
Namun bukannya meletakkan benda tersebut, Nadia malah menggenggamnya semakin erat siap menembak David. "Baiklah kalau kamu tidak ingin melepaskan benda itu" David pun langsung mendekatinya tampa perasaan takut sama sekali kalau saja Nadia menarik pelatuknya, tetapi Nadia malah melangkah mundur sambil menodong pistol itu kearahnya.
"Berhenti disana David, jangan bergerak" Bukannya menjawabnya, David tetap mendekatinya. "Aarrkkhhh...!!".
BBRRAAKK..
Nadia melemparkan benda tersebut ke sudut ruangan, lalu mendorong tubuh David berlari dari sana. "Nadia tunggu" Namun Nadia telah duluan keluar, ia pun segera menyusulnya. Hingga kini David telah berada di loby, tetapi ia tidak menemukan bayangan Nadia. "Aarrkkhhh, apa kamu akan melakukannya?" Gumam David mengusap wajahnya kasar.
Setelah itu David kembali memasuki apartemennya. Ia melihat pistol yang tadi Nadia lempar, kemudian menyimpannya ditempat semula. Lalu David mengeluarkan sebatang rokok, ia membawanya keatas balkon dan juga sebotol alkohol.
Sambil menikmati angin malam disana, David melihat kebawah. Ia melihat banyaknya kendaraan dan juga manusia yang berlalu lalang. "Nadia!" Gumam David.
.
Di sebuah gudang tua Gery dan Yanto sedang berada di atas sofa usang sambil menunggu Nadia sadar dari tidurnya. "Semakin di pandangi cantik juga wanita itu" Senyum Gery menghisap rokoknya.
"Kamu menyukainya?".
"Tidak, aku hanya ingin mencicipinya saja dan juga penasaran dengan reaksi yang akan David tunjukan kepada ku kalau saja aku melakukannya" Yanto tersenyum, "Lalu bagaimana dengan mu? kamu yakin tidak menyukai wanita itu juga?".
"Sejak kapan aku mulai tertarik dengan wanita?".
"Benar, aku baru ingat kalau kamu tidak tertarik dengan wanita. Sekarang bangunkan dia" Yanto berjalan mendekati Nadia, ia meminta kepada bawahannya itu membawakan satu ember air.
"Ini tuan" Berinya ditangan Yanto. Tampa berperasaan, Yanto pun menyiram air tersebut tepat diwajah Nadia.
BBYYUURRR..
"Aahh.. Uhuk uhuk uhuk" Batuk Nadia tersadar membuka mata. Lalu ia melihat pria yang berada dihadapannya dengan mata terkejut. "Yanto, apa yang sedang kamu lakukan disini?".
Yanto tersenyum, "Selamat datang di dunia ku Nadia" Jawabnya.
"Maksud kamu?" Nadia melihat sekitarnya. Ia melihat pria yang tadi siang ia lihat di kantin sedang tersenyum kepadanya dan juga pria-pria bertubuh besar sedang berdiri di setiap sudut. "Kamu siapa sebenarnya Yanto? kenapa kamu bisa bersama dengan mereka".
Kemudian Gery menghampiri mereka, ia membungkukkan tubuhnya dihadapan Nadia dengan senyum manis sambil menyentuh dagu Nadia. "Kamu masih mengingat ku nona cantik?".
"Aku tidak mengenal kalian siapa? sekarang juga lepaskan aku" Jawab Nadia berusaha melepaskan pengikat tali di tangannya.
__ADS_1
"Tidak semudah itu nona cantik. Kami membutuhkan kamu untuk membunuh bajingan itu" Tawa Gery mendudukan diri diatas kursi yang baru saja Yanto berikan. "Kamu cantik dan polos, pantas saja David sangat mencintai mu, dan terima kasih sudah menunjukkan kelemahan David".
"Lepaskan aku, aku tidak mengenal kalian siapa" Ucap Nadia kembali berusaha melepas pengikatnya.
"Nona cantik tenanglah, begitu kami mendapatkan David. Aku berjanji akan melepaskan mu. Bersabarlah, atau kamu ingin mendengar suaranya? aku rasa kamu ingin mendengar suaranya. Yanto berikan ponsel ku".
"Sebentar" Yanto mengambil ponsel Gery yang terletak diatas meja. Lalu ia memberikan ditangan Gery. Gery pun langsung menghubungi nomor ponsel David.
DDDRRRTTTTT... DDDDRRRTTTTT...
"Sial, kenapa dia tidak mengangkat ponselnya?".
DDDRRRTTTTT... DDDDRRRTTTTT...
"Bajingan, angkat ponsel mu" Umpat Gery mulai marah melihat Nadia yang sedang menutup mata.
"Kumohon, kumohon jangan angkat ponsel mu, kumohon" Ucap Nadia dalam hati.
Gery tertawa kecil meremas ponselnya melihat Nadia, "Yah, lihat kemari" Nadia membuka mata, ia melihat Gery yang sedang tertawa mengejeknya bercampur perasaan sangat marah saat David mengabaikan panggilannya. "Kamu tau alasan dia tidak mengangkat ponselnya?".
