Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 29


__ADS_3

Sambil berjaga di depan rungan ICU yang khusus Vincen minta, mereka berdua melihat dokter yang menangani David berjalan kearah mereka dengan dua perawat. "Dok" Bangkit Vincen dari kursinya.


Si dokter tersenyum, "Kami hanya memberi izin satu orang saja masuk, nanti bisa secara bergantian".


"Kamu saja Vin" Ujar Bagas.


"Mmmmm" Angguk Vincen mengikuti si dokter dari belakang. Di ruangan itu, ia melihat David sangat menyedihkan. Lalu sang dokter memberitahu kalau David untuk saat ini ia belum bisa siuman.


"Kenapa dok? bukankah kemarin dokter memberitahu saya kalau tuan saya akan siuman 8 jam ke depan".


"Iya, tapi keadaan pasien tidak memungkinkan. Kita tunggu saja sampai nanti sore" Vincen menghela Nafas, "Tidak usah khawatir, pasien akan baik-baik saja" Setelah itu mereka meninggalkan Vincen yang masih ingin berada disana.


Kemudian Vincen menatap wajah David, "Bertahanlah, aku mohon kamu harus bertahan David, kita perlu membalas mereka dengan apa yang telah mereka lakukan kepada kita".


Setelah 20 menit lamanya Vincen berada disana, ia segera keluar. "Vincen" Lihat Bagas.


"Kata dokter pagi ini tuan David belum bisa siuman".


"Mmmmmm.. Tadi dokter sudah memberitahu ku".


"Apa yang harus kita lakukan Bagas, aku tidak mau terjadi apa-apa kepadanya".


"Ck, kamu tidak usah khawatir. Dia akan baik-baik saja, kamu seperti tidak mengenal tuan David saja" Peluknya di tubuh Vincen.


.


Sedangkan Steven dan Gery yang berada di dalam hotel terlihat sangat kesal mengingat kegagalan mereka semalam membunuh David.


"Sial, kalau seperti ini semuanya tidak akan berhasil paman".


"Hhhmmmsss.. Untuk saat ini kita harus kembali ke Rusia, kamu lihat itu" Tunjuk Steven kearah televisi yang sedang panas-panasnya menayangkan kejadian semalam.


"Jadi usaha kita datang kemari akan sia-sia?".


"Tidak" Seringai Steven. "Usaha kita tidak boleh sia-sia datang kemari, aku berhasil memasukkan salah satu anak buah mu ke dalam kelompok mereka. Kita akan menunggu informasi dari dia, dan tadi aku mendapatkan informasi darinya kalau David semalam tertembak. Sekarang dia berada di rumah sakit".


"Rumah sakit? kenapa kita tidak kesana saja untuk membunuhnya paman".


"Tidak bisa, untuk saat ini kita biarkan saja dia hidup, tapi bukan untuk kedua kalinya".


"Jadi kita akan kembali ke Rusia hari ini juga paman?".


"Mmmmm.. Dan biarkan anak buah mu tinggal disini".


"Baiklah" Angguk Gery menghubungi anak buahnya. Setelah itu, mereka berdua segera keluar dari dalam hotel menuju bandara internasional.


.


Jam 12 siang, Nadia masih merasakan pusing meskipun ia sedari tadi telah meminum beberapa vitamin.

__ADS_1


"Nadia" Panggil ibu Fano.


"Iya buk" Jawab Nadia melihat ibu Refano.


"Kamu kenapa bisa berada dirumah sakit? kamu sakit?".


Nadia tersenyum, "Nadia tidak sakit buk, Nadia hanya merasa pusing saja".


"Lalu dimana orang tua mu? kenapa ibu tidak melihatnya dari semalam?".


"Mereka tidak tau kalau Nadia berada dirumah sakit buk, Nadia tidak ingin membuat mereka khawatir".


"Oohh.. Terus, anak ibu tampan enggak?".


"Hhhmmmm?".


Iya tersenyum, "Ibu bertanya, anak ibu tampan enggak?".


"Dia tampan, ibu juga cantik. Tentu saja anaknya tampan".


"Benarkah?".


"Mmmmmmm".


"Terima kasih Nadia" Senangnya. "Fano itu sahabatnya Zico dari sejak kecil, mereka selalu bersama. Bahkan saat kami pindah ke luar negeri waktu mereka masik SMP mereka selalu sahabatan. Dan pada akhirnya kami kembali ke indonesia, mereka malah 1 sekolah lagi hahahhaha.. Ibu bangga dengan pertemanan mereka".


"Fano sangat beruntung ya buk".


