
Begitu David duduk dihadapannya, Nadia menuang anggur itu di dalam gelasnya setengah penuh. "Kamu mau mendengar cerita ku?".
"Tidak".
"Kenapa?".
"Aku tidak ingin mendengarnya".
"Ooo, aku pikir kamu ingin mendengarnya, ternyata aku salah. Tidak apa-apa" Tersenyum.
David menatapnya, "Nadia!".
"Iya? kamu ingin mengatakan sesuatu?".
"Aku ingin menanyakan sesuatu, bisakah kamu menjawab ku dengan jujur?".
"Apa itu? kamu membuat ku penasaran saja".
Namun bukannya melanjutkan perkataannya, ia malah menyuruh Nadia melupakan apa yang baru saja ia ucapkan. "Ais, kamu sangat menyebalkan sekali David" Kesal Nadia mulai mabuk.
Kemudian David memandangi wajah yang hampir setiap hari ia rindukan itu, lalu ia tersenyum meneguk anggurnya. "Aku sudah hampir gila hanya memikirkannya saja".
Hingga kini matahari telah terbit, David membuka semua gorden di rumahnya menggunakan remote, lalu melihat Nadia yang tertidur pulas diatas meja dengan keadaan mabuk, setelah itu ia membawanya kedalam kamar. "Hhhmmm, jangan pergi" Gumam Nadia merengek.
"Diamlah".
"Kamu ingin membawa ku kemana?".
Begitu David meletakkan tubuh Nadia diatas tempat tidur, ia memandangi wajah Nadia yang sangat cantik apalagi disaat ia sedang tertidur pulas, lalu mendekatkan wajahnya hendak ingin mencium bibir Nadia. Tetapi saat itu juga ponselnya tiba-tiba berdering. "Iya bagas? ada apa?".
"Tuan Beyonce baru saja meninggal dunia tuan!".
"Apa?" Kaget David dengan mata membulat.
"Iya tuan" David langsung mematikan ponselnya, ia segera bergegas menuju tempat Bagas saat ini berada bersama dengan anak buahnya yang lain, hingga kini ia telah tiba disana. "Tuan" Tunduk Bagas dan Vincen.
"Apa yang terjadi Bagas?" Tanya David berjalan memasuki ruangannya.
__ADS_1
"Kami baru saja mendapatkan informasi kalau tuan Beyonce baru saja menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit kemarin tuan Beyonce di rawat tuan".
David mendudukan dirinya diatas kursi, ia melihat Bagas dan Vincen dengan tangan mengepal. "Steven dan Gery pasti akan datang kemari. Bersiaplah".
"Siap tuan".
"Untuk perusahaan serahkan kepada direktur Vincen, satu bulan ini kita tidak akan kekantor".
"Baik tuan".
"Tanggal berapa sekarang?".
"Tanggal 19 tuan" Jawab Bagas.
"19, dan barang akan sampai disini pekan depan, aku yakin Steven dan Gery akan ada di dalam sana. Untuk itu, kita harus lebih hati-hati lagi, aku mau penjagaan semakin di perketat".
"Siap tuan".
"Apa malam ini kamu ada pertemuan Bagas?".
"Iya tuan sekitar jam 10 malam di desa xx".
"Siap tuan" Angguk Bagas dan Vincen keluar dari dalam ruangan David melihat wajahnya yang ingin sendiri. Kemudian David menyambar foto ia bersama dengan Beyonce saat ia masih berusia 13 tahun sampai foto ia dewasa seperti sekarang ini.
"Untuk yang terakhirnya kalinya saja aku tidak bisa berada di dekat mu" Gumam David meneteskan air mata.
.
Sedangkan Nadia yang kini berada di dalam kamar, ia segera membuka mata begitu ia puas tertidur melihat jam telah menunjukkan pukul 3 sore. "Aahh, tenyata aku sudah lama tidur" Nadia melihat sekitarnya, ia melihat tempat tersebut adalah kamarnya.
Kemudian Nadia menuruni tempat tidurnya, ia tidak melihat David berada disana, lalu membuka pintu kamar. Sambil berjalan kearah dapur Nadia juga tidak menemukan David di berbagai sudut rumahnya dan juga tidak berada di dapur tersebut, ia hanya melihat botol kosong dan gelas kosong berada di atas meja. "Dia kemana? kenapa dia tidak memberitahu ku kalau mau pergi" Dengus Nadia kesal.
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTT...
Nadia mendengar suara ponselnya berdering, namun bukan di dalam kantongnya atau pun dari ditempat ia berdiri sekarang. Melainkan suara itu berasal dari dalam kamar David, "Astaga, tas ku kan berada di dalam kamarnya".
Ceklek!
