
"Kamu duduk saja, aku tidak akan lama memasaknya. Kamu mau pedas atau biasa saja?".
"Biasa saja".
"Ok" Nadia segera memanaskan airnya sampai mendidih. Lalu mengiris bawang untuk pewangi mie tersebut, setelah air mendidih baru Nadia memasukkan mie itu kedalam wajan sambil menaruh dua telur, kemudian memasukkan daun bawan tadi. "Selesai" Ia pun segera membawa diatas meja. "Bagaimana? kamu menyukai aromanya?".
"Mmmmm" Nadia menaruh diatas mangkok memberikan kepada David. "Terima kasih".
"Sama-sama, makanlah sampai kamu kenyang".
"Mmmmmm" David menyuap kedalam mulutnya. Ia terlihat sangat menikmati mie tersebut, "Seseorang memberitahu kalau disaat dia sedang sedih, dia akan memakan mie instan ini".
"Siapa?".
"Seseorang" Jawabnya. Nadia tersenyum, ia langsung teringat kejadian malam itu saat ia memberitahu David obat disaat sedih yaitu memakan mie instan. "Kenapa kamu tersenyum".
"Tidak".
"Makanlah, mie mu nanti mengembang".
"Tunggu sebentar" Nadia mengeluarkan minuman alkohol kaleng dari dalam kulkas. "Akan lebih nikmat kalau minumnya bersama dengan ini" Ucap Nadia membuka minum kaleng itu memberikan kepada David. "Cobalah".
David menyambar, ia pun segera meminumnya sampai setengah. "Lumayan".
"Tentu saja enak" Senang Nadia menikmati mie instannya itu sampai habis. Ia melihat mangkoknya sudah kosong dan juga milik David, setelah itu ia melihat wajah David. "Kamu sudah kenyang?".
"Iya".
"Kalau gitu aku akan mencuci piring ini, pergilah kalau kamu ingin pergi" Bawa Nadia ke dalam wastafel, ia segera membersihkan bekas piring kotor mereka, setelah selesai, ia masih melihat David duduk diatas kursi meja makan sambil memandangi dirinya. "Aku pikir kamu sudah pergi".
"Aku ingin tidur bersama mu".
"Kenapa?".
"Aku tidak bisa tidur".
"Buktinya kamu tidur sangat nyenyak waktu aku pergi meninggalkan mu".
"Tidak".
Flasback.
Begitu Nadia keluar dari dalam kamarnya, David membuka mata melihat selembar kertas berada di atas lemari kecil dekat ranjangnya. Kemudian ia menyambar kertas tersebut yang berisi tulisan. "Aku kerja dulu, maaf tidak bisa bersama mu di saat seperti ini. Tapi aku janji tidak akan lama, aku akan segera kembali, dan semoga di saat aku kembali kamu masih terlelap dalam mimpi indah mu😊".
__ADS_1
David tersenyum, lalu melilitkan handuk itu kembali di pinggangnya sambil berjalan kearah balkon kamar. Ia menghidupkan rokok dan menikmati pemandangan indah yang sudah mulai gelap, sehingga lampu di gedung-gedung tinggi itu sebagian telah menyala.
***********
"Jadi kamu..
"Mmmmm" Angguk David bangkit berdiri membawa Nadia kedalam kamarnya. Ia menatap manik matanya yang kebingungan melihat perubahan dirinya sendiri yang tiba-tiba memperlakukan dia sangat berbeda "Aku tidak akan melakukan apa-apa Nadia, dan jangan bertanya kenapa aku seperti ini. Tadi aku sudah mengatakan kepada mu kalau aku baru saja kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup ku".
"Maaf".
"Jadi tidurlah di kamar ini" David menjatuhkan tubuh Nadia, ia menyentuh wajah mulusnya dengan sayang. "Boleh aku mencium mu?".
"Hhhmmm?" Pipi Nadia merona.
David tersenyum melihat pipi Nadia yang merona sampai membuat hati seorang David tersentuh semakin menyukai wanita yang selalu ada di dalam pikirannya itu "Boleh aku mencium mu Nadia?".
"Yah, hentikan menggoda ku. Aku sangat malu David" Gumam Nadia mencoba menutup wajahnya.
Cup.
"Aku menyukai bibir ini".
Cup.
Cup.
"Aku menyukai kedua pipi ini".
