Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 89


__ADS_3

Setelah Arfian mengalahkan kedua pria itu pada akhirnya polisi pun tiba. Sudah bukan hal yang aneh, ketika kita sudah selesai maka penyelamat datang. Rahel segera menghampiri Arfian, dia khawatir.


Meminta para polisi segera membawa keduanya. Echa langsung memeluk Arfian sambil menangis.


"Daddy terluka.." Isaknya, melihat pipi Arfian yang sedikit tergores.


"Daddy baik kok." Arfian mengusap air matanya. "Rahel, tolong bawa Echa kedalam. aku akan mencari Kris."


"tapi kak..."


"sebelum dia kembali ke Korea, jangan sampai Leon di bawa olehnya."


"humm..aku sudah mengirim pesan pada istrinya. mungkin saat ini, istrinya sudah menghubungi dia."


Arfian menghela nafas panjang.


"andai saja dia bukan ayahnya." Sesal Arfian.


Kris tertawa pelan mendapatkan pesan singkat dari seseorang. Ia melirik Leon yang masih saja menangis di jok belakang. Menghembuskan nafas kasar lalu mengambil sekotak coklat dari dashboard mobil.


"makan itu dan diamlah." Bentaknya seraya melemparkan kotak coklat itu.


Leon dengan takut mengambilnya, membukanya lalu mendongak untuk melihat Kris. Dia tak dapat melihat jelas wajah Kris karena pria itu sedang menyetir.


"ini untuk Leon?" Tanyanya dengan suara bergetar.


Kris mendengus. Paling tak suka di hadapkan dengan seorang bocah cengeng seperti ini.


"jangan banyak bicara, makan saja." Ketusnya. Melirik ke arah spion untuk melihat reaksi bocah di belakangnya itu.


Leon tersenyum lebar, tangisnya langsung berhenti. Kris yang melihat itu hanya berdecak pelan.


Kris membawanya langsung ke bandara. Siang ini juga ia akan langsung kembali ke Korea, tak peduli dengan pesan yang baru dia terima.


Baginya saat ini adalah meninggalkan Indonesia adalah hal yang paling harus ia lakukan. Karena demi apapun, firasatnya mengatakan jika Arfian pasti akan melakukan apapun untuk menahannya agar tak membawa Leon bersamanya.


Arfian yang hendak melajukan mobilnya mengurungkan niatnya, ia kembali keluar dan masuk kedalam.


"aku rasa Kris memang berhak karena dia ayahnya. sementara aku..." Rahel yang mendengar ucapan Arfian langsung menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang.


"kak Ar..."

__ADS_1


"Rahel, kita hanya orang asing bagi Leon. meskipun meminta bantuan hukum, Kris pasti akan menang karena dia ayah kandungnya."


Rahel terdiam.


"sebaiknya kau katakan saja pada istrinya untuk menjaga Leon dengan baik dan jangan sampai Kris melakukan hal yang tidak baik padanya." Setelah mengatakan itu Arfian pergi kekamar.


Rahel mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kecil Echa. Hatinya merasa tak enak karena membiarkan Leon pergi begitu saja. Janjinya pada Hanum, sekali lagi tak bisa ia tepati.


Echa mendongak, melihat wajah sendu Rahel.


"mommy, apa Leon tak akan kembali?" Tanyanya.


Rahel tersenyum di paksakan. Ia tak boleh menangis di depan Echa.


"suatu saat nanti pasti kembali kok."


"kapan?"


Rahel diam, ia sendiri tak tahu. Apa Leon akan kembali ke Indonesia lagi atau tidak.


"apa setelah sebesar mommy dan Daddy?"


"ya.. Echa tunggu saja ya. Leon pasti kembali."


...***************...


Malam harinya, Echa sudah terlelap di kamarnya dari jam 7. Sementara Arfian masih saja duduk melamun di teras kamarnya. Ia memikirkan bagaimana nasib Leon saat ini. Meskipun Kris adalah seorang yang sangat kaya dan tak mungkin kekurangan uang tapi pria itu terlalu kejam.


Tak menganggap putranya sendiri, hanya ingin memanfaatkannya saja. Mendengar ceritanya dari Rahel membuat Arfian menyesal kenapa tadi siang ia tak jadi mencarinya.


"maafkan aku kak, terlambat mengatakannya. aku mengetahui semuanya dari Haeun tadi siang." Ujar Rahel lirih. "ia mengatakan kenapa kita tak menahannya, Kris itu hanya ingin Leon karena takut bayi yang di lahirkannya nanti seorang perempuan."


Arfian tersenyum tipis. Meraih tangan Rahel lalu menariknya pelan. Perlahan Rahel duduk di pangkuan Arfian. Menangkup wajah pria itu dengan lembut.


"apa kakak kecewa dengan ku?"


Arfian menggelengkan kepalanya pelan.


"untuk apa kecewa." Serunya. "tuhan memiliki rencananya, kita hanya perlu menjalankan hidup kita dan terus berusaha dengan baik."


"kak Ar benar."

__ADS_1


Hening. Setelah mengatakan itu keduanya saling diam. Menatap satu sama lain. Perlahan Arfian mendekatkan wajahnya, mengecup kening Rahel dengan lembut.


"apa kau mengantuk?"


"tidak. malam ini kita mengobrol saja."


"baiklah."


Arfian mengeratkan pelukannya di pinggang Rahel. Mengangkat tubuh kurus itu dengan mudah. Rahel hanya tersenyum malu, menyembunyikan wajahnya di pundak Arfian.


"Rasanya hati ini tak nyaman." Kata Arfian sambil membaringkan tubuhnya di kasur, hingga tubuh Rahel menindih di atasnya.


Posisi yang sungguh tak bisa membuat Rahel diam dengan tenang. Jantungnya berdetak tak karuan.


Ia hendak bangkit tapi tangan kekar Arfian terus melingkar di pinggangnya dengan erat.


"aku lelah, biarkan seperti ini." Pintanya seraya memejamkan matanya.


Rahel menatap wajah Arfian. Pria itu terlihat memang sangat lelah, wajah tampannya nampak sayu.


Menghela nafas sebentar, pasrah tak bisa menolak apa yang di inginkan Arfian.


...***************...


Leon mengerjapkan matanya, ia terkejut karena berada di pangkuan Kris. Pria dewasa itu duduk sambil menggendongnya. Leon mengerjapkan matanya, melihat keluar kaca.


"kita naik apa?" Cicitnya.


Matanya tak henti memandang keluar, begitu luas dan semuanya terlihat putih bercampur biru.


"jangan banyak bertanya diam saja." Kris berkata dengan mata yang masih terpejam.


Leon diam, merenggut tak suka. Selalu saja pertanyaannya di jawab ketus oleh Kris.


Kris mendengus, dapat ia rasakan jika bocah kecil di pangkuannya ini merajuk karena tak mendapati jawaban.


"helikopter." Ucap Kris singkat.


"heli apa?" Leon bercicit kembali karena kesulitan mengucapkannya.


"diam saja." Kris membuka matanya, menatap Leon tajam. "diam dan duduk. jangan banyak bicara atau aku akan melempar mu keluar." Ancamnya.

__ADS_1


Leon langsung menunduk takut.


...**************...


__ADS_2