Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 32


__ADS_3

Rihanna mengerutkan keningnya melihat seorang wanita asing masuk kedalam mobil Arfian. Ia hendak menghampirinya untuk bertanya tapi langkahnya terhenti saat melihat Arfian dan Echa yang keluar dari cafe. Dengan segera dia memutar langkahnya, menghampiri Arfian.


Wanita ini sangat menyukai Echa tanpa alasan. Dia merasa memiliki chemistry dengan gadis kecil itu. Rihanna tak tahu saja jika sebenarnya Echa adalah putri Ben.


"halo sayang..." Pekik Rihanna.


Echa yang tak ingat apapun langsung memeluk lengan Arfian. Sedikit bersembunyi di belakangnya. Rihanna menatap Arfian meminta penjelasan.


"maafkan Echa. dia tak bermaksud begitu, jangan tersinggung."


"aah..iya. uumm...kalian mau pulang?"


"ya. kami harus segera pulang."


"siapa wanita dan anak kecil itu?" Rihanna melirik mobil Arfian.


"dia calon istri ku."


Jawaban yang di lontarkan Arfian membuat Rihanna langsung terdiam. Kecewa tentu saja, ia melirik wanita itu dengan pandangan tak suka. Baru saja berniat untuk sungguh-sungguh terhadap Arfian, sudah ada penghalang. Rihanna tentu saja merasa kesal.


"ooh..selamat." Ujarnya pura-pura. Tersenyum di paksakan lalu mengelus rambut Echa lembut.


Gadis itu tiba-tiba tersenyum, wajah ramah Rihanna membuatnya merasa nyaman.


"Tante..." Panggilnya pelan.


"humm..." Rihanna berjongkok di depan Echa.


"cantik." Ucap Echa sambil menyentuh wajah Rihanna.


Rihanna tertegun. Echa membuatnya merasa iba. Gadis kecil ini lah yang telah membuat Rihanna melupakan niatnya untuk hanya sekedar mendekati Arfian agar Rena cemburu.


Meski pun tahu Echa putri dari wanita yang di benci nya, Rihanna sama sekali tak membenci Echa. Justru dirinya merasakan rasa sayang yang dalam terhadapnya.


Arfian memperhatikan bagaimana Echa yang tersenyum dan bersikap akrab terhadap Rihanna. Berbeda jika berada di dekat Hanum, gadis ini hanya menunjukkan rasa takut saja.


"sayang..ayo.." Arfian menarik tangan Echa pelan, gadis itu mendongak lalu merentangkan tangannya meminta di gendong.


"Rihanna, kami permisi."


"uumm..papay..sayang." Rihanna tersenyum lembut kepada Echa.


Arfian langsung mendudukkan Echa di kursi depan, melirik Hanum yang sudah duduk tenang di kursinya lalu melihat anak laki-laki yang tertidur pulas di pangkuan Hanum.

__ADS_1


Menghela nafas sejenak lalu segera masuk kedalam. Mereka nampak seperti keluarga yang tengah bertengkar. Ibu yang marah dan hanya akan peduli pada sikecil. Arfian merasa jika keputusannya untuk menikahi Hanum meskipun hanya sebuah kontrak pasti akan sulit kedepannya.


Rihanna mengepalkan tangannya kuat, matanya tak lepas dari mobil Arfian yang kini sudah melaju jauh di depannya.


"cih....siapa wanita itu. kur*ng ajar, beraninya dia mendekati Arfian." Decihnya.


Raut wajah yang ramah tadi kini terganti kan oleh senyum sinis dan tatapan tajam yang memancarkan kebencian.


Awalnya Rihanna memang tak begitu tertarik terhadap Arfian. Ia hanya berniat membuat Rena cemburu dan marah, tapi nyatanya dia malah jatuh cinta padanya.


Arfian menjadi pria yang paling di sukainya. Rihanna berharap banyak bisa menjadi pendampingnya.


...*****************...


Rena lagi-lagi harus mendapatkan pukulan keras di tubuh dan wajahnya. Ia merasa Ben semakin hari semakin gila saja. Pria itu gampang marah dan akan meminta maaf setelahnya. Tak hanya kekerasan fisik yang Rena terima, kekerasan secara psikis pun di alaminya.


Ben selalu mencaci makinya, membandingkan dirinya dengan Liliana.


