Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 21


__ADS_3

Nadia mendekati David dengan tangan mengepal, ia benar-benar ingin sekali melayangkan satu pukulan tepat di wajah David yang sangat ia benci.


Tetapi David malah tersenyum tipis, kemudian menarik tangan Nadia kedalam pelukannya, "Aahhh" Kaget Nadia.


"Terima kasih" Bisik David.


Nadia kebingungan, ia tidak tau alasan David berterima kasih kepadanya dan alasan David berada disana serta mengingat sang kakaknya yang telah menyuruhnya datang ke tempat tersebut. "Tuan" Panggil Nadia.


"Tuan" Panggilnya lagi. "Kenapa dia tidak menjawab ku?" Gumam Nadia melepaskan pelukannya. "Astaga.. Tuan, tuan, tuan David" Panggil Nadia melihat David jatuh pingsan di dalam pelukannya. "Kenapa seperti ini? ada apa dengannya? kenapa dia memiliki tubuh sebesar ini tapi tidak kuat" Dengus Nadia menjatuhkan tubuh David diatas tempat tempat tidur.


Kemudian Nadia melepaskan sepatu David, ia menyentuh keningnya. "Dia tidak panas" Lalu Nadia menyelimuti tubuhnya. Setelah itu Nadia memandangi wajah lelah David, "Kamu kenapa sih? tidak bisakah kamu menganggap ku ada? kenapa kamu tidak bisa menerima ku sebagai istri mu? kalau kamu tidak bisa, kenapa kamu harus menikahi ku?" Nadia melihat si isi kamar dengan kening mengerut.


"Tempat apa ini? kenapa kamar ini sangat menakutkan sekali?" Gumam Nadia turun dari atas tempat tidur menuju pintu yang masih terkunci. "Kalau seperti ini? bagaimana bisa aku keluar dari dalam sini? Yah.. Ada orang di luar? tolong keluarkan kami dari sini" Teriak Nadia.


BBBAAARRR.. BBAAARRRRR..


"Tolong keluarkan kami dari sini" Teriaknya lagi.


BBBAAARRR.. BBAAARRRRR..


"Yaakkhhhh.... Aaarrrkkhhh, Sial" Tendang Nadia sangat kesal. Kemudian ia melihat David kembali yang masih tertidur, "Apa dia baik-baik saja?" Nadia mendatangi tempat tidur, namun saat ia menyentuh tubuh David ia merasakan tubuh David semua dingin.


"Astaga, kenapa tubuhnya dingin sekali?" Panik Nadia menyentuh lehernya. "Dingin juga, apa yang harus aku lakukan?" Semakin Panik Nadia mencari cara agar tubuh David kembali hangat.


Lama berpikir, akhirnya Nadia membuat keputusan yang akan membuat David marah, "Tidak ada cara lain lagi. Sepertinya cara ini akan berhasil" Nadia segera membuka kemeja David dan juga pakaiannya. Setelah itu, Nadia memeluknya dengan hangat, "Semua akan baik-baik saja Nadia, kamu hanya membantunya. Iya, kamu hanya membantunya".


Sekarang telah menunjukkan pukul 10 malam, Nadia mulai mengantuk, "Hhhoooaamm" Uap Nadia tampa ia ketahui kejadian di luar kamar.


"Kenapa tubuhnya masih dingin saja?" Gumam Nadia semakin mengeratkan pelukannya. Tidak lama kemudian, Nadia terlelap dalam pelukan David.


Waktu terus berjalan, David yang sudah sadar tiba-tiba merasakan sebuah benda kenyal menghangati tubuhnya, "Apa ini?" Batin David membuka kedua mata sambil mengangkat tangan kanannya. "Aaahhhh" Kaget David melihat wanita tengah memeluknya.


Dengan pelan David melepaskan pelukan Nadia, kemudian menyisikan anak rambut Nadia. "Nadia" Kaget David. "Bagaimana bisa dia ada disini?" Gumam David mengingat kejadian tadi. Setelah itu ia tersenyum melihat wajah damai Nadia, "Cantik" Tidak ingin membangunkan tidur Nadia, David menarik tubuh itu kembali ke dalam pelukannya dan membiarkan Nadia tertidur pulas.


Pagi hari Nadia terbangun, ia menguap seperti biasa, lalu membuka kedua matanya, "OMG" Pekik Nadia melihat dada bidang David sambil menelan ludah. "Pagi-pagi seperti ini pikiran mu sudah kotor saja Nadia" Umpatnya dalam hati. Dengan pelan Nadia melepaskan pelukannya, lalu menuruni tempat tidur sambil memunguti pakaiannya yang tergeletak di atas lantai.


"Tidak ada kamar mandi lagi" Gumam Nadia melirik kearah David yang masih tertidur, "Pakai disini saja, semoga dia belum bangun" Ia pun segera memakai pakaiannya, tampa ia ketahui David telah melihat punggung polosnya dari belakang. "Selesai" Dengan cepat David menutup matanya kembali.

