Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 60


__ADS_3

Begitu jam menunjukkan pukul 10 malam, Nadia masih saja belum membuka kedua matanya, sedangkan ia sudah mulai mengantuk. Ia pun menaiki tempat tidur Nadia, lalu memeluknya dengan sayang, namun sebelum ia menutup kedua matanya, ia tidak lupa mencium kening Nadia dengan sayang.


Setelah itu ia pun langsung terlelap disamping Nadia. Tidak menunggu beberapa lama, Nadia segera membuka kedua matanya, ia melihat langit-langit kamar dan aroma kamar tersebut tidak sesuai dengan tempat si pria tadi mengikatnya di dalam kamar, namun ia yang merasa sedang di peluk membuat Nadia khawatir meremas selimut tebalnya.


"Tidak, ini pasti mimpi, aku yakin ini pasti mimpi" Gumam Nadia menutup mata. Tetapi saat itu juga ia mencium aroma tubuh yang sangat ia kenali, dengan rasa penasaran ia melirik ke orang tersebut. "David" Senyum Nadia. "Aku pikir kamu siapa?" Ia menyentuh wajah David dengan lembut sampai David yang merasa sedang di sentuh membuat ia langsung membuka kedua matanya. "Aahh.. Maaf, sepertinya aku sudah menggangu tidur mu".


"Kamu baik-baik saja?".


"Mmmmm.. Aku baik-baik saja".


"Syukurlah, kamu perlu sesuatu? aku akan mengambilnya".


"Tidak, aku hanya ingin di peluk lebih erat lagi" Senyum Nadia.


"Aku akan memeluk mu, sekarang tidurlah kembali".


"Aku akan tidur kalau kamu mencium ku terlebih dahulu".


"Aku akan mencium mu" Dengan lembut David mencium kening Nadia.


"Tidak disitu, aku mau kamu mencium ku disini" Tunjuk Nadia kearah bibirnya.


Cup..


"Sekarang tidurlah".


"Baiklah" Nadia kembali memejamkan kedua matanya. Tetapi ia yang tidak bisa tidur membuat ia teringat lagi, "Kamu tau enggak? saat dia menyentuh ku, aku hanya bisa menyebut nama mu. Aku sangat berharap kamu datang menolong ku. Namun saat itu juga aku berpikir kalau aku tidak akan bisa melihat mu lagi".


"Hentikan, aku tidak ingin mendengar mu".


"Aku sangat takut, aku sangat takut sebelum aku melakukan kewajiban ku sebagai istri mu dia sudah dulua..


"Aku bilang hentikan" Potong David dengan marah. "Jangan membuat ku marah, sekarang tidur lah".


"Aku sudah ingin tidur, tapi ingatkan itu membuat ku tidak bisa tidur hiks.. hiks".


David melepaskan pelukannya, ia menatap kedua manik mata Nadia yang basah, "Haruskah aku melakukannya disini supaya kamu tidak mengingatnya lagi?" Nadia menggeleng, ia tau kalau mereka sedang berada di rumah sakit. "Lalu apa mau? tolong jangan membuat ku marah Nadia, kumohon".


"Aku juga tidak tau, ingat itu sendiri yang selalu datang kedalam pikiran ku" Jawab Nadia semakin menumpahkan air matanya. "Aku juga tidak ingin mengingat kejadian itu, aku tidak ingin hiks.. hiks..".


"Maafkan aku" David menyentuh pipi Nadia, lalu mencium bibirnya dengan lembut. "Aku akan membuat mu melupakan semuanya" David memperdalam ciumannya, begitu juga dengan Nadia, ia pun membalas ciuman David hingga pada akhirnya ciuman itu berlangsung cukup lama.

__ADS_1


Lalu David melepaskannya, ia menatap bola mata Nadia kembali yang sangat indah, "Sekarang lupakan, kamu cukup mengingat kejadian ini saja".


"Mmmmmm" Angguk Nadia.


"Aku mencintai mu Nadia" David mencium bibir itu lagi dan juga leher jenjang Nadia yang sangat indah.


Sedangkan Nadia yang baru saja mendengar kalau seorang David ternyata mencintai dirinya juga membuat kedua jantungnya semakin berdegup kencang, "Tuhan, aku enggak salah dengarkan kalau pria yang berada dihadapan ku ini baru saja mengatakan kalau dia mencintai ku" Tawa Nadia dalam hati, dan saat itu juga ia melupakan kejadian tersebut.


.


Pagi harinya suara burung berkicau diatas udara dan juga rentik-rentik hujan lembut membuat sepasang suami istri itu enggan membuka mata. Hingga kini jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Tok.. Tok.. Tok..


Tidak ada jawaban.


Tok.. Tok.. Tok..


Tidak ada jawaban.


