Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 86


__ADS_3

Kini Arfian, Rahel dan Leon sudah berada di bandara. Ketiganya nampak bahagia karena sebentar lagi mereka akan kembali ke Indonesia. Apalagi Leon, bocah itu terus saja bicara sedari tadi. Mengatakan jika dia sangat merindukan Hanum. Lama tak bertemu membuatnya sangat merindukan sosok wanita itu.


"jadi.. jika kau bertemu dengan bundamu nanti, apa yang akan Leon lakukan?" Tanya Rahel.


Leon merentangkan tangannya lalu memeluk tubuhnya sendiri seolah sedang memeluk tubuh lain.


"tentu saja memeluk bunda." Jawabnya dengan nada ciri khas anak kecil.


Arfian dan Rahel tak bisa menahan senyum melihatnya.


"ponselku mati, pinjam ponselmu. dari kemarin kita belum menghubungi mamah." Ujar Arfian.


Rahel menggelengkan kepalanya, menunjukkan ponselnya yang sama-sama mati. Karena kemarin terlalu senang bisa bertemu dengan Leon mereka melupakan semuanya. Hingga ponselnya pun di biarkan mati begitu saja.


"kakak Echa juga kangen kok." Seru Leon kemudian. Dia juga merindukan Echa, hanya saja kalimat yang disampaikannya tidak terlalu benar. Hingga Arfian terkekeh pelan.


"oh..kau merindukan kak Echa? kak Echa juga pasti merindukan Leon." Kata Rahel.


"hampir lupa, bagaimana kabar putri kita." Lirih Arfian.


"Echa pasti baik. kan bersama mamah."


"kau benar."


Mereka tak tahu saja, jika saat ini semuanya tengah dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sehingga Rada harus terpaksa menitipkan Echa sementara di rumah temannya. Karena Hanum yang di rawat di rumah sakit.


Saat Sena pulang maka Echa akan di jemput.


Sebentar lagi mereka akan segera pulang, Arfian tak sabar ingin bertemu dengan Echa begitu pula Rahel. Gadis kecil itu sudah terlalu lama tinggal bersama Rada.


Jam 7 lewat beberapa menit, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi akan segera lepas landas.


Rahel berdoa semoga Hanum bisa bertahan sampai mereka tiba. Leon harus bertemu dengannya, mereka tak boleh terpisahkan begitu saja.


Hanum membuka matanya, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Ia melirik Rada yang tertidur di sampingnya dengan menggunakan tangannya sebagai bantalan.


"bibi..." Panggilnya pelan.


Rada mengangkat kepalanya lalu tersenyum begitu melihat Hanum yang sudah terbangun.


"apa kau haus?"


Hanum menggeleng pelan.


"bibi, tolong panggilkan dokter." Pintanya dengan suara pelan.


"apa ada yang sakit?" Tanya Rada panik.


Lagi-lagi Hanum menggelengkan kepalanya.


"aku hanya ingin bertemu dokter sebentar." Lirihnya.


Hanum merasa sangat aneh dengan perasaannya, bahkan kepalanya terasa begitu berat tapi tidak sakit. Matanya menyipit begitu pandangannya sedikit mengabur.


Rada buru-buru bangkit dan segera memanggil dokter seperti yang di inginkan Hanum.

__ADS_1


Seperginya Rada, wanita berwajah cantik itu menghela nafas panjang. Lalu memejamkan matanya.


Sebuah cahaya yang begitu terang menyilaukan pandangannya. Ia seperti melihat banyak sekali orang di depan sana. Perlahan berjalan untuk memastikan.


Pandangannya melebar kala melihat Rahel yang sedang menggendong Leon.


"Rahel.. Leon.." Panggilnya keras.


Tapi Rahel dan Leon sepertinya tak mendengar panggilan itu. Hanum berlari tapi tenaganya terasa begitu lemah, kakinya tiba-tiba sulit di gerakan.


"Leon..." Pekiknya lalu ia terjatuh entah kemana.


Samar-samar terdengar suara ribut di sekitarnya. Bahkan sangat jelas, seperti seseorang yang memanggilnya.


"Hanum.. bibi mohon.. kuatkan dirimu." Isak Rada di dalam pelukan Rega.


Sena pun ikut menangis, melihat bagaimana dokter yang tengah berusaha membuat Hanum kembali dari masa kritisnya. Sebuah alat kejut berulang kali di tempelkan di dadanya.


Rupanya, saat Rada memanggil dokter. Hanum tak sadarkan diri.


...******************...


Kris mencoba untuk mendapatkan Leon kembali dengan cara apapun. Ia bersiap untuk menyusul Arfian. Tak akan membiarkan Hanum mendapatkan hak asuh atas Leon.


Haeun sudah melarangnya, tapi Kris tetaplah pria yang berkepala batu. Jika ingin mendapatkan sesuatu maka cara kotor sekalipun akan ia lakukan.


