Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 42


__ADS_3

"Dari bibi, aku mendapatkannya dari bibi sebelum bibi meninggal dunia kak" Jawab Riwan menarik nafas. Kemudian David meremas benda tersebut dengan air mata menetes.


"Ibu" Isak David tidak perduli kepada Riwan dan Vincen, yang ia rasakan saat ini hanyalah kerinduan yang sangat dalam kepada ibu tercintanya.


.


Sepulangnya Riwan, David juga menyuruh Vincen pergi meninggalkannya. Lalu ia mendudukan diri diatas sofa dengan air mata yang masih mengalir, "Ibu, David merindukan ibu, David sangat merindukan ibu".


Ceklek!


"Kamu menangis?".


Suara itu langsung membuat David menyeka air matanya, kemudian ia melirik kearah sumber suara tersebut. "Bagaimana bisa kamu berada disini?" tanya David dengan suara berat.


"Hey.. Tentu saja membawakan mu makan siang. Tadi pagi aku pergi belanja dan ketepatan sekretaris mu sedang istirahat jadi aku langsung masuk saja" Jawab Nadia mendekati David.


Lalu Nadia tersenyum melihat sisa air mata David yang masih mengalir. "Kenapa kamu menangis?" Tanyanya mendudukan diri disamping David.


"Aku ingin sendiri, tolong tinggalkan ruangan ini" Ucap David mengusirnya.


"Kenapa aku harus pergi? kemarilah, aku tau obat yang paling manjur saat sedang sedih" Tariknya memeluk tubuh David. "Menangislah, jangan ditahan" Namun bukannya menangis, David malah tersenyum.


"Lepaskan, sebaiknya kamu pergi sebelum aku menyuruh mereka membawa mu dari sini".


"Hhhmmm.. Kenapa pita ini ada disini?" Gumam Nadia melihat pita yang pernah ia pakaian berada di atas meja dekat dinding.


David mengernyitkan dahi, ia juga tidak tau siapa pemilik dari pita tersebut. "Apa itu milik mu?".


"Mmmmm.. Sepertinya ini milik ku" Jawab Nadia tampa ia sadari kalau dirinya pernah datang kesana. "Astaga, apa yang baru saja aku katakan?" Liriknya kebelakang. "Heheheh.. Maaf, tadi itu aku hanya ngawur saja. Lagian, bagaimana mungkin benda ini berada disini. Sedangkan aku kemari baru pertama kali, ini pasti milik orang lain. Iya, aku yakin itu".


David melipat kedua tangannya di depan dada, "Kalau kamu tidak pernah datang kemari, bagaimana bisa kamu sampai disini?".


"Apa?" David tertawa kecil seperti sedang mengejeknya. "Yah.. Tentu saja aku bertanya sama papa, kamu pikir aku apa bisa langsung tau kantor kamu" Jawab Nadia berbohong.


"Oohh.. Kamu bertanya?".


"Mmmmmm.. Kalau gitu aku pulang dulu, nanti jangan lupa membawanya pulang".


"Tunggu, aku tidak bisa jamin makanan ini tidak ada racun sebelum kamu mencobanya".


"Apa?" Kaget Nadia. "Yah..!!".


"Kalau gitu kamu makan dulu baru aku percaya kalau makanan ini baik-baik saja".

__ADS_1


Nadia menyeringai terlihat kesal kepada David yang tidak akan perduli mau dia marah atau tidak, "Baiklah" Meskipun dalam hati Nadia berkata. "Dasar manusia tidak tau terima kasih, sudah dikasih hati mintanya jantung. Kamu pikir jaman sekarang kamu masih bisa mendapatkan wanita sebaik aku. Kamu salah tuan David yang terhormat, mau sampai ke ujung dunia pun kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita sebaik aku" Begitu Nadia selesai mencobanya baru David tersenyum senang.


"Haahhh.. Ternyata kamu bisa juga tersenyum" Gumam Nadia melap tangannya.


"Aku bisa mendengar mu".


"Aku tau itu, sekarang aku pulang".


"Kemana? kamu disini saja sampai aku selesai makan".


Nadia menghela nafas, "Bukannya tadi kamu menyuruhku pergi?".


"Itu tadi, sekarang tidak. Duduk".


"Aku sibuk, sebaiknya aku pergi" Nadia menyambar tasnya.


"Kamu ingin melihat ku marah?".


"Sudah sering, bahkan setiap hari".


