
Didalam kamar Nadia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Dengan mata yang masih terbuka membuat Nadia tidak bisa terlelap, mengingat ia yang sudah tidur lebih dari 5 jam. "Hhhmmmsss" Dengus Nadia terlelah.
Kemudian Nadia menyambar ponselnya yang berada di atas meja laci tepat di samping ranjangnya. "Tidak ada notifikasi" Setelah itu Nadia meletakkannya kembali. "Apa dia sudah tidur?".
.
Pagi hari, Nadia terbangun dari tidurnya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 6 pagi. Lalu Nadia memasuki kamar mandi, tidak membutuhkan waktu yang lama, ia segera keluar dari sana dan langsung menuju dapur untuk membuatkan sarapan pagi untuk sang suami.
"Sepertinya dia belum bangun. Kopi dimana? ini dia, dan juga rotinya. Baiklah, sekarang tinggal menunggu dia bangun" Sambil menunggu David keluar dari dalam kamar. Nadia membuka ponselnya melihat-lihat tempat yang ingin dia kunjungi sebelum bertugas.
Ceklek!
"Dia sudah datang" Dengan cepat Nadia memasukkan ponselnya. "Selamat pagi tuan" Senyum Nadia.
"Mmmmmmm".
"Ini tuan, saya sudah menyiapkan sarapan".
Tampa membalas Nadia, David langsung menyeruput kopinya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Nadia. "Tuan tunggu" Tahan Nadia.
David menghentikan langkahnya melihat Nadia, "Ada apa?".
Tersenyum tipis, "Ini, tuan belum memakannya" Jawab Nadia menunjuk roti bakar yang tadi ia panggang. Namun, David yang tidak ingin sarapan langsung pergi begitu saja dari hadapan Nadia. "Ya sudah kalau dia tidak ingin sarapan" Gumam Nandi menikmati sarapannya.
Setibanya David dikantor, ia segera memasuki ruangannya. Disana ia melihat Vincen menunggu, "Selamat pagi tuan" Sapa Vincen.
"Mmmmm.. Ada apa?".
"Jam 10 nanti ada rapat mendadak tuan".
"Rapat apa?".
"Tidak terlalu penting tuan, kalau tuan tidak bisa saya akan menggantikannya".
David melirik jam tangannya, "Mmmmm, kamu boleh menggantikannya".
"Baik tuan" Setelah itu Vincen membukakan pintu ruangan David. Sambil mengikuti David dari belakang, Vincen mengeluarkan beberapa dokumen penting yang harus David tanda tangani. "Oohh iya tuan, sepertinya polisi tidak akan berhenti mengintai kita".
"Apa mereka masih saja mengintai kita?".
"Iya tuan".
David tersenyum sinis, "Sepertinya dengan melenyapkan dua orang dari rekannya belum cukup membuat mereka berhenti. Kalau mereka masih saja bersikeras menangkap kita, kalian langsung saja membunuh mereka" Tegas David.
"Baik tuan" Selesai David menandatangani, Vincen segera keluar dari sana. Kemudian David membuka komputernya sambil melihat email masuk.
__ADS_1
Tok.. Tok..
"Masuk" Jawab David.
Ceklek!
"Tuan, ada tamu" Beritahu sekretarisnya.
David melihatnya, "Siapa?".
"Saya kurang tau tuan".
"Suruh dia masuk".
"Baik tuan" Ia segera menyuruh masuk tamu tersebut. "Silahkan tuan".
"Apa dia sedang sibuk? Baiklah, terima kasih" Masuknya kedalam ruangan David.
Tok...
Dengan tersenyum ia memasuki ruangan David, "David" Panggilnya.
David melirik siapa yang baru saja memanggil namanya, lalu David tersenyum sinis. "Ada apa paman kemari?".
"Kemarilah, apa kamu tidak merindukan paman mu ini?" Tanya balik Robert.
"Sepertinya akan lebih enak bicara jika kamu menawarkan paman segelas kopi".
David menelpon sekretarisnya membawakan dua gelas kopi, setelah itu David menyuruh pamannya untuk bicara tujuan dia mendatangi dirinya. "David, paman butuh bantuan kamu".
David menaikan sebelah alisnya.
Tok.. Tok..
Ceklek!
"Kopinya tuan" Si sekretaris tersebut meletakkan dua gelas kopi dihadapan David dan Robert. Seperginya dia dari sana, baru Robert melanjutkan perkataanya lagi.