"Refano sangat beruntung memiliki mama sebaik ibu".


"Hey, setiap ibu selalu mencintai anak mereka begitu juga dengan kamu, meskipun terkadang ibu sering memarahinya".


"Lalu bagaimana dengan papa Fano?".


"Papa Fano sudah lama meninggal sejak Refano SD".


"Astaga, maafkan Nadia ya buk. Nadia tidak bermaksud..


"Tidak apa-apa, ibu sudah terbiasa dengar pertanyaan itu. Lagian mau dimana lagi, itu semua sudah kehendak yang maha kuasa. Kita manusia hanya bisa menerima dan mengikhlaskan".


"Wah.. Ibu benar-benar hebat" Senyum Nadia menunjukkan jempolnya.


"Terus, apa kamu sudah punya pacar?".


"Pacar? lebih tepatnya.." Gantung Nadia mengingat ia yang tidak bisa membongkar rahasia yang selama ini ia simpan. "Iya buk, Nadia sudah punya pacar".


"Yah.. Sayang sekali, ibu pikir kamu belum punya pacar. Ternyata kamu sudah ada yang punya".


Nadia yang mengerti maksud dari tujuan perkataan ibunya Refano hanya bisa menunjukan senyumannya. "Nadia yakin diluar sana banyak wanita menyukai Refano, diakan tampan, baik dan juga perhatian".

__ADS_1


"Semoga saja, ibu hanya kesal saja, karna sampai sekarang Fano tidak pernah membawa pacarnya kerumah bahkan memperkenalkannya sama ibu. Padahal ibu sudah ingin sekali memiliki cucu".


"Mungkin Fano lagi mencari yang terbaik untuk bisa merawat dia dan ibu suatu saat nanti, Nadia yakin itu buk".


Ibu Refano langsung tertawa senang, "Terima kasih yah Nadia, sepertinya ibu sudah berpikir egois sama anak ibu sendiri".


"Iya buk".


Tidak lama kemudian, Vincen mendatanginya. Ia melihat Vincen membawa sesuatu di dalam kantong plastik hitam. "Kamu sudah makan?".


"Mmmmm" Senyum Nadia. "Itu apa tuan?".


"Vitamin, minumlah. Kamu akan segera baikan, dan sepertinya saya belum sempat berterima kasih kepada mu".


"Tidak apa-apa, itu sudah menjadi kewajiban saya menyelamatkan tuan David. Apa tuan David sudah siuman?".


"Belum, tapi tuan David sudah di pindahkan keruang VIP. Kalau kamu sudah merasa baikan, kamu bisa mendatangi dia di sini".


"Terima kasih tuan" Senangnya.


"Mmmmmm" Angguk Vincen meninggalkannya.


"Dia siapa Nadia?" Tanya ibu Refano.


"Mmmmm.. Aku bilang siapa yah?" Gumam Nadia. "Nadia juga kurang kenal siapa dia buk, cuman dia bawahan orang yang Nadia kenal".


"Oohh.. Dia sangat tampan yah. Sepertinya dia cocok untuk putri sepupu ibu, lalu yang sakit siapa Nadia?".


"Teman Nadia buk".


"Mmmmm" Angguknya.


.


Sore harinya, Nadia semakin merasakan baikan setelah ia meminum vitamin yang tadi siang Vincen berikan. "Wah, vitamin ini manjur sekali" Gumam Nadia. "Sus, kapan inpus ini dilepas? saya ingin menemuinya".


"Tiga hari lagi baru nona bisa menjenguknya".


"Apa? tiga hari? masa iya sampai 3 hari sih sus? saya sudah merasa baikan".


"Tolong ikuti perintah dokter ya, ini semua demi kebaikan nona sendiri".


"Tapi sus, saya benar-benar sudah merasa baikan. Dan juga besok saya harus kembali bekerj..


Lagi-lagi sang suster itu pergi meninggalkannya membuat ibu Refano tersenyum. "Jangan banyak melawan mereka, itu semua demi kebaikan kamu Nadia".


"Hhhmmsss.. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja atau tidak".


"Dia pasti baik-baik saja seperti apa kata suster tadi".

__ADS_1


Setibanya malam, Nadia yang sedari tadi tidak bisa tidur membuat ia ingin sekali melihat keadaan David diruang VIP. Kemudian ia melihat sekitarnya, karna sudah menunjukkan pukul 10 malam, "Semua sudah pada tidur, dan juga para perawat itu sedang istirahat" Nadia pun akhirnya membuka selang inpus sendiri. Setelah itu, ia langsung keluar dari dalam sana.


__ADS_2