
Seperginya Zico, Nadia langsung menatap mereka dengan tajam, "Apa buktinya kalau kakak saya menjual saya kepada kalian?".
Si pria bertato itu tersenyum sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lalu menunjukkan sebuah video kepada Nadia, dimana Elisa menerima uang sebanyak 1 tas kecil serta Nadia melihat Elisa menandatangi sebuah kertas putih atas isi surat dari perjanjian mereka. "Astaga kak Lisa" Lemas Nadia tak habis pikir dengan saudaranya itu.
"Sekarang kamu sudah percaya? bawa dia ke dalam kamar itu lagi".
"Siap".
"Tunggu" Tahan Nadia.
"Ada apa?".
"Boleh saya bertanya?".
Si pria bertato itu mengerutkan keningnya.
"Pria itu, siapa pria yang berada didalam kamar itu?" Tanya Nadia penasaran. "Sedang apa dia di situ?".
"Kenapa kamu bertanya tentangnya?".
"Tidak, saya hanya penasaran saja tentang pria itu".
"Jangan banyak bertanya. Cepat bawa dia" Mereka segera membawa Nadia kedalam kamar David kembali, disana ia melihat David tengah merokok dekat jendela. "Masuk" Dorong mereka di tubuh Nadia.
Kemudian Nadia mendekati David, dengan takut ia mencoba menyentuh lengan kekar David. "Tuan David" Panggilnya.
"Kenapa kamu kembali?" Tanya David.
Nadia merasa legah, "Tidak tau, mereka memaksa ku masuk kemari lagi. Terus, bagaimana dengan tuan? tuan tidak berangkat ke kantor".
"Tidak" Jawab David mengingat hari ini adalah hari rapat pemegang saham hotel A.
"Kenapa tuan? apa tuan masih merasa tidak enak badan?".
David langsung membalikan badannya menghadap Nadia, kemudian melirik jam tangannya, "Kamu tidak bekerja? bisa kamu ikut aku?".
"Apa?".
"Ayo" Tariknya membawa Nadia pergi dari dalam sana.
"Hhhmmm?" Heran Nadia melihat tangan David hanya mendorongnya saja pintu tersebut bisa terbuka, "Ba-bagaimana bisa pintu itu terbuka?".
Sekeluarnya mereka dari dalam kamar, beberapa pria bertubuh besar itu mendatangi David dan Nadia, "Tuan".
"Siapkan pakaian saya dan juga wanita ini" Perintah David.
"Baik tuan" Mereka segera menyiapkan pakaian David dan Nadia di dalam ruang ganti, setelah itu mereka menyuruh David masuk.
"Masuklah duluan".
"Mmmmmm" Angguk Nadia memasuki ruangan ganti, disana ia melihat sebuah gaun cantik tengah tergantung tepat di samping pakaian David. "Wah, gaunnya cantik sekali" Kagum Nadia dengan mata berbinar-binar. Setelah itu, Nadia segera mengganti pakaiannya.
Tidak ingin membuat David lama menunggu di luar, ia segera keluar dari dalam. "Sudah tuan".
__ADS_1
"Mmmmmm" David memasukinya.
Sambil menunggu David selesai, Nadia melirik ke arah pria berbadan besar itu dengan tatapan mata kesal. "Mereka pasti tidak tau kalau aku istrinya David, dasar bodoh" Umpat Nadia dalam hati.
Selesai David mengganti pakaiannya, mereka langsung pergi dari sana.
Di dalam mobil tidak ada suara, David dan Nadia memilih diam meskipun Nadia sedari tadi ingin mengajaknya mengobrol, namun tiba-tiba saja ia teringat kepada Zico. "Astaga, aku baru ingat. Tuan, bisakah saya meminjam ponsel tuan sebentar saja? kumohon".
David langsung memberinya, "Baik sekali dia langsung memberikan ponselnya. Baiklah, aku harus memberitahu Zico sebelum dia membawa polisi kesana" Batin Nadia.
DDDDRRRRTTTT.. DDDRRRTTTTTT...
