Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 43


__ADS_3

"Nadia merindukan mama" Duduknya disamping sang mama, kemudian ia memeluknya dari samping. "Nadia benar-benar sangat merindukan mama" Setetes air mata terjatuh di pipi Nadia.


Elisa mengerutkan kening melihat Nadia yang tiba-tiba berada di rumah. "Sedang apa kamu disini? kenapa kamu tidak memberitahu ku atau pun mama?" Tanya Elisa mengingat ia yang kemarin menukar adiknya dengan uang.


"Kenapa kak Lisa seterkejut itu? tidak apa-apa, Nadia tidak akan menuntut kakak ataupun memberitahu mama dan papa. Selamat ya kak, sebentar lagi kak Lisa akan menjadi seorang istri dari kak Riwan. Nadia turut bahagia" Senyum Nadia mengulurkan tangannya.


"Apa?" Elisa mulai ketakutan.


Sedangkan sang mama melihat kedua putrinya itu di buat keheranan mendengar perkataan Nadia yang baru saja ia ucapkan. "Ada apa? apa kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari mama dan papa?".


"Tidak ma, iya kan kak Lisa?".


"Aiya ma" Angguk Elisa gelagapan. "Kalau gitu Lisa naik dulu ya ma, hari ini Lisa sangat lelah".


"Iya sayang" Senyum sang mama menyuruh pelayan dirumah membawa barang belanjaan Elisa kedalam kamarnya. Setelah itu ia melihat Nadia yang berada di sampingnya. "Kamu sudah makan Nad?".


"Sudah ma. Ini Nadia sudah mau pulang".


"Kenapa cepat sekali? tunggu sebentar, mama akan membuatkan sesuatu untuk mu".


"Tidak usah repot-repot ma".


"Duduklah" Sang mama langsung berjalan menuju dapur.


Kemudian Nadia menatap seisi rumahnya sampai ke lantai atas. "Sejak kecil aku belum pernah menghabiskan waktu selama 1 minggu berada di rumah ini. Aku merindukan nenek, seandainya nenek masih ada, aku yakin nenek tidak akan pernah membiarkan aku sedih" Gumam Nadia menyeka air matanya.


Tidak lama kemudian sang mama membawakan segelas minuman segar khusus untuk dirinya, "Nadia, minumlah. Minuman ini sangat segar sekali".


Nadia menatapnya sambil tersenyum, "Terima kasih ya ma. Mama baik sekali".


"Iya" Angguknya melihat Nadia dengan perasaan bersalah. "Nadia" Panggilnya.


"Iya ma".


"Sudah hampir 6 bulan kamu menikah, tapi kenapa kamu belum hamil hamil juga sayang? Apa suami mu tidak pernah menyentuh mu? atau.." Gantung sang mama saat Nadia melihatnya.


"Mungkin Tuhan belum memberikannya saja ma. Dan mama tau sendiri kalau suami Nadia sangat sibuk sekali".


"Oohh.. Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?".


"Tentu saja ma, dia selalu memperlakukan Nadia sangat baik".


"Benarkah? kamu enggak lagi berbohong sama mama kan Nadia?".


"Hey.. Untuk apa Nadia berbohong ma? mama ada-ada saja. Tidak usah khawatir ma, Nadia baik-baik saja dan tuan David selalu memperlakukan Nadia bagaikan putri raja".


"Kamu mencintai dia Nad?".


"Mmmmm.. Sepertinya Nadia sangat mencintai dia ma, sangking cintanya Nadia tidak pernah berhenti memikirkannya hehehehe".


Sang mama menghela nafas, entah kenapa ia sama sekali tidak pernah percaya setiap kali Nadia berkata kalau ia baik-baik saja, mengigat David yang sangat kejam dan menakutkan. "Nadia, sebenarnya mam..


"Kenapa ma?".

__ADS_1


"Tidak, lupakan saja. Intinya kalau terjadi apa-apa, jangan segan-segan beritahu mama dan papa atau kakak kamu yah".


"Iya ma. Kalau gitu Nadia balik dulu, ini sudah jam 4 sore".


"Iya sayang. Kamu diantar sama supir saja".


"Tidak usah ma, Nadia naik taksi saja".


"Tidak, kamu diantar sama supir saja".


"Ya sudah. Nadia balik ya ma, titip salam sama kak Lisa".


"Iya, hati-hati dijalan".


.


