Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 86


__ADS_3

"David... Aahh" Nadia meremas rambut David, lelaki itu benar-benar membuatnya sudah hilang kendali.


"Nadia kamu menyukainya?".


"Mmmmm" David tersenyum membuat Nadia seketika tersadar dengan apa yang baru saja ia jawab, "OMG, aku benar-benar sudah gila" Teriaknya dalam hati.


"Kenapa?" Tanya David masih tersenyum membuat jantung Nadia semakin berdetak sangat kencang melihat senyuman yang sangat jarang David tunjukkan kepada dirinya dan orang lain. Kemudian David mencium keningnya, "Sampai disini saja, aku akan menunggu sampai kamu benar-benar ingin melakukannya dengan ku" David membaringkan tubuhnya, lalu membawa Nadia kedalam pelukannya.


"Kenapa?" Tanya Nadia.


"Wajah mu terlihat lelah".


Nadia tersenyum lebar, "Bilang saja kamu tidak ingin melakukannya, kamu tidak usah membohongi ku. Kalau gitu aku pakai pakaian ku dulu".


"Tidak usah, biar seperti ini saja" David menarik selimut menutupi tubuh Nadia dan dirinya. "Sekarang tidurlah, besok kita lanjutkan lagi".


"Apanya?".


"Terserah kita mau melakukan apa, asalkan malam ini kita tidur dulu, aku butuh tenaga".


Nadia tertawa kecil, "Hentikan, kamu malah membuat ku tidak bisa tidur" Ciumnya di leher David. "Aku mau seperti ini, aku berharap sampai selamanya aku akan tetap bersama mu dan menghabiskan hari tua ku bersama mu".


"Mmmmm, mari kita lakukan itu".


"Kamu berjanji?".


"Mmmm, aku janji".


"Awas saja kalau kamu berbohong".


"Kalau aku berbohong?".


"Aku akan membunuh mu".


.


Kini Nadia telah berada di kantor, ia melihat semua rekan kerjanya itu telah berada di dalam sana dan juga Larisa. "Nadia" Kaget Zico. Ia pun langsung berlari kearahnya dan memeluknya sangat erat. "Nadia kamu baik-baik saja? Maafkan aku Nad, aku tidak bisa menyelamatkan mu saat itu".


"Hey, hentikan Zico. Aku baik-baik saja".


Zico melap air matanya, kemudian melepaskan pelukannya melihat Nadia yang benar-benar baik-baik saja. "Syukurlah, aku tidak bisa berhenti memikirkan mu Nad, ternyata kamu baik-baik saja" Senang Zico memeluknya lagi.

__ADS_1


Sedangkan Larisa juga merasakan hal yang sama dengan Nadia, tetapi Zico terlihat biasa saja begitu Zico melihat dirinya, dan ia hanya berkata syukurlah sambil tersenyum senang. namun berbeda saat ia melihat Nadia tiba disana, Zico langsung berlari kearahnya dan memeluknya sambil meneteskan air mata. Melihat itu membuat Larisa sedih, ia merasa kalau mereka sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya. "Aahh, sial" Umpatnya.


Kemudian Nadia mendekati Larisa, "Kamu baik-baik saja?".


"Mmmmm, aku baik-baik saja kak".


"Aku turut senang Larisa" Senyum Nadia memeluknya.


"Aku juga kak" Balas Larisa sedih.


Lalu Diva mendekati mereka, ia mengusap punggung Larisa, "Tidak apa-apa Risa, kamu sudah melakukan yang terbaik, suatu saat nanti kamu akan terbiasa".


"Terima kasih senior Diva" Angguk Larisa melap air mata. "Ke depannya lagi aku akan melakukan yang terbaik".


"Harus, karna inilah pekerjaan kita".


"Mmmmmm".


Lalu Nadia bertanya dimana Wilson dan rekannya. Zico pun segera membawa mereka masuk ke ruang interogasi dimana Bayus dan Rico berada disana. "Disana Nad" Tunjuknya.


Nadia menghela nafas, ia melihat kearah Wilson dan rekannya yang lain. "Apa dia sudah memberitahu siapa mafia narkoba itu?" Tanya Nadia melihat Wilson.


"Tidak, dari semalam dia tidak membuka mulut meskipun pak Bayus sudah memukulinya" Jawab Zico.


"Kalau salah satu diantara mereka membuka mulut, maka semua akan segera berakhir. Tapi mereka lebih memiliki babak belur seperti itu dari pada memberi tahu siapa para mafia itu".


Tidak lama kemudian Bayus dan Rico keluar dari dalam sana, lalu Nadia meminta izin untuk masuk kedalam. "Mmmmm" Angguk Bayus.


