
"Kamu menangis?".
"Tidak, sejak kapan aku menangis?" Nadia menyeka air matanya. Kemudian ia melihat David, "Tapi hati ku sakit".
David tersenyum, "Kenapa?".
"Aku juga tidak tau, tapi rasanya sangat sakit sampai aku tidak ingin berhenti menangis".
"Menangis lah kalau kamu ingin menangis".
Nadia menggeleng, "Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan mu. Aku yakin kamu akan menertawai ku, ck. Aku membenci mu David, sangat membenci mu. Kenapa sih kamu harus terlahir dengan wajah rupawan? atau kenapa kamu harus jadi orang kaya?. Kalau kamu terlahir jadi orang biasa, aku yakin kamu pasti akan mencintai ku, dan sekarang kamu selalu bersama dengan wanita cantik diluar sana hhhmmsss" Dengus Nadia menyambar minuman kalengnya.
"Aku haus sekali, jadi biarkan aku meminumnya juga ok. Aaarrrr.. rasanya bagaikan diatas awan hahahaha, aku ada-ada saja. David!" Panggilnya.
"Mmmmmm?".
"Bolehkah aku bertanya?".
"Mmmmmm".
"Benarkah kamu sama sekali tidak memiliki perasaan kepada ku?".
David terdiam menatapnya.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya? aku butuh jawaban kamu".
"Kamu mabuk Nadia".
Tersenyum, "Kalau saat sadar aku bertanya kepada mu aku pasti tidak punya keberanian. Disaat seperti inilah aku memiliki kesempatan untuk tau perasaan mu yang sebenarnya".
"Kamu mau tau?".
"Mmmmm.. Aku sangat ingin tau".
"Kamu yakin tidak akan sakit hati?".
Deng..
Nadia terdiam mendengar pertanyaan David yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. "Baiklah, kamu tidak usah menjawabnya lagi. Aku tau kamu belum bisa menerima ku, jadi waktu di rumah sakit itu hanya hahahahha, aku terlalu percaya diri sekali".
David tersenyum, "Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya Nadia kalau aku mencintai mu".
"Hhhmmm?".
"Aku mencintai mu".
__ADS_1
"Bohong, aku tidak percaya. Kamu pasti sedang membohongi ku" Kesal Nadia tertidur diatas meja. Lalu David berjalan kearahnya, dengan lembut ia menyisikan anak rambut Nadia yang mengenai wajahnya. Kemudian Ia membawa tubuh mungil tersebut kedalam kamarnya. "Jangan pergi" Gumam Nadia. "Kumohon jangan tinggalkan aku".
"Aku tidak akan pergi Nadia" Bisik David menyelimuti tubuh Nadia, setelah itu ia memandangi wajah damainya.
.
Pagi hari telah tiba, Nadia mendengar suara burung berkicau diatas udara membuat ia membuka kedua mata. "Hhooaamm" Uap Nadia merentangkan tangan. Kemudian ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi, lalu ia memasuki kamar mandi membasuh wajahnya.
Begitu selesai, ia memandangi wajahnya di depan cermin. "Astaga, mata ku mata panda. Bagaimana ini?" Gumam Nadia langsung teringat kejadian semalam. "Ooo" Dengan mata membulat Nadia keluar dari dalam kamar, ia melihat David baru pulang berolah raga. "Selamat pagi. Baru pulang?" Tersenyum.
"Mmmmmm" Gumam David berjalan ke dapur.
Nadia mengikutinya, ia melihat meja yang masih di penuhi sampah dan minuman kaleng yang ia minum semalam. "OMG, aku pasti berulah lagi" Kesal Nadia meremas rambut.
David tersenyum tipis, ia melihat Nadia yang masih meremas rambutnya. "Kamu kenapa?".
Nadia berjalan kearahnya, "Tuan David yang terhormat. Semalam tidak terjadi apa-apa kan?" David menaikkan sebelah alisnya. "Ayo katakan kalau semalam tidak terjadi apa-apa, aku mohon tolong katakan kata itu Aahhh".
"Semalam?".
"Mmmmmm".
"Kamu tidak mengingatnya?".
"Mmmmm.. Aku tidak mengingatnya, karna setiap kali aku mabuk aku pasti tidak mengingatnya" Jawab Nadia menunduk.
"Apa?" Kaget Nadia meninggikan suara.
"Mmmmm.. Kamu berkata kalau kamu sangat mencintai ku".
"Benarkah itu saja?".
