
Melihat Nadia memasuki apartemennya, si pria yang tadi membantunya masih saja berdiri disana sembari tersenyum tipis.
"Tuan" Panggil Nadia meletakkan kotak makanannya diatas meja.
David segera keluar dari dalam kamar dengan rambut basah sehingga aura ketampanan David terlihat sangat jelas di kedua mata Nadia, "Astaga, kenapa dia tampan sekali" Senyum Nadia dengan lebar.
David melihatnya dengan tatapan datar meskipun ia tau kalau Nadia baru saja mengagumi ketampanannya. "Apa yang sedang kamu lihat?".
"Astaga" Suara itu berhasil membuat Nadia mengehentikan halusinasinya. "Tidak, saya tidak melihat apa-apa. Ini tuan".
Begitu Nadia memberikan makan malam David, ia segera berlari menuju kamarnya. "Kamu mau kemana?".
"Saya mau mandi dulu tuan, setelah itu saya baru makan. Silahkan tuan yang duluan".
"Duduk".
"Hhhhmmmm?".
"Jangan buat saya mengulangi sampai dua kali".
"Baiklah" Angguk Nadia mengalah. Kemudian ia duduk diatas kursinya, dengan pelan-pelan Nadia melirik David yang sedang melahap makanannya.
"Jangan melihat ku seperti itu, kamu tidak akan kenyang".
"Uhuk.. uhuk..uhuk.."Kaget Nadia menutup mulutnya. "Sial, bagaimana bisa dia tau?" Batin Nadia.
Selesai David melahap makan malamnya, ia segera bangkit berdiri, "Syukurlah" Senang Nadia. "Lama-lama berada di dekatnya membuat ku tidak bisa fokus" Gumam Nadia yang masih bisa di dengar oleh David.
Kemudian David tersenyum tipis, lalu ia melihat Nadia yang masih belum menyadari dirinya masih berada disana. "Hhhrrrmmmm".
Nadia menghentikan tangannya, ia marasa kalau seseorang masih berada di hadapannya. Dengan pelan Nadia mengangkat wajahnya, "OMG heheheh.. Jangan pedulikan saya tuan, iya jangan perdulikan saya. Tadi saya itu hanya bergurau tidak jelas".
Tidak ingin memperpanjang masalah, David pun akhirnya pergi dari hadapan Nadia. Setelah itu Nadia menyandarkan tubuhnya sambil menarik nafas panjang. "Ayolah Nadia, kamu ini seorang polisi. Bagaimana mungkin kamu setakut itu kepadanya? tapi tunggu dulu. Apa aku barusan berkata kalau aku takut kepadanya? hahahaha.. Sepertinya aku sudah tidak waras. Nadia yang dulu tegas menjadi lemah di hadapan seorang David".
"Tidak bisa, ini tidak bisa di biarkan. Aku harus lebih tegas lagi, kalau tidak aku akan terus-menerus seperti ini".
.
Di kediaman keluarga Hendrawan, sang istri dan juga putri pertamanya itu sedang menikmati sarapan mereka masing-masing. "Pa" Panggil Elisa.
"Ada apa?".
"Lisa sudah putus pa".
"Maksud kamu?" Tanya Hendra.
"Mmmmm.. Lisa sudah putus dari Riwan".
"Kenapa sayang? bukankah sebentar lagi kalian berdua akan segera menikah?" Tanya Puspita.
"Riwan selingkuh ma, selama ini Riwan sudah selingkuh dibelakang aku. Jadi tolong mama sama papa jangan ikut campur lagi masalah hubungan Lisa".
Suami istri itu hanya bisa menghela nafas mengingat mereka yang sudah dekat dengan keluarga Riwan yang akan menjadi calon besan mereka. "Papa tidak tau alasan kamu putus dengan Riwan yang sebenarnya. Tapi papa harap kamu memperbaikinya lagi, jangan buat nama baik keluarga kita hancur oleh karna masalah seperti itu. Papa tidak suka jika suatu saat nanti kamu berakhir seperti adik kamu yang menikahi seorang pria tidak memiliki keluarga".
"Lalu kenapa papa menikahkan Nadia dengan pria itu".
"Papa tidak punya pilihan. Kamu tau sendiri, selama ini yang paling papa perjuangin hanyalah kamu. Tolong jangan sia-siakan harapan papa sama mama".
"Iya Lisa, cukup hanya adik kamu saja. Kamu pikir mama sama papa enggak malu punya menantu yang tidak memiliki orang tua. Mau di taruh dimana nama baik keluarga kita".
"Intinya Lisa tidak akan mau kembali berhubungan dengan Riwan. Lisa capek pa ma" Kesal Elisa langsung berangkat kerja.
__ADS_1
Puspita melihat Hendra, "Coba tanya nak Riwan yang sebenarnya pa".
"Iya ma" Angguk Hendra.
Seberangkatnya Hendrawan ke kantor, Puspita menghubungi Nadia yang telah berada di kantor. "Iya ma" Jawab Nadia.
"Kamu sedang apa Nadia?".
