Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 39


__ADS_3

Dengan air mata yang masih mengalir, Nadia memasuki gerbang rumahnya. Ia melihat taman depan rumah di penuhi dengan tamu undangan dan juga ia melihat keluarga Riwan telah berada disana.


Tidak lama kemudian ia melihat Elisa keluar dari dalam rumahnya bersama dengan kedua orang tuanya. Melihat itu, Nadia semakin menumpahkan air matanya, ia benar-benar sakit, hatinya benar-benar sangat sakit tampa ia sadari Riwan yang melihatnya dari sana.


"Nadia?" Gumam Riwan. Setelah itu, ia melihat Nadia pergi begitu saja dari sana tampa ingin mengucapkan selamat untuk mereka berdua.


"Ada apa Riwan?" Tanya ibunya.


"Tidak ma" Geleng Riwan.


"Lihat kesana, Elisa sudah datang. Malam ini dia sangat cantik sekali Riwan, mama sangat bangga punya calon menantu seperti dia" Senyum ibunya terlihat sangat bahagia.


"Iya ma" Balas Riwan tersenyum. Begitu Elisa tiba di hadapannya, ia langsung menerima tangan Elisa dari tangan Hendrawan. "Malam ini kamu cantik sekali" Pujinya dengan tulus.


"Benarkah?" Tanya Elisa dengan pipi merona.


"Mmmmm.. Kamu cantik sekali" Ulangi Riwan lagi sedikit menggodanya.


"Aahh.. Terima kasih banyak sayang" Senyum Elisa semakin merona. Sedangkan Nadia yang baru keluar dari sana, ia segera menghentikan sebuah taksi yang baru lewat dari hadapannya.


"Pak, tolong bawa saya ke hotel ini" Masuk Nadia kedalam taksi.


"Siap nona" Angguknya.


Di dalam mobil, Nadia masih belum bisa menghentikan air matanya. Ia masih merasa sakit yang tak bisa tertahankan, "Tuhan, kenapa rasanya sangat sakit?".


Sesampainya ia di hotel, Nadia membayar biaya taksinya. Lalu ia memasuki Loby berjalan kearah lift.


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTT...


"Iya Zico? kamu sudah sampai rumah?" Tanya Nadia memasuki lift.


"Sudah Nad, bagaimana acaranya? kamu pasti sangat bahagia melihat kakak tertua mu akan segera menikah" Senyum Zico di sebrang telpon.


"Iya Co, aku sangat bahagia sekali" Lap Nadia lagi di air matanya.


"Aahhh.. Aku jadi ingin mengucapkan selamat lagi kepada mu Nad hahahhaha".


"Tidak apa-apa. Sudah dulu ya Co..


"Iya Nad. Maaf sudah menganggu mu, jangan lupa bahagia selalu" Potong Zico mematikan ponselnya.


Ting...


Pintu lift terbuka, Nadia mengerakkan langkah kakinya keluar dari dalam menuju pintu apartemennya.


Ceklek!


"Hhmmss.. Ternyata sudah 1 minggu saja aku meninggalkan rumah" Gumam Nadia menyalakan lampu rumahnya. Lalu ia berjalan kearah dapur, "Dari pada memikirkan mereka, lebih baik aku makan mie mala..." Gantung Nadia melihat pria yang sangat ia rindukan selama ini berdiri di hadapannya. "Da-David? benarkah kamu David?" Tanya Nadia berkaca-kaca lagi.

__ADS_1


"Ada apa dengan mu?" Tanyanya melihat Nadia dengan kening mengerut.


"Benar, kamu David" Senyum Nadia langsung berlari kearah David yang sedikit jauh berdiri darinya, lalu memeluknya dengan erat tampa perduli dengan David yang akan memarahinya saat ia melampaui batas. Tapi kali ini, David malah membalas pelukannya dengan sayang.


"Oohh Tuhan, David membalas pelukan ku" Teriak Nadia dalam hati kegirangan.


Setelah itu David melepaskan pelukannya, ia menatap manik mata Nadia yang bermerah akibat menangis. Kemudian ia berkata dengan lembut kalau semua itu tidak perlu ditangisi.


Nadia pun kembali memeluknya lagi sambil menikmati aroma tubuh David yang sangat enak ia cium. "Kapan kamu kembali? kenapa kamu tidak memberitahu ku?".


"Aku baru tiba sekitar 1 jam yang lalu".


"Aku harap kamu baik-baik saja. Aku mengkhawatirkan mu".


"Mmmmm.. Aku baik-baik saja".


"Kamu tau kalau kak Lisa malam ini bertunangan dengan kak Riwan?".


"Mmmmm".


"Apa kedua orang tua ku mengundang mu?".


"Tidak".


"Tolong maafkan mereka".


David tersenyum, ia kembali melepaskan pelukan Nadia. "Aku lapar, bisakah kamu memasakkan mie itu untuk ku?".