__ADS_1
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTT...
"David!" Panggilnya. "David!" Panggilnya lagi tidak mendengar jawaban dari orang yang empunya nama melihat ponselnya berdering sedari tadi dari dalam tas yang berada di bawah lantai. Nadia pun langsung menyambar tasnya, ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam tas melihat siapa yang sedang menelponnya. "Iya Zico? aku baru bangun" Jawab Nadia.
"Aku juga baru bangun Nad, apa tidur mu nyenyak?".
"Mmmmm, bagaimana dengan mu?".
"Sama dengan mu. Lihatlah keluar Nad".
"Kenapa diluar Zico?" Nadia berjalan kearah balkon kamar David, ia melihat rentik-rentik hujan turun membuat perkotaan terlihat sangat indah dan menyegarkan. "Wah, ternyata Hujan turun setelah sekian lama aku menunggu hujan turun, aku sangat menyukai hujan Zic..
BBRRAAKK..
"Astaga" Kaget Nadia melihat David memasuki kamarnya dengan tubuh basah kuyup.
"Ada apa Nadia?".
"Tidak, aku sudahi dulu Zico, sampai bertemu nanti malam" Nadia mematikan ponselnya. Lalu menghampiri David sambil membawakan sebuah handuk. "Yah, kenapa kamu basah kuyup seper.." Gantung Nadia begitu David mencium bibirnya.
Setelah itu David melepaskan bibirnya, dengan nafas mengebu-ngebu ia membuka kedua mata melihat Nadia yang sedang melihatnya dengan tatapan penuh tanya. "Kenapa? ada apa? apa yang membuat mu seperti ini sampai kamu basah kuyup?" Tanya Nadia selembut mungkin menyentuh wajahnya.
Bukannya menjawab, David malah kembali mencium bibir ranum Nadia bercampur dengan air mata yang menetas di kedua pipi David, sehingga Nadia yang dapat merasakan kesedihan apa yang sedang David rasakan saat ini membuat ia ikut merasakannya juga, "Tidak apa-apa, tidak apa-apa, menangislah sampai kamu benar-benar merasa baikan" Ucap Nadia dalam hati memeluknya dengan erat.
Setelah hampir 10 menit lamanya David menciumnya, ia segera melepaskan Nadia dengan senyum tipis. Kemudian melihat bibir bawah Nadia yang terluka akibat dari perlakuannya yang sedikit kasar, "Maaf, gara-gara aku bibir ini sampai terluka".
"Tidak apa-apa, sekarang mandilah nanti kamu masuk angin".
"Sebentar" David mengeluarkan kota obatnya, ia segera mengoles sesuatu di bibir Nadia. Lalu tersenyum membuat Nadia semakin kebingungan melihat perubahan di wajah David. "Hari ini aku kehilangan seseorang sangat berharga dalam hidup ku, maaf telah membuat ikut merasakannya".
Nadia mengangguk sambil menyentuh wajahnya melihat kedua mata David yang masih bermerah. "Kalau rasanya sangat berat, menangislah di pelukan ku. Kamu boleh berbagi dengan ku".
"Terima kasih" David bangkit berdiri menyimpan kota obat tersebut di tempat semula. Lalu ia memasuki kamar mandi, sedangkan Nadia yang benar-benar bisa merasakan kesedihan di dalam hati David membuat ia ikut sedih dan merasakan kehilangan.
"Hhhmmsss.. Melihat David yang seperti ini benar-benar sangat tidak cocok dengan karakternya yang sebenarnya. Dia lebih baik menjadi David yang kejam, cuek dan datar seperti pertama aku mengenalnya dari pada yang seperti ini. Dia benar-benar orang yang susah di tebak".
Tidak lama kemudian, David keluar dari dalam kamar mandi menggunakan handuk putih yang melilit diatas pinggangnya, sehingga roti sobek yang dimiliki oleh David terlihat sangat indah di kedua mata Nadia sampai-sampai mata itu tak berkedip melihat pemandangan indah tersebut. "OMG, apa yang sedang kamu pikirkan Nadia? Aarrkkhhh, sadar Nadia sadar, jangan mempermalukan diri mu sendiri karna pikiran kotor mu ini" Teriaknya dalam hati.
__ADS_1
Kemudian David mendekatinya, "Jangan, jangan mendekati ku. Yah, jangan mendekati ku" Teriak Nadia menutup wajahnya. David pun tertawa kecil menarik tangannya, namun Nadia yang merasa sangat malu membuat ia tampa sadar menendang kejantanan David sampai membuatnya menjerit kesakitan. "Astaga, ya Tuhan. Maaf, maafkan aku David" Mohon Nadia melihat David meringis kesakitan.