Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 88


__ADS_3

Malam ini semuanya nampak hening, tak ada yang bersuara. Memperhatikan bocah kecil di hadapan mereka yang tengah terlelap dalam tidurnya.


Rada mengelus punggung Rahel, tersenyum tipis lalu mengisyarakatkan bahwa dia akan pergi dari kamar. Begitu juga dengan Rega dan Sena, mereka segera mengikuti Rada.


Tersisa Arfian dan Rahel yang masih saja diam, larut dalam pemikirannya masing-masing.


Leon tertidur pulas dalam pelukan Echa. Mereka adalah dua anak kecil yang telah di tinggalkan ibunya, hanya dalam kata yang berbeda.


"apa tak sebaiknya kita mengadopsi Leon?" Usul Rahel.


Arfian menggelengkan kepalanya.


"tidak bisa semudah itu. Leon masih terdaftar sebagai putra dari Kris. kita harus mendapatkan izin dulu darinya."


"tapi itu tak mungkin kak, ayah Leon pasti tidak akan pernah..." Rahel menangkup wajahnya, ia tak sanggup jika harus berpisah dengan Leon.


Hanum memintanya untuk menjaga Leon, ia tak boleh mengingkari itu. Tapi, apa semuanya akan sesuai dengan keinginan Rahel. Wanita itu merasa sangsi.


"tenang saja, Kris berada di Korea. ia tak akan kemari.." Arfian memeluk Rahel. "lagipula dia tak tahu jika Hanum telah tiada."


Rahel mengangguk, berharap apa yang di katakan oleh Arfian memang benar. Kris tak akan pernah kembali untuk mengambil Leon.


"kita tidur, ini sudah malam." Ajak Arfian.


Malam ini mereka menginap di rumah Rada, besok pagi rencananya akan pergi kekediaman Hanum untuk mengambil beberapa barang milik Leon yang masih di gunakan.


Rahel merebahkan tubuhnya di samping Leon, mencium keningnya sekilas lalu segera memejamkan matanya. Arfian menarik nafas dalam-dalam, ia tak yakin jika semua akan berjalan dengan lancar.


Perasaannya sungguh tak nyaman malam ini, ia memilih untuk duduk memperhatikan ketiganya dengan pandangan sendu.


Entah kenapa, firasatnya mengatakan jika sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.


"kalian harus tetap bersama ku. aku berjanji." Gumamnya.


Rahel mendengarnya, karena memang belum tertidur. Hanya memejamkan matanya saja yang terasa perih dan lelah karena seharian menangis.


Di tempat lain, tepatnya rumah Hanum. Kris sedang berdiri di depan bangunan yang tak cukup besar itu. Ia tak akan kembali dengan tangan kosong, apalagi Hanum saat ini sudah tak ada lagi.


"katakan..." Ujarnya pada seseorang yang baru saja tiba.


Orang itu segera mengatakan apa yang dia ketahui.


"saat ini Leon berada bersama dua orang yang membawanya."


"sepasang kekasih itu?"


"ya tuan."


"bagus, tetap awasi mereka."


"baik."


Kris memasukan tangannya kedalam saku celana, berjalan meninggalkan rumah Hanum dengan senyum licik yang terus menghiasi wajahnya.


"Arfian..." Seruan pelan dari arah pintu masuk membuat Arfian segera menoleh.


Nampaknya Rada pun tak bisa tertidur, wanita itu meminta Arfian segera menemuinya.

__ADS_1


Setelah memastikan Rahel tertidur pulas Arfian segera mengikuti Rada.


"ada apa mah?"


"ada yang ingin mamah katakan padamu." Rada mengeluarkan dua amplop. "duduklah."


"apa ini?"


Dua amplop itu di geser Rada ke arah Arfian.


"Hanum meminta mamah untuk memberikan ini pada Leon saat dia dewasa nanti. tapi, mamah rasa sebaiknya kau saja yang simpan."


"maksud mamah, Hanum sengaja menulis sesuatu sebelum ia meninggal?"


"mamah tak tahu jelas ini sebuah surat atau apa, tapi salah satu amplop itu berisikan uang tabungan. selama ini Hanum tak memakai uang yang kau berikan, dia menyimpannya untuk Leon." Jelas Rada.


Arfian diam menatap dua amplop itu. Hanum mungkin sudah terlihat buruk di matanya tapi Arfian tahu, wanita itu begitu menyayangi putranya.


"baiklah, aku akan menyimpannya."


"hum...dan sebaiknya besok pagi kalian pulang saja langsung. biar Rega yang kerumah Hanum." Rada mengatakan itu karena merasa jika Arfian kesana apalagi dengan Leon sesuatu yang buruk akan terjadi.


Firasat seorang ibu biasanya tak pernah meleset.


...***************...


Jam sudah menunjukkan pukul 10, matahari sudah mulai naik keatas. Kris mendengus keras, berjam-jam menunggu di depan rumah Hanum tapi orang yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang.


