
"Nadia.. Nadia.. Nadia.." Teriak David dari sebrang sana. Kemudian si pria tersebut tersenyum senang melihat Nadia yang tergeletak di atas lantai. Lalu ia menyambar ponsel Nadia, "Nadia, kamu dimana? kamu baik-baik saja? tolong jangan buat aku khawatir" Teriak David kembali.
Mendengar suara tersebut Nadia langsung tersenyum senang, "Wah, sekarang dia benar-benar mengkhawatirkan aku" Gumam Nadia. "Paman, tolong berikan ponsel itu kepada ku".
Ia menyeringai, lalu mengangkat ponsel Nadia dari atas lantai. "Hallo" Jawabnya.
"Kamu siapa? apa yang telah kamu lakukan kepadanya?" Bentak David dengan wajah memerah.
"Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya, aku hanya memukul kepalanya dengan botol minuman hahahaha" Tawanya menatap Nadia yang terluka.
"Kurang ajar, sekarang beritahu aku dimana kamu?".
"Ck, jangan buru-buru sekali. Wanita ini sendiri yang datang mengganggu harimau sedang tidur. Jadi dia akan bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan".
"Seujung kuku saja kamu berani menyentuhnya, aku akan membunuh mu. Camkan itu".
"Hahahaha.. Hidupku selalu membunuh orang yang sudah mengganggu ku, jangan salahkan aku jika dia mati ditangan ku, karna dia sendiri yang telah menyerahkan nyawanya".
Kemudian Nadia merangkap menghampiri si pria tersebut, "Paman, tolong berikan ponsel itu. Kamu tidak berurusan dengannya, kamu hanya berurusan dengan ku".
Si pria tersebut pun semakin tertawa di hadapan Nadia, lalu menghancurkan ponselnya di balik tembok. "Kamu tau, aku baru saja keluar dari dalam penjara. Dan sepertinya kamu belum tau siapa aku yang sebenarnya".
"Aku tau kamu siapa, makanya aku datang kemari dengan beberapa pertanyaan".
"Apa? kamu siapa berani menemui ku? di desa ini tidak ada satu orang pun yang berani menemui ku kecuali juragan orang kaya di desa ini".
Nadia menghela nafas, ia menyentuh keningnya yang masih mengeluarkan darah. "Aku tidak akan memberitahu mu siapa aku yang sebenarnya sebelum kamu menjawab pertanyaan ku".
"Sepertinya kamu benar-benar ingin mati, baiklah. Tidak apa-apa kalau aku masuk penjara lagi, karna kamu sendiri yang datang kemari" Ia menyambar pisau yang berada diatas meja. Namun saat itu juga Mira berteriak menyuruhnya berhenti, "Siapa lagi wanita ini? apa dia teman mu?".
"Mira, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu datang kemari? ayo lari. Dia bisa menyakiti mu, cepat".
__ADS_1
"Tidak, aku akan pergi bersama mu. Paman, tolong lepaskan dia, ku mohon".
"Kalau gitu kemarilah, jangan takut. Kamu ingin pergi bersamanya kan?".
"Tidak, jangan mendekatinya Mira, kamu jangan mendekatinya. Sebaiknya kamu pergi, ku mohon pergilah, jangan pedulikan aku".
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan mu. Seharusnya tadi aku tidak membawa mu datang kemari".
"Oohh.. Jadi kamu yang membawanya kemari?" Kesalnya mendekati Mira.
Mira melangkah mundur, "Paman, jangan sakiti dia. Dia tidak tau apa-apa" Tetapi si pria tersebut telah berhasil menarik rambut Mira saat ia mencoba melarikan diri dari sana. "Tidak..!!" Teriak Nadia memukulnya dari belakang. Namun bukannya berhasil, si pria tersebut malah semakin marah kepada Nadia dan Mira karna sudah mencoba ingin menyakiti dirinya.
"Kalian sendiri yang sudah membuat ku ingin membunuh kalian" Teriaknya memukul kepala Nadia di balik tembok dan juga Mira yang terhempas diatas lantai.
Lalu Mira melihat Nadia jatuh pingsan, dan membuat ia semakin ketakutan ketika si pria tersebut mendekatinya. "Jangan sakiti aku hiks.. Aku mohon jangan sakiti aku, aku tidak tau apa-apa hiks.. hiks.. Dan aku juga tidak tau siapa dia sebenarnya, dia hanya minta tolong kepada ku membawanya datang kemari. Kumohon paman, jangan sakiti aku" Tangis Mira di hadapannya.
