Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 18


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, dengan mata memerah Nadia melihat pantulan wajahnya di depan kaca kamarnya. "Astaga, mata ku" Tidak ingin membuang-buang waktu yang sangat berharga, Nadia langsung menaiki tempat tidurnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Nadia benar-benar tertidur pulas tampa beban.


Sedangkan David yang sudah merasa mendingan, ia segera terbangun dari tidurnya begitu jam menunjukkan pukul 8 pagi. Kemudian David memasuki kamar mandi, di depan cermin ia melihat wajahnya yang kusam. Setelah itu, David segera membersihkan tubuhnya. 16 menit berada disana, David langsung keluar.


DDDDRRRTTTTT... DDDRRRRTTTTT...


"Mmmmmm" Gumam Nadia menyambar ponselnya.


"Nadia, kenapa kamu tidak menjawabnya sedari tadi?" Tanya Zico.


"Ada apa? aku sangat mengantuk sekali Zico".


"Apa?".


"Aaiiisss.. Tidak bisakah kamu memelankan suara mu?".


"Jadi kamu masih tidur? kamu tidak melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi lewat".


"Hhhmmmm? Apa? Kamu serius?" Nadia membuka kedua mata. Lalu ia melihat jam ponselnya, "OMG.. Aarrrrkkkhhh" Nadia berlari ke kedalam kamar mandi sampai membuat David yang bisa mendengar suara jeritan Nadia dibuat terkejut saat ia memakai jasnya.


Setelah itu, David keluar dalam kamar menuju dapur. Disana ia melihat sebuah botol berisi air terletak diatas meja, "Selamat pagi tuan, maafkan aku tidak bisa membuatkan tuan sarapan pagi ini. Aku berangkat" Dengan buru-buru Nadia meninggalkannya.


Tampa ia ketahui David yang baru saja tersenyum tipis melihat wajahnya yang terlihat sedikit menggemaskan bagi dirinya, "Wanita itu" Gumam David melihat botol itu kembali. Kemudian ia mengerutkan keningnya sambil mengingat kejadian semalam, dan lagi-lagi David menunjukkan senyum tipisnya, "Apa dia benar-benar berusaha mendekati ku?".


DDDRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT..


"Alexa..?" Gumam David. "Mmmmm?".


"Kamu dimana?".


"Ada apa?".


"Hari ini aku berencana mencek kandungan ku ke rumah sakit".


"Lalu?".


"Sebagai ayah dari bayi ini kamu harus menemani ku kerumah sakit David".


David menghela nafas sambil menyentuh kepala penutup botol, "Apa kamu akan sejauh ini?".


"Maksud kamu?".


"Apa kamu akan pergi sejauh ini memperjuangkan bayi itu?".


"Kamu..!!" Geram Alexa di pendengaran David.


"Baiklah, aku akan menjemput mu".


"Aku akan menunggu mu" Begitu Alexa mematikan ponselnya. David segera keluar dari dalam apartemen menuju hotel tempat Alexa tinggal. 20 menit menempuh pejalan, kini David telah tiba di hotel, disana ia melihat Alexa tengah menunggunya di depan loby dengan kaca mata hitam dan juga penutup kepala supaya orang disana tidak mengenali dirinya.


Tin.. Tin..

__ADS_1


Mendengar suara klakson, Alexa langsung melihat kearah sumber suara sambil tersenyum. Tidak ingin berlama-lama, ia segera berjalan menghampiri mobil David, "Akhirnya kamu datang juga".


"Mmmmmm" Gumam David.


"Kita kerumah xx Dav, dokter kepercayaan ku berkerja disana".


Tampa ingin bicara, David menjalankan mobilnya meskipun Alexa selalu mengajaknya mengobrol hal-hal yang ia rasakan saat hamil muda saat ini. "Dav, pagi ini aku mual-mual terus. Tidak bisakah kamu merawat ku?".


David terdiam.


"Kenapa kamu tidak menjawab ku Dav?".


"Kita sudah tiba" David keluar dari dalam mobil. Sedangkan Alexa yang masih berada di dalam mobil dibuat kesal dengan sifat David yang sedari tadi mengabaikan dirinya.


Tok.. Tok..


"Ayo keluar".


Alexa membenarkan pakaiannya, setelah itu ia keluar dari dalam mobil. Kemudian ia tiba-tiba merasa mual, "Mmmppphhhh.. Mmmppphhhmmm.. David, aku ingin muntah".


David melihat sekitarnya, disana ia tidak menemukan toh sampah. Kemudian David melihat Alexa kembali yang sedang menahan rasa mual, setelah itu David langsung mengangkat tubuhnya kearah kamar mandi yang berada di lantai basement. Begitu David melihat, ia menurunkan tubuhnya sambil membawa Alexa masuk kedalam meskipun ia melihat beberapa wanita berada disana. "Astaga, apa yang sedang dia lakukan di toilet wanita?" Bisik mereka.


"Sepertinya dia sedang membantu istrinya. Lihatlah, dia sedang muntah".


