Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 30


__ADS_3

Berjalan di lorong rumah sakit, Nadia mencari nomor kamar inap David. Ia melihat beberapa pria berjas hitam tengah berdiri di depan sebuah pintu kamar pasien, Nadia segera menghampiri mereka. "Permisi, apa benar ini kamar tuan David?" Tanya Nadia.


Mereka melihatnya, "Anda siapa?" Tanya balik mereka.


Nadia tersenyum, "Maaf, kalian tidak perlu tau saya siapa. Boleh saya masuk?".


Dengan cepat salah satu pria berjas hitam itu menahan tangannya, lalu mendorong Nadia sampai tubuhnya terhempas di balik tembok, "Aahhh.. Yah" Dengan kesal Nadia melihatnya.


"Sebaiknya anda pergi dari sini" Ucapnya dengan datar.


"Karna kalian tidak tau saya siapa, kalian bisa memperlakukan saya seperti ini. Kalian semua benar-benar" Geram Nadia menggertakkan gigi taringnya. Setelah itu Nadia melihat samping kiri kanannya, "Pria itu juga tidak berada disin.." Gantung Nadia mengingat benda yang tadi siang Vincen berikan. "Astaga, kok aku bisa melupakannya yah" Senyum Nadia mengeluarkan kartu tersebut dari dalam saku.


"Ini, saya rasa ini sudah cukup membuat kalian membiarkan saya masuk".


Si pria itu menerima kartu tersebut dari tangan Nadia, ia melihat kartu VIP yang tuan mereka gunakan, "Dari siapa anda menerima kartu ini?".


"Saya tidak tau, tadi siang pria tampan yang datang bersama saya semalam memberikan kartu itu pada saya".


Mereka yang berjaga disana saling tatap menatap, kemudian salah di antara mereka menghubungi nomor Bagas dan Vincen. Begitu, mereka menghubungi Bagas dan Vincen, baru mereka memberikan izin Nadia masuk kedalam kamar David, penuh dengan kebingungan melihat apa yang mereka lihat.


"Terima kasih ya" Nadia segera masuk kedalam menggunakan kartu yang Vincen berikan. Disana, ia melihat David tengah terbaring lemas diatas bed tidur, dengan perasaan sedih Nadia menyentuh tangan kanan David. "Hay, ini aku Nadia, wanita yang tidak kamu sukai. Ayo bangun, kamu tidak bosan tidur terus?".


Kemudian Nadia menyentuh wajahnya dengan lembut, "Kamu tau enggak? aku baru saja menyentuh wajah mu tuan David yang terhormat" Nadia tersenyum.


"Ayo bangun, aku ingin sekali mengucapkan terima kasih banyak kepada mu karna sudah menyelamatkan nyawa ku".


.


Paginya, Tampa Nadia sadari ia tertidur disamping David. "Hhooaamm.. Aahhhh, kenapa badan ku pegel semua sih?".


"Selamat pagi nona" Senyum si dokter.


"Astaga" Kagetnya melihat dokter dan juga Bagas yang berada disana. "Aahh.. Maaf" Tunduknya sangat malu. Setelah itu, Nadia segera keluar.


Begitu ia keluar dari dalam ruangan David, Nadia tak henti-hentinya mengumpati dirinya sendiri, "Bodoh-bodoh.. Kamu kok bisa sampai ketiduran disana sih Nad?".


Tidak ingin kembali ke ruangannya, Nadia melihat pasien sedang duduk diatas kursi panjang di ujung lorong. Ia melihat pasien tersebut sedang sedih, dengan hati tersentuh Nadia mendekatinya. "Permisi, boleh saya duduk disini?" Tanya Nadia tersenyum.


Gadis muda itu melihatnya, setelah itu ia mengangguk tanda ia memberikan izin kepada Nadia duduk disampingnya. "Hay" Sapa Nadia.


"Hay" Balasnya.


"Kamu baik-baik saja?".

__ADS_1


"Mmmmmm".


"Kamu sudah sarapan?".


"Mmmmmm".


"Kamu sangat cantik" Saat Nadia mengatakan dirinya cantik, gadis muda itu langsung menangis. Nadia kebingungan, "Maafkan aku, kamu baik-baik saja?" Bukannya diam ia malah semakin menangis di samping Nadia, "Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf" Sentuhnya di bahu gadis muda itu.


