
Rahel duduk di ruang tamu dengan perasaan takjub. Ruangan yang begitu luas dan sangat indah. Semua barang dan hiasan yang ada di sini sepertinya sangat mahal. Tak mengira jika Arfian sekaya ini. Dulu Arfian memang anak orang berada tapi begitu orangtuanya meninggal semua hartanya habis di sita bank.
Lalu bagaimana cara pria ini bangkit hingga bisa seperti ini. Rahel sudah terlalu lama tak bertemu dengannya jadi tak tahu seperti apa perjalanan hidup Arfian sebelum hari ini datang.
"ekhem..." Arfian berdeham.
"ah..kak Ar." Rahel malu sendiri ketahuan tengah melihat-lihat semuanya. "uumm..ya, untuk apa meminta ku kemari?"
"hanya butuh teman saja."
"butuh teman?" Kening Rahel mengerut. "lalu dimana Echa? sebaiknya kak Ar meminta Bu Hanum saja yang kesini. jika Bu Hanum tahu kita seperti ini dia akan salah paham."
Arfian tersenyum. Dari dulu Rahel tak berubah, ia selalu memikirkan Hanum. Merasa bodoh karena baru sadar sekarang bahwa Rahel rupanya lebih baik dari wanita itu.
"kau pasti tahu jika Hanum tak menyukai Echa." Ucap Arfian.
Rahel diam, tentu saja karena Hanum sendiri sering mengatakan hal itu padanya. Bahkan dia berniat untuk memisahkan Echa dan Arfian. Bagaimana Rahel bisa menyimpan rahasia besar itu. Jika dikatakan pada Arfian itu artinya dia mengkhianati Hanum.
"itu..aku tak tahu pasti." Jawab Rahel.
Arfian tersenyum tipis.
"Echa sedang sakit sekarang, dia di rawat. aku merasa takut kehilangannya. dia segalanya bagi ku." Lirih Arfian.
Rahel sama sekali tak terkejut mendengar Echa sakit karena Hanum sudah memberitahunya, dia menanyakan keberadaan Echa tadi hanya sebagai basa-basi saja. Dia tak ingin Arfian tahu kalau Hanum sering mengatakan segalanya pada dirinya. Apalagi tentang niat buruknya terhadap Echa.
"kak Ar, apa aku boleh melihatnya?"
Arfian menarik nafas dalam-dalam. Ia menganggukkan kepalanya.
"tentu saja, aku akan mengajakmu nanti. tunggu sebentar, aku akan berganti baju." Arfian beranjak dari duduknya.
Rahel melihat wajah Arfian sangat lesu, merasa sangat khawatir padanya.
Arfian dengan cepat mengganti bajunya, buru-buru kembali menemui Rahel di ruang tamu.
"apa kak Ar sudah makan?" Tanya Rahel.
Arfian menggeleng pelan, sama sekali tak punya selera untuk makan. Rasanya dia tak lapar dan hanya memikirkan Echa saja. Rahel menghembuskan nafasnya.
"makanlah dulu, aku akan menunggu."
__ADS_1
"tidak, aku..."
"jangan begitu, mana dapurnya? aku akan membuat sesuatu untuk kak Ar." Pinta Rahel, tahu jika perbuatannya ini terlalu tak tahu malu tapi dia tak bisa mengabaikan Arfian begitu saja.
Arfian tersenyum tipis, entah kenapa hatinya merasa hangat karena mendapat perhatian kecil seperti ini. Ia pun segera mengajak Rahel kedapur.
Arfian duduk di kursi sementara Rahel sibuk membuatkannya sesuatu. Wanita itu merasa takjub begitu membuka kulkas, isinya sudah seperti warung sayur di pinggir jalan saja. Semua bahan-bahan tertata rapih dan lengkap.
Arfian memang sengaja menyetok semuanya karena dia malas harus membeli setiap akan masak. Semenjak berpisah dengan Rena, ia selalu memasak sendiri.
Rahel mengambil telur dan daging ayam juga beberapa sayuran. Mencuci semuanya hingga bersih.
"kau buat apa?" Arfian beranjak, merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Rahel.
Wanita itu tengah mencincang daging.
"duduk saja ya." Pinta Rahel.