Kini Nadia telah berada di dalam mobil, dengan mata berkaca-kaca ia berharap kalau sang mama akan mengundangnya. Ternyata yang ia harapkan tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan. "Tidak apa-apa Nadia, kenapa kamu harus menangis sih?" Gumam Nadia. "Pak, saya turun disini saja".


"Baik nona".


Begitu Nadia turun dari dalam mobil, ia melihat sebuah taman mini tempat anak-anak bermain di sebrang jalan. "Wah, aku jadi ingat masa kecil ku" Melihat anak-anak yang masih bermain disana membuat hati Nadia terasa sedikit terhibur.


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT...


"Iya Zico" Jawab Nadia.


Zico tersenyum, "Aku menemukan mu Nad".


"Apa?".


"Zico, bagaimana bisa kamu tau aku sedang berada di taman?".


Zico kembali tersenyum, "Lihat sebelah kanan mu Nad, aku disini".


Nadia langsung melirik sebelah kananya, dan benar sekali Zico tengah berdiri disana dengan senyum mengembang di wajahnya, "Apa yang sedang kamu lakukan disini Zico?".


"Aku juga tidak tau, lalu bagaimana dengan mu Nad. Kenapa kamu bisa berada disini? harusnya kamu istirahat di rumah".


"Aku bosan dirumah terus Co".


"Oohh" Senyum Zico.


"Ooo.. Yah.. Hari ini kamu tampan sekali, ada apa Zico?" Senyum Nadia menggodanya.


"Hey.. Setiap hari aku selalu tampan Nad, kamunya saja tidak menyadari itu".


"Aahh masa iya sih? kok aku enggak menyadarinya yah".


"Karna kamu tidak pernah melihat ku sebagai pria".


"Oohh.. Jadi gara-gara itu aku tidak pernah menyadari kalau seorang Zico ternyata sangat tampan. Berarti itu tandanya, kali ini aku melihat mu sebagai pria Co hahahhaha" Tawa Nadia.


Zico pun mendengus, "Mulai deh".

__ADS_1


"Hahaha.. Maafkan aku Zico, kamu mau ini Zico?".


"Itu apa Nad?".


"Jajanan, kemarin seseorang memberinya kepada ku" Jawab Nadia memberikan di tangan kanan Zico.


"Seseorang siapa Nad?".


"Kamu tidak perlu tau. Ayo dimakan".


"Mmmmmm" Zico pun langsung memakannya, kemudian ia melihat Nadia yang sedang tersenyum. "Ada apa Nad? kamu terlihat sedang sedih".


"Hhhhmmm?".


"Kamu tidak bisa membodohi ku Nad kalau kamu tidak sedang sedih. Ada apa? ayo cerita kepada ku, aku siap menjadi pendengar setia kamu".


"Wah.. Sejak kapan seorang Zico menjadi pendengar setia".


"Sejak dari dulu" Tawa Zico.


"Kok aku baru menyadarinya yah".


"Sudah aku bilang Nad, selama ini kamu tidak pernah menganggap ku sebagai pria".


"Mmmmm.. Selama ini aku hanya menganggap kamu Zico, jadi aku tidak pernah menganggap kamu pria hahahaha" Tawa Nadia semakin mengejeknya.


"Terserah kamu saja Nad".


"Terima kasih untuk hari ini Co, kamu sudah membuat ku tertawa" Zico menatap lurus begitu juga dengan Nadia. "Sebentar lagi kak Lisa akan menikah, dia akan menjadi istri dari kak Riwan. Aku turut bahagia Co".


"Benarkah?".


"Mmmmm.. Tentu saja aku akan bahagia Co".


"Kalau kamu bahagia, aku juga ikut bahagia mendengar kakak mu akan segera menikah Nad. Tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa hadir disana Nad".


"Tidak apa-apa, cukup kirim doa saja Co".


"Mmmmm.. Pasti" Nadia tersenyum lebar. "Aku tau kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari ku Nad" Batin Zico mengingat saat ia mengantar Nadia pulang kerumah, ia tidak sengaja melihat Nadia meneteskan air mata. Namun ia yang tidak ingin mencampuri urusan masalah pribadi Nadia memilih diam.


"Nad, kamu mau eskrim?".


"Eskrim?".


"Mmmmm".


"Emang disini ada yang jual eskrim Co?".


"Aku bisa membuatnya ada. Kamu tunggu disini ok".


"Mmmmmm".


"Aku tidak akan lama".

__ADS_1


"Mmmmmm".


__ADS_2