
Fatia mengusap layar pada ponsel untuk melihat jam, padahal di kamarnya tergantung jam dinding berwarna hitam yang cukup besar. Ia bergegas turun dari ranjangnya dan bersiap membuat roti bakar untuk bekal sarapan di perjalanan bersama Erika di hari Minggu pagi ini. Fatia akan ikut bersama Erika mempersiapkan perhelatan lamaran dari salah satu klien yang menggunakan jasa wedding organizer-nya.
Sudah tiga tahun Erika bergelut dalam bisnis yang dirintisnya bersama beberapa orang sahabatnya dan sebuah kesempatan datang di waktu yang tepat bagi Fatia untuk memulai hal baru. Minggu lalu, Erika menawarinya pekerjaan sampingan, di hari Sabtu dan Minggu karena salah satu pegawai lepasnya tidak bisa ikut serta di event kali ini.
Satu jam kemudian, Fatia sudah merapikan barang yang akan dibawanya dan mengenakan baju sesuai dresscode dari Erika, atasan berwarna putih dan celana bahan berwarna khaki serta sneakers agar memudahkan pergerakan, sebab Erika sempat memberitahukan kalau yang akan dikerjakan oleh Fatia dan rekan lainnya cukup menguras energi untuk gerak cepat.
Sebuah chat masuk ke ponsel Fatia.
E : [Fat, gue udah di parkiran.]
F : [Oke gue ke situ.]
Fatia meraih tas travel jinjingnya lalu bergegas menghampiri mobil sedan berwarna silver milik Erika. Wanita dalam balutan kemeja putih oversize, celana bahan berwarna sama dengan Fatia dan sneakers putih tersenyum padanya.
"It's gonna be a long day, Fat," ujar Erika mengemudi dengan hati-hati saat keluar kontrakan.
"I can’t wait for it. By the way, Er, mau roti bakar?" Fatia membuka kotak makanannya.
"Thank you, nanti gue ambil," ucap Erika.
"Jadi untuk acara lamaran hari ini tim inti ada sepuluh orang. Empat orang di rumah mempelai laki-laki. Enam orang lagi termasuk gue dan lo, bakal di rumah Ayu seharian penuh. Kayaknya sih sampai malam juga."
"Cewek semua, Er?"
"Enggaklah. Ada cowok juga. Sebenarnya tim gue ada dua belas orang tapi dua orang enggak bisa ikut hari ini, makanya gue rekrut lo."
"Gue pikir cewek semua." Fatia terkekeh lantas menggigit ujung roti bakar itu.
"Untuk tugas-tugas yang berat, gue tetap membutuhkan para laki-laki, Fat," timpal Erika tertawa.
"Aihh mati!!"
Keduanya berderai tawa.
"Nanti tugas Lo berdua sama Edo, bagikan makanan ke para vendor*," sambung Erika.
“Maksudnya gimana tuh?” tanya Fatia belum memiliki gambaran akan pekerjaannya nanti.
“Jadi, lo kasih nasi kotak gitu ke tim make up, mereka seruangan sama tim pakaian calon pengantin wanita dan keluarga. Terus ada lagi, tim juru foto, tim sound system, tim dekorasi, tim kebersihan, sampai satpam yang kerja di rumah itu lo kasih juga. Nanti gue kasih list-nya juga jadi lo tinggal contreng aja yang udah di kasih kotak makannya. Pokoknya, makanan tuh udah tinggal lo bagiin aja. Setelah itu, lo bantu jaga di meja prasmanan aja sama Edo,” jelas Erika panjang.
"Oh, Oke. Terus hari minggu depan, hari minggu paginya akad dan siangnya langsung resepsi ya?" Fatia mencoba mengingat-ingat kembali pemberitahuan dari Erika minggu lalu.