Arfian terus memperhatikan Rahel yang tengah memasak. Ia nampak lihai sama sekali tak terlihat kesulitan. Gerakannya begitu cepat dan cekatan. Bahkan dulu sewaktu masih bersama Rena, ia sering melihat wanita itu memasak.
Tapi tak secepat Rahel. Rena banyak sekali meminta bantuan darinya.
"sudah selesai." Rahel menepuk tangannya sekali, mematikan kompor lalu menuangkan semuanya kedalam piring.
Saat tengah menikmati makanannya tiba-tiba bel berbunyi. Arfian hendak bangun tapi Rahel menahannya, ia langsung berjalan cepat segera membuka pintu nya.
"siapa kau?" Tamu yang baru datang itu langsung masuk dan menatap Rahel tak suka.
"aku.."
"oh..kau pasti pembantu rumah yang baru ya. tolong panggilkan pak Arfian." Wanita itu seenak saja menebak, karena penampilan Rahel yang menurutnya sangatlah buruk.
"kak Ar sedang makan." Jawab Rahel tegas sama sekali tak merasa takut.
Dia justru merasa tertantang dengan wanita berbaju seksi itu. Jangan meremehkan dirinya, Rahel bukan orang yang mudah tertindas. Hanya menghadapi wanita seperti ini untuk apa bicara dengan nada pelan.
Wanita itu semakin menatap Rahel tak suka. Bukan karena dia bicara tak sopan tapi karena dia tahu jika Rahel adalah wanita yang di peluk Arfian sewaktu di jalan tadi.
Arfian menyudahi makanya, dia bergegas keruang tamu untuk melihat siapa yang datang karena samar-samar ia mendengar suara seorang wanita.
"pak Arfian." Wanita itu berjalan dengan cepat begitu melihat Arfian.
__ADS_1
Sedikit menyenggol Rahel dengan sengaja. Arfian langsung memasang wajah datar saat tahu siapa tamu itu.
"sudah ku katakan bukan, jangan pernah mengganggu ku." Ucapnya.
"tapi aku mau. aku tegaskan sekali lagi, tak akan menyerah sampai pak Arfian menyukai ku."
"Rihanna cukup. aku sedang banyak masalah jangan menambah nya tambah rumit."
Rihanna tak mau mendengar. Ia langsung menatap Rahel lalu menunjuk wanita itu dengan tak sopan.
"apa karena gadis jelek ini?"
"siapa yang kau bilang jelek." Rahel menepis tangan Rihanna. "bahkan sikapmu lebih buruk dari seorang pencuri."
"apa kau bilang...."
"Rihanna cukup. ku mohon pergilah." Arfian tak tahan lagi.
Rihanna sangat marah, ia menatap Rahel penuh kebencian.
"lihat saja, aku akan membuatmu menyesal karena telah membuat ku marah." Ancamnya lalu pergi.
Rahel berdecih pelan, memangnya dia takut. Sama sekali tidak. Rahel mungkin terlihat lemah tapi wanita itu sangatlah kuat. Kehidupannya yang keras mengajarkan segalanya bagi Rahel.
Arfian merasa puas karena Rahel sama sekali tak tertindas.
"Rahel jangan takut, aku..."
"siapa yang takut? apa kak Ar lupa seperti apa aku."
Arfian tersenyum. Tentu saja ia ingat semuanya, Rahel adalah gadis yang tak tahu malu mengejarnya setiap saat sewaktu sekolah dulu. Dia juga seorang wanita yang tak pernah takut akan apapun jika memang dirinya terbukti tak bersalah. Kepribadian Rahel setidaknya cukup membuat Arfian merasa takjub.
"kau ingin melihat Echa kan? kita kesana sekarang." Ajak Arfian.
Rasanya semua menjadi lebih baik dengan hadirnya Rahel. Arfian sedikit melupakan masalahnya.
Drt..Drt...
Begitu masuk kedalam mobil ponsel Arfian bergetar. Rahel tak sengaja melihatnya saat Arfian membuka isi pesan yang masuk.
Hanum rupanya meminta Arfian untuk datang kerumahnya karena Leon demam. Rahel sempat merasa aneh, karena anak itu tadi baik-baik saja. Bahkan tadi begitu ceria dan terlihat sehat.
__ADS_1
...********************...