"Aku tidak tau dan aku tidak mau tau" Jawab Nadia.
Nadia menyeringai, "Untuk apa aku perduli dengan manusia iblis seperti dia hhmm? tidak ada gunanya. Dan kalian juga ternyata sama dengannya, sama-sama iblis yang menjelma jadi manusi..
PPPLLLAAAKKK..
Dengan sangat marah Gery langsung menampar wajah Nadia. Lalu ia tertawa melihat sudut bibir Nadia yang berdarah. "Yanto, kamu video ini" Ucapnya memberikan ponselnya.
"Dasar setan" Umpat Nadia melihat kedua orang itu.
"Apa?" Gery menarik rambut panjang Nadia.
"Aahhh" Ringis Nadia menjerit kesakitan.
Gery tersenyum senang, "Sakit? apa rasanya sangat sakit?".
"Lepaskan rambut ku bajingan".
__ADS_1
"Hahahha" Gery menarik rambut Nadia kembali, kemudian mencium aromanya yang sangat wangi di penciumannya. "Hhhmmsss, aku sangat menyukai aroma rambut mu. Dan sepertinya tubuh mu juga sangat wangi. Boleh aku menciumnya?".
"Ccuuiihhh" Tidak sudih disentuh oleh Gery, Nadia langsung meludahi wajahnya Gery. "Berani-beraninya kamu ingin menyentuh ku bajingan, kamu pikir kamu siapa?" Ucap Nadia tajam. Lalu Gery melap ludah tersebut dari wajahnya, dan dengan sangat marah ia melihat Nadia yang sama sekali tidak merasa menyesal.
"Dasar wanita jal*ng" Teriaknya menampar Nadia lagi.
PPPLLLAAAKKK... PPPLLLAAAKKK...
"Aahh, kamu merekamnya?" Tanyanya melihat Yanto.
"Mmmmm".
Gery menarik rambut itu kembali semakin kuat sampai membuat Nadia semakin meringis kesakitan. "Baru kamu wanita pertama yang sudah berani meludahi wajah ku, sekarang kamu harus menebusnya dengan tubuh mu" Gery menyentuh wajah Nadia sampai leher.
"Singkirkan tangan mu itu bajingan" Umpat Nadia ingin meludahinya lagi, namum Gery telah duluan menutup mulut itu menggunakan kedua bibirnya. "Mmpphhhmm.. mmmpphhhhmm" Berontak Nadia mencoba melepaskan ciuman Gery, hingga pada akhirnya Nadia menggigit lidahnya sampai berdarah.
"Aarrrkkhhh" Teriak Gery langsung melepaskan ciumannya melihat lidahnya yang berdarah. Lalu Gery menampari wajah Nadia sampai ia merasa puas. Setelah itu Gery meninggalkannya disusul oleh Yanto dari belakang. "Berikan" Mintanya di ponselnya.
"Sebaiknya kamu mengobati luka itu".
"Tidak perlu" Yanto memberikan ponsel itu ditangan Gery, namun ia terlebih dahulu menontonnya sebelum ia mengirim kepada David dengan senyum mematikan. "Hahahha, aku penasaran akan semarah apa David kalau sampai dia melihat video ini" Tawa Gery langsung mengirim.
Kemudian ia meminta kaca, ia melihat lidahnya yang tadi Nadia gigit sampai berdarah. "Wanita sialan itu, aku hampir saja ingin membunuhnya kalau saj...
DDDDRRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Ponsel mu berdering" Beritahu Yanto melihat nomor David.
"Wah, cepat sekali dia menontonnya" Tawa Gery melihat jam yang masih menunjukkan pukul 11 malam. Ia segera mengeser tombol hijau di ponselnya. "Dav...
"Gery" Teriak David dari sebrang sana mengepal tangan.
"Aaiiss, tidak bisakah kau mengecilkan suara mu? kamu hampir saja memecahkan gendang telinga ku David" Seringai Gery melihat kearah Nadia yang sedang melihatnya dengan tatapan sangat marah. "Dia suami mu, sepertinya dia sangat marah sampai ingin membunuh ku".
"Gery" Teriak David kembali.
"Apa? istri mu sangat menggemaskan sekali David, tapi dia sedikit kasar sampai lidah ku berdarah, kamu pasti sudah melihatnya".
__ADS_1
"Gery, seujung kuku saja kamu berani menyentuhnya lagi, aku benar-benar akan membunuh mu. Sekarang katakan pada ku kamu dimana? dia bukan target mu tapi akulah target mu".
"Benar, dia bukan target ku. Tapi kalau aku tidak membawanya kemari, aku pasti tidak bisa membunuh mu. Kalau kamu ingin menyelamatkan wanita ini, temui aku di alamat ini, terserah kamu mau membawa kedua bocah itu atau tidak, sebelum pukul 10 pagi kamu sudah berada disini" Gery mematikan ponselnya tertawa.