku membawanya kemari, dia baru sadar dan langsung meminta ku untuk menghubungimu. kau mantan kekasihnya dulu, aku tahu itu." Lanjut pria itu.


Arfian hanya diam. Melihat Leon yang nampak nyaman tidur di gendongan pria ini. Mereka memang ayah dan anak, wajahnya begitu mirip sampai-sampai seperti sebuah gambar yang di fotokopi.


"temui dia sekali saja. mungkin dia ingin mengatakan sesuatu." Pintanya.


Rahel tahu jika ayah Leon masih hidup, tapi tak tahu jika pria ini begitu mempesona yang besar. Dia sangat tenang juga sama sekali tak terlihat seperti pria br*ngsek. Selama ini Hanum sering menceritakan jika mantan suaminya adalah pria yang tak bertanggung jawab juga sangat kasar.


Kenapa justru berbanding terbalik seperti ini. Hanum yang selalu terlihat kejam di banding pria ini.


"Rahel, kenapa diam. ayo kita temui Hanum." Arfian tak ingin menemuinya sendirian.


Mereka pun masuk kedalam ruangan dimana Hanum di rawat. Wanita itu tersenyum tipis kepada keduanya. Sama sekali tak terlihat kemarahan atau kebencian dari sorot matanya.


Sementara itu, pria yang tadi berbicara dengan Arfian dan Rahel langsung pergi dengan membawa Leon bersamanya.

__ADS_1


"maafkan aku Hanum. putra ku akan ku bawa." Gumamnya.


...*******************...


Echa cemberut karena tak di ajak oleh orangtuanya. Ia di titipkan pada Rega.


"paman, aku mau eskrim."


"hei, ini sudah yang ke 4. jangan-jangan, kita beli sosis bakar saja."


Echa merajuk, bersiap untuk menangis. Hanya itulah cara ampuh yang biasanya akan membuat Rega mengalah hingga menuruti semuanya.


"oke-oke..kita kesana sebentar. ada balon besar." Rega menunjuk pada tukang balon yang ada di seberang jalan.


Echa tentu saja langsung tergiur apalagi saat melihat balon yang berbentuk kepala kucing berpita itu. Rega pun segera menggendong Echa dan menyebrangi jalan.


Memilih balon yang di inginkan Echa. Saat hendak menyebrang kembali Echa meminta Rega untuk berhenti, gadis kecil itu melambaikan tangannya pada Leon.


Rupanya Leon sedang ada di sekitar tempat mereka bermain saat ini.


"uncle, itu kakak." Tunjuk Leon.


Pria itu terdiam, menarik nafas dalam lalu memasukkan Leon kedalam mobil dengan paksa. Meskipun Leon berontak dia tak peduli. Tetap melajukan mobilnya melewati Echa dan Rega yang terdiam bingung.


"kenapa Leon bersama paman asing?" Tanya Echa.


"mana paman tahu. mungkin itu ayah barunya. kan ibunya tak jadi mommy Echa, mungkin saja ibu Leon mencari ayah baru untuknya." Ucap Rega asal menebak saja.


"seperti Daddy menjadikan kak Rahel mommy Echa, begitu?"


"ya.. begitu lah. sudahlah ayo kita pulang saja."


...*****************...


"maafkan aku Arfian." Hanum meminta maaf dengan tulus. "Rahel, kau adalah sahabat terbaik yang kumiliki selama ini."


Rahel menggeleng cepat, menyentuh tangan Hanum yang begitu dingin.


"Hanum, sebenarnya kau sakit apa?"


Hanum tersenyum, sampai kapanpun ia tak akan memberitahu siapapun tentang penyakitnya. Cukup dirinya yang tahu dan merasakan betapa tersiksanya dirinya.


"aku hanya kelelahan." Jawabnya dengan suara lemah. "dimana Leon?"


"dia di luar bersama mantan suami mu." Jawab Rahel.


Hanum langsung duduk dengan cepat, memegang tangan Rahel kuat.


"tidak, jangan biarkan dia bersama Leon. Arfian tolong aku, dia akan membawa Leon pergi. ku mohon, jangan biarkan Leon di bawa olehnya." Mohon Hanum dengan berurai airmata.


