
Pagi harinya, David tengah bersiap-siap berangkat ke Rusia. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 7. 23 menit. kemudian David menghubungi nomor Vincen, "Apa kamu sudah menyiapkannya?".
"Tuan, apa sebaiknya tuan menunda perjalanan untuk hari ini" Ujar Vincen.
"Aku tau apa yang kamu khawatirkan Vincen, ini semua pasti Steven".
DDDRRRRTTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Ada panggilan masuk, aku akan segera menuju bandara. Hallo" Jawab David.
"Ini paman David, kalau kamu tidak sedang sibuk paman ingin mengajak mu makan siang bersama dengan bibi mu" Ucap Robert.
"Saya tidak bisa" Kesal David mematikan ponselnya. Setelah itu, ia keluar dari dalam kamar. Disana David melihat Nadia yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya, namun ia bukannya menghampiri Nadia, David malah pergi begitu saja.
"Tuan, sarapannya" Panggil Nadia. Tetapi David sudah keluar dari sana. "Hhhmmmsss.. Kenapa dia dingin sekali? padahal aku tidak berharap apa-apa darinya" Dengus Nadia melihat kopi yang telah ia siapkan.
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Iya Zic...
"Nadia kamu baik-baik saja? aku dengar kamu terluka.. Maafkan aku...
"Hey, aku baik-baik saja Zico. Kamu tidak perlu khawatir seperti itu" Potong Nadia mendengar ocehan Zico. "Sekarang kamu dimana?".
"Masih dirumah, sebentar lagi aku akan berangkat. Apa kamu butuh tumpangan?".
"Tidak, terima kasih. Sampai jumpa di kantor" Begitu Nadia mematikan ponselnya, ia duduk kembali menikmati sarapannya. Sembari menikmati sarapan, Nadia mengingat kejadian tadi malam di dalam club, "Kurang ajar. Berani-beraninya dia menyakiti seorang polisi. Lihat saja, aku akan menangkap kalian semua" Geram Nadia dengan senyuman mematikan.
Setibanya David di bandara, ia melihat Bagas dan Vincen menunggunya di depan pesawat, "Tuan" Panggil Bagas berdiri di hadapan David.
"Mmmmmm?".
Bagas malah terdiam.
David mengerutkan keningnya melihat Bagas yang malah terdiam, "Ada apa dengan kalian berdua?" Kemudian David tersenyum. "Bukankah aku sudah memberitahu mu Vin, jangan khawatir".
"Tapi tuan, kami merasa ini jebakan".
David menghela nafas, "Ayo" Masuknya kedalam pesawat tersebut. Bagas dan Vincen yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengikuti perintah David.
Kini Nadia telah berada di kantor, Bayus langsung menghampiri Nadia, "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya dengan khawatir.
"Iya".
"Syukurlah.. Mulai hari ini kalian semua harus lebih hati-hati lagi. Setelah kejadian semalam, saya yakin mereka pasti akan lebih hati-hati lagi" Ucap Bayus. "Riko, kamu bisa mengintrogasi mereka" Suruh Bayus kepada mereka yang ketahuan memakai di lokasi kejadian.
"Baik" Angguk Riko.
Kemudian Zico memperhatikan jari tangan kanan Nadia yang lebam. "Nad" Panggilnya.
"Hhhhmmm?" Nadia memperhatikan arah padangan mata Zico. "Aahhh, semalam tangan ku terhimpit di pintu, ujungnya jadi seperti ini" Senyum Nadia.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini, aku akan segera kembali".
"Kamu mau kemana?" Tetapi Zico telah berlari dari hadapannya. Lalu Nadia melihat Diva, "Buk" Panggilnya.
"Mmmm.. Ada apa Nadia? kalau kita sedang berdua kamu panggil mbak saja biar sedikit lebih santai".
"Baiklah. Ini soal kejadian semalam, aku tidak terima dengan apa yang telah mereka lakukan kepada kita. Apa sebaiknya kita kesana lagi?".
Diva melihat sekitarnya, "Mendekatlah, ini rahasia kita berdua. Karna ketua tidak akan mendapatkan surat perintah lagi, jadi kita tidak akan bisa menggeledah tempat itu lagi".
"Lalu?".
"Kita akan bergerak sendiri".
"Setuju" Angguk Nadia mengerti.
"Mmmmmm.. Itu Zico sudah datang" Beritahu Diva melihat Zico telah dibelakang Nadia.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Zico penasaran.
