Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 9


__ADS_3

Di dalam club tersebut para anggota polisi mengamankan beberapa tamu yang ketahuan memakai obat larangan di tempat. Kemudian Bayus meminta kepada petugas keamanan disana untuk menemui siapa pemilik dari club tersebut.


"Maaf, pemilik tempat ini bukanlah orang sembarangan yang bisa kalian temui dengan semudah ini" Jawab si petugas kemana tersebut.


Bayus tersenyum kesal kepadanya ingin memukul kalau saja Raka dan Riko tidak menahannya. "Cepat panggil dia sekarang juga, sebelum say..


"Disini" Potong Bagas yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. "Ada hal apa kalian mencari saya?".


Bayus menunjukkan surat perintah, "Mari ikut kami kekantor polisi sekarang juga".


Bagas mendengus, "Baiklah" Angguknya.


Setelah itu Bayus membawa Bagas dan Zico ke kantor polisi. Sedangkan Raka, Riko, Diva dan Nadia masih tertinggal disana untuk mencari bukti yang bisa mereka bawa kekantor polisi. "Nadia, ikut saya" Ajak Diva membawa Nadia kesebuah ruangan yang selama ini ia curigai.


Namun saat Diva dan Nadia memasuki ruangan tersebut, mereka malah menemukan beberapa pria hidung belang bersama dengan wanita-wanita cantik. "Wah, kita kedatangan tamu cantik" Tawa mereka melihat Diva dan Nadia.


"Cepat, bawa mereka kemari" Ucapnya kepada bawahannya.


Diva menyeringai, "Jangan berani menyentuh kami kalau kalian semua tidak ingin berakhir di penjara" Bentak Diva dengan keras. Mereka terdiam, lalu salah satu pria hidung belang tersebut mendatangi Diva dan Nadia. "Jangan mendekat, kalau tidak saya akan..." Gantung Diva mengeluarkan pistolnya dari dalam jaket.


"Ck, benda seperti itu juga saya memilikinya" Kesal dia melihat Diva.


"Saya bilang jangan mendekat" Teriak Diva kembali ingin memukulnya. Namun si pria tersebut telah duluan memukul punggung Diva hingga ia jatuh pingsan di hadapan Nadia.


Kemudian ia melihat Nadia dari atas sampai bawah, "Boleh juga" Senyumnya.


"Jangan mendekat, kami seorang polisi" Bentak Nadia memberanikan diri.


"Lalu? kalau kalian seorang polisi kami harus bagaimana?" Tawa mereka. "Bagaimana kalau kamu minum dulu dengan kita? Ayo, tuangkan kepada dia anggurnya".


"Baiklah" Jawab salah satu dari mereka membawakan 1 gelas anggur merah. "Ini, minumlah nona cantik. Sepertinya rekan mu ini masih lama bangun".


Dengan marah Nadia menghempaskan tangannya sampai gelas tersebut tercampak diatas lantai. "Berani-beraninya kalia...


PPPLLLAAKKK...


Sebelum Nadia menyelesaikan perkataanya, ia telah mendapatkan sebuah tamparan kuat di wajahnya. Lalu ia menarik tangan Nadia, sampai Nadia bisa merasakan nafas pria kurang ajar yang berada di hadapannya itu. "Lepaskan saya!" Tegas Nadia.


"Ck, kamu cantik juga kalau di lihat dari dekat seperti ini" Senyumnya ingin menyentuh wajah Nadia. Namun Nadia yang tidak sudih disentuh oleh tangan pria kurang ajar itu, ia dengan cepat langsung memutarnya sehingga ia kesakitan. "Kamu..!!" Marahnya.


Tidak lama kemudian, Diva tersadar dari pingsannya. "Nadia awas" Kaget Diva.


BBUUNNGGHHH..


"Aaahhh...!!".


"Nadia..!!" Melihat darah bercucuran dari kepala Nadia, Diva mencari pistolnya.

__ADS_1


"Kamu mencari ini?" Tawa mereka.


"Sial, berikan pistol itu" Teriaknya.


"Ckckck.. Kenapa mereka harus mengirim seorang wanita? Pergilah, kami tidak ingin menyakiti kalian dan jangan pernah kembali lagi kemari" Ia mengeluarkan semua peluru dari dalam pistol Diva, lalu mengembalikannya. "Ini".


"Kurang ajar" Umpat Diva. "Kalau saja mereka tidak sebanyak ini, aku sudah menembak mereka" Setelah itu Diva membantu Nadia membawanya pergi dari sana.


"Diva" Kaget Riko dan Raka melihat Nadia berlumuran darah. "Apa yang terjadi? kenapa dia..


