
2 hari telah berlalu, Nadia sedang di rawat di rumah sakit, namun sampai sekarang ia belum juga siuman begitu dokter memberinya obat penenang, "Selamat pagi Nadia" Senyum Zico memasuki ruang inapnya. Ia melihat wajah itu dengan tatapan sedih.
Tok.. Tok..
Ceklek!
"Pagi" Sapa sang dokter.
"Pagi dok, kapan Nadia siuman dok? ini sudah memasuki hari ketiga" Ucap Zico mendekati si dokter.
"Semua tergantung dengan pasien".
"Maksud dokter?".
"Pasien belum ingin membuka mata. Kita tunggu saja, biarkan dia membuka matanya sendiri".
Ceklek!
"Tante" Tunduk Zico melihat ibunya Nadia dan Elisa masuk kedalam membawa beberapa tangkai bunga mawar. Lalu ibunya Nadia bertanya kepada si dokter bagaimana keadaan putrinya yang sampai sekarang belum juga siuman.
"Kita tunggu saja buk sampai pasien ingin membuka matanya sendiri".
"Mau sampai kapan lagi dok? ini sudah memasuki hari ketiga, Nadia belum juga membuka mata. Saya mau dia dipaksa saja, saya tidak mau putri saya kenapa-napa".
"Putri ibu baik-baik saja, dia hanya membutuhkan istirahat yang banyak".
"Tidak, lakukan saja dok seperti yang saya bilang" Desaknya.
"Baiklah, kami akan membangunkan pasien. Sus, tolong ambil obatnya".
"Baik dok" Angguk si perawat mengambilnya. Begitu ia kembali, ia langsung memberikan ditangan si dokter, dan si dokter pun segera menyuntiknya di selang inpus tangan Nadia.
Tidak lama kemudian, Nadia membuka mata, ia melihat kerah mereka yang sedang melihatnya dengan senyum mengembang. "Zico" Panggilnya.
"Iya Nadia, aku disini" Jawab Zico menggenggam tangan Nadia.
"David Zico, dia dimana? kenapa aku tidak melihatnya?" Mata itu berkaca-kaca membuat Zico memalingkan wajahnya. "Zico jawab aku, David dimana Zico?".
Zico menarik Nadia kedalam pelukannya, mengusapnya dengan lembut. "Kamu tenang dulu Nadia, kamu harus lebih fokus dulu dengan kesehatan mu baru kamu memikirkan hal yang lain".
"Tidak Zico, aku tidak bisa tenang sebelum aku melihat David aarrrkkkhhh aarrkkhhh" Tangis Nadia kembali seperti anak kecil ditinggal ibunya.
Si dokter menghela nafas, ia melihat ibunya Nadia dengan tatapan sedih. "Kalau gitu kami permisi dulu" Ucapnya keluar dari dalam sana bersama dengan si perawat.
.
Hari esoknya, Zico membawa Nadia ketempat David dan Bagas di kubur. Disana ia melihat Vincen sedang menangis tepat ditengah-tengah kedua orang itu. "Permisi" Ucap Zico menyadarkan Vincen.
Vincen melap air mata, ia melihat kearah Nadia yang sedang menahan tangisnya mengepal tangan melihat kuburan David disebelah bagas. "Aarrkkhh, David. Tidak, ini tidak mungkin aahh, kenapa kamu meninggalkan aku David aarrkkhhh, bangunlah David, bangunlah. Aku mohon David hiks.. hiks..." Tangis Nadia meremas tanah kuburan David.
Vincen pun kembali meneteskan air mata, dalam hatinya ia berjanji akan membunuh kedua orang yang telah membuat David dan Bagas seperti ini.
__ADS_1
Sepulang dari sana, Nadia meminta kepada Zico meninggalkannya seorang diri. Zico sempat menolaknya, tapi pada akhirnya Zico menurutinya.
