
Satu bulan telah berlalu, begitu juga dengan hubungan Nadia dan David yang semakin hari semakin membaik. "Hhooaamm.. Aahh, pagi hari yang sangat ceria" Gumam Nadia tersenyum.
DDDRRRTTT.. DDDRRRRTTTT..
"Iya ma" Jawab Nadia.
"Kamu lagi dimana Nad? mama mau ke mall, kamu bisa temenin mama sebentar sayang?".
"Ke mall?".
"Mmmmm.. Kakak kamu Lisa kan sedang hamil, jadi dia enggak bisa terlalu banyak gerak".
Nadia melirik jam tangannya, ia juga harus berangkat bekerja. "Gimana ya ma, sepertinya Nadia tidak bisa. Bagaimana kalau nanti siang saja ma? mama tau sendiri kan kalau Nadia sudah bekerja, entar Nadia izin sama atasan".
"Oohh gitu, ya sudah kalau kamu tidak bisa. Mama bisa pergi sendiri".
"Mah.. Bukan seperti itu, Nadia tidak enak saja ma. Tolong maafkan Nadia".
"Tidak apa-apa, mama tutup dulu".
"Aaiisss.. Ck" Kesal Nadia meletakkan ponselnya. Ia pun segera memasuki kamar mandi, namun saat ia berada di dalam kamar mandi ia malah kepikiran dengan sang mama. "Hey, ayolah Nadia. Libur mu sudah terlalu banyak, kamu mau bermasalah di kerjaan" Geleng Nadia.
Sedangkan David saat ini sedang bersantai diatas balkon kamar dengan sebatang rokok di tangan kanannya.
"Aaarrrkkhhh" Tiba-tiba ia mendengar suara jeritan Nadia, David pun langsung berlari ke dalam kamar Nadia, tetapi saat ia masuk, ia tidak melihat Nadia berada di sana. Kemudian David mendekati kamar mandi, "Aarrhhh.. Sakitnya" Ringis Nadia menahan rasa sakit.
Tok.. Tok..
"Kamu baik-baik saja?".
"Hhhmmm.. Aahh iya, aku baik-baik saja" Jawab Nadia berbohong. "Tapi tunggu, kamu masih disana kan?".
"Ada apa?".
"Tolong bawakan handuk ku kemari, tadi aku lupa membawanya. Maafkan aku".
"Kamu meletakkan dimana?".
"Masih di lemari".
"Tunggu sebentar" David segera mengambilnya ke dalam lemari pakaian Nadia yang berada di sudut kamarnya. "Apa ini? sepertinya ini" Ia membawa kedalam kamar mandi.
Tok.. Tok..
"Aku taruh di depan kamar mandi".
"Jangan, kamu bawa masuk saja. Tapi jangan buka mata, aku tidak pakai apa-apa" Ujar Nadia melihat ke ambang pintu yang masih tertutup rapat.
David menghela nafas, meskipun ia menuruti keinginan Nadia, tapi dalam hatinya ia sedikit marah kepada Nadia yang sudah berani memerintahnya.
__ADS_1
Ceklek!
"Sebelah kanan, aku berada di sebelah kanan mu" Beritahu Nadia. David mendekatinya dengan mata tertutup, kemudian Nadia tersenyum senang. "Wah, dia penurut juga yah. Aku pikir dia tidak akan mau melakukannya" Batin Nadia.
"Kamu dimana?" Tanya David dengan suara datar.
"Disini, kemarilah. Kamu mendekat sedikit lagi" Namun saat David mendekat, ia malah tergelincir. "Ooohhh.. Tidak" Teriak Nadia.
BBRRRAAKK..
Dengan mata membulat Nadia menatap manik mata David yang terbuka, lalu Nadia memalingkan wajahnya. Tetapi David dengan cepat langsung menahannya, "Ke-kenapa?" Tanya Nadia gelagapan.
Cup..
"OMG" Bagaikan disambar petir di siang bolong Nadia semakin membulatkan kedua matanya. "Tidak mungkin, ini pasti mimpi. Aku yakin aku pasti sedang bermimpi" Batin Nadia.
Kemudian David tersenyum tipis melihat kedua pipi Nadia yang merona dan juga mata Nadia yang hampir keluar. Lalu David menjitak kepala Nadia cukup kuat.
"Aarrkkkhh.. Itu sangat sakit" Ringis Nadia lagi menyentuh keningnya.
"Kamu hampir saja mengeluarkan kedua mata mu dari tempatnya" David bangkit berdiri tampa memperdulikan tubuh Nadia yang terlihat polos. "Cepat kenakan ini" Ia segera keluar.
"Apa? Apa? Aarrhhhh" Teriak Nadia kembali melihat tubuhnya yang tidak mengenakan sehelai benang pun. "Aarrhh.. Apa yang telah aku lakukan" Kesal Nadia meremas rambut. Sedangkan David tidak perduli, ia tetap menunjukkan dirinya terlihat biasa saja meskipun ia sempat terbawa suasana.
