
Dengan langkah lembut ia menjilat bibir atas dan bawahnya melihat Nadia yang sangat menggairahkan. Kemudian ia melepaskan sepatu Nadia, lalu menciumnya penuh dengan nafsu. "Ini sangat nikmat, bahkan kakinya saja sangat wangi" Setelah itu ia melihat kearah buah dada Nadia kembali sambil tersenyum.
Namun saat itu juga, Nadia membuka kedua matanya, ia melihat si pria tadi berada di disampingnya. "Yah, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Nadia dengan mata membulat.
"Sshhuuueettt.. Jangan berisik, orang lain bisa mendengar suara mu. Sekarang tidurlah kembali, aku akan menjaga mu".
"Kurang ajar, lepaskan saya!" Bentak Nadia mencoba melawannya. Tetapi tubuhnya yang lemas tidak sanggup melawannya, "Lepaskan saya selagi saya meminta dengan baik-baik, kalau tidak saya akan memasukkan mu kembali ke penjara".
Ia tertawa, kemudian mengeluarkan sebuah tali dari dalam laci lemari, "Aku sudah menyuruh mu diam, tapi kamu malah membuat ku marah. Sekarang kamu harus di ikat".
"Tidak, jangan lakukan itu.. Aarrhhh" Ringis Nadia ketika si pria tersebut menarik rambut panjangnya dengan kuat. "Lepaskan saya, kamu pikir kamu boleh memperlakukan polisi seperti ini bajingan?" Teriak Nadia mecoba melawannya.
"Diamlah kalau kamu tidak ingin terluka, aku bisa saja membunuh mu disini tampa meninggalkan jejak ibu polisi" Tawanya menyentuh pipi kanan Nadia.
"Ccuuiihhh.. Berani sekali tangan kotor mu itu menyentuh wajah ku bajingan" Kesal Nadia meludahi wajahnya. Tetapi si pria itu bukannya marah, ia malah dengan senang hati menjilat ludah Nadia yang menempel di wajahnya. Kemudian Nadia melihat sekitarnya, ia tau kalau saat ini ia berada di dalam kamar. "Jangan menyentuh ku, kalau kamu berani menyentuh ku..
"Kenapa kalau aku menyentuh mu cantik?" Tanyanya mendekati wajah Nadia.
"Menjauh. Menjauh...!!" Teriaknya.
"Aaiiss.. Aku sudah menyuruh mu diam, tapi kamu malah semakin meninggikan suara mu" Ia pun langsung menutup mulut Nadia dengan lakban. "Bagus, suara mu tidak kedengaran lagi cantik, sekarang mari kita lanjutkan" Dengan tertawa kecil ia langsung meremas kedua payudara Nadia. "Aahhh.. Hhhuuuffff.. Ini sangat nikmat".
Sedangkan Nadia yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menangis sambil berusaha melepaskan diri. "David tolong aku, aku mohon tolong aku" Teriak Nadia dalam hati.
"Cantik, milik mu ini sangat kenyal sekali, aku menyukainya. Boleh aku menyentuhnya secara langsung?".
"Mmppphhhh" Geleng Nadia masih berusaha lepas darinya. Tetapi kedua tangan si pria itu telah berada di dalam tubuh Nadia, namun belum sempat disentuh secara langsung ketika terdengar suara gedoran pintu.
"Ck, siapa lagi yang menganggu ketenangan ku?" Kesalnya melihat kearah pintu. Lalu ia melihat Nadia yang masih menangis, "Kita biarkan saja, mari kita melanjutkannya hahahahha" Tawanya menggunting pakaian Nadia hingga kedua gundukannya terlihat sangat indah di matanya. "Wah" Senyumnya.
"Mmpppmmm" Geleng Nadia semakin menangis.
__ADS_1
"Diamlah, aku akan melakukannya dengan lembut" Ia segera melepaskan bra Nadia.
BBRRRAAKK...
"Kalian siapa?" Bentaknya dengan kaget melihat kedua pria yang tidak ia kenali itu berdiri dihadapannya dengan tangan mengepal. "Kalian siapa? berani-beraninya kalian masuk kedalam rumah ku tampa izin ku?".
Sedangkan Nadia yang melihat David tiba disana langsung tersenyum senang dengan air mata yang masih mengalir, tetapi saat David mendekati mereka, si pria tersebut langsung mengancam akan membunuh Nadia kalau David dan Vincen mendekatinya. Lalu ia tertawa, "Aku tidak tau kalian siapa, kalau kalian berani mendekati ku akan membunuhnya hahahah".