Cup.
"Aku menyukai hidung ini".
Cup.
"Dan aku sangat menyukai leher jenjang ini" Bisik David juga memberikan ciuman di kuping kanan Nadia sampai membuat Nadia merasa sesuatu sedang bergejolak di dalam tubuhnya begitu David menciumnya.
"Da-david hentikan" Namun bukannya berhenti, David malah semakin menjadi-jadi menciumi tubuhnya hingga kini dirinya berada diambang n*fsu, sampai-sampai Nadia tidak menyadari lagi kalau ia telah mengeluarkan suara des*han yang membuat David sangat menyukainya.
"Nadia lagi" Ucap David mencium keningnya.
"Tidak David, tolong hentikan. Aku belum siap".
Cup..
__ADS_1
Cium David di mata Nadia, lalu membanjiri semua wajahnya dengan ciuman. "Kenapa kamu belum siap?".
"Maaf, aku tidak tau rasanya seperti apa? tapi aku mendengar dari orang lain kalau rasanya sangat sakit, aku belum siap David".
David tersenyum, "Percaya padaku Nadia, kalau rasanya tidak akan sakit seperti kata orang diluaran sana. Aku akan melakukannya dengan lembut".
"Benarkah? tapi aku sangat malu sekali, aku sangat malu" Tutupnya di wajahnya.
"Kenapa kamu harus malu? lihat aku Nadia, buka tangan mu" David menarik tangannya, ia melihat wajah Nadia yang sangat memerah akibat menahan rasa malu. "Kamu mempercayai ku?".
"Mmmmm".
"Maukah kamu melakukannya bersama ku Nadia? aku ingin memiliki mu seutuhnya".
"Tapi kamu harus berjanji akan melakukannya dengan lembut".
"Iya, aku berjanji" David mencium bibirnya, ia memberikan ciuman yang sangat lembut hingga Nadia mampu mengikuti setiap gerakan yang David berikan. Setelah itu David mencoba melepaskan pakaian Nadia menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menahan kepala Nadia.
"Tunggu" Tahan Nadia. Ia melepaskan ciuman David dengan mata tertutup. "Aku mencintai mu" David tersenyum, ia kembali mencium bibir Nadia. "Kenapa kamu tidak menjawab ku?".
"Tampa aku jawab kamu sudah tau kalau aku mencintai kamu Nadia. Bukankah sebelumnya aku sudah pernah mengatakan itu kepada mu? kenapa kamu bertanya lagi?".
"Jadi saat itu kamu benar-benar mengatakan yang sebenarnya?".
"Mmmmm, aku mengatakan yang sebenarnya, kalau aku mencintai mu".
"Benarkah?".
"Mmmmmm".
"Terima kasih" Dengan senang hati Nadia langsung memeluk David, ia mencium pipi kanannya dengan gemas. "Aku benar-benar sangat mencintai mu, sampai kapan pun aku akan mencintai mu".
"Aku akan menunggunya" Cium David di bibir Nadia. Kemudian Nadia melingkarkan kedua tangannya di leher David sehingga ciuman itu semakin lama semakin panas.
"Aku siap David menjadi istri mu yang seutuhnya malam ini" Nadia mengulum senyuman manisnya, meskipun ia merasa sangat malu dan masih merasa ketakutan, Nadia mencoba untuk melawannya seperti yang David katakan tadi kalau ia harus mempercayainya.
David membuka pakaiannya lagi, ia melihat kedua gundukan Nadia sangat indah di baluti bra berwarna hitam yang sengaja ia ambil dari dalam lemari pakaian Nadia. "Tubuh mu sangat indah sayang" Sentuhnya di kedua buah itu.
"Jangan menggoda ku David, aku sangat malu".
"Aku menyukainya" Cium David mendengar suara des*han itu lagi semakin terdengar sangat indah di kedua telinganya, lalu ia menyuruh Nadia menyebut namanya. Sampai Nadia benar-benar melakukannya dengan suara manja dan lembut membuat David semakin berg*irah. "Lagi Nadia".
Kemudian David melepaskan bra Nadia, ia melihat kedua buah itu telah mengeras dan juga warnanya yang merah muda. Nadia mencoba menutupnya, tetapi David telah duluan ********** dengan lembut hingga Nadia tidak bisa menghindarinya lagi.
__ADS_1