Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 66


__ADS_3

Raja tetap diam saat ibunya memarahi dirinya. Sudah tahu jelas jika Haruka pasti mengatakan semuanya. Wanita itu memang selalu menjadikan ibu Raja sebagai tameng. Itulah sebabnya Raja kurang menyukai Haruka, terlalu manja juga tidak bisa melakukan apapun sendiri.


Haruka duduk di samping Kanita, ibu Raja. Melihat wajah Raja yang begitu dingin membuatnya jadi takut.


"Haruka itu gadis yang baik. kenapa kau begitu bodoh Raja."


"maafkan aku." Hanya itu yang di lontarkannya lalu berdiri dan pergi meninggalkan keduanya.


Kanita menghela nafas kasar. Entah kenapa Raja tak seperti biasanya, sekarang putra tunggalnya itu sulit sekali di beritahu.


"bagaimana ini ibu? kak Raja sepertinya tak mau dengan ku lagi."


"tidak sayang. jangan khawatir, ibu akan membujuknya. kalau bisa agar dia cepat-cepat menikahimu."


"humm..tapi usiaku baru 18."


"itu bukan masalah."


Haruka memeluk tubuh Kanita, dia sangat senang memiliki calon mertua sepertinya.


Raja membuka bajunya, melemparnya sembarangan. Kesal karena ibunya terus saja meminta dirinya untuk tetap bersama Haruka, selama bertahun-tahun dia bersabar. Tapi kali ini kesabarannya sudah hampir habis.


Haruka hanyalah seorang adik baginya sementara wanita yang selalu dia dambakan dari dulu hingga sekarang hanyalah Rahel.


Tok...Tok...


"kakak, apa aku boleh masuk?" Tanya Haruka.


Raja mendengus, tak bisa lagi pura-pura baik sekarang. Menjadi putra penurut dan pria berhati lembut itu sudah tak ingin lagi ia sandang. Bosan selalu menuruti kehendak oranglain sementara diri sendiri harus merasakan kejenuhan.


"humm..." Dehamnya.


Duduk di kursi dengan keadaan tak memakai baju, hanya celana bahan yang membalut tubuh bawahnya.


Haruka membuka pintu perlahan. Melotot melihat keadaan Raja yang setengah telanjang, buru-buru ia berbalik badan karena malu sendiri.


Pria itu sama sekali tak bergeming, tetap duduk seperti itu dengan wajah datarnya.


"kenapa kakak tak memakai baju?"


"kenapa? apa kau malu? bukankah selama ini kau tak punya rasa malu."


Haruka mengigit bibirnya mendengar kata-kata menyakitkan yang di lontarkan Raja. Selama ini Raja tak pernah berkata kasar seperti itu.


"ada apa dengan kak Raja, semenjak kak Rahel kembali hadir..."


"jangan menyalahkan orang lain." Sela Raja cepat. "kau tahu bukan, aku hanya mencintai satu wanita dalam hidup ku. kau sangat tahu dengan jelas."

__ADS_1


"ya, aku tahu. tapi kakak juga sudah berjanji padaku, akan menjaga ku selama nya. wanita itu bukanlah siapa-siapa, hanya masa lalu. tapi kenapa, Sekarang kakak malah melupakan janji itu." Ucap Haruka dengan suara bergetar.


Raja bergeming melihat pundak Haruka yang naik turun, hatinya merasa tak tega tapi dia tetap bertahan dengan keegoisannya.


"pulanglah." Usirnya.


Haruka menghapus airmatanya kasar. Berbalik menatap Raja dengan kecewa.


"dasar pembohong. kau berjanji akan menikahiku saat usiaku 20 tahun, tapi apa yang terjadi sekarang, kau bahkan ingin meninggalkan ku. Kau memang keterlaluan, pria tak berperasaan. Aku membencimu." Teriak Haruka keras.


Berlari meninggalkan Raja yang terdiam. Pria itu hendak berdiri tapi terhenti saat melihat ponselnya berdering. Lebih memilih untuk mengangkat telpon di banding menyusul Haruka.


Haruka tertawa hambar di dalam mobil, ini untuk kedua kalinya Raja tak peduli padanya. Pria itu sama sekali tak mencoba untuk menghentikan dirinya. Dengan marah ia melajukan mobilnya.


Raja memejamkan matanya, menutup telponnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"haaaaaahhhhh...." Menghembuskan nafas kasar. "apa aku keterlaluan."