"Mungkin saja, kenapa?".
"Syukurlah, aku takut aku melakukan hal yang aneh-aneh hehehehe" David menggeleng, lalu ia pergi meninggalkan Nadia ke dalam kamarnya. "Tapi aku merasa ada yang janggal deh, aku merasa ada sesuatu yang keluar dari bibirnya. Tapi apa yah?".
Dengan rasa penasaran Nadia mencoba mengingat kejadian semalam, namun ia malah semakin tidak mengingat apa-apa. Setelah itu ia segera membersihkan meja tersebut yang sangat berantakan.
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Pagi Nad!" Senyum Zico dari sebrang sana.
"Pagi Co. Ada apa?".
"Kalau kamu tidak sibuk aku ingin mengajak mu liburan ke pantai, hari ini teman ku dari luar negeri mengajak ku kesana".
__ADS_1
"Gimana yah Co. Sekitar jam berapa?".
"Pagi ini juga boleh Nad, mereka menginap di hotel dekat sana".
"Oohh.. Kalau gitu nanti aku akan memberitahu mu, tapi aku enggak bisa janji yah Co".
"Iya Nad".
Nadia kembali melanjutkan pekerjaannya, setelah itu ia memasuki kamar David, disana ia melihat David sedang sibuk bekerja dengan laptopnya. "Ada apa Nadia?" Tanya David belum melihat ke arahnya.
"Kamu sedang sibuk?".
"Mmmmm".
"Ooo.. Hhrrmm boleh enggak aku keluar sebentar?" David menghentikan tangannya, ia melihat Nadia yang sedang berdiri di hadapannya dengan kening mengerut. "Itu, Zico mengajak ku ke pantai. Kemarin teman masa kecilnya baru kembali dari luar negeri. Boleh tidak aku pergi bersama? aku janji tidak akan lama".
David mengangguk, "Pergilah kalau kamu ingin pergi".
"Benarkah?" Senyum Nadia.
"Mmmmmm" David kembali fokus dengan pekerjaannya meskipun dalam hatinya ia merasa sangat kesal begitu Nadia meminta izinnya.
"Kalau gitu aku pergi dulu. Permisi" Nadia keluar dari dalam kamarnya, ia memandangi layar monitor laptopnya dengan tangan mengepal. Setelah itu David melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Nadia yang kini berada di dalam kamarnya, ia baru saja selesai memberitahu Zico kalau hari ini ia bisa pergi bersamanya.
"Pakai baju apa yah yang cocok?" Gumam Nadia mencari pakaian. Tidak lama kemudian, begitu ia menemukan pakaian yang cocok di tubuhnya, ia segera keluar dari dalam kamar. Namun sebelum Nadia melangkah keluar dari dalam apertemen, ia menyempatkan diri menatap kearah pintu kamar David, setelah itu ia langsung keluar.
Sesampainya Nadia dirumah Zico, sesuai dengan permintaannya. Ia mau kalau dia sendiri yang datang menghampiri rumahnya sekalian bertemu dengan orang tua Zico. "Selamat hari minggu tante om" Senyum Nadia menyalami tangan orang tua Zico.
"Selamat hari minggu Nadia, hari ini kamu cantik sekali" Puji mama Zico.
"Hehehe.. Terima kasih tan" Senang Nadia menunggu Zico turun dari dalam kamarnya.
Begitu Zico mengetahui Nadia sudah berada di dalam rumahnya, ia segera keluar dari dalam kamar. "Nadia" Panggilnya tersenyum lebar melihat Nadia sangat cantik. "Kamu sudah lama menunggu? maaf".
"Tidak kok, aku saja baru sampai".
"Kalau gitu kita berangkat sekarang yok. Ma pa, kami pergi dulu yah".
"Iya Co, kalian berdua hati-hati dijalan".
"Iya ma" Zico membawa Nadia keluar, lalu menyuruhnya masuk kedalam mobil.
"Kenapa kamu tidak bawa mobil biasa saja Co?".
"Tidak apa-apa" Jawab Zico masuk kedalam mobilnya. Kemudian ia melihat Nadia yang berada di sampingnya, "Terima kasih Nad, kalau nanti teman-teman aku suka bicara ngawur kamu tidak usah memperdulikan mereka ok".
__ADS_1
"Mmmmm.. Kamu tidak usah khawatir".
Zico tersenyum senang, ia pun segera menjalan mobilnya meninggal kediaman keluarganya menuju tempat yang ia tujuh.