"Kalau gitu aku tidak akan memakannya, kamu bawa saja ini pulang" David meletakkan sendok nya. Lalu berjalan kearah kursi kebesarannya.


"Iiisss...!!" Geram Nadia mengepal tangan. Kemudian ia berkata kalau ia akan tetap tinggal disana sampai David selesai makan, tetapi David yang tidak berselera lagi tetap menyuruhnya pergi dari sana. "Ayolah, tadi kamu hanya memakan 3 sendok saja dan maafkan aku sudah sedikit kasar tadinya".


"Astaga.. Kamu keras kepala banget sih" Kaget Nadia langsung menutup mulutnya. "Aahh.. Maafkan aku" Dengan penuh penyesalan Nadia membereskan bekas piring kotor David, "Semoga saja dia tidak marah, aku tidak sanggup melihat wajah murkanya" Gumam Nadia langsung pergi dari sana tampa ia sadari David telah berdiri di hadapannya.


"Kamu bilang apa tadi?".


"OMG.. Tamat hidup mu sudah Nadia" Dengan pasrah Nadia melihat David yang kini berada di hadapannya.


"Tadi kamu bilang apa?" Ulangi David lagi.


"Maafkan aku, tadi itu aku tidak sengaja. Kalau kamu marah, kamu bisa..


"Bisa apa?".


"Bi-bisa menghukum ku" Jawab Nadia menutup mata.


David hampir saja tertawa melihat wajah Nadia yang menggemaskan kalau saja ia tidak menahannya, kemudian Nadia membuka sebelah matanya. "Apa?".


"Tidak" Geleng Nadia.


"Sekarang pulanglah, jangan menunggu ku".

__ADS_1


"Hey.. Siapa juga yang menunggunya" Kesal Nadia melangkah pergi dari hadapannya.


"Aku sudah bilang kalau aku bisa mendengar mu Nadia".


"Aku tau" Balas Nadia menutup pintu David. Lalu ia melihat sekretaris David yang terkejut melihat siapa yang baru saja keluar dari dalam ruangan tuannya itu. "Aahh.. Kamu tidak usah khawatir, maaf tadi saya langsung masuk tampa izin terlebih dahulu" Senyum Nadia berjalan kearah lift.


Setelah itu si sekretaris mengetuk pintu ruangan David, "Ada apa?" Tanya David melihatnya.


"Tuan maafkan saya. Tolong jangan pecat saya tuan, saya tidak tau kalau wanita itu menerobos masuk kedalam ruangan tuan" Ucapnya menunduk.


"Tidak apa-apa, sekarang kamu keluar".


"Terima kasih tuan, terima kasih banyak" Ia pun langsung keluar.


Sedangkan Nadia kini telah berada di dalam loby. Ia melihat Vincen baru saja masuk kedalam, "Itu bukannya laki-laki kemarin? sedang apa dia disini?".


Vincen pun melihat dirinya, lalu menunduk sebagai tanda kesopanan. "Hey, ada apa dengan ya?" Batin Nadia memperhatikan Vincen menggunakan lift eksekutif. Kemudian Nadia segera keluar dari dalam loby, lalu menghentikan salah satu taksi yang baru saja lewat dari hadapannya. "Pak, bawa saya ke hotel xx".


"Siap nona".


"Tunggu deh pak, kita perumahan xx saja pak".


"Baik nona".


Tidak membutuhkan perjalanan yang panjang menuju rumahnya, kini Nadia telah berada di dalam. Namun pelayang disana memberitahunya kalau saja orang tuannya sedang tidak berada dirumah "Kalau gitu, Nadia naik dulu ya bi. Kalau mama sudah pulang jangan lupa beritahu Nadia".


"Iya nona".


Nadia menaiki anak tangga rumahnya, ia melihat seisi kamarnya masih saja seperti semula saat ia pergi meninggalkan kamar tersebut, "Aku pikir kamar ini juga akan berubah, ternyata tidak" Senyum Nadia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Tok.. Tok..


"Iya".


Ceklek!


"Nona, nyonya baru saja pulang dengan nona Lisa".


"Iya bi, Nadia segera turun" Angguk Nadia membenarkan pakaiannya. "Apapun nanti yang akan mama bilang, kamu tidak boleh sedih Nadia. Ok" Ia langsung keluar dari dalam kamar.


Disana sang mama dan sang kakak sedang duduk diatas sofa dengan barang belanjaan mereka. "Ma, kak Lisa" Senyum Nadia menyapa mereka.


"Sedang apa kamu kemari?" Tanya sang mama melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2