"Kenapa ma? Nadia lagi sibuk".
"Tidak bisakah kita bicara sebentar, ada hal penting yang ingin mama bicarakan".
"Maaf ma, Nadia tidak bisa. Bagaimana kalau nanti saja sekitar jam 12 siang" Tawar Nadia.
"Baiklah kalau kamu tidak bisa".
"Maafkan Nadia ya ma".
"Mmmmmm".
Begitu Puspita mematikan ponselnya, Nadia merasa sangat bersalah kepada ibunya telah mengabaikan panggilan sang ibu, "Hhhmmsss, sepertinya mama terlihat kesal".
"Siapa Nad?" Tanya Zico.
"Mama Zico. Mama mengajak ku bertemu sebentar".
"Kenapa kamu tidak pergi saja?".
"Hey, apa kamu sudah melupakannya?".
"Tidak apa-apa. Lagian kamu tidak pakai baju dinas. Pergilah, pekerjaan kita tidak terlalu banyak".
Nadia memikirkan apa yang baru Zico ucapkan dan ada baiknya juga ia menemui Puspita, "Baiklah, kalau gitu aku pergi dulu. Pak Bayus dimana Co?".
"Pak" Panggil Nadia.
"Mmmmm.. Ada apa Nadia?".
"Itu pak, saya bisa izin sebentar?".
Bayus melirik jam tangannya, "Jam 10 kita ada meeting. Kamu bisa kembali sebelum jam 10?".
"Sepertinya tidak bisa pak. Kalau gitu saya tidak jadi izin".
"Kenapa? kamu masih punya waktu sekitar 40 menit lebih. Pergilah".
"Kalau gitu saya permisi dulu pak".
"Mmmmmm".
"Siapa?" Tanya rekan kerja Bayus.
"Anak baru".
"Oohhh".
Begitu Nadia memasuki taksi, ia langsung menghubungi nomor ponsel Puspita. "Hallo ma, Nadia sedang menuju kerumah".
"Bukankah kamu sedang sibuk?".
"Tidak ma, mama dirumahkan?".
__ADS_1
"Iya".
"Nadia sebentar lagi sampai ma".
25 menit perjalan menuju rumah kedua orang tuanya, kini taksi yang membawa Nadia telah tiba disana, "Berapa pak?".
"50 ribu nona".
"Ini pak, terima kasih".
"Sama-sama nona".
Nadia segera masuk kedalam menemui Puspita yang telah menunggunya di ruang keluarga. "Nyonya ada diruang keluarga nona" Beritahu salah satu pelayan disana.
"Iya bi" Senyum Nadia menghampiri Puspita sedang menikmati secangkir teh hangat. "Ma" Panggilnya.
Puspita tersenyum, "Duduklah, ibu sudah menyiapkan teh untuk mu".
"Terima kasih ma" Duduk Nadia di hadapan Puspita.
"Apa kabar mu nak?".
"Baik ma. Mama apa kabar?".
"Baik, sebenarnya mama memanggil mu kemari hanya ingin tau kabar kamu yang sebenarnya. Kamu tidak sedang sibuk kan? Lalu bagaimana dengan suami mu? apa rumah tangga kalian baik-baik saja?".
"Baik ma" Jawab Nadia.
Kemudian Puspita melirik Nadia dari atas sampai bawah, disana ia tidak menemukan bekas luka kekerasan. Namun saat tangan kanan Nadia menyisikan anak rambutnya, ia melihat kelima jari Nadia yang lebam dan juga keningnya yang terluka. "Nadia, tangan kamu kenapa? dan juga kening kamu?".
"Aahhh.. Ini tidak apa-apa ma. Kemarin Nadia tidak sengaja terjatuh sampai membuat kening ku terluka".
"Lalu jari tangan kanan mu?".
"Terhimpit di pintu ma heheheh".
"Kamu yakin? suami mu tidak melakukan kekerasan kepada mu kan?".
"Tidak ma, dia tidak pernah melukai Nadia".
Puspita bukannya percaya, ia malah berpikir macam-macam kalau David telah melukai dia selama ini, tetapi Nadia mencoba menyembunyikannya dari mereka. "Nadia".
"Iya ma".
"Kalau terjadi apa-apa dengan rumah tangga mu, mama harap kamu harus kuat menghadapi kenyataan menjadi seorang istri dari David".
"Iya ma, mama tidak usah khawatir".
"Mmmmmm".
"Kalau gitu Nadia pulang dulu ya ma. Maaf karna Nadia tidak bisa lama-lama di luar".
"Iya. Kamu hati-hati dijalan nak. Aahh tunggu sebentar, mama ada sesuatu untuk mu. Bi, tolong ambilkan bekal yang tadi saya siapkan".
"Ini nyonya".
Lalu Puspita memberinya ditangan Nadia, "Jangan lupa jaga kesehatan ya".
"Mama juga".
"Iya sayang".
__ADS_1
"Nadia pulang ma".
"Mmmmm" Angguk Puspita melihat punggung Nadia yang sudah menjauh dari hadapannya.