Hampir lima menit lamanya ia menangis, baru ia melap air matanya. Kemudian melihat Nadia yang penuh penyesalan, "Terima kasih sudah mengatakan saya cantik".


Nadia tersenyum, "Lalu, kenapa kamu menangis setelah aku mengatakan kamu cantik?".


"Belum pernah orang lain mengatakan aku cantik".


"Jadi?".


"Ini pertama kalinya kakak menyebut ku cantik. Terima kasih".


Nadia semakin menunjukkan senyum lebarnya, "Aku mengatakan kamu cantik karna kamu benar-benar cantik. Lihat ini, bahkan kamu punya lesum pipi, jadi kamu tidak hanya cantik saja, kamu juga sangat manis. Kamu harus percaya diri, kalau dirimu itu cantik dan manis".


"Terima kasih kak, aku senang bertemu orang cantik seperti kakak pagi ini".


"Benarkah?".


"Terus, siapa nama kamu?".


"Mira kak".


"Mira?".


"Mmmmm.. Nama kakak siapa?".


"Nadia. Lalu, sedang apa Mira dirumah sakit? Mira sakit?".


"Iya kak, Mira sakit. Kaki Mira patah kemarin" Jawabnya menunjukkan kaki kanannya yang di perban.


"Astaga, maaf ya Mira. Tadi aku tidak memperhatikan kaki kamu".


"Tidak apa-apa kak. Kemarin Mira jatuh dari tangga sekolah".


"Kok bisa?".


Mira terdiam, ia sangat membenci kepada teman sekelasnya yang tidak menyukai dirinya karna alasan dia jelek. Hingga pada akhirnya mereka mendorong dirinya dari atas tangga sampai ia berakhir di rumah sakit. "Kenapa mereka sejahat itu yah? emang Mira enggak memberitahu gitu sama guru BP?".

__ADS_1


Mira menggeleng.


"Kenapa? orang seperti mereka itu harus di hukum".


"Guru BP disana tidak pernah mempercayai perkataan Mira kak. Mungkin karna mereka anak orang kaya, jadi guru disana tidak perduli dengan orang miskin seperti aku kak".


"Hey, Mira tidak boleh berkata seperti itu. Mira mau tau enggak siapa aku sebenarnya?".


Mira melihatnya.


"Aku seorang polisi di kantor pusat, ini kartu nama ku. Kalau Mira butuh bantuan, cepat beritahu aku, ok".


"Mmmmm.. Terima kasih kak" Senyum Mira.


"Khusus Mira, tidak di pungut biaya".


"Hehehe.. Terima kasih, terima kasih banyak kak".


"Sama-sama, kalau gitu aku tinggal dulu yah".


"Iya kak".


Nadia segera memasuki ruangannya, ia melihat Bagas berada disana. Untuk memastikan itu Bagas atau tidak, ia mendekati pria tersebut. "Permisi" Bagas langsung membalikkan tubuhnya menghadap Nadia, "Ada apa tuan?".


"Kamu ikut saya" Jawabnya keluar.


Nadia kebingungan, namun ia tetap mengikuti Bagas dari belakang. "Dia ingin membawa ku kemana yah?" Batin Nadia melihat mereka memasuki lift.


Di dalam lift Nadia masih belum bertanya, ia masih menutup mulutnya rapat-rapat. Hingga pada akhirnya mereka berada di parkiran, "Masuk" Ucap Bagas membuka pintu mobilnya.


Nadia mengernyitkan dahi melihat Bagas, "Maaf, anda ingin membawa saya kemana? anda tidak tau kalau saya ini seorang pasien".


"Masuk" Ulangi Bagas lagi.


"Hey.. Kamu pikir kamu siapa menyuruh saya masuk seenaknya tampa saya ketahui tujuan kamu membawa saya kemana. Kamu tidak tau kalau saya ini seorang polis..


"Masuk" Ucapnya semakin menekan.


"Tidak, saya tidak akan masuk kedalam mobil ini sebelum kamu memberitahu saya, kemana kamu akan membawa saya".


Bagas menghela nafas, ia tidak ingin membuang-buang waktunya yang sangat berharga. Dengan kasar, ia pun langsung memaksa Nadia masuk kedalam mobilnya.


"Yah.." Kesal Nadia.

__ADS_1


Bagas segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit, sedangkan Nadia yang berada di belakangnya tak henti-hentinya mengancam dirinya kalau saja Bagas sampai berbuat macam-macam yang akan menyakiti dia.


__ADS_2