
Rega dan Sena duduk tak nyaman karena terlalu dekat. Di tambah lagi Nyonya Rada sedari tadi terus melihat ke arah mereka. Wanita itu seperti sedang mengamati pergerakan keduanya. Dengan cepat Sena berdiri, berjalan mendekati ranjang pesakitan Echa.
"humm...apa kau sedang mimpi indah hingga tak mau bangun." Ujarnya.
Sena merasa miris sekali, anak sekecil Echa harus mengalami hal seperti ini. Luka di kepalanya cukup parah, meskipun dokter mengatakan Echa mengalami kemajuan yang cukup bagus. Tapi Sena merasa tak yakin jika gadis kecil ini akan siuman dalam waktu dekat.
"Sena, apa kau menyukai Arfian?" Tanya Rada tiba-tiba.
Sena tergugu di tempatnya. Melirik Rega sekilas, rasanya begitu pahit untuk mengatakan "ya". Ia menelan ludahnya, melihat wajah Rega membuat lidah nya kelu.
Rada, menatap Sena sebentar tanpa mengatakan apapun lalu kembali duduk.
"jika kau merasa tak yakin jawab yang jujur, jangan menyesal karena terlalu memikirkan bibi." Ucapan Rada membuat Sena maupun Rega terdiam seribu bahasa.
Wanita yang tak lagi muda itu seolah mengetahui sesuatu. Bukankah tadi dia sudah yakin dengan Rega, kalau mereka berdua tak ada apa-apa. Kenapa sekarang Rada seolah ragu.
Sena melirik Rega, keduanya terus saling memandang dengan pandangan sendu. Jelas sekali ada secercah cinta dari tatapan keduanya. Rada yang tak sengaja melihat itu langsung menarik tangan Rega kuat.
"Rega, katakan pada mamah. apa yang di katakan Rihanna benar, kau menyukai Sena?"
"A..apa yang mamah katakan. kenapa mamah..."
"jawab Rega." Tegas Rada.
Sena menunduk dalam tak berani menatap wajah Rada. Melihat Rada yang memandang wajah Rega dengan serius membuat Sena merasa takut. Detak jantungnya bahkan sudah tak beraturan.
"aku...." Rega meremat jemarinya. "mencintai Sena. itu benar." Ujarnya seraya memejamkan matanya.
Rada terduduk lemas. Keinginannya untuk menjodohkan Sena dan Arfian harus lebur. Ia tak mungkin membuat putranya terluka.Rada mendongak.
"tapi kenapa kau tak mengatakannya, kenapa kau terus mengatakan setuju dengan niat mamah?"
Rega terdiam. Sena pun sama, dia tak mampu berkata-kata.
Rada mengusap wajah nya kasar.
"mah, aku selalu ingin mengatakannya, tapi mamah begitu berharap Sena dan kak Arfian bersatu. jadi...aku..." Rega berjongkok, mensejajarkan tinggi nya dengan Rada yang duduk di kursi.
Sena pun melakukan hal yang sama, berjongkok di samping Rega.
"bibi..maafkan aku." Wajahnya penuh penyesalan. "aku sudah membuat kecewa. aku mencintai Rega." Akhirnya kata itu terucap dengan lancar.
Rega melihat Sena tak percaya. Dulu dia begitu sulit mengatakannya tapi sekarang tanpa banyak berpikir Sena mengakuinya dengan lantang.
Rada menarik nafas dalam. Tak menyangka akan serumit ini. Dia pikir semua rencananya akan berjalan lancar. Nyatanya dia harus di lema, antara menyetujui hubungan kedua anak muda di hadapannya atau tetap bersikeras menjodohkan Sena dengan Arfian.
Tak ada lagi wanita yang pantas untuk Arfian selain Sena.
"mamah..."
"bibi..."
Rega dan Sena merasa takut karena Rada tetap diam. Dengan perlahan tangannya di genggam oleh Rega. Matanya bergulir memandang wajah Rega.
__ADS_1
"mah, maafkan Rega." Ucapnya tulus. "jika memang mamah ingin Sena dengan kak Arfian, aku iklhas. Sena pasti akan bahagia dengan kak Arfian."
Sena mulai meneteskan airmatanya. Rasanya sangat sakit hingga tak bisa menahan sesak di dada. Sebuah kisah cinta yang belum pernah dia rasakan harus berakhir seperti ini.
...*********************...
Prang...
Piring yang tadinya tersusun cantik di atas meja kini berserakan di lantai. Makanan yang terhidang pun hancur berantakan. Dengan marah dia melempar semua yang ada di atas meja makan. Melihat kedua orang itu bermesraan saling menyuapi membuatnya naik pitam.
"enak ya.. kau bersenang-senang seperti ini." Dengusnya. "sementara putrimu terbaring di rumah sakit, apa kau sama sekali tak peduli padanya? sedikit saja kau merasa peduli."
