
Di dalam apertemen, Nadia masih saja mengingat kejadian menggenaskan tadi. "Aahhh, itu sangat menakutkan sekali, bagaimana bisa mereka menembaki seperti itu tampa ada perasaan" Kemudian Nadia melirik kearah pintu kamar David. "Dia pasti sudah tidur" Dengan lelah Nadia memasuki kamarnya.
Dilain tempat, David sangat marah melihat beberapa anak buahnya mati setelah Bagas, Vincen dan beberapa anggota lainnya selamat. "Ini pasti Steven".
DDDDRRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...
"Hallo".
"David Barack.. Apa kamu baik-baik saja?".
"Steven" Geram David.
"Wah.. Ternyata kamu mengenali suara ku. Kamu baik-baik saja?".
"Apa yang telah kamu lakukan?".
"Aku melakukan apa?" Tanya balik Steven.
"Bangsat. Kamu telah menguji kesabaran ku".
"Sshhuuueettt.. Kamu jangan marah seperti itu tuan David yang terhormat. Harusnya kamu bersyukur kepada ku karna aku membiarkan kedua orang kepercayaan mu itu masih hidup hahahahah".
PPPRRRAAKKK..
David melemparkan ponselnya ke sudut dinding dengan sangat marah, lalu melempari semua barang yang terletak diatas meja hingga tangannya terluka. "Tuan" Khawatir Bagas dan Vincen.
"Steven..." Teriaknya.
Bagas mencari kota P3k, lalu ia mengobati tangan David. "Tuan harus menenangkan pikiran" David menutup mata sambil menghela nafas, setelah itu ia melihat tangannya yang sudah di perban oleh Bagas. "Apa yang akan kita lakukan tuan?".
David terdiam.
"Steven tidak akan tinggal diam, lebih parah dari ini akan dia lakukan untuk mendapatkan kekuasaan".
"Untuk saat ini jangan melakukan apa-apa. Aku akan mengurusnya" David meninggalkan mereka.
Kemudian Bagas melihat Vincen, "Jangan melakukan apa-apa tampa ada aba-aba dari tuan David. Mari kita mengobati yang terluka".
"Mmmmmm" Gumam Vincen.
Sesampainya David di apertemen, tiba-tiba ia merasa pusing, "Aaiiisss.. Kenapa aku malah merasa pusing seperti ini?" Gumam David memasukkan pin apertemennya.
Nadia yang belum tidur, ia mendengar suara pintu terbuka, lalu Nadia bergegas keluar dari dalam kamar. "Tuan David?" Kaget Nadia. "Astaga, apa yang terjadi tuan?" Nadia segera membantu David duduk diatas sofa.
"Aku akan mengambil air putih".
DDDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..
Nadia memberikan segelas air putih di tangannya, "Ponsel tuan berdering" Beritahu Nadia.
__ADS_1
DDDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..
"Angkat" Ucap David.
Nadia langsung menyambar ponsel David, "Hhhmmm? ponsel ini".
"Cepat angkat".
"Baik tuan" Nadia menekan tombol hijau, lalu menempelkan di telinga kanannya. "Hallo".
"David?".
"Suara wanita" Batin Nadia.
"David?" Tanyanya lagi.
"Tidak" Jawab Nadia melirik David yang terpejam.
"Ini siapa? David dimana?".
"Di-dia" Gantung Nadia begitu David membuka kedua matanya, setelah itu David merampas ponselnya dari tangannya. "Dia seorang wanita" Beritahu Nadia.
David terdiam sambil menghela nafas.
Kemudian Nadia tersenyum, "Aku tidak nyangka kalau tuan masih memiliki ponsel jadul seperti itu. Aku menyukai ponsel itu, dulu aku pernah memilikinya sewaktu SD".
David masih terdiam.
David melihatnya, lalu Nadia tersenyum manis, "Apa kamu sedang menggoda ku?".
"Hhhmmm?".
"Apa kamu sedang menggoda ku?" Ulangi David kembali.
"Ma-maksud tuan? aku tidak mengerti maksud dari perkataan tuan".
David menyeringai melihat kesamping, dengan kesal Nadia pun yang mengetahui kalau David baru saja mengejeknya mengangkat tangan ingin memukul David, namun David yang tidak ingin disentuh oleh Nadia langsung menahan tangannya. "Aahhhh" Rengek Nadia kesakitan.
Setelah itu David menghempaskan tangan Nadia cukup kuat hingga ia merasa semakin kesakitan. Lalu David memasuki kamarnya.
