Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 73


__ADS_3

Begitu Vincen mengantar David kembali pulang, ia pun langsung masuk kedalam apertemen. Disana ia melihat Tiara sedang menyiapkan makan malam mereka, "Sudah pulang tuan?" Senyum Tiara dengan manis.


"Mmmmm" Gumam David.


"Nona Nadia belum pulang tuan".


"Mmmmm" David segera memasuki kamarnya, namun Tiara malah menahan tangannya. "Ada apa?".


Tersenyum, "Aku akan membantu tuan" Tiara mencoba melepaskan jas David.


"Apa kamu sedang menggoda ku?" David menarik dagu Tiara. Kemudian ia membisikkan sesuatu di telinga Tiara, "Jangan lakukan disini, kamu mau kita ketahuan olehnya?".


Tiara semakin mengulum senyumannya, lalu merangkul leher David. "Aku tidak perduli, sudah sangat lama aku mengincar mu tapi kamu malah memilih wanita malang itu. Aku sangat tidak menyukainya".


David menyeringai, "Tapi sayangnya kamu terlalu murahan dari pada dia. Minggir".


Deng...


Tiara terdiam, dengan pelan ia melepaskan kedua tangannya dari leher David. "Ma-maksud kamu apa? aku tidak mengerti".


"Kalau kamu masih butuh uang, jangan pernah macam-macam" Perginya memasuki kamar. Sedangkan Tiara langsung berkaca-kaca, dengan sangat marah ia mengepal kedua tangannya sambil berkata dalam hati kalau ia tidak akan tinggal diam.


"Ini semua karna wanita sialan itu, aku sangat membencinya".


.


Sesampainya Nadia, Zico dan Larisa di kantor, mereka langsung memberikan laporan tersebut kepada Bayus. "Terima kasih untuk hari ini, kalian sudah bekerja keras. Lain kali saya akan mentraktir kalian makan malam".


"Iya pak" Angguk mereka.


"Kalian boleh pulang".


"Maaf pak, lalu bagaimana dengan Raden? saya pikir..


"Dia akan menjadi tanggung jawab saya".


"Mmmmm, kalau gitu kami permisi pak".


"Iya".

__ADS_1


Berada di depan kantor Zico meminta untuk mengantar Nadia pulang, tapi ia berkata tidak usah, ia lebih suka menggunakan taksi. Dan ia juga tau kalau mereka sama-sama lelah hari ini, setelah itu Nadia segera menaiki taksi. Zico tersenyum, ia pun menaiki mobilnya juga meninggalkan kantor polisi.


Tidak lama kemudian sesampainya Nadia di hotel, ia pun langsung menuju apertemen yang berada di lantai atas. Tetapi saat itu juga seseorang memanggilnya dari belakang yang tak lain adalah Yanto. "Nadia!" Panggilnya lagi.


"Yanto" Senyum Nadia.


"Baru pulang?".


"Iya, ada apa Yanto? tidak mungkin juga kamu baru pulang kan".


Tertawa, "Iya, dari tadi aku menunggu mu disini" Jawabnya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. "Inih, tadi kamu menjatuhkannya di depan lift. Wanita yang bersama kita itu menemukannya".


Nadia terkejut melihat kotak tersebut, "Astaga, untung saja kamu menemukannya Yanto. Terima kasih banyak" Senyumnya.


"Bukan aku tapi wanita tadi".


"Iya, aku harus berterima kasih kepadanya karna sudah menemukan ini. Ayo" Ajak Nadia memasuki lift. Kemudian Yanto bertanya dari mana ia mendapatkan barang semewah itu. "Ini hadiah ulang tahun dari suami ku Yanto, kemarin aku melepaskannya".


"Ooo.. Lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi dengan barang semewah itu. Jaman sekarang manusia semakin jahat dan serakah".


"Iya Yanto" Angguk Nadia melihat pintu lift telah terbuka. "Sebagai ucapakan terima kasih, aku akan mentraktir mu. Kapan kamu punya waktu?".


"Baiklah kalau gitu aku duluan" Nadia berjalan ke depan pintu apartemennya. Ia pun segera masuk kedalam, namun saat ia masuk, ia melihat suasana disana tampak hening seperti tidak ada orang. "Apa dia belum pulang?" Gumam Nadia memasuki kamar.


Ceklek!


"Tiara, kamu kenapa?" Tanya Nadia melihat Tiara menangis di bawah tempat tidurnya.


Tiara melihatnya dengan air mata berderai, "Nona hiks..".