"Rena, kau..bicara ngelantur. Putri apa? jangan berhalusinasi di siang bolong." Ben mencengkram lengan Rena kuat.
Liliana yang melihat itu mundur beberapa langkah, dalam hati dia tersenyum. Selalu merasa senang jika melihat Ben dan Rena bertengkar seperti ini.
"kau.." Rena menatap Ben marah. "echa putri mu, apa kau benar-benar tak peduli padanya?" Teriak Ben.
Ben mengeratkan genggaman tangannya di lengan Rena hingga wanita itu sedikit meringis. Tentu saja dia melakukannya karena kesal, takut jika Liliana nanti akan mempertanyakan apa yang dikatakan Rena.
"ben, kau sudah memiliki seorang putri?" Tanya Liliana mendramatisir, pura-pura tak tahu apapun padahal semau kebenarannya sudah dia pegang di tangan dengan erat.
Ben tentu saja gelagapan, dia tak bisa membuat ladang emasnya terhasut seperti ini. Pernikahan mereka masih belum terjadi, Ben takut jika Liliana akan membatalkan nya karena marah. Maka semua usaha nya untuk menjerat wanita kaya ini akan sia-sia.
"jangan percaya. dia hanya marah dan cemburu jadi mengatakan hal-hal yang aneh agar kita bertengkar." Ben mendekati Liliana.
"stop." Ujar Liliana. "Rena, asal kau tahu saja, Ben milik ku dan kau hanya simpanan. cara apapun yang kau lakukan tak akan membuat kita berpisah."
Rena tersenyum remeh. Merasa jika dirinya sudah terlalu bodoh selama ini. Memilih kotoran dan membuang emas permata. Ben sungguh menjijikan sekarang di matanya.
Memandang Ben dan Liliana bergantian.
"dengarkan aku Ben, kau akan menyesal seumur hidup mu." Ancamnya lalu pergi.
Liliana tersenyum puas, melihat Ben yang berekspresi ragu. Pria ini tentu saja tak bisa membiarkan Rena pergi. Karena di dalam hatinya wanita itu tetap cinta pertamanya.
Cinta memang sangat rumit.
"kejar saja." Ujar Liliana pura-pura peduli.
Ben tanpa berpikir lagi langsung mengejar Rena. Meninggalkan Liliana yang tertawa begitu keras.
"hahahhahahaa... tunggu saja kehancuran mu Ben." Desis nya.
...*****************...
Arfian melangkah menuju sebuah cafe terkenal di daerah tersebut. Dia melihat sekitar cafe, lalu tersenyum tipis saat melihat keberadaan orang yang telah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.
"maaf agak lama."
"tak apa. duduklah, aku sudah memesan latte, mungkin agak sedikit tak enak karena sudah terlalu lama."
"humm..." Arfian langsung meneguknya, rasa hausnya hilang seketika.
__ADS_1
"jadi...apa yang kau inginkan memintaku kemari?"
Arfian nampak ragu untuk berkata, tapi dengan cepat dia mengatakan semuanya. Wanita di hadapannya seolah tak peduli, wajahnya nampak cuek dan datar.
"aku tahu, kau marah bukan?"
"ya. tentu saja."
"Rena memilih meninggalkan ku. apa kau sudah tahu itu?"
"ya tentu. itu karma."
Arfian tersenyum miris. Wanita ini selalu saja bersikap ketus semenjak dirinya tinggal bersama Rena.
"ya kau benar. dulu aku menolakmu karena Rena, tak mendengar kata-kata mu sedikit pun. tapi..apa sekarang kau masih membuka pintu hatimu?"
Wanita itu mendengus. "jangan bodoh. aku sudah menikah dan memiliki seorang putri."
"tapi kau bercerai satu tahun lalu."
"bagaimana..."
"aku tahu. maaf mencari tahu semua tentang mu."
"cih... menyebalkan. kau selalu seenaknya."
"kau tahu Rihanna?"
Mendengar nama itu membuatnya semakin kesal. Tentu saja dia ingat, wanita itu yang menyebabkan dia dan suaminya berpisah.
"katakan, sebenarnya kau ingin aku melakukan apa?"
"jika kau tak mau menerimaku maka tak ada pilihan lain, mungkin aku akan mendekati nya?"
Brak..
Menggebrak meja dengan kuat, membuat para pengunjung lain melihat ke arahnya.
"awas saja jika kau berani."
Arfian tersenyum tipis.
"jadi.. bagaimana?"
"baiklah."
"tapi hanya sekedar kontrak." Kalimat terakhir yang di katakan Arfian membuat wanita itu menggeram keras.
Arfian merasa sudah keterlaluan tapi hanya ini jalan satu-satunya demi Rega dan Sena.
Mungkin jika dia sudah memiliki pilihan maka Rada tak akan memaksanya menikahi Sena.
"oke. tapi.. jangan paksa aku untuk bersikap baik pada putri mu dan rena."
__ADS_1
...********************...