Hingga kini Nadia telah berada di dalam apartemennya, ia berjalan kearah dapur terakhir kali dia memarahi David. Mengingat itu semua Nadia kembali meneteskan air mata, ia melihat ikan hasil pancingan David kemarin terletak diatas baskom. "Aarrkkhh, aahhh hiks.. hiks.. David aarrkkhhh.. hiks.. hiks.." Tangis Nadia menyentuh ikan tersebut yang sudah berbau tidak sedap. "Tuhan aarrkkhh, kenapa kamu harus menghukum ku seperti ini Tuhan?aarrkkhh.. aarrkkhh David, maafkan aku David, maafkan aku David hiks.. hiks..".
.
1 bulan kemudian.
Pagi harinya Nadia membuka mata, ia menguap melihat sekitar kamar tersebut yang masih seperti dulu tampa ada yang berubah, lalu Nadia melihat kesampingnya. "Selamat pagi tuan David yang terhormat" Senyum Nadia menyentuh batal David.
DDDRRRTTT... DDDRRRRTTTT...
"Aku baru bangun Zico" Jawab Nadia.
"Kenapa kamu lama sekali Nad? apa kamu sudah melupakan kalau acaranya di mulai dari jam 8 pagi?".
"Apa?".
"Astaga Nadia, kamu tidak ada berubahnya".
"Ya ampun, maafkan aku Zico. Kalau gitu aku mandi dulu, aku tidak akan lama".
"Cepatlah, aku akan menjemput mu".
"Mmmm" Angguk Nadia mematikan ponselnya. Ia langsung memasuki kamar mandi, dan tidak ingin berlama-lama lagi, ia segera keluar dari dalam sana dengan pakaian resmi polisi. "Aku sangat cantik, bagaimana menurut mu sayang?" Senyum Nadia melihat bingkai foto David berada diatas meja riasnya, bahkan setiap sudut ruangan itu semua berisi bingkai foto David yang sengaja ia buat.
"Benar, aku tidak akan mendapatkan jawaban dari mu, tapi aku yakin kamu pasti menjawabku dari alam sana. Heheheh, aku seperti cenayang saja. Kalau gitu aku berangkat dulu, sampai ketemu nanti" Nadia menyambar tasnya. "Ooo, aku hampir saja melupakan kotak cinta mu yang belum aku buka sampai sekarang" Setelah itu Nadia keluar, di depan hotel Zico telah menunggunya.
"Nadia" Panggilnya.
"Wah, hari ini kamu sangat cantik sekali" Puji Zico menggunakan jempolnya.
"Benarkah?".
"Mmmm, tercantik dari semua wanita yang pernah aku kenal".
"Lalu Anika?".
"Jauh lebih cantik kamu Nadia".
"Kamu berbohong, kamu pikir aku tidak tau Zico?" Masuknya kedalam mobil Zico.
Zico tertawa, "Aku tidak berbohong Nadia, aku mengatakan yang sebenarnya".
"Kalau gitu terima kasih banyak, ayo jalankan mobil mu".
"Siap tuan putri".
.
Sesampainya mereka disana, para tamu serta rekan kerja mereka telah menunggu di dalam aula "Nadia" Panggil Diva memeluknya.
__ADS_1
"Mbak Diva" Balas Nadia memeluknya.
"Kamu sudak siap?".
"Mmmmm".
"Ayo" Mereka bertujuh langsung naik keatas panggung yaitu Bayus, Rico, Raka, Diva, Zico, Nadia dan Larisa. Semua para tamu dan orang tau mereka masing-masing serta istri dari Bayus dan Rico memberikan tepuk tangan meriah kepada mereka atas ucapan telah menjadi polisi terbaik tahun 2022.
.
Setelah acara itu selesai, kedua orang tua Nadia memeluknya dengan sayang dan juga sang kakaknya yang kini sedang hamil besar siap menyambut kelahiran anak pertamanya.
"Selamat ya sayang, mama sama papa kamu sangat bangga kepada mu".
"Iya ma, terima kasih banyak untuk hari ini".
"Mmmmm, terus kapan kamu kembali kerumah sayang? hari ini papa sama mama telah menyiapkan acara untuk keberhasilan kamu. Ikutlah pulang bersama kami".
"Iya ma, nanti Nadia akan datang kesana, Nadia ada urusan sebentar".
"Benar kamu akan datang?".