“Iya minggu depan hectic sih, karena memang permintaan dari keluarga mempelai laki-laki juga yang maunya sekaligus gitu. Tim gue juga ada yang stand by di gedung, nanti malam gue juga ke sana untuk cek dekorasi. Makanya, sebisa mungkin sabtu malam di minggu depan, lo istirahat deh tuh di hotel. Minggu paginya, lo harus sempetin sarapan karena seperti yang gue bilang minggu lalu, pas akad tugas lo masih bagiin konsumsi ke vendor tapi karena di gedung jadi harus ekstra wara-wirinya. Siang pas resepsi, kita pindah ke gedung sebrangnya, lo gabung sama pagar ayu untuk urus suvenir bridesmaid and groomsman. Jadi lo yang bagiin, handle semua souvenir dan partner lo Panji, namanya,” jelasnya lagi.
“Gimana kita bisa tau kalau yang datang itu pengiring mempelai wanita dan laki-laki, Er?” tanya Fatia penasaran.
“Mereka pakai dress hijau untuk bridesmaid, kalau groomsman setelan jas hijau, serba hijau pokoknya, segar deh nanti lo liatnya berasa lagi di perkebunan,” gurau Erika.
“Berasa lagi jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara dong!” timpat Fatia tertawa.
“Persis!” ujar Erika tertawa renyah.
Setelah berkendara selama satu jam, akhirnya mereka berhenti di depan rumah dua lantai bernuansa modern minimalis. Erika dengan cekatan memarkirkan mobilnya di rumah nomor delapan itu.
__ADS_1
"Ayo kita setor muka dulu sama Tante Rosa dan Om Hendro," ujar Erika. "Mereka orangtua Ayu, klien kita, calon mempelai wanita, Fat."
"Oke!" Fatia begitu bersemangat bertemu dengan orang-orang baru.
Ia mengekor Erika yang berjalan mendekati dua orang paruh baya yang sedang bercengkrama di kursi-kursi tamu yang sudar berjajar rapi.
"Om, Tante!" sapa Erika seraya menyalaminya.
"Hai, Erika," ucap Tante Rosa.
Laki-laki paruh baya yang bernama Hendro terkekeh seraya mengusap pundak Erika.
"Suamimu ndak ikut?"
"Bagi tugas, Om. Danar mengurus kedai," jawab Erika sopan.
Klien Erika, calon mempelai wanita adalah sahabat Erika saat masih duduk di bangku kuliah dan kedua ibu mereka tergabung dalam grup arisan yang sama.
"Anak muda zaman now, ya!" gurau Tante Rosa.
Erika terkekeh. "Ayu sudah bangun, Tan?"
"Dia sih masih tidur di atas."
Erika mengangguk.
Fatia lalu memberanikan diri berdiri di sebelah Erika. "Perkenalkan saya Fatia, Tante, Om." Fatia menyalami keduanya.
Fatia tersentak mendengar nama yang tak asing di telinganya. Lantas, beberapa untai kalimat mencuat di ruang pikirnya, “Masa sih dia? Ah, mungkin namanya aja yang sama.”
"Wah, terima kasih, Tan! Kalau begitu aku ke dapur dulu." Suara Erika, mengaburkan huruf demi huruf dalam ruang pikir Fatia.
"Okey," jawabnya ramah.
Ketika memasuki dapur terlihat dua orang laki-laki, salah satunya berkepala plontos. Laki-laki itu duduk bersebelahan di meja makan dan seorang wanita duduk di hadapannya. Ketiganya memakai pakaian yang berwarna senada.
"Widihh asyik banget nih!" ucap Erika seraya mengambil krupuk dari piring si laki-laki berkepala plontos.
"Sarapan dulu, Bu bos," ucapnya.
"Makan yang banyak biar subur, Do," ujar Erika terkekeh.
Laki-laki itu manggut-manggut dan wanita berambut ikal hitam terkekeh.
Sementara, laki-laki satunya lagi tampak asyik sendiri. Fatia terkejut karena mengenali laki-laki itu, ia mengerjapkan matanya beberapa kali memastikan kebenaran sosok itu.
"Oh iya Fat, kenalin, ini teman-teman gue," ujar Erika lantang.
"Fatia."
Sontak, laki-laki yang tadinya masa bodoh, menoleh. Ia sama terkejutnya karena dipertemukan kembali dengan Fatia.
