Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 33


__ADS_3

Hari ini adalah hari senin, tidak ingin bermalas-malas, Nadia telah bersiap-siap berangkat kekantor. "Semangat Nadia, mari kita mulai dari awal kembali" Ia segera berangkat ke kantor.


Setibanya ia disana, ia melihat kantor polisi telah di penuhi oleh masyarkat yang membutuhkan pertolongan polisi. "Selama pagi" Sapa Nadia.


"Pagi" Balas mereka.


Dengan senyum mengembang diwajah Nadia, ia memasuki ruangan team pemberantas Mafia Narkoba.


Ceklek!


"Selamat pag..." Gantung Nadia melihat teamnya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. "Aahh.. Aku pikir mereka belum datang" Gumam Nadia berjalan kearah mejanya.


"Nadia" Panggil Bayus.


"Siap pak" Jawabnya.


"5 menit lagi kita meeting".


"Siap pak".


"Zico dimana? apa dia sudah baikan?".


"Zico?".


"Mmmmm.. Saya dengar dia sudah keluar dari rumah sakit".


"Aahh iya pak, dan sepertinya Zico sudah baik-baik saj..


"Selamat pagi semuanya" Potong Zico yang baru tiba disana. "Aahh, ternyata kamu sudah disini Nad" Senyumnya.


"Iya" Angguk Nadia.


"Zico, 4 menit lagi kita meeting".


"Siap pak".


"Mmmm.. Persiapkan diri kalian".


Zico dan Nadia mendudukan diri diatas kursi mereka masing-masing, kemudian Nadia meletakkan tasnya di atas meja, lalu ia melihat laci di bawah meja tempat ia menyimpan surat pengunduran dirinya kemarin. Setelah itu, ia membuangnya di tong sampah.


"Kamu membuang apa Nad?".


"Astaga Zico...!!" Kaget Nadia menyentuh dada.


"Sorry" Senyum Zico.


"Kebiasaan deh buat orang kaget".


"Maaf maaf maaf Nadia, terus itu apa Nad yang baru kamu buang?".


"Kertas yang tidak dibutuhkan lagi".


"Oohh.." Senyum Zico kembali. "Ayo".


"Mmmmmm" Mereka semua segera masuk keruang meeting. Disana Bayus sudah duduk diatas kursinya.


"Semua sudah disini?" Tanya Bayus membuka ponsel.


"Sudah pak" Jawab mereka.


"Bagus" Setelah itu ia melihat bawahannya dengan tangan melipat. "Saya ingin memberitahu kalian, kalau seperti ini kita tidak akan pernah berhasil menangkap para mafia itu".


"Jadi apa yang akan kita lakukan pak?" Tanya Raka.


"Mencari dari bawah".


"Maksud pak Bayus, kita mencarinya mulai dari pemakai?" Sambung Riko bertanya.


"Mmmmmm".


"Saya setuju pak" Angguk Devi.


"Iya, dan kamu dengan Nadia tidak boleh disatukan lagi, mulai hari ini kamu bersama dengan Raka dan Nadia bersama dengan Zico untuk sementara waktu ini saja. Saya dan Rico bagian mencari tahu titik pengiriman mereka, apa kalian berdua bisa?".


"Bisa pak" Jawab mereka.

__ADS_1


"Bagus, kalian boleh langsung pergi. Aahh iya, kalian berdua ke daerah sini" Ucapnya kepada Raka dan Devi. "Lalu kalian berdua kesini" Ucapnya kepada Zico dan Nadia.


"Siap pak".


"Mmmmm.. Kalian boleh pergi".


Sekeluarnya mereka dari kantor, Zico dan Nadia segera berangkat ketempat yang baru saja Bayus ucapkan. Namum saat perjalan menuju lokasi, Zico melihat Nadia enggan berbicara kepadanya, hingga di dalam mobil tersebut terasa sangat sunyi. "Nad, kamu suka dengar musik?".


"Boleh" Angguk Nadia.


Zico menyalakan musiknya, ia sengaja memutar lagu yang sering ia putar di dalam kamar yang di cover oleh Mike Mohede (Sahabat jadi Cinta).