"jangan merampas kebahagiaan orang lain." Ujar Haeun.


"kau tak mengerti Haeun. Leon harus tetap bersama ku." Kris menepis tangan Haeun yang mencoba menahannya.


Penerbangan mereka tak begitu jauh, hanya berbeda beberapa jam saja. Kris yakin jika Leon akan dia dapatkan kembali.


Di rumah sakit keadaan semakin genting. Dokter segera meminta Rada dan yang lainnya untuk menunggu di luar.


Rada menggelengkan kepalanya keras, ia tak mau meninggalkan Hanum.


"saya mohon dok, biarkan saya tetap di sini." Mohonnya dengan berurai airmata.


Dokter yang memang tak tega melihatnya hanya bisa menghela nafas panjang, membiarkan Rada untuk tetap tinggal sementara Rega dan Sena menunggu di luar.


Rada tak hentinya merapalkan doa. Airmatanya terus mengalir.


Hanum sama sekali tak bergeming saat tubuh di beri rangsangan. Matanya tetap saja tertutup rapat bahkan detak jantungnya semakin melemah.


Dokter berusaha sekeras mungkin untuk menyelematkan nyawanya.


Setengah jam berlalu, nampaknya semua usaha yang dilakukan sia-sia. Rada menjerit histeris memeluk tubuh kaku Hanum.


"tidak...ini tidak benar. tolong lakukan sesuatu." Teriaknya.


Dokter dan perawat yang ada di sana hanya diam. Melepas semua alat yang menempel di tubuh Hanum.


"maaf Bu, kami harus segera membawanya keruang..."


"tidak.. Hanum masih hidup." Rada mendorong perawat itu.

__ADS_1


Rega segera masuk begitu mendengar keributan di dalam. Berdiri kaku di ambang pintu melihat semuanya.


"Rega, katakan pada Arfian. cepat kembali Hanum butuh Leon." Ujar Rada, menghapus airmatanya kasar lalu kembali memeluk tubuh Hanum.


"maaf pak, tolong bawa ibu Rada. Karena kami harus segera mengurus jenazahnya." Pinta perawat itu dengan suara pelan.


Rega sempat tak percaya tapi ia segera melakukannya. Menarik Rada kedalam pelukannya. Mendekapnya erat agar tak melakukan apapun.


"jangan..kenapa kalian membawanya. putranya akan segera tiba." Jerit Rada.


Rega memejamkan matanya, memeluk tubuh Rada erat.


"mamah, sudahlah."


Sena menggigit bibirnya, kenyataan sepahit ini pasti akan membuat siapapun terluka. Bagaimana nanti dengan Leon begitu tiba. Rada saja sudah sehancur ini.


...****************...


Hampir malam, Arfian dan Rahel tiba juga di rumah. Meletakkan tubuh Leon hati-hati di atas kasur. Mereka masih belum mendapatkan kabar apapun untuk saat ini. Hanya saja ada yang aneh, kenapa keadaan rumah nampak sepi.


Bukankah Rada berjanji akan menunggu Leon di sini bersama Hanum. Arfian pun meminta Rahel untuk menghubungi Rada melalui telepon rumah.


Rada terduduk lemas di kursi. Baru saja kembali dari pemakaman umum.


Nampak jelas jika dirinya begitu terpukul dengan kepergian Hanum. Meski awalnya mereka tak dekat tapi beberapa bulan tinggal bersamanya membuat Rada tak bisa melupakan kenangan-kenangan rentang Hanum.


Sena mengelus lengan Rada lembut.


"mah, minumlah." Menyodorkan segelas air putih.


Rada menggeleng pelan.


"di mana Echa?"


"Echa sudah tidur." Sena meletakkan gelasnya di atas meja. "kak Ar dan kak Rahel apa masih belum kembali ya?" Tanya Sena begitu melihat Rega yang berjalan ke arah mereka.


"Ponselnya..." Kalimatnya terputus karena dering telpon.


Kring...kring...


Rega langsung berjalan menuju telpon. Berharap jika Arfian yang menghubungi mereka.


"kak Rahel..." Seru Rega begitu mendengar suara Rahel dari seberang sana.


Rada yang mendengar Rega menyebut nama Rahel pun segera bangkit, merebut telponnya dengan cepat.


"Rahel..kemarilah cepat." Pintanya tanpa basa-basi lalu menutup telponnya.


Rahel mengeryit, lalu melihat Arfian.


"mamah meminta kita kerumahnya sekarang."


"tapi Leon sudah tidur."


"ummm...kalau begitu, kak Ar saja kesana. biar aku tetap disini. besok baru menyusul." Usul Rahel.

__ADS_1


Arfian mengangguk setuju. Meskipun sebenarnya dia merasa lelah tapi tak ingin membuat Rada menunggu, hingga dengan cepat ia segera pergi.


...**************...


__ADS_2