"Mmmmmm" Nadia segera membuatkan mei instan yang tadi ingin ia masak untuk David. Kemudian David menerima panggilan dari Bagas, "Ada apa Bagas?".


"Tuan, apa tuan sedang berada di rumah?".


"Kenapa?".


"Saya baru mendapatkan informasi kalau nona Nadia kemarin tertembak tuan di bagian perutnya".


"Apa?" Kaget David.


"Iya tuan, tapi dia tidak tau siapa di antara mereka yang telah menembaknya. Apa perlu saya mencari tahunya tuan?".


"Lakukan".


"Baik tuan"


David mengepal tangannya, ia melihat Nadia yang sedang sibuk dengan alat masaknya. Kemudian ia menghampiri Nadia, lalu menghentikan kedua tangannya. "Kamu ikut aku".


"Kenapa? lalu ini bagaimana?".


"Aku tidak lapar lagi".

__ADS_1


"Hhhmmm?" Dengan sangat marah David membawa Nadia kedalam kamar sambil menidurkan Nadia diatas ranjangnya. "A-ada apa David?" Tanya Nadia mulai gelagapan.


"Diamlah" Secara paksa David membuka pakai Nadia, dan benar sekali ia melihat bekas perban di perut Nadia yang masih berada disana.


Nadia merasa legah sekaligus merasa bersalah kepada David ketika ia melihat tatapan mata David yang sangat marah. "Maafkan aku" Ucap Nadia yang hanya bisa mengeluarkan kata-kata tersebut.


David menghela nafas, ia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba perduli kepadanya. Atau karna?.


Flasback.


Begitu Bagas dan Vincen membawanya keluar negeri, 2 hari kemudian David langsung siuman dari komanya. "Tuan, apa tuan baik-baik saja?" Tanya kedua orang itu.


"Mmmmm.. Aku dimana?" Tanya David melihat mereka dan juga dokter yang merawatnya disana.


"Kita ada di prancis tuan".


"Apa? kenapa kalian harus membawa ku kemari? lalu bagaimana dengan Nadia, apa dia baik-baik saja?" Tanyanya lagi merasa sedikit pusing.


"Dia baik-baik saja tuan dan dia juga yang telah menyumbangkan darahnya kepada tuan" Jawab Bagas.


"Maksud kamu?".


"Saat tuan tertembak, tuan sempat kehabisan darah dan Nadia lah yang menyumbangkan darahnya untuk tuan sampai operasi hampir selesai" Sambung Vincen


David terdiam, kemudian ia bertanya sudah berapa hari dia tidak sadarkan diri.


********


Nadia mengernyitkan dahi melihat David yang tiba-tiba terdiam, lalu ia mencoba menyentuh tangan David. "Ada apa? kenapa kamu tiba-tiba diam?".


David tersenyum tipis, lalu menggeleng.


Namun malah membuat Nadia semakin kebingungan dengan sifat David yang tiba-tiba terasa hangat, kemudian ia membaringkan tubuhnya disamping Nadia sambil berkata terima kasih sudah mau menyumbangkan darah untuknya.


Bagaikan disambar petir, Nadia langsung melihat David yang sedang menatap langit-langit kamarnya. "Kenapa?" Tanyanya melihat Nadia.


"Tidak" Senyum Nadia dengan pipi merona. "Harusnya aku yang berterima kasih karna sudah menyelematkan nyawa ku. Darah itu tidak ada apa-apanya".


Dan lagi-lagi David menunjukkan senyuman manisnya melihat kedua pipi Nadia yang merona. "Apa rasanya masih sakit?".


"Hhhmmm? Aahh, tidak. Cuman denyut-denyut sedikit saja".


"Lain kali kamu harus lebih hati-hati, musuh di luar sana lebih kejam dari pada yang kamu lihat".


"Maaf, boleh aku bertanya?".


"Mmmmm".


"Siapa kamu sebenarnya?" David menaikkan sebelah alisnya. "Itu, kenapa malam itu kamu berada disana? dan juga kamu memiliki pistol yang tidak di miliki oleh polis.." Gantung Nadia melihat wajah serius David yang tiba-tiba. "Astaga, sepertinya aku sudah melampaui batas. Tolong maafkan aku".

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kamu wajar bertanya seperti itu karna kamu seorang polisi. Dan suatu saat nanti juga kamu akan tau siapa aku yang sebenarnya. Sekarang kamu boleh kembali ke kamar mu" Ucap David berjalan kearah kamar mandi.


Nadia mendengus, ia tidak mengerti maksud dari perkataan David. Lalu ia melihat seisi kamar David yang sangat rapi yang belum pernah ia masuki selama David tidak berada di rumah. Setelah itu, ia pun segera keluar dari dalam kamar David.


__ADS_2