Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 80


__ADS_3

"Semua akan baik-baik saja bukan? Leon tinggal bersama ayahnya, kenapa kau begitu khawatir." Ucap Arfian membuat Hanum harus mengingat kembali bagaimana masa lalunya bersama mantan suaminya dulu.


Dia menikah karena rasa sakit hati di tinggalkan oleh Arfian, melampiaskan segalanya pada pria yang ia baru kenal. Hingga pada akhirnya Leon terlahir, pria itu mengetahui semuanya. Memarahi Hanum dan mengusir keduanya begitu saja.


Bahkan semenjak tahu jika Hanum hanya memanfaatkan kekayaannya, pria itu sering sekali memukul bahkan tak segan melakukan kekerasan lain padanya.


Leon saja tak diterima olehnya. Membuangnya begitu saja dan tak ingin mengakuinya sebagai putra.


Jadi, jika sekarang ia tiba-tiba datang dan mengambil Leon begitu saja, Hanum merasa sangat takut. Bagaimana jika Leon di siksa atau di jadikan gelandangan olehnya. Pikiran negatif itu terus saja menghantuinya.


"Hanum, kau harus kuat demi Leon. aku dan kak Ar akan mencari cara untuk menemukannya." Ujar Rahel, mencoba untuk tidak membuat Hanum merasa sedih.


"terimakasih Rahel." Ucapnya dengan menahan sesak di dadanya.


Arfian memang sudah memaafkan Hanum, tapi pria itu masih saja merasa sedikit kurang suka padanya. Selama ini ia tahu seperti apa sikap Hanum pada Leon. Kadang bocah itu kena pukul atau bentakan keras hanya karena permintaan nya yang sepele.


"dulu kau selalu memarahinya, sekarang kau begitu sedih. aku heran dengan mu." Sarkas Arfian yang langsung mendapatkan delikan tajam dari Rahel.


"sudahlah Hanum. sebaiknya kau istirahat saja. kami juga harus segera pulang. apa ingin kami antar?" Tawar Rahel.


Hanum menggelengkan kepalanya. Memilih untuk pulang sendiri karena ingin menenangkan pikirannya. Rahel dan Arfian pun segera pulang lebih dulu, meninggalkan Hanum yang masih duduk di kursi cafe.


Rahel tak tega sebenarnya, apalagi saat melihat wajah pucat Hanum.


"kak Ar, apa sebaiknya kita...."


"aku tahu apa yang kau pikirkan. dia butuh waktu untuk sendiri, biarkan saja." Ucap Arfian, membuka pintu mobil lalu segera menyuruh Rahel untuk masuk.


"humm...sekalian kita melihat Echa kan." Gumamnya pelan tapi masih dapat didengar jelas oleh Arfian.


"mamah sengaja memberi kita waktu untuk berduaan." Jawab Arfian. "apa kau tak ingin kencan dengan ku?"


Rahel tersenyum tipis. Arfian sungguh sangat lucu, pria ini seperti anak muda yang baru saja kasmaran. Dulu Rahel hanya tahu, jika Arfian adalah pria yang lembut juga ramah. Tak tahu jika pria ini begitu memiliki sikap yang unik.


"baiklah, suamiku yang tampan. kita kencan kemana sekarang? masih ada waktu 2 jam lagi sebelum jam 6 petang."


"humm..cari hotel yu?"


Ajakan Arfian total membuat wajah Rahel memerah. Pria ini kenapa begitu tak punya malu sih, Rahel menelan ludahnya. Sudah membayangkan hal yang tidak-tidak bersama Arfian saat nanti berada di kamar hotel.

__ADS_1


"hahhaaa.. kenapa? kok merah wajahnya?" Ketawa Arfian membuat Rahel tersadar. Mendelik tajam lalu ia melihat kedepan di mana jalanan yang mulai ramai.


"umm..apa kakak lupa, aku kan sedang ada tamu." Rahel jadi ingat kalau hari ini tamu itu belum juga pergi.


Arfian mendengus, lalu membelokkan mobilnya. Ia akan mencari tempat romantis saja jika seperti ini. Terlihat jelas jika moodnya sudah rusak, pria ini sepertinya mulai tak tahan lagi.


...*****************...


Leon menatap foto Hanum yang tadi di kirimkan Rena pada Haeun lewat chat wa. Bocah itu sedikit terisak kecil, mengingat ibunya dan ingin bertemu.


