
Ben memeluk Rena dari belakangnya. Ia tak bisa kehilangan untuk keduakalinya. Rena mengepalkan tangannya. Menangis dalam diam. Selalu seperti ini, Ben sulit di mengerti. Pria ini kadang begitu kejam terhadapnya tapi selalu membuatnya nyamannya dalam kondisi apapun.
"maafkan aku." Bisik Ben.
Tubuh Rena bergetar, pertahanannya runtuh. Entah kenapa setiap kali Ben mengatakan kata maaf dia selalu luluh.
Perlahan memutar tubuhnya, saling berhadapan. Ben mencium kening Rena cukup lama.
Liliana berdecih pelan, menyaksikan semuanya dengan hati bergejolak. Melihat Ben dan Rena seperti ini membuatnya semakin marah. Kebenciannya terhadap Ben bertambah, berawal dari sejak di selingkuhi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan pria brengs*k itu.
"Ben, kita lihat Echa ya? kau ayahnya."
Ben menghela nafas berat. Menggenggam tangan Rena erat.
"Rena, aku tidak bisa. kau tahu kan, anak itu hadir saat aku belum siap menjadi ayah."
"jadi.. sampai sekarang kau belum siap juga?"
Ben menarik nafas dalam-dalam. Ia mencintai Rena tapi belum bisa menerima Echa sebagai putri nya. Meskipun anak itu putri kandungnya tapi Ben benar-benar tak ingin menerimanya. Ia masih belum bisa menerima kehadirannya.
Melihat Ben yang tak mengatakan apapun lagi Rena sudah paham. Rasanya menyesal karena telah membuat keputusan seperti ini. Memilih seorang pria yang bahkan tak bisa menerima kehadiran putrinya sendiri. Kecewa, itulah yang di rasakan Rena sekarang.
Apa tuhan sedang menghukumnya sekarang, memperlihatkan kepadanya bahwa pria yang selama ini dia elukkan dan di anggap lebih baik dari Arfian ternyata begitu buruk.
Rena melepaskan genggaman tangan Ben.
"aku mengerti." Ujarnya. "Ben, aku harus pergi."
"tapi Rena, kau mau kemana?"
"aku hanya ingin mencari udara segar." Ucapnya lalu pergi.
Ben hanya mengangguk. Dia tak akan melarang atau pun menahan Rena untuk pergi. Wanita itu pasti akan kembali lagi, Ben yakin.
Airmata Rena tak hentinya menetes. Dia terus berjalan menyusuri jalan yang begitu sepi. Ini sudah hampir petang, ia berjalan tanpa tujuan sama sekali. Hatinya kacau balau karena Echa dan Ben. Keadaan Echa membuatnya menyesal karena telah menelantarkannya selama ini. Sering menitipkannya di panti asuhan hanya demi bertemu Ben. Kini, penyesalan itu semakin besar dia rasakan.
Tak banyak kenangan manis yang dia berikan pada gadis kecil itu.
Rena menghentikan langkahnya saat melihat mobil Arfian terparkir di salah satu cafe. Dengan penuh harap ia melangkahkan kakinya menuju cafe tersebut, mencoba mencari keberadaan Arfian.
Matanya tertuju pada meja paling pojok. Dia melihat Arfian tak sendiri. Ada seseorang yang amat dia kenal duduk di depannya. Seseorang yang dulu pernah dia singkirkan demi mendapatkan cinta Arfian.
Tanpa sadar kakinya terus bergerak hingga kini ia berada tepat di antara keduanya.
"Rena? apa yang kau lakukan disini?" Tanya Arfian.
Rena bukannya menjawab, dia justru memasang wajah terkejutnya.
"Rena..." Wanita yang duduk di depan Arfian sama terkejutnya, selama ini mereka tak pernah bertemu.
__ADS_1
Rena melihat Arfian lalu wanita itu.
"kalian..kenapa bisa bersama?" Tanyanya.
Arfian tak menjawab, ia menarik kedua tangan wanita di depannya lalu di genggam dengan erat. Rena melihat itu dengan alis bertaut. Seluruh perhatiannya terpusat pada tangan Arfian.
"jangan... bilang kalian kembali bersama?" Shock Rena. "Hanum..kau..."
"ya..bisa di bilang seperti itu." Wanita yang di panggil Hanum itu tersenyum tipis.
Rena menatap Arfian meminta penjelasan. Ia mencoba menahan diri untuk tidak marah. Melihat Hanum dan Arfian kembali bersatu membuat hatinya tak terima itu.
Hanum adalah mantan pacar Arfian saat sekolah dulu. Mereka berpacaran hingga lulus sekolah, lalu hadir lah Rena. Mereka sepupu jauh yang tak terlalu dekat. Rena tak bisa melihat Hanum lebih beruntung darinya. Dengan segala cara mencoba memfitnahnya agar Arfian memutuskan wanita itu. Lalu dengan kesempatan yang ada dia mencoba menarik perhatiannya.
Saat itu, Ben baru saja memutuskan hubungannya. Rena bingung karena di dalam perutnya ada kehidupan lain. Tak ada cara lagi selain membuat Arfian simpati. Pria yang di sakiti kekasihnya akan mudah di rayu bukan.