"Siapa nama mu?".
"Mira?".
"Iya".
"Baiklah, aku akan melepaskan kan mu. Tapi kalau kamu berani memberitahu warga disini kalau wanita ini berada di rumah ku, maka aku akan membunuh mu dan juga kedua orang tua mu. Sekarang pergilah".
"I-iya, aku tidak akan memberitahu orang lain kalau wanita ini berada disini".
"Bagus" Senangnya.
Mira pun segera pergi dari sana tampa perduli kepada Nadia yang tergeletak diatas lantai dengan tubuh terluka. "Maafkan aku, aku belum berniat mati ditangannya" Ucap Mira dalam hati.
Kemudian si pria itu membawa tubuh Nadia kedalam kamarnya sambil memandangi wajah Nadia yang mulus dan cantik. Begitu ia meletakkan tubuh Nadia diatas ranjang, ia juga belum berhenti memandangi wajah Nadia dengan mata kehausan. "Sudah sangat lama aku tidak pernah lagi mencium aroma tubuh wanita cantik seperti mu" Senyumnya mencium aroma tubuh Nadia yang sangat enak.
__ADS_1
"Aaahhh.. Sepertinya aku harus mencoba mu, adik ku sudah ingin muntah" Ia menyentuh wajah Nadia yang berdarah dengan lembut dan juga bibirnya, "Benda kenyal ini, aku menyukainya" Ia pun langsung mencium bibi Nadia. "Aahh.. Ini sangat nikmati" Ucapnya dengan mata merem membuka bibir Nadia. Namun karna tidak ada balasan dari Nadia ia pun menghentikan ciuman tersebut.
"Ck, kamu tidak mengasikkan" Lalu ia tersenyum kembali melihat kedua gundukan Nadia yang menonjol dan juga leher jenjang Nadia yang sangat menggoda. "Boleh aku menyentuhnya?" Ia mengulurkan tangan kananya di benda kenyal sebelah kanan Nadia, lalu meremasnya dengan lembut.
"Aahhh.. Hhhuuuffff... Ini benar-benar sangat nikmat" Gumamnya mengulurkan tangan kirinya juga hingga kedua tangannya berada di buah dada Nadia, tetapi belum cukup juga, ia marasa akan lebih nikmat lagi jika kedua tangannya menyentuhnya secara langsung.
Namun sebelum ia menyentuhnya secara langsung, suara gedoran pintu pun terdengar di telinganya. "Aaiiss.. Siapa yang telah menganggu kesenangan ku?" Kesalnya menarik tangannya. "Kamu tunggu sebentar, aku membuka pintu dulu" Ia berjalan keluar dari dalam kamar.
Ceklek!
"Juragan" Ia pun tersenyum senang menyambut kedatang si juragan tersebut. "Silahkan masuk".
"Mmmmmm" Gumamnya langsung masuk kedalam. Disana ia melihat beberapa serpihan kaca pecah terletak diatas lantai, "Apa ini?".
"Tidak ada apa-apa, silahkan duduk. Aku akan membuatkan segelas kopi".
"Tidak usah, aku tidak ingin berlama-lama disini. Bagaimana kabar mu?".
"Aku baik-baik saja juragan seperti yang juragan lihat saat ini, dan terima kasih banyak sudah mengeluarkan aku secepat ini dari penjara".
"Itu tidak ada apa-apanya dengan kamu yang sudah membantu ku selama ini. Dan gara-gara kamu juga aku bisa kaya, besok malam kamu ada tugas".
"Apa itu juragan, aku siap melaksanakan perintah yang juragan minta".
"Kamu harus kesini, tuan besar kita meminta bertemu disana. Besok aku tidak bisa, karna besok aku akan menikah lagi dengan wanita cantik yang masih perawan" Senyumnya.
"Selamat juragan, aku turut senang".
"Mmmm.. Terima kasih. Kalau gitu aku pergi dulu, jangan lupa besok malam".
"Siap juragan" Tunduknya melihat si juragan tersebut meninggalkan rumahnya, lalu ia kembali masuk kedalam kamarnya, diatas tempat tidur ia masih melihat Nadia tertidur lelap tampa ada beban.
__ADS_1