
Meskipun David disebut seorang Mafia, ia sama sekali belum pernah menggunakan narkoba seumur ia hidup. Beyonce yang selama ini mengangkat ia sebagai anaknya, ia selalu melarang David setiap kali ia ingin sekali menggunakan obat larangan tersebut.
Begitu Bagas membawa mereka semua dihadapan David, ia melihat mereka satu persatu dengan wajah ketakutan sambil menyeringai. "Bukan salah satu diantara mereka".
"Maksud tuan?" Tanya Bagas.
"Bukan mereka. Kalian bisa bubar" Ucap David.
Mereka semua pun langsung bubar dengan napas legah, "Ada dua orang, begitu mereka menukar rokok ini mereka langsung pergi meninggalkan tempat ini".
"Bagaimana bisa tuan tau?" Tanya Vincen.
"Tebakan ku saja" Jawab David.
.
Dirumah sakit Hendrawan sedang dirawat, ia melihat tangan kanannya sedang di gips. "Ma, beritahu Nadia kalau papa di rawat di rumah sakit" Ucapnya.
"Iya pa" Angguk istrinya menghubungi nomor Nadia.
DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT...
"Enggak di angkat pa".
"Hubungi lagi ma" Geram Hendrawan mengingat kejadian tadi siang dimana David yang menginjak tangannya sampai seperti ini. "Kamu sudah mendapatkan video ya?".
"Sudah tuan, saya sudah memindahkan ke laptop tuan".
"Bagus. Belum di angkat juga ma".
"Udah pa. Hallo Nadia, kenapa kamu lama sekali mengangkat ponsel mu?".
"Maaf ma Nadia sibuk. Ada apa ma?".
"Kamu kerumah sakit sekarang juga, papa kamu sedang dirawat".
"Apa? papa kenapa ma? mama enggak lagi bohongi Nadia kan?".
__ADS_1
"Untuk apa mama bohongi kamu Nadia? cepat datang kemari".
"Iya ma, Nadia langsung kesana. Mama kirim saja alamat rumah sakitnya".
"Iya" Nadia pun segera meninggalkan kantor polisi menuju rumah sakit yang barusan ibunya kirim. Dengan senyum mengambang di wajah istri Hendrawan ia melihat suaminya itu, "Nadia sedang menuju kemari pa, berbaringlah kembali".
"Iya ma" Angguk Hendrawan membaringkan tubuhnya kembali. Tidak lama kemudian, orang yang mereka tunggu pun telah tiba disana.
Ceklek.
"Papa" Panggil Nadia melihat Hendrawan terbaring lemas diatas tempat tidur rumah sakit dengan mata berkaca-kaca. "Ma, papa kenapa ma?".
"Ini semua karna manusia monster itu papa kamu sampai masuk rumah sakit. Nadia, mau sampai kapan lagi kamu pertahankan dia? kamu mau tunggu nyama papa sama mama melayang dulu baru kamu sadar hhhmm?".
"Maksud mama? Nadia enggak mengerti?".
"Iya, ini semua karna ulang suami monster kamu itu. Kamu pikir dia itu manusia? tidak Nadia, dia itu monster yang menjelma sebagai manusi..
"Hentikan ma. Nadia mohon jangan pernah menghina suami Nadia lagi".
Kemudian Hendrawan berusaha duduk di bantu oleh asistennya. "Apa kata mama kamu benar Nadia, dia itu bukanlah manusia yang selama ini kamu pikirkan Nak. Sebenarnya dia itu buronan polisi".
"Dia itu mafia Nadia" Potong Hendrawan.
Deng.
Dengan mata membulat Nadia melihat Hendrawan, "Kamu harus percaya sama papa Nadia, dia bukanlah orang baik-baik yang selama ini kamu pikirkan. Dia itu seorang mafia narkoba yang sangat sukses dalam misinya, dan gara-gara itulah papa selama ini sangat menakuti dia. Tapi sekarang tidak lagi, papa tidak akan perduli kalau dia akan membunuh papa atau tidak. Yang penting papa bisa menyelamatkan kamu dari dia Nadia".
"Tidak, papa pasti bohong, Nadia yakin papa pasti bohong. Nadia tidak percaya" Geleng Nadia meneteskan air mata.