"Lho, Mba?!" ucapnya.
__ADS_1
"Kan udah dikasih tau panggil Fatia aja." Fatia tersenyum seraya menyalami Laki-laki plontos bernama Edo dan wanita bernama Raisa.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Erika terkejut.
"Pernah ketemu," ujar Fatia malu-malu.
"Fatia satu kontrakan sama gue, Tar," ujar Erika.
Attar hanya mengangguk. Walaupun raut wajahnya seakan berbicara, "Oh, pantas aja."
"Wah, bahaya kalau dikasih tau sama bu bos alamatnya Mba Fatia, bisa-bisa Attar muncul di depan pintu rumah. Hati-hati ya, mba, modus biasanya," gurau Edo.
"Modus minta makan, mba," celetuk Raisa terkikik.
"Dia memang suka nyusahin gitu, Fat," timpal Erika.
"Makannya banyak, mba. Gawat pokoknya!" Edo menyeringai.
"Kalau Attar ke sana lebih baik nggak usah dibuka pintunya ya, mba," sambar Raisa.
Erika, Raisa dan Edo tertawa lepas. Sementara wajah Attar bersemu.
“Sinting kalian!” timpal Attar.
**
Peluh membasahi pelipis Fatia saat menyambut para keluarga dan kerabat calon mempelai wanita yang sedang antre mengambil makanan. Area ruangan ini sangat panas meskipun telah dipasang penyejuk ruangan. Sesekali, Fatia mengedarkan pandangan pada antrean paling belakang. Memang benar yang dikatakan Erika, bekerja di wedding organizer lelah tapi menyenangkan. Lebih menyenangkan karena bisa bertemu dengan orang-orang baru.
"Fatia masuk." Handy talky di pinggul Fatia mengeluarkan suara.
"Iya, ini Fatia," jawabnya.
"Ini Erika, makanan untuk vendor sudah ready di depan ya."
"Oke gue ke sana," jawabnya kembali mengedarkan pandangan.
Ia tidak menemukan teman-teman yang lain untuk menggantikannya di ruangan ini dan tanpa pikir panjang, ia bergegas menerobos antrean para tamu undangan. Kemudian, ia melihat laki-laki berbaju batik menenteng dua shopping bag yang berisi dus-dus makanan. Tiba-tiba, pandangannya bertumbuk dengan Attar yang sedang berdiri seraya mengepulkan asap, Fatia hanya melempar senyum.
"Mba bisa bawa sendiri soalnya berat?" tanya laki-laki berpakaian batik itu, supir pribadi dari keluarga Erika.
"Bisa kok," jawabnya santai. Meskipun harusnya tugas ia dan Edo. Tapi, batang hidung laki-laki plontos itu tak terlihat.
Fatia menggamit tas belanja berwarna hijau berukuran besar itu. Lalu, berjalan pelan-pelan. Attar memperhatikan dari kejauhan dan sekonyong-konyong rasa iba bergelayut di relung jiwanya pada Fatia, sebab seharusnya, membagikan makanan menjadi tugas Edo juga, tetapi bukan hanya kali ini Edo menghilang saat dibutuhkan. Kecuali, bila Erika yang meminta bantuannya.
Attar juga sudah berkali-kali memberitahu Edo agar bersikap profesional karena mereka mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang dilakukannya dan ia akan merugikan teman-teman lain yang sudah punya tugas masing-masing sehingga harus menanggung pekerjaannya karena kelalaian laki-laki plontos itu. Bahkan, temannya itu pernah bersembunyi sampai tertidur saat harus merapikan meja penerima tamu dan berkat Attar, hingga detik ini Erika tidak pernah menangkap basah dirinya.
"Saya bantu bawa, Fa," ucap Attar mengambil paksa satu tas belanja dari tangan Fatia.
"Aeh, terima kasih, ya."
Attar berjalan persis di belakangnya. “Sudah seharusnya gue balas budi, kan?" gumam Attar seraya memperhatikan langkah Fatia.
***
__ADS_1