
Setibanya mereka disana, Nadia dan Zico keluar dari dalam mobil. Kemudian Nadia melihat kearah pantai yang biru membuat ia terlihat sangat senang, "Sudah sangat lama sekali aku tidak pernah ke pantai lagi Co".
"Aku juga Nad. Disana, mereka ada disana. Ayo".
Nadia tersenyum, ia terlihat sangat asik menikmati suasana disana apalagi jika ia pergi bersama dengan David, pasti jauh lebih menyenangkan. "Dimana mereka Zico?".
"Itu" Tunjuk Zico.
"Hallo bro, apa kabar" Tawa mereka memeluk Zico.
"Baik-baik. Kalian apa kabar?" Tanya balik Zico.
"Seperti yang kamu lihat hahaha. Terus siapa wanita cantik ini Co? apa dia kekasih mu?".
"Iya/tidak" Jawab Zico dan Nadia. Mereka berlima kebingungan mendengar jawaban mana yang benar diantara mereka berdua. Dan pada akhirnya Nadia membiarkan Zico mengakui kalau dirinya adalah kekasihnya.
"Lalu Refano dimana? kenapa kalian tidak datang bersama?".
"Dia menyusul".
"Oohhh.. Ayo, seseorang sedang menunggu mu didalam kapal sana" Ajak mereka membawa Zico dan Nadia kesana. Kemudian Zico menyambar tangan Nadia, dengan senyum mengambang di wajahnya ia menggenggam kelima jari tangan kiri Nadia. "Zico!" Panggilnya.
"Mmmmm?".
"Sejak kapan kamu berpacaran dengan nona cantik ini?".
"Sudah lama sekitar 1 tahun".
"Berarti hubungan kalian cukup lama yah. Kalau boleh tau nama nona siapa?".
"Nadia, kamu panggil saja Nadia".
"Nadia, nama yang cantik sesuai orangnya".
"Terima kasih" Senyum Nadia.
Begitu mereka berada di dalam kapal, seseorang yang sudah sangat lama Zico rindukan tiba-tiba berada disana dengan senyuman manis. "Hay, lama tidak bertemu Zico".
Nadia terkejut, lalu menatap Zico yang kini berkaca-kaca melihat wanita cantik tersebut. Setelah itu Zico menyeka air matanya, "Tidak, ini tidak mungkin. Aku pasti sedang bermimpi, dia tidak mungkin Anika" Gumam Zico melihat Nadia. "Nadia, katakan ini tidak benar".
Nadia kebingungan, "Zico aku tidak tau maksud kamu apa. Tapi ini tidak mimpi" Jawab Nadia.
"Tidak" Geleng Zico menutup mata.
__ADS_1
Kemudian Anika mendekati Zico dan Nadia, ia melihat tangan Zico masih menggenggam tangan Nadia cukup erat. "Aahh, ini tidak seperti yang kamu pikirkan" Senyum Nadia mencoba melepaskan genggaman Zico. Namun bukannya lepas, Zico malah semakin erat menggenggam tangannya. "Zico, ayo lepaskan tangan ku. Kamu membuat ku kesakitan".
"Aahh.. Maaf" Dengan cepat Zico melepaskan tangannya. "Kamu kesakitan Nad?".
"Mmmm, kalau gitu aku keluar sebentar. Sepertinya kalian harus bicara".
"Kamu mau kemana Nad? jangan pergi, jangan tinggalkan aku" Anika mencoba menggenggam tangan Zico, tetapi Zico yang belum percaya kepada apa yang sedang ia lihat langsung mengangkat tangan kirinya.
"Zico, ini aku Anika. Kenapa kamu menghindar dari ku?" Tanyanya berkaca-kaca. "Apa kamu sudah melupakan ku? sudah 8 tahun lamanya aku sangat merindukan kamu Zico, tapi kamu tidak mencari ku dan sekarang kamu tidak ingin melihat ku".
Zico mematung, ia melirik kearah Anika yang sedang menangis di hadapannya. "Nadia, bisakah kamu memukul ku?".
"Hhhmmm?".
"Bisakah kamu memukul ku?" Tanyanya lagi.
"Ini nyata Zico, wanita yang berada di hadapan mu ini nyata" Jawab Nadia mendengus. Lalu ia keluar dari dalam sana, ia melihat kelima sahabat Zico tengah menikmati melihat gadis-gadis cantik disana.
"Nadia" Panggil pria yang tadi menanyai namanya.
"Iya" Jawab Nadia menghampiri mereka.
"Kamu baik-baik saja".
"Tentang apa?".
"Apa? terus?".
