Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 37


__ADS_3

Paginya Zico menguap, dengan rasa pegal-pegal di sekujur tubuhnya ia membuka matanya yang masih mengantuk, "Selamat pagi Zico" Senyum Nadia.


"Astaga.. Nadia?" Kaget Zico melihat Nadia yang sudah siuman. "Ya Tuhan, akhirnya..


"Akhirnya apa?".


"Akhirnya kamu baik-baik saja" Senang Zico mengusap kepala Nadia. "Kamu sudah lapar? aku akan membawakan mu makanan".


"Aku sudah kenyang Zico, tadi pak Bayus dan yang lainnya baru pulang dari sini".


"Apa?" Lihatnya kearah jam dinding.


"Ini sudah jam 10 pagi, lagian tadi kami tidak tega membangunkan mu. Ya sudah, kami biarin saja kamu tidur sampai puas" Zico menghela nafas, ia merasa sedikit malu kepada Bayus dan rekannya yang lain. "Sana gih, kamu mandi dulu. Setelah itu kamu sarapan, tadi aku sudah memberitahu Refano kalau kamu berada di rumah sakit. Sebentar lagi dia samp..


Tok.. Tok..


"Panjang umur. Masuk" Ucap Nadia.


Ceklek!


"Pagi" Senyum Refano.


"Pagi Fano" Balas Nadia.


"Apa kamu sudah merasa baikan?".


"Mmmmm.. Aku sudah merasa baikan".


"Syukurlah, aku turut senang mendengarnya. Apa kamu tidak memberitahu orang tua mu?".


"Tidak, aku tidak mau membuat mereka khawatir".


"Wah.. Kamu benar-benar wanita hebat, pantas saja Zico sangat tergila-gila kepada mu" Liriknya kepada Zico yang hanya tersenyum. "Ini bro, aku membawa pakaian mu dari rumah dan juga sarapan mu".


"Thank you Fan".


"Mmmmm".


Zico segera masuk kedalam kamar mandi, lalu Refano mendudukkan diri diatas kursi yang tadi Zico duduki. "Nadia" Panggilnya.


"Iya Fan".


"Sorry kalau aku terlalu ikut campur dengan hubungan kalian berdua. Apa benar kamu sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Zico?".


Nadia terdiam, ia merasa sangat bersalah kepada Zico karna sudah mencintai dirinya yang tidak bisa membalas cintanya. "Aku tidak bisa Fano, selama ini aku hanya menganggap Zico sebatas sahabat terdekat ku saja" Jawab Nadia terlihat sedih.


"Mmmmm.. Apa kamu sudah memiliki perasaan untuk orang lain?".


"Aku tidak bisa menjawab mu Fano. Maafkan aku".


"Tidak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf Nad".


Tidak lama kemudian Zico langsung keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian santainya yang Refano bawa dari rumah. "Kamu sudah makan Fan?".


"Sudah".


"Kalau gitu, aku sarapan dulu yah".


"Mmmmm".


Melihat Zico yang sangat lahap membuat hati Nadia senang. Meskipun ia sudah di miliki oleh orang lain, rasa sayang sebagai sahabat tidak akan pernah hilang dari dalam hati Nadia. "Wah.. Kamu lahap sekali Co" Senyum Nadia.

__ADS_1


"Mmmmm.. Masakan mama di rumah sangat enak Nad, lain kali kamu harus datang lagi kerumah. Kemarin mama nanyain kamu".


"Masa iya Co?".


"Iya".


"Kok kamu baru bilang sekarang sih?".


"Maaf, aku kelupaan".


"Kamu kebiasaan deh" Kesal Nadia dengan wajah masam.


Zico tersenyum, "Maafkan aku. Pulang dari sini kita langsung kerumah ku".


"Benar yah?".


"Iya".


"Ok".


.


Di kantor polisi saat ini Raden sedang di interogasi oleh Bayus. "Kamu tau alasan kamu berada disini?" Tanya Bayus menahan diri.


Raden terdiam, ia enggan menjawab pertanyaan Bayus.


"Saya ulangi lagi, kamu tau alasan kamu berada disini?".


Lagi-lagi Raden tidak menjawabnya.


"Jawab bajingan!" Teriak Bayus memukul meja dengan wajah bermerah. Namun Raden masih enggan membuka mulut, ia sama sekali tidak merasa takut kepada Bayus. Kemudian Bayus menyuruh Rico membawa kelima pelajar tersebut kedalam sana.