"Sshhuueeett.. Sebaiknya kita membawanya dulu kerumah sakit".


"Aahh iya. Ayo" Gegas mereka keluar dari sana menuju rumah sakit.


Sedangkan David dan Vincen yang melihat kejadian tersebut tidak ingin ikut campur meskipun David melihat Nadia terluka, "Kamu urus Bagas" Ucap David meninggalkan Vincen.


Setibanya mereka di rumah sakit, Nadia segera ditangani oleh dokter IGD, "kamu baik-baik saja?" Tanya Diva.


"Mmmmmm.. Ini sudah jam berapa?".


"Jam 10 malam".


"Tenyata sudah jam 10 malam. Apa kita sudah bisa kembali pulang?".


"Sebaiknya kamu dirawat dirumah sakit..


"Tapi..


"Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja, terima kasih sudah membawa saya kerumah sakit" Senyum Nadia kepada mereka bertiga.


"Kalau gitu, kami akan mengantar mu pulang" Ucap Riko.


"Tidak usah" Tolaknya lagi langsung pergi.


"Ya sudah biarkan saja. Apa kalian menemukan buktinya?" Tanya Diva.


"Mmmmm.. Kami menemukan ini diruangan pemilik tadi".


"Kalau gitu kita langsung kekantor saja. Ayo".


.


Setibanya Nadia di apertemen, ia melihat suasana disana terang. Dengan langkah pelan Nadia melangkahkan kakinya dengan wajah letih. "Dari mana saja?".


"Astaga" Kaget Nadia. Lalu ia melihat David berdiri dihadapannya, "Apa tuan sudah makan malam?".


David melihat kening Nadia yang terluka, setelah itu pergi begitu saja. "Ada apa dengannya? apa dia sedang marah? atau dia menunggu ku?" Nadia berjalan kearah dapur, ia melihat gelas kopi terletak diatas meja. "Sudah dingin, apa dia hanya minum kopi saja?".

__ADS_1


Nadia melirik kamar David yang tertutup, "Meskipun pernikahan ini atas perjodohan, tapi tetap saja aku harus bertanggung jawab terhadap dirinya" Nadia mencoba mendekati kamar David.


Tok.. Tok..


"Tuan ini say..


Ceklek!


"Aahhh" Kaget Nadia lagi begitu David tiba-tiba membuka pintu kamarnya. "Ck, tidak bisakah dia tidak mengejutkan ku" Batin Nadia.


"Ada apa?" Tanya David.


Tersenyum, "Itu, sepertinya tuan belum makan malam. Apa saya perlu menyiapkannya?".


"Tidak perlu" Tutupnya kembali.


"Tuan tunggu" Tahan Nadia, namun saat David menutup pintu tersebut cukup kuat. Nadia langsung berteriak histeris akibat dari tangannya yang terjepit.


"Kamu..!!" Kesal David menarik tangan Nadia dekat bibirnya. Tetapi dengan cepat David tersadar dengan apa yang barusan ia lakukan, setelah itu ia melepaskan tangan Nadia dan menutup pintu itu kembali. "Sial" Umpat David dalam hati.


Nadia yang masih berdiri di depan pintu kamar David masih merasakan perih di kelima jarinya, "Hari ini terasa sangat menyebalkan sekali" Gumam Nadia memasuki kamarnya. Kemudian ia menaruh salep pereda nyeri.


Sambil menunggu rasa perihnya hilang, Nadia membaringkan tubuhnya diatas ranjang tampa ia sadari ia telah terlelap.


David yang belum tidur, ia mendapatkan sebuah telponan dari Vincen. "Bagaimana?".


"Bagas sudah bebas tuan. Mereka tidak bisa menemukan bukti yang kuat untuk menjatuhkan kita".


"Bagus. Besok siapkan penerbangan ke Rusia".


"Ada apa tuan?".


David terdiam.


"Baik tuan, saya akan menyiapkannya" Jawab Vincen mematikan ponselnya.


"Ada apa Vin?" Tanya Bagas.


"Besok tuan David akan ke Rusia?".


"Rusia? kenapa? bukankah kemarin tuan Beyonce melarangnya untuk saat ini mengunjungi dirinya".


"Aku juga tidak tau tuan David ingin mengunjungi tuan Beyonce atau tidak. Kita lihat saja besok".


Bagas menarik nafas panjang sembari memikirkan David yang ingin pergi ke Rusia. "Aku merasakan suatu ada yang tidak beres Vin, sebaiknya kita menghalangi tuan David pergi kesana".


"Aku rasa itu hal yang bagus. Ayo".

__ADS_1


__ADS_2