Haeun mengusap pucuk kepalanya. Merasakan kesedihan yang sama dengan Leon. Bocah kecil sepertinya pasti sangat merindukan kasih sayang ibunya meskipun disini ia begitu di penuhi cinta.


"ibumu cantik." Seru Haeun.


Sedikit merasa tidak nyaman, karena ia tahu Hanum adalah mantan istri dari suaminya.


"bunda di mana?" Tanya Leon.


Haeun mengusap airmatanya, tersenyum lembut lalu menjelaskan bahwa Hanum sekarang sedang berada di Indonesia sementara mereka saat ini berada di Korea, jarak yang begitu jauh dan tak mungkin untuk bertemu.


"ada apa lagi ini?" Kris, ayah Leon baru saja pulang dari kantor.


"sayang, Leon merindukan ibunya." Ujar Haeun, berjalan ke arah Kris.


Mengambil tas kerjanya lalu membantu membuka dasi juga jas hitam miliknya. Kris mendengus.


"cengeng." Ketusnya. "halo, baby nya Daddy. apa hari ini merasa lebih baik?" Raut wajah Kris berubah lembut begitu mengelus perut Haeun.


Mengajak bicara bayi di dalam perut istrinya seolah bisa mendengar semuanya. Leon menunduk dalam, tak berani melihat Kris.


Haeun tersenyum dengan perlakuan Kris.


"baby baik kok Daddy." Jawab Haeun seraya berjalan kearah Leon. "tapi, kakak Leon yang sedang bersedih." Lanjutnya.


Kris langsung diam. Menarik napas dalam.


"biarkan saja dia, anak lelaki itu tak boleh cengeng." Ujarnya lalu masuk kedalam kamar.


Leon memeluk Haeun. Sikap Kris selalu ketus dan begitu tak menyukainya.

__ADS_1


Haeun menghela nafas panjang. Ia jadi serba salah. Dulu, Kris meminta izin padanya untuk mengajak putranya karena Haeun tak kunjung hamil. Tapi, kenapa sekarang pria itu begitu abai seolah Leon adalah beban saja.


Wanita hamil itu mencium pucuk kepala Leon..Hatinya ikut sakit melihat Leon yang seperti ini.


...*****************...


Arfian menarik tangan Rahel dengan lembut menuju sebuah bangunan besar bercat pink. Banyak sekali bunga dan tanaman yang begitu besar di sekelilingnya.


Begitu menakjubkan, di kota besar ini masih ada pemandangan yang begitu indah. Rumput hijau juga bunga-bunga liar sangat indah di pandang.


"tempat apa ini?" Tanya Rahel merasa takjub, pertama kali baginya datang ketempat ini.


Arfian tersenyum, semakin menarik Rahel masuk kedalam.


"waaah...indahnya." Rahel tak bisa menahan rasa kagumnya begitu masuk kedalam bangunan.


Banyak sekoli pernak-pernik Valentin yang di pajang. Bahkan coklat cair yang di buat persis seperti airmancur. Pengunjungnya tak terlalu ramai, hanya beberapa pasangan muda-mudi yang sepertinya memang lagi kasmaran.


Rahel melirik Arfian.


"tahu tempat seindah ini, aku tak menyangka kak Ar."


"humm..aku tahu dari Rega." Ujarnya sambil memperlihatkan ponselnya yang menunjukkan pesan chat dari Rega.


Rahel bergumam pelan. Dia pikir Arfian memang sering kemari, tapi mengetahui jika Rega lah yang memberitahukannya membuat Rahel jadi merasa sangat bahagia.


Itu artinya dia adalah wanita pertama yang datang kemari bersama Arfian. Tak di pungkiri bahwa dirinya sangat senang.


"uumm...ini sangat indah. aku suka." Rahel bergelayut manja di lengan Arfian.


"baguslah. aku pikir kau akan mengejekku karena membawa ketempat seperti ini. tidak Rahel sekali."


"hahha...kak Ar. begini-begini juga aku wanita loh."


Arfian mencubit gemas hidung Rahel. Wanita yang dulu sangat tomboi juga ceplas-ceplos ini kini benar-benar sangat menggemaskan. Wajahnya menjadi sangat cantik juga cara berpakaiannya yang nampak imut.


Tidak ada Rahel yang dulu, sekarang Rahel sudah bermetamorfosis menjadi lebih baik dari sebelumnya.


...***************...

__ADS_1


__ADS_2