
Sesampainya mereka dirumah sakit, dokter yang bertugas di ruang IGD langsung mengambil alih menangani Nadia. Mereka melihat Nadia seperti anjing gila menggigiti tubuhnya sendiri sampai berdarah. "Sus, tolong suntikkan dia obat penenang".
"Baik dok" Sang suster tersebut menyuntikkan obat penenang di tubuh Nadia. Kemudian mereka membuka semua pakaiannya, lalu sang dokter wanita itu memperhatikan tubuh Nadia yang memerah. "Sepertinya seseorang sengaja menaruhnya dok" Tebak si suster.
"Mmmmmm" Angguknya. "Tolong kalian bersihkan tubuhnya, jangan sampai ada noda yang tertinggal" Ucapnya begitu ia mengobati luka di tangan Nadia.
"Iya dok" Setelah itu ia menghampiri David yang sedang menunggunya di kursi tunggu.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya David dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa, kami sudah menangani istri anda dengan baik. Sebentar lagi dia akan di pindahkan di ruang inap, namun sebelumnya saya ingin memberitahu anda kalau istri anda telah di taruh obat ini di dalam pakaiannya. Sehingga tubuh pasien melepuh, gatal dan panas, dan pada akhirnya pasien akan seperti anjing gila".
David mengusap wajahnya kasar, "Terima kasih dok".
"Sama-sama. Saya permisi dulu".
"Mmmmm" David mengepal tangannya seperti tau siapa pelaku yang sebenarnya membuat Nadia seperti ini. Kemudian ia menghubungi nomor Bagas, "Bagas. Cari Tiara malam ini juga".
"Ada apa tuan?" Tanya Bagas.
"Dia sudah berusaha mencoba membunuh Nadia, cepat temukan dia".
"Baik tuan".
David mematikan ponselnya, ia melihat Nadia telah dibawa keruang inap yang telah ia pesan, lalu ia mengikutinya dari belakang. Begitu Nadia berada di dalam kamar inap, para suster langsung keluar. Kemudian David mendekatinya, ia melihat kedua tangan Nadia di perban. Tidak lama kemudian Nadia membuka mata, ia melihat David berada di sampingnya sambil menggenggam tangan kirinya. "Aku dimana?".
"Kamu sudah sadar?".
"Mmmmm.. Kepala ku sangat pusing, apa kita masih di rumah sakit?".
"Iya, kamu masih merasa gatal?".
"Tidak, aku sudah merasa baikan" Jawab Nadia berusaha duduk. Lalu ia melihat kedua tangannya yang sudah di perban dengan tatapan sedih, "Tiara dimana? Tiara dimana? aku butuh penjelasannya? kenapa dia tega melakukan ini kepada ku?".
__ADS_1
"Kamu tenang dulu, sepertinya Tiara melarikan diri. Dia tau apa yang telah dia lakukan, dia tidak mungkin berada disini".
"Anak kurang ajar, berani-beraninya dia melakukan ini kepada ku. Dia benar-benar tidak tau terima kasih" Umpat Nadia sangat marah.
.
Sedangkan Tiara yang kini berada diatas jembatan sedang berteriak kesenangan setelah apa yang dia lakukan kepada Nadia. Ia tidak perduli lagi, ia tidak perduli kalau David akan sangat marah besar kepadanya. Yang ia rasakan saat ini hanyalah kesenangan, kesenangan melihat Nadia menderita dengan apa yang ia taruh di dalam pakainya.
Setelah Tiara puas tertawa, ia melihat kebawah air yang sangat dalam. "Semua sudah berakhir, kini saatnya aku pergi" Tiara pun langsung menjatuhkan tubuhnya kedalam air tampa satu orang yang tau.
Hingga pada pagi harinya, seorang menemukan sebuah mayat mengepung diatas air. Ia pun segera memberitahu polisi terdekat hingga informasi itu tiba di kedua telinga Bagas. "Sialan" Umpat Bagas melihat wajah Tiara yang sudah memucat.
Ia menghubungi nomor ponsel David dan memberitahunya kalau Tiara telah meninggal dunia dengan kasus bunuh diri. "Siapa?" Tanya Nadia.
"Bagas, dia memberitahu ku kalau Tiara bunuh diri di sungai xx".
"Apa?" Kaget Nadia mengingat perkataan Tiara semalam saat di mengatakan kalau ia sudah lelah dan bosan, ia ingin mengakhiri semuanya dengan menghilang dari dunia ini. "Tidak mungkin".