"Hhhmmsss.. Dia hampir saja membuat ku gila" Gumam David keluar dari dalam kamar Nadia.
Setelah itu, Nadia pun berusaha bangkit berdiri meskipun rasa sakit di pergelangan kakinya terasa sangat perih. Namun rasa sakit itu tidak seberapa dengan rasa malu yang iya rasakan saat ini, "Semoga saja dia tidak mengingat kejadian tadi, kalau tidak aku akan selalu seperti ini, dihantui dengan rasa malu".
"Siapa?".
"Astaga" Kaget Nadia hampir terjatuh.
David menaikkan sebelah alisnya, "Hehehhe.. Kenapa kamu belum berangkat kerja? ini sudah jam 8 pagi".
"Aku tidak bekerja" Jawab David melihat pergelangan kaki Nadia. "Ayo, aku akan mengantar mu ke kantor".
"Eehh tidak usah, aku bisa naik taksi".
"Dengan kaki seperti itu?".
"Hey, tidak apa-apa. Emang kaki ku kenapa?".
"Kamu pilih mana, kerumah sakit dulu atau ke kantor. Tapi sebaiknya kita kerumah sakit dulu".
"Ta-tapi".
"Jangan banyak melawan" Davis langsung menggendong tubuh mungil Nadia yang sedikit memberontak. "Diamlah kalau kamu tidak mau aku menjatuhkan mu".
Nadia terdiam, lalu merangkul leher David dengan erat. "Awas saja kalau kamu sampai menjatuhkan aku, aku tidak akan memaafkan mu" Bisik Nadia membuat David tersenyum.
__ADS_1
.
Kini mereka telah berada di rumah sakit, dokter memberitahu kalau pergelangan kaki Nadia akan baik-baik saja kalau ia tidak terlalu banyak bergerak. "Kamu dengar kata dokter?" Ucap David mengingatkannya.
"Iya. Terima kasih banyak ya dok".
"Sama-sama nona".
"Kalau gitu kami permisi dulu dok".
"Silahkan".
David segera menebus obat di apotik rumah sakit dan juga alat sejenis tongkat untuk membantu Nadia berjalan. "Ini" Berinya di hadapan Nadia.
"Terima kasih. Tapi ini sepertinya terlalu berlebihan" Ucap Nadia melihat tongkatnya.
"Kamu yakin bisa jalan tampa bantuan ini?".
Nadia melirik pergelangan kakinya, "Ya sudah, sepertinya aku membutuhkannya".
"Ayo, kamu sudah banyak menghabiskan waktu disini".
"Siapa suruh kamu membawa ku kemari" Gumam Nadia bangkit berdiri.
"Jangan banyak melawan, atau aku perlu menggendong mu lagi ke mobil".
"Hentikan" Tolaknya dengan cepat. "Bantu aku berjalan saja hehehe.. Soalnya aku tidak pernah menggunakan alat seperti ini".
"Mmmmmm" David pun membantunya berjalan kearah mobil tampa mereka sadari Elisa dan sang mama melihat mereka dari kejauhan.
"Ma, itu bukannya Nadia yah? sedang apa dia dirumah sakit?".
"Iya itu Nadia, dan sepertinya Nadia terluka" Jawab sang mama melihat tongkat yang berada di tangan kanan David dan juga Nadia yang merangkul lengan kiri David.
"Samperin yok ma" Ujar Elisa memanggil nama adiknya itu. "Nadia".
David dan Nadia menghentikan langkah mereka, lalu melihat kearah sumber suara yang berasal dari belakang mereka. "Mama, kak Lisa" Senyum Nadia.
"Sedang apa kamu dirumah sakit? tidak mungkin kan kamu sedang cek kandungan kemari".
Nadia tersenyum, "Tidak kak, aku kemari cek pergelangan kaki ku saja. Tadi pagi aku terjatuh di kamar mandi".
"Oohhh.. Aku pikir kamu sedang hamil" Sindirnya melihat David yang hanya diam saja. "Terus, kapan kamu berencana punya anak Nadia. Kalian menikah sudah hampir 8 bulan lamanya tapi sampai sekarang kamu masih seperti ini terus".
"Lisa hentikan" Ingatkan sang mama menghentikan Elisa saat ia melihat wajah David yang sudah mulai berubah. "Sebaiknya kalian pergi Nadia, kami masuk dulu" Tariknya membawa Elisa pergi.
Lalu Nadia melirik David yang berada di sampingnya, "Kamu baik-baik saja? maafkan kakak ku yah. Dia memang selalu seperti itu, tapi aslinya di itu sangat baik".
"Kamu berbohong. Ayo, nanti kamu terlambat".
__ADS_1
"Mmmmm" Senyum Nadia.