Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 40


__ADS_3

Sekeluarnya Nadia dari sana, tidak lama kemudian ia pun langsung keluar dari dalam kamar mandi. Kemudian David menghempaskan tubuhnya diatas sofa, ia menatap lurus dengan nafas lelah.


DDDRRRTTT... DDDRRRTTTT...


"Mmmmmm?" Jawab David.


"Tuan, besok ada rapat penting. Apa tuan akan menghadirinya?" Tanya Vincen.


"Rapat penting apa Vincen?".


"Rapat pegang saham hotal A tuan, sampai sekarang belum tau siapa yang akan menjadi pimpinan baru".


David menghela nafas, "Baiklah, besok kamu bisa menjemput ku ke hotel".


"Baik tuan".


Sedangkan Nadia yang kini berada di dalam kamarnya, ia tampak terlihat baik-baik saja. Kemudian Nadia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Apa dia sudah tidur? aku penasaran apa yang sedang dia lakukan sekarang?" Gumam Nadia melirik kearah jendela kaca yang belum ia tutup dengan gorden.


"Seandainya dia pria yang hangat..." Gantung Nadia tersenyum. "Ck, apa yang sedang kamu pikirkan Nadia? sebaiknya kamu tidur saja. Ingat kata dokter, kamu harus banyak istirahat supaya kamu cepat kembali seperti biasa".


.


Pagi harinya, David telah bersiap-siap berangkat ke kantor. Sedangkan Nadia baru saja terbangun dari tidurnya, "Aahh.. Ternyata seperti ini rasanya kalau tidur cepat. Apa dia sudah bangun?" Nadia memasuki kamar mandi, setelah itu ia keluar dari dalam kamar.


Ceklek!


"Astaga, ternyata dia sudah bangun saja. Tapi mau kemana dia pagi-pagi seperti ini sudah berpakaian rapi?" Gumam Nadia melihat David sedang membuat secangkir kopi. Lalu Nadia menghampirinya, "Selamat pagi tuan David?" Senyum Nadia dengan manis.


David melihatnya, kemudian ia melanjutkan menyeduh kopinya kembali. "Aahh.. Saat sedang minum kopi rasanya akan sangat nikmat dengan jajanan ini. Makanlah, rasanya sangat enak".


David menyeruput kopinya, ia melihat Nadia yang masih tersenyum kepadanya. "Aku tidak memakannya".


"Kenapa? rasanya sangat enak. Cobalah".


"Kamu tidak bekerja?".


"Tidak, atasan ku kemarin memberi cuti selama 1 minggu padahal aku sudah menolaknya. Hhhmmsss.. akan sangat membosankan kalau aku dirumah terus. Apa yang harus aku lakukan?".


"Lakukan sesuka hati mu" Jawab David meletakkan gelasnya. Setelah itu, David segera meninggalkan apertemen mereka.


Melihat punggung David berada di ambang pintu membuat Nadia hanya bisa menghela nafas berat. "Baru saja semalam dia memeluk ku, sekarang dia sudah kembali seperti biasa. Apa dia selalu seperti ini?".


DDDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT...


"Ada apa Zico?".


"Selamat pagi Nadia" Senyum Zico dari sebrang sana.


"Pagi" Balas Nadia.


"Sedang apa kamu? kamu sudah sarapan? kamu harus meminum obat mu".


"Mmmmm.. Kamu tenang saja, aku akan selalu meminum obat ku. Kamu enggak berangkat kekantor? ini sudah jam berapa?".


"Ini masih jam 7 Nad, sebentar lagi aku berangkat kerja".


"Jam 7 dari mana ya Co? ini sudah hampir jam 8 pagi".


"Astaga.. Aku melupakannya" Tawa kecil Zico begitu juga dengan Nadia, "Nad" Panggilnya.

__ADS_1


"Mmmm.. Kenapa?".


"Aku merindukan mu".


"Hhhmmm?".


"Aku berangkat kerja dulu, sampai nanti" Zico langsung mematikan ponselnya.


"Kamu ada-ada saja Zico" Geleng Nadia menaruh ponselnya diatas meja. Kemudian Nadia berjalan kearah kulkas, ia melihat tidak ada bahan-bahan dapur lagi yang bisa ia gunakan untuk dimasak. "Sepertinya aku harus ke pasar" Nadia pun menutup kulkas itu kembali. Setelah itu, ia menyambar ponselnya dan juga dompetnya yang berada di dalam kamar.