David menghela nafas, ia mencoba menahan amarahnya. "Lepaskan wanita itu" Ucapnya tajam.
"Tidak, aku tidak akan melepaskannya. Dia milik ku dia adalah milik ku".
"Lepaskan wanita itu" David kembali mengulangi ucapannya.
"Hahahaha.. Kamu siapa berhak menyuruh ku melepaskan wanita ini? dia sendiri yang datang menemui ku, itu berarti dia milik ku. Sebaiknya kalian pergi dari sini".
"Lepaskan wanita itu".
"Tidak".
"Tuan" Kaget Vincen melihat David menahan pisaunya dengan darah bercucuran dari tangan kirinya. Kemudian Vincen menarik si pria itu, lalu membawa keluar dari dalam kamar. "Tuan, aku akan membereskannya".
David menutup mata, ia terlihat sangat marah kepada dirinya sendiri. Setelah itu ia melihat tangan kirinya yang terluka, "Maafkan aku, aku tidak bisa datang diwaktu yang tepat" Ia melepaskan pengikat tali ditangan Nadia dan juga kakinya.
"Tidak, kamu datang diwaktu yang tepat" Tangis Nadia memeluk David dengan tubuh bergetar.
"Maafkan aku" Balas David menetaskan air mata tampa ia sadari setelah 14 tahun lamanya ia tidak pernah mengeluarkan air mata lagi.
"Terima kasih, terima kasih sudah datang menolong ku" Ucap Nadia jatuh pingsan.
David melepaskan pelukannya, ia melihat setengah tubuh Nadia tidak mengenakan pakaian dan juga bekas luka Nadia yang berada di keningnya. "Maafkan aku, maafkan aku" Memeluk Nadia kembali.
__ADS_1
Tok.. Tok..
"Tuan" Panggil Vincen.
"Mmmmmm" Gumam David melepaskan jasnya. Ia memakainya di tubuh Nadia, lalu membawanya pergi dari sana sambil memberitahu Vincen untuk singgah sebentar di rumah sakit terdekat.
.
Sesampainya mereka dirumah sakit, David langsung membawanya masuk kedalam. Kemudian Vincen melirik kearah job mobil dimana si pria tersebut berada disana. "Kamu salah mengganggu orang, aku tidak tau apa yang akan dia lakukan kepada mu" Gumam Vincen menghampiri mereka.
Disana Nadia tengah ditangani oleh dokter yang bertugas di ruang IGD. Vincen melihat David masih terlihat sangat marah kepada dirinya sendiri, "Tuan, berhenti menyalahkan diri tuan sendiri. Semua akan baik-baik saja".
David menghela nafas, ia melihat Vincen yang duduk di sampingnya, "Aku lelah Vin, aku ingin istirahat".
"Aku tau kamu lelah" Senyum Vincen menepuk pundak David berkata sebagai sahabat. "Semua akan baik-baik saja, berhenti merasa khawatir".
Tidak lama kemudian, dokter yang menangani Nadia menghampiri mereka. "Lukanya sudah di jahit, apa tidak sebaiknya pasien dirawat dulu? soalnya ditubuh si pasien sudah masuk obat bius" Tanya si dokter saat David mengatakan hanya mengobati bekas lukanya saja.
"Tidak, saya akan membawanya pulang".
"Sebaiknya kalian berdua menginap disini, biar aku membawanya pergi" Ucap Vincen menghentikan David.
"Iya, sebaiknya pasien di rawat" Sambung si dokter.
"Mereka akan menginap disini dok" Vincen mendatangi ruang administrasi, ia langsung memesan ruang VIP. Setelah itu Vincen mendatanginya, "Besok pagi aku akan datang menjemput mu, istirahatlah".
"Mmmm.. Terima kasih Vin".
"Aku pulang" Angguk Vincen meninggalkannya.
Lalu para suster membawa Nadia keruang VIP yang berada di lantai 3, disana ia melihat ruang VIP tersebut sangat sederhana sehingga membuat ia kurang nyaman. "Sus, tunggu. Ruangan yang lebih bagus dari sini masih ada?".
__ADS_1
"Tidak tuan, ruangan ini sudah paling mewah untuk pasien rawat inap. Permisi".
David kesal, ia melihat seisi ruangan itu kembali membuat ia semakin tidak nyaman, namun melihat Nadia yang sangat lelap membuat ia tidak bisa membawanya pergi dari sana.