__ADS_1


Nadia berjalan mendekatinya, lalu menempelkan punggung tangannya di kening David, "Akhirnya.. Tubuhnya kembali hangat" Senyum Nadia. "Tapi kenapa dia belum bangun-bangun juga yah? ini sudah hampir jam 7 pagi" Nadia melihat kearah pintu. "Dan mereka juga, kenapa mereka belum membuka pint..


Ceklek!


"Pintunya terbuka" Dengan cepat Nadia berlari ke ambang pintu.


BBBUUNNGGGHHH...


Satu pukulan kuat mendarat di wajah pria yang baru saja membuka pintu tersebut, "Aahhh" Kagetnya kesakitan.


"Kurang ajar, gara-gara kamu seseorang hampir saja kehilangan nyawanya" Marah Nadia menarik kerah baju si pria itu sampai gelagapan.


"Tolong lepaskan saya nona, saya tidak tau apa-apa. Uhuk.. uhuk...".


Nadia memperhatikan pria itu, "Sial, dimana pria bertato itu?".


"Maaf nona, saya tidak tau maksud nona" Jawabnya.


"Aarrrkkhhh.. Minggir, berani-beraninya kalian mengurung seorang polisi disin..." Gantung Nadia mengingat David yang masih berada di dalam kamar. "Aaiiisss, dia membuat ku susah saja" Nadia kembali masuk kedalam kamar, ia melihat David telah membuka kedua mata. "Hey, kalau sudah bangun, harusnya dia memakan baju" Kesal Nadia mendekatkan dirinya. "Kamu sudah baikan?".


David mengerutkan keningnya pura-pura tidak mengingat kejadian semalam. "Kamu?".


"Bagaimana bisa kamu berada disini?. Dan kamu, kenapa wanita ini ada disini?" Tanya David kepada pria itu.


"Sa-saya juga tidak tau tuan" Jawabnya.


"Hahhh.. Kamu pura-pura lupa yah?".


"Kamu mengejek ku?".


"Bukan hanya mengejek mu, bahkan aku ingin sekali memukul mu" Setelah itu Nadia pergi meninggalkannya. "Bajingan, bisa-bisanya dia melupakan kejadian semalam setelah apa yang dia lakukan kepada ku.." Gantung Nadia melihat pria yang sangat ia kenal terikat sangat menggenaskan di sebuah kursi.


"Zico" Teriak Nadia.


"Nadia".


"Zico, apa yang terjadi Zico? bagaimana bisa kamu babak belur seperti ini? siapa yang telah melakukan ini kepada mu" Namun Zico bukannya menjawab pertanyaan Nadia, Zico malah bertanya balik dia baik-baik saja atau tidak.

__ADS_1


"Astaga Zico. Kamu masih sempat-sempatnya bertanya aku baik-baik saja atau tidak tampa kamu perduli dengan keadaan mu yang seperti ini".


"Kamu baik-baik saja kan Nad? kamu tidak terluka?".


"Hhhmmsss.. Aku baik-baik saja. Sekarang kamu harus memikirkan diri mu sendiri. Ayo, kita harus kembali supaya kita bisa membalas apa yang telah mereka lakukan kepada mu".


"Mmmmmm" Angguk Zico.


Begitu Nadia melepaskan tali pengikat tangan Zico, beberapa pria bertubuh besar mendatangi mereka, "Nadia" Dengan cepat Zico menarik Nadia di belakangnya. "Jangan mendekat kalau kalian tidak ingin berakhir di jeruji besi" Ancam Zico melangkah mundur.


"Lepaskan wanita itu" Ucap salah pria bertubuh besar itu.


"Kurang ajar, ternyata dia pria yang semalam membawa ku..."Gantung Nadia. "Dimana kakak ku? dimana kalian menyembunyikan dia?" Bentak Nadia.


"Kami tidak tau dimana wanita itu. Dan kamu silahkan pergi, tinggalkan dia sendiri".


"Apa?" Marah Zico menatap mereka dengan tajam.


"Wanita itu telah di jual kepada kami".


"Apa? dijual? maksud kamu aku di jual?".


"Wanita itu telah menjual mu kepada kami dengan harga tinggi, sekarang kamu tidak bisa keluar dari tempat ini. Keluarkan pria itu".


"Siap" Mereka mendekati Zico.


"Berhenti disana" Teriak Zico. "Satu langkah lagi kalian melangkah, saya benar-benar akan membunuh kalian semua".


"Silahkan, cepat keluarkan dia".


"Mmmmm" Angguk mereka membawa Zico dari sana meskipun Zico telah berusaha melawan mereka, namun Zico dan Nadia yang tidak memiliki tenaga sekuat mereka tidak bisa melawan hingga pada akhirnya mereka berhasil memisahkan Zico dan Nadia.


"Nadia" Teriak Zico.


"Zico, aku baik-baik saja. Cepat cari bantuan".


"Aku pasti akan datang menyelamatkan kamu Nad, bertahanlah".

__ADS_1


"Mmmmmm" Angguk Nadia.


__ADS_2