Arfian tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi melihat Hanum yang seperti ini dia yakin jika pria itu pasti telah mengatakan sesuatu pada Hanum sebelumnya.


Ia pun bergegas keluar untuk melihat apakah pria itu masih ada atau tidak.


"suster, pria yang tadi disini pergi kemana?" Tanyanya pada seorang perawat yang memang sedari tadi terus bolak-balik kekamar Hanum.

__ADS_1


"maaf pak, saya tidak melihatnya pergi kemana."


Arfian langsung berlari keluar untuk mencari, mungkin saja dia ada di kantin atau tempat lainnya. Berputar-putar mencari keberadaan Leon dan ayahnya membuat Arfian lelah dan akhirnya menyerah.


Kembali kekamar Hanum dengan tampang lesu.


"maafkan aku Hanum." Lirihnya.


Mendengar itu Hanum langsung menangis sejadinya, Rahel pun segera memeluk untuk menenangkan.


"dia pasti sudah membawanya pergi sekarang." Isaknya.


"sebenarnya kemana dia akan pergi? kau tahu rumah mantan suamimu bukan?" Tanya Arfian.


Hanum menggeleng pelan.


"dia tinggal di Korea selama ini. Tadi mengatakan bahwa Leon akan di ajak bersamanya karena istrinya tak bisa memberikan dia keturunan." Jelas Hanum.


Arfian mengepalkan tangannya, bagaimana pun dia sudah sangat menyayangi Leon. Menganggapnya seperti putra baginya, mendengarnya yang di manfaatkan seperti ini membuatnya marah.


Kenapa di saat di butuhkan saja pria itu baru mencari Leon. Arfian sungguh merasa kesal, jika tahu kejadiannya akan seperti ini maka tadi dia akan membawa Leon bersamanya.


Rahel terus memeluk tubuh Hanum.


"Hanum, tenanglah dulu. Mungkin saja saat ini mereka masih berada di kota ini."


"tidak Rahel, dia memiliki pesawat pribadi. tak mungkin jika terus berlama-lama di sini."


Dengan mendengar itu saja Arfian dan Rahel mengerti, sepertinya pria itu bukanlah orang sembarangan.


Hanum menghapus airmatanya. Ia tersenyum tulus melihat cincin di jari manis Rahel.


"apa kalian sudah memutuskan untuk menikah?"


"hum...mungkin bulan depan." Jawab Arfian sedikit ketus, takut jika Hanum mencoba menggagalkan nya.


Hanum mengelus tangan Rahel.


"aku ikut senang. selamat ya Rahel." Ujarnya membuat Rahel mengeryit. "jangan menatap ku seperti itu, aku sadar terlalu banyak berbuat salah. kalian berbahagia lah. ku harap bisa menghadirinya jika tuhan mengizinkan."


Arfian tersenyum, beginilah yang dia inginkan. Hanum mengerti dan menerima semaunya. Tanpa harus dirinya melontarkan kata-kata menyakitkan. Dengan begini tak akan ada lagi kata saling menyakiti.


Hanum menarik nafas dalam.


"Arfian, jika kau bisa tolong sampaikan pada Leon. aku mencintainya." Ujar Hanum lalu terbatuk begitu parah.


Rahel langsung berteriak panik memanggil dokter. Hanum masih saja tersenyum meski pun merasakan sakit. Matanya perlahan menutup dan kesadarannya telah hilang.


Arfian memeluk Rahel yang menangis. Pasti merasa sedih, sudah lama mereka berteman juga hidup bersama-sama. Tentu saja Rahel sudah menyayangi Hanum seperti saudaranya sendiri.


"bagaimana dokter?"


"humm... keadaannya kritis. kanker di dalam rahimnya sudah stadium akhir."


Rahel semakin menangis, tak pernah tahu jika Hanum menderita selama ini. Penyakit ini sungguh berbahaya bagi seorang wanita. Arfian terkejut, tak pernah menyangka jika Hanum menyembunyikan segalanya begitu rapat.

__ADS_1


Dibalik sikapnya yang egois dan kasar, wanita ini rupanya memiliki sisi lain di dalam dirinya.


...********************...


__ADS_2