Raden pun langsung menyeringai, "Apa kamu sedang mengejek ku?" Tanya Bayus menatapnya.


Raden melihatnya, ia menunjukkan senyum smirknya lagi kepada Bayus. "Apa wanita itu mati?".


"Apa?".


"Aku harap wanita itu mati" Gumam Raden tertawa kecil.


"Apa? kamu baru bilang apa?" Geram Bayus menarik kerah bajunya.


Tok.. Tok..


"Masuk!".


Kelima siswa itu langsung masuk, mereka melihat Raden berada disana dengan tangan di borgol. "Bang Raden" Kaget mereka.


Raden tertawa, "Oohh.. Jadi kalian?".


"Ma-maafkan kami bang" Tunduk mereka.


Lalu Bayus menyuruh mereka mendekat, "Sejak kapan kalian menggunakan narkoba?".


"3 bulan yang lalu pak".


"Dari mana kalian mendapatkannya?".


"Da-dari dia pak" Tunduk mereka lagi sangat takut melihat wajah kesal Raden.


"Jangan menunduk, angkat kepala kalian".

__ADS_1


"Iya pak".


"Sekarang katakan, siapa yang duluan menawarkan narkoba ini?".


"D-dia pak. Awalnya kami tidak tau kalau rokok yang pernah dia tawarkan itu berisi narkoba pak..


"Dan pada akhirnya kalian berlima ketagihan?" potong Bayus.


"Iya pak".


Bayus mendengus, "Berapa 1 bungkus dia jual?".


"100 ribu pak".


"Uang kalian dari mana?" Mereka terdiam, mereka semakin menyesali kesalahan yang sudah terjadi. "Saya ulangi lagi, uang kalian dari mana? atau kalian mencurinya untuk membeli rokok ini dari dia?".


"Tidak pak, kami tidak mencurinya" Jawab mereka.


"Betul? kalau sampai kalian berbohong hukuman kalian akan di perberat. Rico, panggil orang tua mereka lagi kesini".


"Iya pak saya mencuri uang orang tua saya sediri" Ucap salah satunya.


"Saya juga pak" Sambung yang lainnya.


Bayus tertawa geleng kepala melihat Raden yang sama sekali tidak merasa bersalah, "Kamu dengar itu, akibat dari ulah mu mereka hampir saja kehilangan masa depannya. Kamu tau berapa besar dosa yang telah kamu lakukan?".


"Kenapa? apa aku harus perduli dengan mereka?".


BBBUUNNGGGHH..


Satu pukulan kuat langsung mendarat diwajah Raden. "Kamu harus perduli dengan mereka supaya mereka bisa meneruskan orang seperti kalian yang tidak punya masa depan lagi".


BBBUUNNGGHHH...


"Aahhh..!!" Sentuh Raden disudut bibirnya yang berdarah.


Lalu Bayus bertanya lagi kepada mereka, "Sekarang saya mau bertanya kepada kalian berlima. Apa kalian masih ingin melanjutkan hidup yang normal atau kalian mau menjadi seperti dia yang akan mendekam di penjara?".


"Tidak pak" Jawab mereka. "Tolong maafkan kami, tolong berikan kami 1 kesempatan lagi, kami mohon pak, tolong kasihani kami".


"Rico, suruh mereka menulis surat permohonan maaf untuk orang tua dan untuk negera sebanyak 500 lembar. Setelah itu, kirim mereka ke panti rehabilitas".


"Siap pak".


"Jangan lupa beritahu keluarga mereka kalau nanti kamu sudah mengirimnya".


"Baik pak" Rico membawa mereka keluar dari sana. Lalu Bayus menyuruh Raden duduk kembali.


"Sekarang katakan, dari siapa kamu mendapatkan benda ini?".


"Hhhmmsss.. Apa gunanya polisi kalau hanya tinggal diam lalu bertanya seperti ini kepada saya?".


"Saya tanya lagi, dari mana kamu mendapatkan benda ini?".


"Ckckck..


BBRRRAAKKK...


Dengan sangat marah Bayus menendang meja penghalang mereka, kemudian Bayus menendangnya sampai beberapa kali dan juga beberapa pukulan diwajah Raden hingga Raden tergeletak diatas lantai dengan tubuh lemas.


Bayus menarik nafas, ia belum merasa puas menghajar Raden yang sedari tadi menguji kesabarannya.

__ADS_1


__ADS_2