Nadia menyentuh pergelangan tangannya, ia merasa sedikit panas. "Hati dia terbuat dari apa sih? bagaimana bisa di berbuat sekasar itu?".
Di dalam kamar, David menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sembari merasakan rasa pusing yang semakin menjadi dan juga ia yang tiba-tiba merasa mual. "Hhhmmpphhh.. Hhhmmpphhh.. Hhhuuueeaakkhhh".
Nadia mendengar suara itu, ia segera berlari kearah pintu kamar David.
Tok.. Tok..
"Tuan baik-baik saja?" Tanya Nadia.
__ADS_1
Tok.. Tok..
"Tuan, aku bisa masuk?".
Tok.. Tok..
"Jangan datang kemari" Larang David marah, namum Nadia yang masih mendengar David mual-mual, ia pun akhirnya membuka pintu kamar David tampa memperdulikan David yang akan memarahinya. "Kamu..!!" Teriak David.
"Maafkan aku tuan. Sepertinya tuan masuk angin, tunggu sebentar" Nadia berlari mencari minyak angin di dalam kamarnya. Kemudian ia memasuki kamar David kembali, lalu ia menyuruh David duduk. Tetapi David tidak sudih disentuh oleh Nadia, dengan kuat ia mendorong tubuhnya hingga Nadia terdorong sedikit jauh.
"Berani-beraninya kamu menyentuh ku" Lihat David dengan tajam.
"Tapi tuan..
"Keluar".
"Tap..
"Keluar...!!" Teriak David lagi semakin marah.
"Kalau gitu, tuan bisa mengolesnya sendiri?".
"Saya tidak membutuhkan it.. Mmmppphhhh.. mmpphhhmmmm.. Hhuueeaakkk".
"Astaga, kenapa dia keras kepala sekali" Nadia kembali mendekati David yang sudah lemas, ia membuka dua kancing kemejanya, lalu ia menaruh kepala David diatas pangkuannya sambil memijit kepada David, leher dan punggungnya.
20 menit lamanya Nadia memijit David dengan minyak yang ia bawa dari pendidikan baru David terlihat sedikit mendingan. Setelah itu Nadia mengancing kemeja David lalu membenarkan posisi tidurnya, "Apa tuan sudah makan malam?".
David terdiam.
"Aku akan mengisi air panas di botol" Nadia berjalan kearah dapur, dan untung saja ia melihat sebuah botol kosong di dalam lemari anggur David. Tidak ingin berlama-lama, Nadia segera mengisi air panas kedalam botol tersebut.
"Tuan, ini akan terasa panas" Ucap Nadia menaruh diatas perut David dengan memutar-mutarnya.
David terlihat sangat menikmatinya hingga membuat hati Nadia senang, "Tadi sok jual mahal, sekarang dia sangat menikmatinya" Batin Nadia melihat kedua mata David yang sudah terpejam. "Apa tuan sudah tidur?".
"Sepertinya dia sudah tidur" Nadia melirik jam tangannya. "Jam 4 pagi, aku masih punya waktu istirahat 4 jam lagi" Nadia melihat wajah David kembali yang benar-benar sudah pulas.
"Sebaiknya aku istirahat" Namun saat Nadia bangkit berdiri, tangan kekar David langsung menahan tangannya. "Ada apa tuan?".
"Jangan pergi".
"Hhhmmm?".
"Jangan pergi?".
Nadia melirik tangan David yang di perban dan bekas darah yang masih menempel disana, "Mmmmm, aku akan disini" Angguk Nadia melepaskan tangan David.
"Terima kasih" David kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
Sedangkan Nadia yang baru saja mendengarkan David mengeluarkan kata terima kasih dari dalam mulutnya, ia langsung tersenyum bahagia. "Apa? terima kasih? oohh Tuhan, akhirnya dia mengucapkan kata-kata itu juga setelah dia memperlakukan ku dengan kasar. Dasar" Geleng Nadia mendudukan diri di samping David.
Hampir satu jam lamanya Nadia duduk, ia merasa sudah sangat mengantuk, "Hhooaammm.. Aahh, aku ngantuk sekali" Uap Nadia. "Apa sebaiknya aku pergi saja? lagian dia tidak akan tau" Nadia menyentuh botol diatas perut David yang sudah sedikit dingin. "Sepertinya dia sudah baik-baik saja" Nadia pun keluar dari dalam sana dengan botolnya.