"Hanum dan aku akan menikah." Jawab Arfian membuat Rena hampir pinsan mendengarnya.
"A..apa?"
Hanum berdiri tepat di samping Rena. Ia berbisik sangat pelan hingga Arfian pun tak dapat mendengarnya.
"dulu kau memfitnah ku dengan begitu kejam, sekarang kau akan menerima balasannya."
Hanum menyenggol pundak Rena sengaja lalu menarik Arfian untuk pergi. Rena mematung ditempatnya, kejadian bertahun-tahun lalu berputar kembali di kepalanya. Di mana dia dengan teganya menjebak Hanum, seolah-olah wanita itu selingkuh dari Arfian.
Begitu berada di luar cafe, Arfian melepaskan tangan Hanum yang memegang lengannya.
Hanum berdecih. Ia mengetuk kaca mobil Arfian keras.
"apa kau begitu percaya padanya hingga sampai sekarang kau masih mengingat nya? justru dia yang benar-benar menyelingkuhi mu." Ucap Hanum begitu Arfian membuka kacanya.
Setelah mengatakan itu Hanum pergi. Arfian diam, meremat setir mobilnya.
...*********************...
Rega duduk termenung memandang hamparan bunga mawar yang begitu indah di hadapannya. Sedangkan Sena yang berada di sampingnya hanya diam dengan kepala menunduk.
Mereka tengah berada di sebuah taman bunga saat ini. Setelah nyonya Rada mengetahui kebenarannya, mereka menjadi bingung bagaimana cara menghadapi wanita tua itu. Bahkan Rada meminta keduanya untuk tidak menampakan dirinya di hadapan nya sebelum Rega dan Sena memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Rada merasa bingung. Di satu sisi dia ingin membuat Arfian bahagia dengan menjodohkannya pada Sena, tapi di sisi lain ia pun menginginkan kebahagiaan bagi Rega.
"Rega..apa yang kita lakukan sekarang?" Tanya Sena bingung.
Rega mengalihkan perhatiannya pada Sena. Ia meremat jemarinya, rasanya tak bisa kehilangan wanita ini. Bagaimana pun juga ia mencintainya.
"kita pertahankan cinta kita." Akhirnya Rega memilih untuk menggenggam Sena dan tak akan melepaskannya.
Sena tersenyum. Menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan leganya, akhirnya cintanya bisa berlabuh pada tempat yang tepat.
__ADS_1
Rega menarik sebelah pundak Sena lalu memposisikan wanita itu bersandar di dadanya.
"aku mencintai mu. maafkan aku jika pernah membuat mu terluka."
Sena tak menyangka jika Rega akan bersikap seperti ini. Sangat lembut dan penuh perhatian. Perlahan Rega memeluk tubuh yang lebih kecil itu dengan lembut.
"mau kan jadi kekasih ku?"
Sena mengangguk lalu membalas pelukannya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap Rega yang tersenyum lebar padanya. Keduanya merasa sangat bahagia.
...******************...
Dengan lembut Rada mengusap Surai Echa. Tatapannya sendu, ia sangat merindukan senyum dan juga suara gadis kecil itu.
"Echa, nenek kangen. kapan kau akan bangun sayang.." Lirihnya.
Setiap hariRada begitu tersiksa menahan rindu yang semakin membuncah. Ini sudah satu bulan lebih, tapi Echa masih saja terbaring tak menunjukkan tanda-tanda apapun.
Tangan kanannya terus mengelus rambut Echa sementara tangan kiri menggenggam tangannya.Rada tak kuasa menahan tangisnya, hampir setiap hari ia meneteskan airmatanya.
"Echa.. bangun lah nak."
Sebuah pergerakan kecil pada jari tangan Echa membuat Rada langsung menghapus airmatanya. Melihat seksama apa yang tadi di lihatnya adalah kenyataan.
"uumm..." Sebuah gumaman kecil dari bibir Echa dan matanya yang terbuka perlahan membuat Rada terbelalak kaget.
Dengan tangan gemetar ia menyentuh pipi Echa.
"sayang..."
"Daddy..." Suara lemahnya terdengar sangat jelas.
Rada langsung menekan tombol hijau yang ada di samping ranjang pesakitan Echa. Memanggil dokter dengan suara tergesa.
"Daddy..."
Hanya nama itu yang terus di lontarkan Echa. Seolah hanya kata itu saja yang ada di ingatannya.
"Daddy? Echa mau ketemu Daddy?" Tanya Rada.
Gadis kecil itu memicingkan matanya, menatap Rada dengan pandangan yang sulit di artikan. Keningnya mengerut lalu bibir mungilnya berujar pelan.
"nenek siapa?"
Rada tertohok. Kaget setengah mati karena Echa tak mengenali dirinya. Tatapan matanya mengatakan semuanya dengan jelas, seolah melihat orang asing. Echa hanya terus mengatakan kata Daddy.
"ini nenek..kau tak ingat?"
"aku mau Daddy. Daddy...aku mau Daddy."
__ADS_1
Gadis itu berontak hingga seorang dokter dan suster masuk keruangan. Mencoba menenangkan. Rada menutup mulutnya menahan tangis.
...*******************...