"s*al, apa mereka tahu jika aku ada di sini." Umpatnya.


Kemarahannya semakin memuncak kala orang suruhannya mengatakan jika Arfian tak jadi datang karena mereka langsung pulang menuju rumahnya.


Dengan ketakutan orang itu mengatakan semuanya. Kris segera pergi, bergegas menuju kediaman Arfian.


Ia tak ingin pulang dengan tangan kosong, bagaimana pun caranya harus membawa Leon kembali.


"akhirnya kita sampai. Leon..Echa..kalian haus? mau mommy buatkan jus melon?" Rahel menuntun keduanya untuk masuk kedalam rumah.


Arfian tersenyum, mengeluarkan semua barang Echa dari bagasi.


"akhirnya aku menemukan kalian."


Arfian berbalik, terkejut saat melihat keberadaan Kris di luar pagar rumahnya.


"kau.."


"terkejut? bagus sekali, serahkan Leon padaku."


"dia tak di sini." Arfian berkata dengan ragu, takut jika Leon tiba-tiba kembali. "dia bersama...."


"aku sudah tahu semuanya. Hanum telah meninggal."


Kris memandang Arfian yang berdiri gugup di hadapannya. Tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kaku Arfian.


"lalu..kau mau apa?" Arfian segera bersikap tenang. Ia sering menghadapi orang-orang macam Kris, bukan hal sulit baginya.


Kris berjalan mendekati Arfian.

__ADS_1


"tentu saja mengambilnya. dia putraku, kau tak berhak menghalangi jalanku untuk membawa Leon pergi."


Arfian mendesis pelan. Menghalagi Kris yang akan melangkah melewati dirinya.


"siapa kau bilang? ayah macam apa yang membenci putranya sendiri." Remeh Arfian.


Kris menarik kerah baju Arfian. Emosinya tersulut dengan mudah. Ia memang pria yang tempramen.


"kau tahu apa tentang ku?" Geram Kris.


Arfian menatap Kris dengan tajam, tangannya mencengkram pergelangan tangan Kris kuat.


"Daddy..." Panggil Leon sambil berlari menghampiri Arfian, tak tahu jika Kris ada di sana.


"Leon...cepat masuk..." Perintah Arfian.


Leon menjatuhkan gelas yang di pegangnya, ia bermaksud memberikan jus pada Arfian. Tapi, melihat Kris ada di sana membuatnya takut.


Perlahan mundur dengan wajah ketakutan.


"kemari kau.." Kris mendorong tubuh Arfian lalu segera menghampiri Leon.


Dengan mudah mengangkat tubuh kecil itu layaknya sebuah barang. Tak menghiraukan jeritan Leon yang ketakutan meminta tolong pada Arfian.


"Kris.. berhenti di sana." Teriak Arfian.


"hadang dia." Perintah Kris pada bawahannya lalu ia segera masuk kedalam mobil, melajukannya dengan cepat.


Arfian mendengus melihat dua orang pria berbadan kekar menghalangi jalannya. Tak bisa di hindari lagi, ia harus melawan keduanya.


Rahel dan Echa yang merasa aneh pun segera keluar untuk melihat ada keributan apa. Kedua wanita berbeda usia itu terkejut melihat Arfian yang tengah bertarung dengan dua orang yang tak di kenal.


"Daddy... hati-hati.." Echa hendak lari mendekat tapi Rahel dengan cepat menahannya.


"tidak sayang, terlalu bahaya."


Rahel tak bisa diam saja, dia segera mengambil ponselnya dan menelpon nomor darurat.


Bisa menebaknya dengan jelas, pasti ini ulah Kris. Karena tak mendapati Leon di sini saat ini. Rahel tak bodoh, ia pun segera menghubungi Haeun.


Untung saja ia sempat meminta nomor Haeun waktu itu.


Arfian menangkis semua pukulannya, tak semudah itu baginya kalah. Dia bukan seorang petarung hebat tapi jika hanya melawan dua orang saja Arfian merasa bukan masalah yang besar.


"mommy, Daddy kenapa berantem?" Echa takut jika Arfian terluka, ia menggenggam tangan Rahel erat.


"sayang, masuk kedalam ya." Pinta Rahel.


Echa menggelengkan kepalanya, tak bisa pergi begitu saja. Arfian dalam bahaya, ia tak mau pergi. Gadis kecil itu mencoba mencari cara untuk menolong Arfian.


"jangan melakukan hal bodoh sayang. kau itu masih anak-anak." Rahel menahan Echa yang akan mengambil batu.


"tapi Daddy."


Rahel pun sebenarnya merasa takut, tapi ia harus tetap tenang demi Echa.


"kak Ar, bertahanlah." Doanya dalam hati.

__ADS_1


Berharap bantuan segera datang.


...****************...


__ADS_2