"Sekarang dia sudah sembuh setelah 8 tahun lamanya Anika berjuang melawan penyakitnya dan kini ia telah bertemu kembali dengan cinta sejatinya. Aku mohon Nadia, bisakah kamu melepaskan Zico dan membiarkan Anika bahagia bersama dengannya?".
Nadia tersenyum, "Tentu saja aku akan membiarkan mereka. Kalau gitu aku pulang dulu, tolong kamu bilang sama Zico tidak usah mengkhawatirkan aku".
"Mmmm.. Terima kasih Nadia, terima kasih banyak sudah mengerti mereka".
"Sama-sama, aku pergi dulu" Nadia pergi meninggalkan mereka. Ia merasa sedikit legah begitu Zico menemukan kembali cinta sejatinya. Sekarang tinggal dirinya, mungkin ia akan mendapatkan cinta sejatinya?. Nadia menghela nafas berat, ia menatap kearah laut yang sangat indah. Setelah itu ia berjalan kembali di bibir pantai, namun saat itu juga ia tiba-tiba melihat pria yang sangat ia kenal. "David?" Gumam Nadia.
Untuk memastikan siapa pria yang sedang duduk disana, ia segera menghampirinya. "David! benarkah kamu itu?" Tetapi, begitu si pria itu melihat Nadia, orang yang ia kenal ternyata bukan dia. "Astaga, maaf ya" Tunduk Nadia.
"Tidak apa-apa" Angguknya.
Nadia mendengus menggeleng, "Kamu ada-ada saja Nad, bagaimana mungkin dia berada disini? dia saja tadi sangat sibuk di dalam kamarnya".
"Kenapa? kamu berharap aku disini?" Nadia terkejut, ia merasa seseorang sedang menyambung perkataanya dari belakang. "Kenapa kamu sendiri?".
__ADS_1
"David!" Senyum Nadia begitu ia berdiri di sampingnya. "Yah, bagaimana bisa kamu berada disini?".
David melepaskan kaca mata hitamnya sambil mengernyitkan dahi, "Kenapa? aku tidak bisa datang kemari?".
Nadia tersenyum semakin lebar, "Tidak, aku malah jauh lebih senang melihat mu berada disini. Terima kasih" Peluknya tampa sadar.
David tertawa kecil membalas pelukan Nadia, "Kenapa kamu sendiri?" Tanyanya lagi.
"Mmmm.. Gimana yah aku bilangnya. Itu, Zico bertemu kembali dengan cinta sejatinya. Jadi aku pergi meninggalkannya".
"Ooo".
"Hhhmm.. Oohh saja?" David melihatnya. "Hey, aku hanya bercanda. Kamu sudah makan? aku sangat lapar, tadi pagi aku belum sempat sarapan dari rumah".
David langsung menyentil kening Nadia dengan kesal, "Aahh, itu sangat menyakitkan" Rengek Nadia. Lalu ia membawa Nadia pergi dari sana mencari makanan.
"Lain kali jangan di ulangi" Ucapnya.
"Kamu mengkhawatirkan aku?".
"Tidak, aku tidak suka saja melihat orang sakit".
"Ck, aku pikir kamu mengkhawatirkan aku. Ooo, aku mau makan ikan bakar, lihat itu, sepertinya sangat enak" Tunjuk Nadia berlari mendahuluinya. "Mmmm, wanginya sangat enak. Pak, kami pesan dua porsi yah".
"Baik nona, silahkan tunggu disana yah".
"Sambil menunggu ikannya matang, saya pesan dua air kelapa ya pak".
"Iya nona" Angguknya. Kemudian Nadia tertawa senang melihat David, setelah itu ia menerima air kepala mereka.
"Biar aku yang membawanya".
"Terima kasih".
Sambil menikmati angin sepoi-sepoi Nadia tak berhenti menunjukkan gigi ratanya, ia sangat menikmati angin tersebut dan juga suara ombak pantai yang sangat indah ia dengar. "Hari yang sangar menyenangkan".
David tersenyum, ia menatap lurus kearah pantai yang sangat biru. Ia juga tampak sangat menikmati suasana tersebut. Lalu Nadia melihat ke arahnya sambil bertanya, "Kamu menyukainya?".
"Apanya?".
"Tempat ini, kamu menyukai pantai?".
__ADS_1
"Mmmmmm".
"Oohh.. Aku pikir kamu hanya menyukai pekerjaan saja hehehe. Tidak usah melihat ku seperti itu, aku hanya bercanda saja. Mana ada orang tidak butuh hiburan, secinta apapun dia dengan pekerjaannya".