Mendengar mereka Alexa tersenyum senang dan semakin menjadi-jadi, "Sayang, kepala ku sangat pusing sekali. Bayi kita, hhuueeaakkhhh" Muntah Alexa lagi.


"Kasihan sekali dia, ayo" Sekeluarnya para wanita itu dari dalam toilet, David langsung menyeringai kepada Alexa yang sedang melihatnya dari pantulan cermin.


"Kalau kamu sudah selesai, sebaiknya kamu keluar".


Alexa terdiam mengepal kedua tangannya, lalu Alexa melap mulutnya. Dengan kesal ia segera keluar dari dalam sana bersama David yang berada di belakangnya.


Kini mereka berdua telah berada di dalam ruangan sang dokter, sambil menunggu Alexa selesai di periksa, David mendudukan diri diatas sofa, namun saat itu juga sang dokter meminta untuk berada di samping Alexa. "Tuan, untuk saat ini ibu Alexa harus menjaga kesehatan supaya kandungan ibu Alexa baik-baik saja".


"Maksud dokter?" Tanya Alexa dengan wajah sedih.


"Ibu hamil harus banyak istirahat dan juga jangan terlalu sering stres".


"Iya dok, akhir-akhir ini saya sering stres. Apa itu akan membahayakan bayi kami".


"Mmmmmm" Angguk sang dokter.


Alexa menghela nafas dengan wajah sedih, kemudian ia melirik David yang sedang menatapnya dengan wajah datar. "Apa yang sedang dia pikirkan? apa dia sekarang sudah sadar? kalau dia sudah sadar, itu artinya dia akan membawa ku tinggal bersamanya" Batin Alexa. Lalu Alexa melihat si dokter itu kembali, "Oohh iya dok, tidak bisakah dokter memberikan obat pengurang rasa mual? soalnya saya sudah beberapa hari ini tidak bisa makan. Lihatlah, tubuh ini sudah mengurus, padahal besok saya ada jadwal pemotretan".


"Saya akan memberikan obat pengurang rasa mual. Tapi saya harap ibu Alexa sebaiknya berhenti bekerja, karna ini hamil pertama ibu".


"Saya sih tergantung dengan dia" Ucap Alexa kepada David.


"Baiklah" Jawab David.


Alexa langsung menunjukan senyum bahagianya, "Yes.. Akhirnya aku dan David akan tinggal bersama meskipun David belum berniat menikah ku, tapi suatu saat nanti aku pasti bisa membuat dia menikahi ku. Kamu tunggu saja David".

__ADS_1


Sepulang dari rumah sakit, Alexa meminta David menepikan mobilnya ketika ia melihat si penjual rujak berada pinggir jalan. "Pak, rujaknya satu porsi. Kamu mau Dav?".


"Tidak".


"Satu porsi saja pak".


"Baik nona, tunggu sebentar".


"Mmmmmm" Angguk Alexa membuka kaca mata hitamnya.


"Astaga, maaf" Tegur seorang wanita hamil yang juga berada disana.


"Iya?".


"Sepertinya aku mengenal mu. Apa kamu model yang bernama Alexa?".


"Ck, kenapa dia harus membuat suasana hati ku kesal?" Gumam Alexa yang masih bisa di dengan olehnya.


"Apa?".


"Tidak" Senyum Alexa dengan terpaksa.


"Oohh.. Boleh tidak aku meminta tanda tangan mu? aku sangat mengagumi mu".


"Mmmmmm".


"Terima kasih, tunggu sebentar" Ia meminta kepada suaminya untuk mengambil sebuah spidol dari dalam tasnya dan juga dompet yang baru ia beli. Dengan senyum mengambang di wajahnya, ia memberikan spidol tersebut kepada Alexa, "Tolong tanda tangani disini, dompet ini baru tadi aku beli dan sekarang aku bertemu dengan ku. Terima kasih banyak".


"Sama-sama" Balas Alexa.


"Satu lagi, bisakah suami ku mengambil gambar kita berdua?".


Alexa menghela nafas lelah, melihatnya seperti itu suami dari wanita itu langsung melarang sang istri. "Tidak apa-apa, suami mu bisa mengambilnya".


"Sayang, tolong ambil gambar kami berdua" Dengan senyum mengambang diwajahnya ia berpose sumringah disamping Alexa.


Cekrek!


"Sayang, kamu cantik sekali" Beritahu suaminya.


"Benarkah?".


"Mmmmmmm".


"Omo.. Cantik sekali" Senangnya melihat Alexa. "Sekali lagi terima kasih, semoga hari-hari mu menyenangkan. Ayo sayang" Pergi mereka meninggalkan Alexa dan David.


Kemudian Alexa melihat sekitarnya yang tadinya ingin meminta tanda tangan juga, namun mereka membatalkan begitu mereka melihat wajah tidak suka Alexa. "Nona, rujaknya 25 ribu" Ucap si penjual memberikan ditangan Alexa.


"Mmmmm.. Kembaliannya ambil saja".


"Terima kasih nona".

__ADS_1


__ADS_2