"Iya ma, Nadia benar-benar akan datang".
"Kalau gitu mama papa sama kakak kamu akan menunggu dirumah, dan juga tamu penting pun akan ikut merayakan keberhasilan kamu nanti malam sayang".
"Iya ma, kalau gitu Nadia pergi dulu" Nadia langsung meninggalkan mereka. Ia segera memasuki sebuah taksi yang menunggu disana. "Pak, tolong antar saja ke makan xx".
"Siap nona" Angguknya membawa Nadia.
Dengan senyum mengambang diwajah Nadia, ia melihat bunga yang berada di pelukannya itu terlihat sangat cantik. Setibanya disana, Nadia membayar ongkosnya, lalu keluar dari dalam taksi, ia pun langsung melihat kuburan David. "Aku datang David, apa kabar mu?" Nadia menaruh bunga tersebut diatas pusara David dan Bagas.
"Aku sangat merindukan mu David, sangking rindunya aku belum bisa menerima kalau kamu sudah berada di alam lain. Lalu bagaimana dengan mu? aku harap kamu juga merindukan ku" Kemudian Nadia mengeluarkan kotak itu dari dalam tas, ia membukanya lalu menyambar surat tersebut. "Untuk Nadia Zaliva yang berstatus istri ku, terima kasih" Senyum Nadia membaca isi surat permulaan David.
"Nadia, maafkan aku selama ini sudah berbuat kasar kepada mu dengan sikap yang dingin dan juga kata-kata ku. Aku tau semua itu sangat keterlaluan, tapi itu semua aku lakukan demi kamu. Demi kamu supaya kamu tidak mencintai ku, tapi malah sebaliknya, aku malah duluan jatuh cinta kepada mu😊. Mungkin kamu tidak tau itu, tapi itulah kenyataannya, aku mencintai kamu sebelum kamu benar-benar mencintai aku. Apa itu terdengar konyol? aku rasa itu terdengar sangat konyol. Bagaimana menurut mu?".
"Tidak, itu tidak konyol David, itu sangat menggemaskan".
Nadia melanjutkannya lagi, "Nadia...!! Hari ini aku berulah tahun. Kamu pasti tidak tau, tentu saja kamu tidak tau itu, bahkan orang terdekat ku saja tidak tau. Tapi hari ini hati ku sakit, aku sakit melihat perubahan di wajah mu Nadia yang tiba-tiba tampa aku tau penyebabnya apa?" Nadia meneteskan air mata. "Maafkan aku David hiks".
"Nadia, sesuai dengan apa yang kita bicarakan kemarin. Aku telah menemukan tempatnya, tempat untuk kita tinggali di Swiss nanti bersama dengan keluarga kecil kita" Nadia mengeluarkan sebuah gambar dari dalamnya, ia melihat gambar rumah yang akan mereka tinggali.
"Bagaimana? kamu menyukainya? ku harap kamu menyukainya".
"Mmmm, aku menyukainya, aku sangat menyukainya David. Tempatnya sangat cantik" Jawab Nadia semakin meneteskan air mata.
"Setelah kita berada disana, aku akan melamar mu secara resmi seperti pada pasangan umumnya. Nadia, maukah kamu menikah dengan ku? memiliki anak laki-laki/perempuan dan hidup bersama sampai hari tua seperti yang kemari kamu bilang?".
"Aarrkkhhhh hiks hiks, brengsek. Sekarang malah kamu yang pergi duluan meninggalkan aku David, kamu jahat, kamu pembohong, kamu pembohong besar. Aku membenci mu, aku membenci mu David" Dengan air mata bercucuran Nadia melihat kearah kotak itu lagi, ia melihat sepasang cincin berlian sangat indah dengan kilaunya berada di dalam kotak kecil.
__ADS_1
Kemudian Nadia menyambarnya, lalu memasang cincin itu di jari manisnya. "Dari tadi aku sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi sekarang aku malah menangis. Maafkan aku David dan terima kasih sudah pernah singgah dalam hidup ku. Aku mencintai mu, aku sangat mencintai mu David" Senyum Nadia memaksakan diri.
****************TAMAT***************