"Lihat, masakannya bahkan lebih enak." Puji Ben, merangkul pinggang Liliana lalu mengecup pipinya.


Liliana langsung menghindar sebelum pipinya tersentuh oleh bibir Ben. Ia melihat Rena dengan cepat lalu mendorong Ben agar sedikit menjauh. Jujur saja, Liliana sudah mulai tak tahan dengan pria ini.


Dia hanya perlu sedikit lagi untuk bertahan dan berperan sebagai wanita lugu yang cinta mati terhadap Ben.


Rena mendengus, ia tak suka di bandingkan seperti ini. Melihat Liliana dengan tajam.


Ben tertawa, terdengar menyebalkan bagi Liliana.


"ini sudah larut, istirahat saja. aku dan Rena akan membersihkan semuanya." Liliana mendorong Ben agar keluar dari ruang makan.


Pria itu masih tertawa pelan. Mengecup kening Liliana lalu pergi, tak peduli dengan Rena yang menatapnya tak suka.


"ck.. kau tak menyukainya tapi masih saja menikmati apa yang dia lakukan padamu." Cibir Rena.


Liliana menggelengkan kepalanya.


"kau sungguh bodoh." Ujarnya.


Menarik Rena agar kembali duduk lalu mengambil kotak p3k yang ada di rak dapur. Rena terdiam sejenak, ia memperhatikan Liliana yang tengah menggeser kursi kedepannya lalu duduk.


"ulurkan tanganmu." Titahnya.


Rena masih diam, ia mencoba mencerna apa yang di lakukan Liliana.

__ADS_1


"kenapa kau..."


"aku seorang wanita. Melihat mu selalu mendapat kekerasan dari pria macam Ben membuat ku kesal setengah mati. apa kau bodoh? Dungu atau memang tak punya otak?" Sela Liliana.


Mengoleskan alkohol pada luka di lengan Rena. Ia melakukannya dengan telaten dan hati-hati. Rena pun tak menolak atas apa yang di lakukan Liliana.


"aku mencintainya." Gumam Rena.


"cih..cinta macam apa? aku bahkan sangat membencinya sekarang."


"lalu kenapa kau tak tinggalkan Ben?"


"aku akan melakukannya."


Rena menarik nafas dalam. Memperhatikan Liliana sejenak lalu kembali berucap.


"kalian benar-benar akan menikah?" Tanyanya ragu.


"tidak. besok aku akan membuat kenangan yang tak akan pernah dia lupakan."


"apa rencana mu?"


Kedua wanita yang sering beradu argumentasi itu kini terlihat sangat akrab. Rena juga tak lagi memasang wajah tak sukanya. Karena sikap dan sifat Liliana yang baik membuat Rena perlahan melunak.


Ia tak lagi mencari gara-gara pada wanita cantik itu. Justru dia berharap jika dirinya pun bisa bersikap seperti itu. Mengubur rasa cintanya tanpa harus menunggu waktu yang lama.


Mereka terus bicara perihal kehidupan masing-masing. Liliana menyayangkan apa yang dilakukan Rena. Ia tahu, jika Rena meninggalkan suaminya yang begitu baik demi Ben. Pria br*ngsek yang tak memiliki otak.


"apa kau tak merindukan putrimu?" Tanya Liliana.


"tentu saja aku rindu. tapi...mamah dan mantan suamiku melarang ku untuk bertemu dengannya." Lirih Rena sedih.


Sampai saat ini ia masih mengira jika Echa masih berada di rumah sakit. Tak ada kabar dari ibunya ataupun adiknya tentang Echa.


Tanpa dia sadari airmatanya meleleh begitu saja.Rena tak kuasa menahan rasa sedihnya. Liliana mengelus pundaknya, Rena yang begitu rapuh membuat Liliana simpati.


"sudahlah, menangis pun tak ada gunanya."


"kau benar. aku terlalu di butakan cinta hingga tega menyakiti Arfian dan Echa. Aku pikir Ben lebih baik dari Arfian. Tapi setelah hidup bersama seperti ini membuat aku menderita."


"sekarang kau istirahat saja."


"Tapi..."

__ADS_1


"kau sedang sakit. Cepat tidur dan jangan membuat Ben curiga, mengerti?" Peringatan yang di berikan Liliana membuat Rena tersenyum tipis.


...*********************...


__ADS_2