"Untuk apa papa bohongi kamu Nadia? kamu pikir papa tidak tau selama ini kamu polisi hhmm?. Papa sengaja memilih kamu menikahi dia dari pada kakak kamu, karna papa yakin kamu bisa melindungi diri kamu sendiri dari dia. Dan papa juga tau kamu bertugas di bagian pemberantas mafia seperti dia, dan yang membuat papa seperti ini juga adalah dia, kalau kamu tidak percaya kamu bisa lihat sendiri videonya".
Asisten Hendrawan langsung memutar video tersebut di hadapan Nadia, dimana David yang terlihat sangat menakutkan dikedua matanya. "Papa sengaja membawa mereka untuk melindungi diri papa, dan pada akhirnya dia bukanlah tandingan papa" Ucap Hendrawan menggangu pikiran Nadia yang selama ini benar-benar sangat mempercayai David.
Kemudian Nadia menutup mata melihat David menginjak tangan kanan Hendrawan yang berteriak histeris. "Lihatlah tangan papa, ini semua karna dia. Apa kamu masih tidak takut kepadanya?".
"Maafkan Nadia pa hiks.. hiks...".
__ADS_1
Lalu ibunya memeluk dari belakang, "Belum terlambat sayang, kamu masih punya waktu meninggalkan dia".
"Iya Nadia, ini belum terlambat. Cepat tangkap dia, dan beritahu atasan mu untuk menembak mati dia. Tapi sebelum kamu menangkapnya, kamu harus mengurus surat perceraian mu dulu dengan dia, papa tidak mau status dia yang mafia terpengaruh dengan pekerjaan mu".
"Mmmmm, apa yang papa mu bilang benar sayang" Sambung istrinya.
"Nanti Nadia pikirkan ma, Nadia pulang dulu".
"Iya sayang. Jangan sampai dia tau kalau kamu sudah mengetahui segalanya tentang dia. Tolong kamu antar dia pulang".
"Mari nona" Ucap asisten Hendrawan membawa Nadia. Dengan air mata yang masih bercucuran dari kedua pelupuk mata Nadia, ia segera melapnya menggunakan kedua tangan, ia memperhatikan wajahnya di depan layar ponsel dengan mata bermerah. "David, apa benar yang barusan aku lihat dan aku dengar dari kedua orang tua ku? apa benar kamu salah satu orang yang selama ini kami cari? tapi kenapa David? kenapa harus kamu orangnya?" Lagi-lagi Nadia meneteskan air mata.
Sesampainya di hotel, Nadia keluar dari dalam mobil. Ia pun langsung menaiki lift menuju lantai apartemennya, dengan tangan mengepal Nadia berusaha untuk menahan emosi dan juga pikirannya yang masih tertuju kepada David menginjak pergelangan tangan Hendrawan dengan tawa dan wajah yang sangat menakutkan.
Ting..
Pintu lift terbuka, Nadia melangkahkan kedua kakinya keluar dari dalam lift. Ia melihat pintu apartemennya yang tertutup sangat rapat.
Ceklek!
Nadia melihat sekitar rumahnya, ia melihat semua cahaya lampu menyala. Kemudian ia melihat kearah dapur, disana ia langsung melihat David sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. "Nadia, kamu sudah pulang?" Senyumnya dengan manis. "Kemarilah, aku sudah menyiapkan makan malam kita berdua. Ayo cepat kemari".
Namun Nadia bukannya bergerak, ia masih berdiri disana dengan mata berkaca-kaca mengepal kedua tangan. "Kenapa?" Tanya David kembali berjalan mendekati Nadia. Lalu ia melihat kedua tangannya yang mengepal sangat marah membuat David penasaran penyebab wanita yang dihadapannya itu marah.
Kemudian David mencoba menyentuh tangannya, tetapi Nadia langsung menyeka air matanya membuat David menghentikan tangannya. "Aku sangat lelah dan aku juga tidak lapar" Jawab Nadia memasuki kamarnya.
David mengernyitkan dahi, ia tidak tau alasan Nadia tiba-tiba seperti ini. "Ada apa dengannya?" Gumam David mencoba mendekati pintu kamar Nadia.
Tok.. Tok...
"Nadia kamu baik-baik saja?".
Tidak ada jawaban.
Tok.. Tok..
"Nadi..
__ADS_1
"David aku sangat lelah, tolong jangan ganggu aku dulu, kumohon" Ucap Nadia meremas sprei tempat tidur.
"Baiklah, kalau kamu lapar aku menyimpan makanan di dalam kulkas" Angguk David berjalan ke dapur itu lagi.