Merasa tak enak hati saat mengingat bagaimana Haruka yang begitu kecewa terhadap dirinya.


...******************...


Arfian memeluk pinggang Rahel, menyusupkan tangannya diantara selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya. Rahel yang merasa tak nyaman karena gerakan tangan Arfian pun membuka matanya.


Cahaya lampu yang begitu terang juga ruangan serba putih yang pertama dia lihat. Rupanya mereka masih di rumah sakit.


Melihat Echa yang masih tertidur di ranjang dengan Rada duduk disampingnya, sama-sama terlelap.


Rahel sungguh tak nyaman dengan posisinya saat ini. Ia terbaring di atas kursi panjang dan Arfian duduk di lantai sambil memeluk pinggangnya mencari kehangatan.


"humm... dingin, diamlah." Racau Arfian mengeratkan pelukannya.


Rahel menahan nafas panjang lalu menghembuskan perlahan, gugup dan malu dengan apa yang dilakukan Arfian.


"bagaimana ini?" Gumamnya.


Terpaksa Rahel kembali memejamkan matanya meskipun sulit. Ini masih tengah malam.


Arfian tersenyum tipis, sebenarnya dia belum benar-benar terlelap. Masih sedikit tersadar, sengaja melakukan hal ini karena merasa nyaman saat berada begitu dekat dengan Rahel.


Rega dan Sena berdiri di luar pintu, mereka hendak masuk tapi di larang Arfian. Pria itu tak ingin momen indahnya terganggu. Terpaksa Rega pun tetap berada di luar ruangan.


"apa mereka sudah tidur?" Tanya Sena.


Rega mengintip di balik kaca pintu itu lalu mengangguk pelan.


"aku juga mengantuk." Keluh Sena.

__ADS_1


Rega tersenyum, menarik tangan kekasihnya pelan.


"kita pulang saja. besok baru kembali lagi."


"baiklah."


Akhirnya Rega pun memutuskan untuk kembali kerumahnya. Untung saja tadi Arfian menyerahkan kunci mobil padanya jadi dia bisa pulang tanpa harus menaiki motornya.


"tidurlah." Seru Rega pada Sena begitu berada di dalam mobil.


"humm...iya." Sena yang sudah tak kuat pun langsung memejamkan matanya.


Rega tersenyum, menarik Sena agar semakin dekat dengannya. Menurunkan sedikit pundaknya agar Sena bisa bersandar.


...********************...


Paginya Rahel terbangun dengan cepat, karena mendengar suara ribut-ribut. Menghela nafas lega karena Arfian sudah berpindah tempat. Pria itu duduk di kursi yang semalam di pakai Rada.


"kak Ar, kamana ibu Rada?" Tanyanya karena tak mendapati sosok itu sekarang.


"ibu di toilet. kau juga, cucilah muka mu. aku akan mencari sarapan sebentar lagi."


"iya."


Rahel bangun dengan sedikit meringis, punggungnya terasa sakit semua. Tidur di kursi besi seperti ini memang sangat tak nyaman. Tulang-tulang terasa remuk.


Sekitar pukul 8, Raja masuk kedalam ruangan untuk mengecek keadaan Echa. Pria itu tersenyum kepada Rahel.


"apa tidurmu nyenyak?" Tanyanya sebelum memeriksa Echa.


Arfian mendengus.


"kau itu kesini untuk memeriksa putriku." Sindirnya.


Rahel dan Rada hanya tersenyum tipis. Rada mulai menyadari sesuatu jika Arfian tak menyukai dokter muda ini, makanya kemarin sangat tak setuju saat dirinya meminta bantuan Raja.


"iya dok, cucuku sudah lebih baik?" Tanya Rada.


Raja tersenyum lalu mengangguk pelan. Meskipun beberapa kali Echa menepis tangannya yang akan mengecek suhu tubuhnya tapi sebagai dokter, ia harus tetap bersabar dan melakukan tugasnya dengan baik dan benar.


"iya, sekarang pun bisa pulang." Jawab Raja.


Rahel merasa senang mendengarnya.


"terimakasih Raja."


"untuk apa berterimakasih, itu sudah tugas Dr." Timpal Arfian. Terlihat jelas jika dirinya tak suka.

__ADS_1


Raja tersenyum miring, ia lalu izin keluar. Masih banyak pasien yang harus dia periksa.


...****************...


__ADS_2