"Kamu baik-baik saja? kenapa kamu menangis disini?" Tiara menggeleng, lalu meminta supaya Nadia memeluknya.


"Sepertinya aku harus pergi nona, aku tidak tahan lagi dengan dunia yang kejam ini".


Nadia melepaskan pelukannya, ia melihat kedua mata Tiara yang bermerah, "Maksud kamu apa Tiara?".


"Lebih baik aku mati saja nona, aku sudah muak dengan sandiwara hidup ku yang membosankan ini".


"Apa kamu sudah gila? bagaimana bisa kamu mengatakannya hal seperti itu. Kamu sehat, kamu cantik dan kamu juga memiliki semua organ tubuh dengan lengkap, apa lagi yang membuat mu berkata seperti ini Tiara?".

__ADS_1


"Aarrkkhhh.. Tapi aku tidak bisa sebahagia nona, kamu memiliki semuanya sedangkan aku?".


"Kenapa? apa karna aku memiliki suami atau aku memiliki keluarga yang lengkap?".


"Rasanya sangat sakit, aku sudah lelah sekali".


"Tidak, semua akan indah pada waktunya. Hari ini kamu sedang di uji oleh sang maha kuasa, kamu hanya perlu menjalaninya dan jangan lupa untuk selalu bersyukur. Aku tau alasan kamu seperti ini, itu pasti karna pria itu".


"Aku membencinya hiks..hiks.. Aku sangat membencinya".


"Mmmm.. Kamu harus membencinya supaya kamu dengan mudah bisa melupakan dia, dan aku rasa itu adalah jalannya. Sekarang kamu tidak usah sedih lagi, sayang sekali air mata ini kamu buang hanya untuk pria seperti dia".


Tiara menyeka air matanya, lalu ia menyuruh Nadia segera membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia menyiapkan pakaian untuk Nadia dan menaruhnya diatas tempat tidur. Lalu pergi keluar dari dalam kamar dengan senyum mematikan.


Begitu Nadia selesai, ia segera keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat pakaiannya telah berada diatas tempat tidur, dengan senyum mengembang di wajah Nadia ia memakai pakaiannya. "Anak itu hampir sama dengan ku".


Lalu Nadia berjalan kearah cermin, ia melihat pantulan wajahnya di depan cermin sambil menyisir rambut. Tetapi saat itu juga ia merasa tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa sangat gatal dan juga panas. "Ada apa ini? kenapa tubuh ku. Ah, Tiara" Panggilnya. "Tiara" Panggilnya lagi. Namun ia tidak mendapatkan jawab dari sang empunya nama, ia pun langsung keluar dari dalam kamar memanggil nama itu lagi.


Sedangkan David yang berada di dalam kamar ia pun segera keluar, ia melihat Nadia menjerit kesakitan dan kepanasan diatas lantai dengan tubuh bermerah. "Nadia" Kagetnya.


"Tolong aku, tubuh ku terasa sangat gatal dan panas" Tangis Nadia menggaruk tubuhnya, tetapi ia malah kesakitan.


"Ada apa? apa yang terjadi Nadia? kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?".


"Aku juga tidak tau" Tidak ingin berlama-lama lagi melihat tubuh Nadia yang terluka akibat garutan tangannya, David pun langsung membawanya kerumah sakit. "Aarrhh, gatal sekali David hiks.. hiks.."


"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit".


"Tapi aku tidak tahan lagi, Aaarrhhh" Teriak Nadia mengigit kedua tangannya sampai berdarah.


"Nadia" Bentak David menepikan mobilnya. Ia melihat kedua tangan Nadia yang sudah berdarah akibat bekas gigitannya. Nadia semakin menangis, ia merasa dirinya saat ini seperti monster melihat ia menggigit tubuhnya sendiri akibat tubuhnya yang terasa panas dan gatal. "Hentikan Nadia, jangan menyakiti tubuhmu sendiri".


"Aku tidak bisa hiks.. Rasanya sangat gatal sekali sampai aku ingin menggigitnya lagi sampai berdarah".


"Tunggu sebentar" David keluar dari dalam mobil, ia langsung menghentikan sebuah taksi disana, lalu membawa Nadia masuk kedalam taksi tersebut.


"Astaga" Kaget si supir taksi melihat Nadia yang berdarah di bagian tangan dan juga mulutnya serta tubuhnya yang bermerah.


"Cepat bawakan kami kerumah sakit" Ucap David memegang kedua tangan Nadia.

__ADS_1


"Baik tuan" Angguknya menjalankan mobilnya.


__ADS_2