Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 61


__ADS_3

Rahel melihat Arfian yang tengah membuat sarapan sendiri, pria itu menggoreng telur dan memanggang roti. Ini baru jam 6 pas tapi pria itu sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"kak Ar.. biar aku saja. kenapa tak membangunkan kalau mau sarapan?" Rahel mencoba mengambil alih penggorengan yang di pegang Arfian.


"humm...kau bukan pembantu Rahel." Ujar Arfian. "duduklah, aku sudah selesai. kita sarapan bersama ya."


Wajah Rahel tersipu, Arfian begitu lembut memperlakukan seorang wanita yang di cintainya. Tak menyangka setelah bertahun-tahun menanti akhirnya momen seperti ini tiba.


"kenapa diam?" Mencubit ujung hidung Rahel gemas.


"hum..tidak. rasanya seperti mimpi saja." Lirih Rahel tak berbohong.


Memang masih terasa seperti mimpi baginya, hari ini dia sudah resmi menjadi kekasih Arfian bahkan pria ini begitu lembut juga penuh perhatian padanya.


Arfian tersenyum tipis.


Mereka sarapan berdua saja karena Echa masih bergelung selimut di kamarnya. Gadis itu sepertinya tidak ingin bangun karena malas berangkat sekolah.


Dia tahu, Arfian kini telah mengizinkan dirinya untuk bersekolah kembali. Tapi Echa tak mau, mengira jika Rahel pasti tak akan mengantarnya.


"bangunkan Echa jam 7. dia berangkat ke sekolah jam 8." Jelas Arfian.


"iya aku tahu. humm... sebentar." Rahel bangun dari duduknya, ia menyudahi sarapannya.


Arfian mengeryit heran saat Rahel tiba-tiba menarik tangannya untuk berdiri. Wanita itu tak bicara apa-apa, langsung memasangkan dasi yang belum rapi itu dengan tanpa rasa gugup sedikit pun.


Tidak seperti Arfian yang kini tengah menahan nafasnya. Terlalu dekat hingga membuatnya grogi.


"sudah selesai." Rahel tersenyum puas melihat hasilnya.


Arfian berdeham pelan lalu segera meneguk air dengan cepat. Jantungnya terlalu cepat berdetak hingga membuatnya tak nyaman.


"aku berangkat. jangan lupa, bangun kan Echa sebentar lagi." Ingatnya sekali lagi.


"iya."


Rahel mengikuti Arfian hingga pintu, melambaikan tangannya ke arah Arfian. Hati keduanya menghangat dengan hal-hal kecil itu, perhatian kecil tapi berpengaruh besar bagi Arfian.


Dulu saja, ketika masih bersama Rena hal seperti ini tak pernah ia rasakan. Wanita itu lebih mementingkan dirinya dan tak pernah memperhatikan Arfian.


Melihat mobil Arfian sudah menjauh Rahel segera berlari menuju kamar Echa. Membangunkan gadis kecil itu karena hampir jam setengah delapan.


"sayang, ayo bangun."


"umm..Echa mau bobo saja."


"Echa kan harus sekolah."

__ADS_1


Echa menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Tak mau kesekolah karena takut Rahel tak mengantarkannya.


"tidak mau."


"loh, memangnya Echa mau jadi anak bodoh? tak bisa baca, berhitung dan juga nanti orang-orang tak menyukainya."


"Echa tak mau sekolah sendiri." Rajuknya.


Rahel menarik selimutnya lalu mengelus rambut Echa.


"kata siapa Echa berangkat sendiri? kan ada kak Rahel."


Echa bangun, menatap Rahel dengan alis. bertaut.


"benarkah?"


"iya. ayo.. kita mandi dulu."


...****************...


Raja memarkirkan mobilnya, tersenyum tipis melihat Rahel yang melambaikan tangannya. Pria ini memaksa ingin bertemu dengannya, Rahel menjadi tak tega untuk menolak. Ia pun memberikan alamat rumah Arfian padanya dan menunggu Raja di depan gerbang bersama Echa.


"jadi..kau bekerja di sini?" Tanya Raja.


Rahel mengangguk. Raja meminta Echa yang sembunyi di belakang Rahel. Gadis itu mengintip takut karena tak mengenalnya.


"iya." Rahel tersenyum canggung.


