
Nadia mulai merasa bosan, ia tidak tahan dengan apa yang sedang ia lihat. Ia benar-benar sangat marah dan muak. "Aku pergi" Bangkitnya meninggalkan David.
"Berhenti disana" Nadia bukannya berhenti, ia semakin cepat melangkahkan kedua kakinya keluar dari dalam kamar Alexa.
Kemudian David tersenyum, lalu ia kembali menyentuh wajah Alexa yang pura-pura tidur. "Kamu melihat wanita itu? dia pasti merasa aku sedang mempermainkannya. Hari ini dia benar-benar sangat menyedihkan".
Lalu David menghela nafas, "Aku pikir dia sangat berharga di mata Hendra, ternyata aku salah. Dia benar-benar tidak perduli kepadanya, bahkan dia enggan mengakui putrinya sendiri di depan paman ku".
"Paman?" Kaget Alexa.
"Sebenarnya aku memiliki seorang paman, tapi aku sudah meninggalkannya sejak aku kecil. Kamu mau tau alasan aku meninggalkan paman ku? karna mereka tidak menginginkan aku".
Setelah itu David melepaskan pelukan Alexa, tetapi Alexa semakin mengeratkan pelukannya. "Aku rasa kamu hanya berpura-pura, Jadi sekarang sudahi saja. Aku lelah, aku butuh istirahat".
Alexa langsung membuka kedua matanya, "Lalu siapa wanita itu? kenapa kamu perduli kepadanya?".
David tersenyum, "Kamu mau tau siapa wanita itu?".
"Dia siapa? aku tidak akan membiarkan wanita itu berada di sekitar mu".
"Dia istri ku".
"Apa?" Alexa semakin terkejut dengan mata membulat. "Bohong, kamu pasti sedang membohongi ku kan David? aku tidak percaya itu".
"Terserah kamu saja mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Sekarang kamu sudah baikan, aku akan pergi".
"Tidak, kamu tidak boleh pergi meninggalkan aku David. Jangan pergi, tidak bisakah kamu disini bersama ku, kumohon David".
David menunjukkan senyum smirknya, "Aku tidak pernah menyukai wanita yang suka mengatur ku. Dan sekarang kamu mencoba menahan ku disini?".
"Bukan seperti itu David, aku hanya ingin kamu berada disamping ku disaat aku sedang mengandung anak mu".
"Anak ku?".
Alexa gelagapan, "A-ada apa David? kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?".
"Hhhmmmsss.. Tidurlah, ingat kata dokter kamu harus banyak-banyak istirahat supaya bayi yang ada dalam kandungan mu itu baik-baik saja".
"Jangan pergi David, jangan pergi David" Isak Alexa menahan David supaya ia tidak pergi, namun saat David melangkah, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Mmmmm?" Jawab David.
"Tuan, kami baru saja mendapatkan informasi dari Rusia bahwasanya Steven dan Gery berada di indonesia" Beritahu Bagas.
"Apa?".
"Iya tuan".
David langsung tertawa mengerikan sampai membuat Alexa sedikit ketakutan, "Mmmmm, cari tahu dimana keberadaannya sekarang juga".
"Siap tuan" Begitu Bagas mematikan ponselnya, David segera pergi.
Lalu Alexa mengusap kedua lengannya yang merinding, "Kenapa David tiba-tiba sangat menyeramkan sekali?".
Sekeluarnya David dari sana, ia langsung menjalankan mobilnya menuju markas mereka. Sedangkan Bagas yang sedang mengarahkan anggota lainnya meminta mereka supaya jangan sampai melakukan kesalahan yang dapat merugikan mereka, "Sekarang kalian boleh pergi, cari Steven dan Gery sampai ketemu dan jangan kembali sebelum kalian menemukan tempat persembunyian mereka".
"Siap tuan" Angguk mereka.
__ADS_1
"Mmmmm.. Kalian boleh pergi".
Seperginya mereka, David tiba disana, ia berjalan memasuki gedung. "Tuan, saya sudah mengarahkan beberapa anggota lainnya mencari keberadaan Steven dan Gery".
"Bagus. Dimana Vincen?".
"Dia masih berada di kantor tuan, sebentar lagi dia akan kemari".
.
Di apertemen Nadia berada diatas gedung menikmati susana sore disana, dengan hati sakit Nadia tak henti-hentinya meneteskan air matanya. "Apa yang sedang kamu lakukan disini Nadia?".
Dengan cepat Nadia melap air matanya, "Yanto. Sedang apa kamu kemari?".
Yanto tersenyum, "Boleh aku duduk disini?".
"Mmmmmm" Angguk Nadia bergeser.
"Kamu menangis?".
"Hhhmmm? aahh tidak, mata ku tadi tiba-tiba kelilipan".