"Tidak ada hal penting" Senyum Nadia melihat kotak P3K di atas tangan Zico. "Itu apa Co?".
"Kemari, aku akan mengobati luka tangan mu".
"Astaga Zico, aku baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir seperti itu".
"Diamlah".
.
Riko yang sedang mengintrogasi di ruang tertutup terlihat sangat marah kepada pria yang berada di hadapannya itu, "Sekali lagi saya bertanya, dari mana kamu mendapatkan benda ini?".
"Ck, bukankah saya sudah mengatakan kepada mu kalau saya mendapatkan itu dari rekan saya yang juga sudah kalian tahan".
BBBBRRRAAKKK..
"Saya benar-benar akan membunuh mu kalau kamu tidak memberitahu saya siapa pengedar obat larangan ini".
"Hhhhmmmmsss... Sebaiknya kamu memasukkan saya ke penjara sebelum pengacara saya datang. Kamu terlalu berisik sekali" Kesalnya melihat Riko.
"Sial" Umpat Riko.
Setelah itu Riko meninggalkan tempat tersebut dan menyuruh polisi yang bertugas disana untuk tidak memberinya minum sampai pengacaranya tiba.
"Riko" Panggil Raka.
"Aahhh.. Sial" Geram Riko.
"Ada apa?".
"Ini tidak akan berhasil, aku sudah memberinya beberapa pukulan tapi dia sama sekali tidak menjawab dari mana ia mendapatkan obat larangan itu".
__ADS_1
"Hhhmmmsss, aku juga mendapatkan jawaban yang sama".
.
Sekarang David dan kedua anak buahnya telah tiba di Rusia, mereka langsung menuju kediaman Beyonce yang terjaga sangat ketat. Melihat David turun dari dalam mobil, anak buah Beyonce yang bertugas langsung mengenali David.
Setelah itu, mereka membawa David kearah taman belakang istana milik kediaman Beyonce, "Tuan, ada David" Ucapnya memberitahu Beyonce.
Mendengar itu Beyonce tersenyum, lalu menyuruh David duduk di hadapannya. "Kamu mau minum teh atau kopi?".
"Kopi" Jawabnya.
"Kamu dengar itu? siapkan kopi kesukaan dia" Ucap Beyonce kepada bodyguard.
"Siap tuan".
Sambil menunggu kopi David tiba, Beyonce melihat David yang sedang melihatnya dengan tatapan bertanya-tanya. "Apa kabar?" Tanya David.
"Seperti yang kamu lihat" Jawabnya meminum tehnya kembali. "Kamu tau aku sudah tua, dan sisa hidup ku tidak akan lama lagi".
"Apa yang sedang anda bicarakan?".
"Berhati-hatilah.." David mengerutkan keningnya, "Sekarang musuh mu ada dimana-mana dan aku tidak bisa lagi melindungi mu. Aku dengar dari kedua anak buah mu kalau kamu sudah menikah, apa kamu bahagia?".
"Mmmmmm.. Aku menikah bukan karna dasar cinta".
"Bagus. Ingat, jangan sampai kamu mencintai wanita itu kalau kamu tidak ingin hidup mu hancur di tangan musuh".
"Aku akan mengingatnya".
Begitu kopi tersebut tiba, Beyonce menyuruh David meminum kopinya dan menyuruh bodyguardnya sedikit menjauh dari mereka. "David, hanya kamu yang bisa aku percayai dari pada anak ku sendiri. Setelah aku mati, aku mau kamu yang akan melanjutkan pekerjaan ini".
"Tolong jangan berkata seperti itu".
"Gery telah bekerja sama dengan Steven. Bagaimana bisa aku mempercayai anak ku sendiri".
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku di indonesia?".
"Jangan khawatir, dari sana kamu bisa memantau mereka disini".
David menghela nafas panjang menatap Beyonce yang selama ini telah ia anggap sebagai orang tuanya. "Baiklah" Angguk David.
"Terima kasih. Sebaiknya kamu kembali, ini semua jebakan yang telah di siapkan oleh Gery untuk menangkap mu".
"Aku tau".
Beyonce melihat bodyguard-nya itu. "Bawa dia pergi dari sini, jangan sampai Gery dan orang kepercayaan melihat David".
"Siap tuan" Angguknya. "Mari".
David belum bergerak dari kursinya, "Apa yang kamu tunggu lagi? ayo pergi dari sini".
__ADS_1
"Aku harap kamu mendapatkan umur yang panjang" Tunduk David sebelum meninggalkan Beyonce.