"Terima kasih pak" Nadia masuk kedalam bersama dengan Zico. Sedangkan Larisa memilih tinggal di tempat itu dari pada masuk kedalam.


Ceklek!


"Hallo tuan Wilson" Senyum Nadia. "Bagaimana kabar mu? kamu baik-baik saja?"


Wilson tertawa melihat Nadia duduk dihadapannya. "Aku pikir mereka sudah membunuh mu, ternyata kamu masih hidup. Beruntung sekali kamu".


"Tentu saja aku masih hidup. Kenapa? kamu senang mendengar ku sudah mati di tangan mereka?".


"Mmmm, akan sangat menyenangkan kalau kabar kematian mu sampai ditelinga ku".


"Kenapa kamu sangat ingin mendengarkan kabar itu? kamu sangat membenci ku?".

__ADS_1


"Ya, begitu aku tau kamu seorang polisi, dan sialnya lagi, kenapa aku tidak menyadarinya waktu itu".


"Karna kamu bodoh makanya kamu tidak tau kalau aku seorang polisi" Jawab Nadia menyeringai. "Sekarang katakan siapa para mafia itu? kalau kamu memberitahu kami maka hukuman kalian semua akan diringankan, bagaimana? atau kalian semua mau membusuk di sel penjara yang dingin ini hhhmmm?".


"Hahahhaha" Tawa Wilson lagi menertawai Nadia. "Itu tidak akan terjadi, dan asal kalian tau, kalian tidak akan bisa menangkapnya. Mereka jauh lebih hebat dari pada kalian, kalau kamu tidak percaya maka sudah dari dulu kalian berhasil menangkap mereka. Buktinya sampai sekarang kalian hanya bisa menangkap orang seperti kami ini. Buat kami membusuk di sel penjara ini tidak akan masalah, tapi kalau boleh jujur, kami sama sekali tidak mengenal siapa ketua mafia itu. Kami hanya mengenal tangan kanannya saja".


Nadia mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Wilson, "Kalau gitu, beritahu kami siapa tangan kanannya?".


"Kami tidak tau namanya siapa? kami hanya mengenal wajahnya saja dan kami juga tidak memiliki gambar orangnya" Jawab Wilson berbohong.


"Kenapa? kamu mencoba membodohi kami?".


"Tidak, tapi dunia mafia seperti itulah" Jawab Wilson menatapnya tertawa. "Dan Kamu tidak akan pernah tau kalau kamu bertemu dengan orang seperti mereka, benar-benar orang jahat atau tidak, karna mereka semua orang yang berjas sangat rapi. Kalau kamu tidak percaya, kamu tanya dia" Lihatnya kearah Zico yang duduk disampingnya. "Dia pasti tau itu".


"Tapi sebaiknya kalian jangan pernah berurusan dengan mereka kalau kalian masih ingin menikmati umar yang panjang. Karna kalau sampai kalian bertemu dengan mereka, aku tidak yakin kalian masih menginjakkan kaki diatas tanah".


"Maksud kamu?".


"Mereka tidak akan segan-segan membunuh kalian, apalagi mereka tau kalian seorang detektif yang mengejar mereka" Jawab Wilson melihat Nadia yang terdiam melihat kearah Diva yang berada di ruang sebelah sambil mendengarkan percakapan mereka bersama dengan Larisa dan Raka.


Kemudian Nadia menghela nafas, ia melihat kearah Wilson lagi. "Aku tidak akan perduli mau mereka itu orang yang paling menakutkan di dunia ini atau tidak, asalkan aku bisa menangkap mereka dan segera mengakhiri ini semua".


"Hahahaha.. Yah, mereka tidak hanya satu orang saja. Mafia di negera kita ini sangat banyak, kamu tidak tau itu?".


"Iiiissss" Kesal Nadia mengepal tangan. "Aku bilang aku tidak perduli..


BBRRAAKK..


"Ckckck, kamu memiliki emosi sangat tinggi" Ejek Wilson geleng kepala.


"Nadia" Tahan Zico. "Jangan terbawa emosi, dia akan semakin mengejek mu" Zico melihat Wilson. "Tidak mungkin kamu tidak memiliki nomor ponsel tangan kanannya, aku yakin kamu mencoba membohongi kita. Bagaimana dengan yang lainnya? kami berjanji jika salah satu diantara kalian memberitahu kami, maka kami akan meringankan hukuman kalian".


**Tok.. Tok..


Ceklek**!


"Iya" Jawab Nadia.


"Pak Bayus ada dimana?".


"Sepertinya di ruangan. Itu apa?" Tanya Nadia melihat berkas ditangannya.

__ADS_1


"Hasil tes urin mereka. Permisi".


"Iya" Angguk Nadia.


__ADS_2