"Oohh.. Kamu mau? tadi aku membawanya dari kantor, ini akan membuat hati mu tenang".
Nadia tersenyum tipis, "Terima kasih".
"Sama-sama" Sambil membuka bungkus kue coklat yang Yanto berikan, Nadia merasa sedikit baikan. "Kamu tidak bekerja?".
"Iya, hari ini aku tidak bekerja".
"Aku juga tidak tau alasan aku tidak bekerja hari ini. Seandainya aku berangkat ke kantor, mungkin aku tidak akan merasakan ini".
"Yee?".
"Tidak" Senyum Nadia menggeleng. "Kue ini sangat enak, kamu mendapatkannya dari mana?".
"Kamu masih mau? kalau kamu mau aku akan memberikan ini kepada mu".
"Boleh" Jawab Nadia.
"Ini, besok aku akan membelinya lagi lebih banyak. Aku akan memberinya kepada mu sebagian".
"Benarkah?".
"Iya, Penjualnya ada di dekat kantor ku".
"Hehehhe.. Terima kasih Yanto".
"Cantik".
"Hhhmmm?".
"Kamu sangat cantik".
Nadia tertawa, "Kamu bisa saja, jangan menggoda ku".
"Aku mengatakan yang sebenarnya, kamu sangat cantik. Serius".
__ADS_1
"Kalau gitu terima kasih banyak Yanto sudah mengatakan aku cantik".
Yanto semakin tersenyum lebar.
"Kamu juga tampan, wanita mana yang tidak tertarik kepada mu? apa kamu sudah punya kekasih?".
Yanto menggeleng, "Aku masih sendiri, sejak aku lulus kuliah".
"Wah, kok bisa seperti itu? kamu tidak berniat cari pacar gitu?".
"Sedang mencari, dan saat ini aku sedang menyukai seorang wanita cantik dan manis" Jawab Yanto menatapnya dengan tatapan penuh gairah.
Nadia merasa sedikit risih, ia mencoba mengeser tubuhnya dari Yanto. "Oohh.. Semoga kamu berhasil mendapatkan cintanya".
"Mmmmmm" Angguk Yanto mengalihkan padangan matanya supaya Nadia tidak merasa risih disampingnya. "Lalu bagaimana dengan mu Nadia? apa kamu sudah memiliki kekasih atau.. Lebih dari seorang kekasih".
Nadia terdiam, ia tidak ingin mengakui kalau dirinya sudah menikah dengan David mengingat kelakuan David hari ini kepadanya, tetapi ia terpaksa harus mengakui kalau David adalah suaminya. "Aku sudah menikah Yanto".
"Menikah?".
"Iya, aku sudah menikah 1 bulan yang lalu dengan pria pilihan kedua orang tua ku".
"Kamu di jodohkan?".
"Mmmmm.. Kedua orang tua ku menjodohkan ku dengan pria yang tidak aku kenal".
"Kamu bahagia?".
"Bisa dibilang" Senyum Nadia dengan kebohongan meskipun hatinya berkata kalau ia tidak bahagia.
"Kamu sangat beruntung".
"Beruntung?".
"Iya, di umur segini kamu sudah menikah. Itu tandanya kamu sangat beruntung di bandingkan dengan ku yang sampai sekarang mengejar cinta seorang wanita yang belum tentu menjadi milik ku".
"Hey, kamu tidak usah berkecil hati seperti itu Yanto. Percayakan saja kepada yang maha kuasa, kalau dia jodoh mu, cepat atau lambat dia akan datang sendiri".
"Amin, semoga saja. Aku sangat menginginkan wanita itu meskipun dia sudah menikah aku akan tetap mencintainya".
"Maksud kamu wanita itu sudah menikah?".
"Tidak tau, maksud aku meskipun dia sudah menikah rasa cinta ku tidak akan hilang kepadanya".
"Oohhh.. Aku pikir dia sudah menikah. Kamu harus lebih semangat mendapatkan dia".
"Terima kasih Nadia, dari sekian banyak teman ku yang tau, baru kamu orang pertama yang mendukung ku mengejar cintanya" Ucap Yanto berbohong.
"Kenapa gitu Yanto?".
"Aku juga tidak, apa karna aku orang biasa atau karna aku ini tidak tampan sehingga mereka tidak yakin kalau wanita itu tidak akan pernah menerima ku apa adanya".
"Siapa bilang kamu tidak tampan? bukankah tadi aku sudah memberitahu mu, wanita mana yang tidak tertarik kepada mu. Bahkan saat kamu berpenampilan seperti ini, kamu tetap tampan".
"Hahahaha.. Terima kasih sudah menyakinkan aku Nadia, mulai hari ini aku akan lebih percaya diri lagi kedepannya".
"Harus dong. Semangat".
__ADS_1