Berada di depan lift, Nadia menunggunya sudah hampir 5 menit lamanya. "Hey, kenapa liftnya lama sekali?" Kesal Nadia. Tampa ia sadari Yanto yang berada di belakangnya.


"Nadia?".


"Aahh... Yanto sedang apa kamu disini? kamu enggak kerja?" Tanya Nadia melihatnya.


Yanto menggeleng sambil tersenyum.


"Kenapa?".


"Dari kemarin aku tidak enak badan, jadi satu minggu ke depan aku akan cuti".


"Oohh.. Lalu kamu mau kemana?".


"Aku mau ke pasar. Bagaimana dengan mu?".


"Aku juga mau ke pasar" Jawab Nadia.


"Wah.. ketepatan sekali, kenapa kita tidak pergi bersama saja? kamu boleh menumpang di mobil ku".


Nadia tersenyum, "Terima kasih Yanto, kamu baik sekali".


"Mmmmm" Angguk Nadia masuk duluan.


.


Kini Nadia telah berada di dalam mobil Yanto menuju pasar tradisional terdekat tempat mereka tinggal. "Yanto, kamu bisa masak?".


"Apa?".


"Itu, kamu bisa masak?".


"Hahahaha.. Kamu ada-ada saja Nad, emang cuman perempuan saja yang bisa masak? aku sejak dari kecil sudah diajarkan belajar mandiri oleh orang tua ku".


"Mmmmm.. Kamu hebat" Jempol Nadia.


Yanto tersenyum kembali.


Sesampainya mereka di pasar, Nadia langsung membeli bahan-bahan yang ia perlukan begitu juga dengan Yanto. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka selesai berbelanja, namun sebelum mereka pulang. Yanto mengajak Nadia sarapan terlebih dahulu di warung kecil pinggir jalan.


"Kamu mau makan apa Nad?".


"Gado-gado saja".


"Kamu suka gado-gado?".


"Mmmmmm" Senyum Nadia mengingat ia dan Zico suka makan gado-gado bersama kalau ada waktu rehat. "Kamu pesan apa Yan?".


"Sama aja sama kamu Nad".

__ADS_1


"Kamu juga suka gado-gado?".


"Suka juga".


"Oohhh.. Pak, minumnya teh manis panas yah".


"Iya nona, di tunggu sebentar".


Sambil menunggu pesanan mereka tiba-tiba Nadia memperhatikan kerah baju Yanto yang bernoda darah. "Ada apa Nad?".


"I-itu, kerah baju kamu berdarah Yanto. Kamu baik-baik saja?".


Yanto pun langsung meremas tangannya, lalu tersenyum. "Aku baik-baik saja Nad".


"Terus kenapa baju kamu seperti itu Yan? bernoda darah".


Yanto kebingungan, ia marasa sangat bodoh tidak mengingat menganti pakaiannya. "Aahh.. Ini obat merah Nad, kemarin aku tidak memperhatikan kalau yang aku oleskan adalah obat merah".


"Oohh.. Aku pikir tadi kamu terluka".


"Aahh tidak".


"Syukurlah.


.


Dikantor, sepulang dari rapat pemegang saham David menghempaskan tubuhnya diatas sofa dengan tubuh letih meskipun ia hanya mendengar rengekan-rengekan mereka yang buat kepalanya pusing. "Tuan" Panggil Vincen.


"Ada apa Vin?".


"Bagas, baru saja memberitahu kalau orang yang menembak nona Nadia telah di bunuh oleh mereka".


"Apa?".


"Iya tuan".


"Siapa yang menyuruh mereka membunuhnya?".


"Bagas tidak tau tuan, dia hanya bertanya siapa yang sudah menembak nona Nadia. Tapi pagi mereka langsung melenyapkan orang yang sudah menembak nona".


"Aaiiisss.. Kamu boleh pergi, aku ingin sendiri".


"Baik tuan. Lalu bagaimana dengan makan siang tuan? tadi pagi juga tuan menolak sarapan. Saya mohon tuan jangan pernah melewatkan makan" Ucap Vincen dengan tegas.


"Aku tau, terserah kamu saja mau membawa ku makanan siang apa".


"Baik tuan. Permisi" Senyum Vincen keluar dari dalam ruangannya. Lalu David menghela nafas, ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Tok.. Tok..


"Siapa?".


"Saya tuan" Jawab sekretarisnya.


"Ada apa?".


"Tuan memiliki tamu pentin..


"Suruh dia pergi, saya ingin sendiri" Potong David tidak ingin menemui siapa pun.

__ADS_1


"Baik tuan" Jawabnya.


__ADS_2