Tok.. Tok..


David membuka kedua matanya, ia melihat Nadia yang masih terlelap di dalam pelukannya. Kemudian David melepaskan pelukan Nadia, dengan pelan ia menuruni tempat tidur.


"Selamat pagi tuan, maaf saya telah menganggu tidur tuan. Saya datang kemari membawakan sarapan" Ucapnya memberikan sarapan yang disediakan rumah sakit ditangan David.


"Mmmm.. Terima kasih" Gumam David membawanya masuk kedalam, ia meletakkan diatas meja, lalu ia memasuki kamar mandi. Begitu ia selesai, ia segera keluar dari dalam sana, dan ia pun masih melihat Nadia terlelap.


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..


"Mmmmm?" Jawab David melihat Bagas menelponnya.


"Tuan, Vincen sudah datang menjemput. Ini mengenai pria yang Vincen bawa semalam".


"Ada apa dengannya?".


"Sepertinya aku mengenali dia tuan".


"Apa?".


"Iya tuan, nanti saya akan menjelaskannya. Apa tuan sudah sarapan?".

__ADS_1


"Mmmmmm" Gumam David melirik kearah sarapan yang tadi si pelayan rumah sakit berikan. "Begitu aku mengantar Nadia pulang kerumah, aku akan langsung kesana".


"Baik tuan" Bagas mematikan ponselnya. Ia melihat kearah pria tersebut yang sedang terikat dengan tali. "Kamu mengenal ku?" Tanya Bagas.


"Iya" Jawabnya. "Kenapa mereka membawa ku kemari? dimana wanita itu? dia milik ku, dia wanita ku. Berani-beraninya mereka membawanya" Ucapnya dengan kesal melihat Bagas tertawa, "Kenapa tuan tertawa?".


"Kamu tau siapa wanita itu?".


"Aku tidak tau".


"Ckckck.. Kamu benar-benar cari mati, kamu mau tau siapa wanita yang telah kamu ganggu itu?".


"Aku tau, dia berkata kalau dia seorang polisi. Tapi aku sama sekali tidak takut kepadanya mau dia seorang polisi atau tidak, karna dia sendiri yang datang kerumah ku, bukan aku yang membawanya kesana".


Bagas menghela Nafas, "Tapi sayangnya wanita itu wanitanya tuan kami. Dia adalah istrinya".


"Apa?" Kagetnya langsung mengingat wajah David yang sangat marah kepadanya. "Benarkah itu? A-aku tidak tau kalau dia istrinya dan aku juga tidak tau kalau dia.." Gantungnya merasa sangat menyesal dan bodoh.


"Sekarang sudah terlambat, dia tidak akan melepaskan mu. Begitu dia datang, bersiaplah tubuh mu akan merasakan siksaannya".


"Tidak, dia tidak boleh menyiksa ku. Selama ini aku sudah berhasil menjadi bawahannya".


"Bawahannya? hahahahha.. Sejak kapan kamu menjadi bawahannya? orang seperti kamu tidak pernah bawahannya, kamu itu hanya bawahan orang yang memerintah mu menemui ku kalau aku datang kesana".


"Aaaiiisss.. Tolong selamatkan aku, aku mohon tolong selamatkan aku tuan, aku berjanji akan melakukan apapun yang kalian minta dan perintahkan asalkan dia tidak membunuh ku. Aku mohon" Tunduknya.


"Aku sudah bilang, semuanya sudah terlambat. Kamu lihat itu? kalau dia sangat marah, dia akan menggantung mu disana dengan besi yang ada di dalam api, ia akan menyiksa mu dengan besi itu. Dan semua anggota tubuh mu ini akan merasakan panasnya sampai kamu mati".


"Tidak, aku tidak ingin merasakannya. Lebih baik aku di penjara atau sebaiknya kalian langsung membunuh ku saja. Ku mohon, bunuh aku sekarang juga".


Lagi-lagi Bagas tertawa mengeluarkan ponselnya, lalu ia menghubungi nomor si juragan tersebut dengan video call "Iya tuan" Jawabnya tersenyum.


"Kamu ingin melihat seseorang?" Bagas menunjukkan kearah si pria itu. "Kamu bisa masih bisa mengenalinya?".


"Yah.. Apa yang sedang kamu lakukan disitu?" Tanyanya dengan wajah cemas.


"Tolong selamatkan aku juragan" Jawabnya menangis. "Aku mohon tolong selamatkan aku juragan".


"Ada apa? kenapa kamu..


"Aku telah melakukan kesalahan besar".

__ADS_1


Kemudian si juragan itu meminta alamat mereka berada saat ini kepada Bagas, namun Bagas tidak memberitahunya, ia berkata kalau bawahannya itu akan segera meninggalkannya.


"


__ADS_2