"Paman butuh dana. Bisakah kamu berinvestasi di perusahaan paman?".
David tersenyum sinis kembali, "Kenapa harus saya paman? bukankah selama ini paman.." Gantung David mengingat betapa kejamnya Robert selama ini kepada ibunya yang sudah meninggal.
"Kejadian masa lalu, paman harap kamu melupakan itu David. Maafkan paman selama ini yang sudah berprilaku kejam kepada ibu mu dan juga kamu. Tapi sekarang sudah berbeda David, sekarang kamu sudah menjadi orang terkaya di negera kita dan pastinya uang mu juga sudah sangat banyak. Jadi paman mohon, tolong bantu paman kali ini saja".
Lagi-lagi David semakin tersenyum benci kepada pamannya itu, "Kejadian masa lalu? dan sekarang paman meminta ku untuk melupakan masa lalu? hahahaha.. Sepertinya paman benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi mendatangi keponakan paman sendiri yang selama ini telah paman telantarkan".
__ADS_1
"Paman mohon David, kali ini saja tolong bantu paman".
David tampak berpikir, "Baiklah, saya akan memberi paman pinjaman".
Robert langsung tersenyum senang, "Terima kasih David. Paman yakin kamu tidak akan sekejam itu kepada paman".
"Paman jangan terlalu senang dulu, di dunia ini tidak ada yang gratis".
"Maksud kamu?".
"Saya mau paman bertekuk lutut di hadapan ku sambil memohon".
"Apa?" Kaget Robert.
"Kalau paman tidak bisa, saya tidak akan memaksakannya" David bangkit berdiri dari atas kursinya. Kemudian Robert dengan cepat langsung menahan langkah David. "Bagaimana? apa paman akan melakukannya?" Senyum David.
"Baiklah, paman akan melakukannya" Jawab Robert meskipun dalam hatinya ia sangat marah kepada David. Begitu ia bertekuk lutut di hadapan David, David pun langsung tersenyum senang.
"Baiklah, nanti Vincen yang akan mengurusnya".
"Terima kasih David".
"Mmmmm.. Sekarang paman bisa pergi".
Sekeluarnya Robert dari sana, dengan tangan mengepal ia tak henti-hentinya mengucapakan dalam hati kalau ia akan membalas David yang sudah menjatuhkan harga diri pamannya sendiri. "Dia tidak beda jauh dari ibunya. Dia benar-benar anak kurang ajar" Umpat Robert pergi.
David yang berada di ruangannya, ia tersenyum senang mengingat Robert yang bertekuk lutut dihadapannya sambil memohon, "Ini belum seberapa paman dengan apa yang pernah paman lakukan kepada ibu ku" Gumam David mengeluarkan sebatang rokok dari dalam jas.
.
Sekarang telah menunjukkan pukul 10 pagi, Nadia yang berada di kamar tidak ingin kemana-mana. Dengan malas Nadia menatap kearah jendela kaca dengan pemandangan gedung-gedung tinggi perkotaan. "Kak Lisa sedang apa yah? Aahh iya, Riwan pacar dia kan baru kembali dari amerika. Pasti kak Lisa menghabiskan waktu bersamanya. Apa sebaiknya aku menghubungi Zico? tapi.. Ck, sudahlah, sebaiknya aku istirahat di rumah saja mengingat hari libur ku tinggal 4 hari lagi".
Nadia menyalakan musik sambil menikmatinya sampai ia benar-benar terlelap dalam tidur.
DDDDRRRTTTT... DDDDRRRRTTTTT...
"Astaga, baru saja aku ingin tidur. Siapa sih yang menelpon ku? Hallo" Jawab Nadia malas.
"Nad, kamu dimana? aku berada di polda. Cepat kamu datang kemari. Hari libur kita sudah di tiadakan".
"Apa? ada apa co? kenapa jadi seperti ini?".
"Makanya kamu cepat kemari. Nanti aku akan memberitahu mu".
"Baiklah, aku akan segera datang kesana".
__ADS_1
"Mmmmm, aku akan menunggu mu".
"Ok" Nadia segera bergegas menganti pakaikan dengan pakai rapi. Dengan buru-buru ia menyuruh supir taksi membawanya dengan kecepatan tinggi. "Sepertinya aku harus membeli mobil" Gumam Nadia membenarkan pakaiannya.