Bulan terdampar di pelataran


Hati yang temaram


Matamu juga mata-mataku


Ada hasrat yang mungkin terlarang


Satu kata yang sulit terucap


Hingga batinku tersiksa


Tuhan tolong aku jelaskanlah


Perasaanku berubah jadi cinta


Tak bisa hatiku menafikkan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Mataku terus pancarkan sinarnya


Kudapati diri makin tersesat


Saat kita bersama


Desah napas yang tak bisa dusta


Persahabatan berubah jadi cinta


Tak bisa hatiku menafikkan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Mataku terus pancarkan sinarnya


Apa yang kita kini tengah rasakan


Mengapa tak kita coba 'tuk satukan


Mungkin cobaan untuk persahabatan


Atau mungkin sebuah takdir Tuhan


Tak bisa hatiku menafikkan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Mataku terus pancarkan sinarnya


Apa yang kita kini tengah rasakan


Mengapa tak kita coba 'tuk satukan


Mungkin cobaan untuk persahabatan


Atau mungkin sebuah takdir Tuhan


Mataku terus pancarkan sinarnya


Mungkin cobaan untuk persahabatan


Atau mungkin sebuah takdir Tuhan

__ADS_1


Melihat Nadia yang masih terlihat biasa saja membuat Zico menghela nafas kasar. "Ada apa Nad, dari tadi kamu hanya diam saja?".


"Aku memikirkan bagaimana caranya kita menangkap para mafia itu" Jawab Nadia mengepal tangan.


"Apa?".


Nadia melihatnya, "Apa pun yang terjadi, kita harus berhasil menangkapnya. Aku akan memberinya pelajaran" Ingat Nadia di wajah Steven.


Zico tersenyum menggeleng, "Aku kira kamu lagi mikirin apa, ternyata kamu lagi mikirin mereka".


"Mmmmm.. Aku akan membalas apa yang telah mereka lakukan kepada mu dan juga..." Gantung Nadia mengingat steven membayangkan David tertembak tepat di depan kedua matanya. "Aaaiiisss.. Lihat saja nanti".


Lagi-lagi Zico tersenyum, "Iya, kita pasti berhasil menangkap mereka".


"Mmmmmm".


Kini mobil Zico telah berhenti di depan sebuah restoran kecil, mereka melihat tempat disana cukup terpencil dan terlihat sedikit sepi atau karna penduduk disana sedang bekerja. "Sepertinya mie disana sangat enak Nad".


"Iya".


"Ayo" Ajak Zico memasuki restoran tersebut.


Begitu mereka mendorong pintu, si pelayan atau si pemilik restoran langsung menyambut kedatangan mereka berdua "Selamat datang, mau pesan apa?" Tanyanya kepada mereka.


"Kami pesan dua porsi mie basah. Minumnya, bir ada?".


"Bir?".


"Iya, kalau ada saya pesan satu botol kecil, kamu mau Nad?".


"Boleh".


"Kalau gitu kami pesan 1 botol besar saja".


"Kalau gitu tunggu sebentar, saya akan menyiapkannya".


"Mmmmmm" Angguk Zico. Lalu ia melihat Nadia yang sedang melihatnya dengan tangan melipat di depan dada, "Ada apa Nad?".


"Apa kamu sudah gila?".


"Hhhmmmm?".


"Iiissss.. Bagaimana bisa kamu meminum bir di pagi seperti ini".


"Aahhh" Tawa Zico. "Tidak apa-apa, aku hanya merindukan masa-masa seperti ini saja. Sudah hampir satu bulan, kita tidak pernah menikmati kebersamaan ini lagi".


"Maafkan aku, akhir-akhir ini aku tidak punya banyak waktu bersama mu".


"Tidak apa-apa Nad" Henti Zico melihat Nadia sedang melihat kearah pria yang baru saja memasuki restoran tersebut. "Kenapa kamu melihatnya Nad?".


"Tidak" Geleng Nadia.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka tiba disana. "Wah, sepertinya rasanya sangat nikmat. Terima kasih bibi" Senyum Zico.


"Iya, kalau ada yang kurang beritahu kami".


"Iya bi".


Lalu wanita paruh baya itu menghampiri pria yang baru masuk itu, "Siapa? aku tidak pernah melihat mereka disini?" Tanya si pria itu.


"Aku juga tidak tau" Jawabnya melihat Nadia dan Zico. "Sepertinya mereka baru pertama kemari".


Si pria itu tertawa kecil melihat Zico dan Nadia menikmati alkohol di pagi hari, lalu ia menghampiri mereka, namun wanita paru baya itu langsung menahan tangannya "Kamu mau kemana?".


"Menghampiri mereka" Jawabnya. "Hhhrrrmmm, permisi".


Zico dan Nadia melihat kearahnya.


Lalu ia tertawa, "Sepertinya kalian pendatang baru yah? saya belum pernah melihat kalian berdua disekitar sini".


"Iya" Jawab Zico.


"Boleh saya duduk?".


Zico melirik Nadia, lalu Nadia mengangguk, "Silahkan" Jawab Zico.

__ADS_1


"Terima kasih" Duduknya di samping Zico. "Aahh, jangan hiraukan saya. Ayo dinikmati lagi".


"Iya" Angguk mereka.


__ADS_2