Raja belum tahu jika majikan Rahel adalah Arfian juga sekarang status mereka bukanlah majikan dan pembantu lagi. Rahel bingung harus menjelaskan seperti apa, jadi memilih untuk tetap diam saja tanpa berniat sedikit pun memberi tahu Raja.


Echa menatap Raja tak suka. Terus menggenggam tangan Rahel erat. Merasa jika pria ini selalu saja melihat Rahel, Echa tak bisa membiarkan itu. Rahel adalah calon ibunya, tak ada yang boleh merebutnya.


"kakak, kenapa kita naik mobil nya?"


"Echa, kenalkan ini dokter raja. dia akan mengantar kita sekolah."


Echa menggelengkan kepalanya.


"kenapa? apa Echa takut di suntik?" Goda Raja mencoba membuat gadis itu nyaman dengan keberadaannya.


Echa menjulurkan lidahnya. Menarik tangan Rahel yang akan membuka pintu mobil untuknya.


"kita naik taksi saja."


"tapi.."


Raja menghela nafas panjang. Sepertinya dia harus bisa membuat gadis ini menyukainya hingga tak menghalanginya untuk dekat dengan Rahel.

__ADS_1


"maaf ya Raja." Sesal Rahel merasa bersalah, Raja sudah jauh-jauh datang kemari untuk menjemputnya.


"tak apa. aku pergi saja. Haruka sudah menunggu ku." Raja mendesah kecewa.


Echa tersenyum penuh kemenangan. Dia tak akan membiarkan siapapun mendekati Rahel.


Akhirnya mereka pun berangkat ke sekolah menggunakan taksi online. Rahel tak bisa egois dengan memaksakan kehendaknya, meskipun sebenarnya dia ingin sekali berangkat bersama Raja.


Bagaimana pun rasa rindunya pada sahabatnya itu belum terobati. Hanya bertemu sebentar tak cukup baginya, masih banyak yang ingin dia ceritakan pada pria itu.


...************...


Arfian merasa pekerjaannya berjalan lancar hari ini, moodnya dalam keadaan baik sehingga tidak membuatnya stres dalam mengerjakan segalanya. Bahkan senyuman di bibirnya tak pudar sedari tadi.


Terlihat jelas jika dia dalam keadaan yang terbaik sekarang.


"bagus, hari ini kita pulang siang. kalian sudah bekerja dengan baik." Ucap Arfian membuat para karyawannya bersorak-sorai.


Arfian langsung merapikan meja kerjanya, tak sabar ingin segera pulang. Sekarang tak hanya Echa yang bisa mengobati rasa lelahnya tapi ada satu orang lagi yaitu Rahel.


Membayangkan wajahnya tersenyum menyambut kedatangannya membuat Arfian ingin segera sampai di rumah.


Tak tahu saja jika di rumah saat ini tak ada siapapun. Rahel mengajak Echa keluar sepulang sekolah tadi. Gadis itu masih marah perihal pagi tadi, ia tak suka melihat Rahel dekat dengan pria lain selain Arfian.


Membujuknya agar tak cemberut lagi. Rahel pun mengajak Echa pergi ke suatu tempat.


"enak bukan?" Tanya Rahel pada Echa yang memakan burgernya.


Gadis itu mengangguk semangat. Tentu saja kemarahannya terobati sekarang, oleh burger ukuran besar.


Sedang menikmati makanannya tiba-tiba pria yang dibencinya kembali datang. Echa meletakkan burgernya, menatap Rahel dengan cepat.


Menghembuskan nafas kasar. Bagaimana lagi, Raja memaksa ingin bertemu dan dirinya pun begitu. Lagipula sekarang Raja tak sendirian, dia bersama Haruka.


Meski begitu Echa tetap tak menyukainya.


Menurutnya pandangan Raja terhadap Rahel sangat menyebalkan. Seolah ingin merebut Rahel darinya.


"Echa mau pulang." Renggutnya.


Haruka segera meletakkan sebotol susu coklat di hadapan Echa.


"kenapa? ini aku kasih susu." Ujarnya. "kau tak suka kami duduk di sini?"


Echa menatap Haruka lalu Raja. Merasa jika dirinya sudah salah, bertindak tidak sopan pada orang yang lebih tua. Mengambil botol itu lalu kembali memakan burgernya. Tapi meski begitu ia tetap waspada terhadap Raja, duduk menempel pada Rahel.


Raja merasa tak nyaman karena terus di tatap seperti itu oleh Echa.

__ADS_1


...******************...


__ADS_2