"Ada apa Nadia?".
"Kenapa? kamu masih ingin balas dendam?".
"Tidak, aku hanya ingin tau jawaban dia melakukan ini kepada ku, aku ingin tau alasan dia apa".
"Sudahlah, dia sudah tiada. Sebaiknya kamu fokus dengan kesehatan mu, tadi aku sudah memberitahu atasan mu kalau kamu hari ini tidak bisa berangkat kerja" Nadia menghela nafas, ia masih terlihat sangat marah kepada Tiara meskipun Tiara telah bunuh diri, namun rasa marah di dalam hatinya tidak bisa ia luapkan.
Kemudian David membaringkan tubuh Nadia, ia meminta kepadanya untuk tidak memikirkan hal itu lagi. "Kamu mau sesuatu? aku akan mengambilnya untuk mu".
"Tidak, aku ingin istirahat saja".
"Mmmm, tidurlah".
"Jangan pergi, aku tidak ingin sendiri".
__ADS_1
"Aku tidak akan kemana-mana, sekarang tidurlah" Nadia memejamkan kedua matanya. Lalu David mendudukkan diri diatas sofa sambil mengeluarkan ponselnya, ia membuka gmail begitu mendapatkan beberapa notifikasi dari Vincen.
Namun Nadia yang tidak bisa tidur, membuat ia membuka mata kembali. Ia melihat David sedang fokus dengan ponselnya. Tidak ingin mengganggunya, ia hanya memandanginya saja dari atas tempat tidur dengan senyum tipis. "Dia rajin sekali, sedangkan aku sudah berapa kali tidak masuk kerja. Ck" Ia melihat sekitarnya mencoba mencari ponsel.
Tapi ia tidak menemukannya disana, kemudian ia bertanya kepada David. "Kenapa kamu belum tidur?" Tanya David melihatnya.
Tersenyum, "Aku tidak bisa tidur. Apa kamu membawa ponsel ku?".
"Tidak. Kenapa?".
"Aku bosan, aku pikir kamu membawanya".
"Kalau gitu aku akan menyalakan televisi. Kamu mau nonton channel apa?".
"Terserah" David memencet tombol remote, setelah itu ia kembali fokus dengan pekerjaan. "Bukannya membuat ku merasa terhibur, ini malah membuat ku semakin bosan" Gumam Nadia. "Aku sangat haus, rasanya aku ingin meminum sesuatu yang segar-segar".
David meliriknya, ia melihat Nadia sedang menyentuh tenggorokannya sambil berkata ia ingin meminum yang segar-segar. Lalu David memperhatikan jam yang sudah menunjukkan pukul 12 siang. "Aku akan mencarinya" Dengan senyum mengembang diwajah Nadia ia minta supaya ia juga ikut. "Tidak, kamu tidak ingat kata dokter tadi pagi kalau kamu belum bisa keluar kamar?".
"Ck, tapi aku bosan di dalam kamar terus".
"Diamlah, aku tidak akan lama".
"Janji yah" David langsung keluar tampa menjawabnya lagi. Kemudian ia melihat kearah jendela kaca, disana ia melihat cuaca di luar sangat cerah sehingga gedung-gedung di kota itu tampak sangat jelas di kedua matanya.
Hampir 1 jam lamanya juga Nadia menunggu David kembali kedalam kamar. Kini yang ia tunggu pun telah tiba disana. Dengan wajah masam Nadia menerima jus tersebut dari tangan David. "Maaf, tadi jalanan sangat macet".
"Alasan".
"Kamu tidak mempercayai ku?".
"Tidak tau, tolong berikan cemilan itu. Aku sangat lapar" Jawab Nadia mengulurkan tangan kanannya. Namun David tidak memberikannya, ia malah memandangi wajah Nadia yang masih terlihat masam. "Hey, aku hanya bercanda saja. Bagaimana mungkin aku tidak mempercayai mu, terima kasih sudah membelikan aku itu. Cepat berikan, aku sudah sangat lapar".
"Kamu membuat ku Marah" Ucap David memberikan roti tersebut ditangan Nadia. Lalu Nadia terdiam, ia menunduk berkata maaf sampai membuat David langsung tertawa kecil, "Dan aku juga sedang bercanda. Makanlah, jangan lupa habisnya".
__ADS_1
"Aahh.. Ck" Kesal Nadia.