"Kenapa Zico tidak menjawabnya?".
DDDDRRRRTTTT.. DDDRRRTTTTTT...
"Hey, ayo angkat Zico".
DDDDRRRRTTTT.. DDDRRRTTTTTT...
"Hallo" Jawab Zico.
"Akhirnya. Zico, ini aku Nadia, kamu tidak usah khawatir aku baik-baik saja".
"Nadia?".
"Mmmmmm.. Baterai ponsel ku habis, jadi aku meminjam ponsel orang lain. Kamu dimana?".
"Kami baru saja ingin berangkat, lalu kamu dimana Nad?".
"Benarkah? kamu tidak sedang membohongi ku Nad?".
"Ayolah, aku mengatakan yang sebenarnya. Jangan khawatirkan aku".
"Aku tidak akan percaya sebelum aku melihat wajah mu".
"Baiklah, aku akan melakukan panggilan video supaya kamu percaya" Nadia mengganti panggilan tersebut hingga wajahnya terpampang jelas di depan kamera ponsel David. "Bagaimana, apa kamu sudah puas?".
"Mobil siapa?".
"Mobil yang punya ponsel. Kalau gitu aku akhiri dulu yah, nanti aku akan menghubungi mu kemba..
"Nadia tunggu" Tahan Zico.
"Ada apa?".
"Kamu benar-benar baik-baik saja? aku melihat pakaian mu bukanlah pakaian yang tadi kamu gunakan".
"Tentu saja aku menggantinya, kamu mau papa sama mama ku khawatir?".
Zico tersenyum tipis, "Ya sudah, sampai dirumah kamu harus memberitahu ku. Aku akan mengizinkan mu kepada pak Bayus".
"Mmmmm.. Terima kasih Zico".
__ADS_1
"Iya, hati-hati dijalan".
Begitu Zico mematikan ponselnya, ia mengembalikan ponsel David, "Terima kasih. Tadi itu rekan satu kerjaan ku, aku takut dia khawatir, soalnya dia juga terjebak di tempat itu, tapi untung saja mereka melepaskan Zico".
David terdiam.
Sesampainya mereka di depan hotel A, Nadia melihat beberapa awak media sedang desak-desakan di depan pintu loby hotel. "Kenapa para media banyak sekali disana?" Gumam Nadia.
"Turun".
"Mmmmm".
Di depan mobil David melihat kearah loby, disana ia melihat beberapa pemegang saham tengah tersenyum manis di depan kamera dengan sombongnya. "Ada apa tuan?" Tanya Nadia, namun bukannya menjawab, David malah langsung pergi saja menuju loby dengan kaca mata hitamnya. "Ck, kenapa harus ditinggal sih? bukankah dia sendiri yang mengajak ku datang kemar.." Gantung Nadia melihat beberapa masyarakat datang ke hotel A dengan berpakaian serba kuning.
"Tuan" Tahan Nadia. "Itu, disana" Tunjuk Nadia kearah mereka.
David mengernyitkan dahi, ia tau kalau yang baru datang itu adalah para pengunjuk rasa. Setelah itu, David menghela nafas, lalu melangkah kembali. Tidak ingin bertanya, Nadia segera mengikuti David dari belakang.
Begitu David lolos dari media, Nadia tersenyum. "Ada apa?" Tanya David menghentikan langkahnya.
"Hhhmm? aahh.. tidak, aku hanya heran saja. Bagaimana bisa mereka tidak mengambil gambar mu atau mewawancarai mu tadi".
"Sekarang kamu sudah mulai berani yah menyebut ku kamu".
"Maaf".
"Hhhmmmsss.. Aku tidak suka di sorot".
"Mmmmmm" Gumam Nadia.
Di dalam aula, para media tengah sibuk mengambil gambar serta video kepada mereka yang akan menjadi pimpinan hotel A. "Tuan, apa hotel A seterkenal itu?".
"Diamlah".
Nadia menutup mulutnya, ia sadar yang sudah mulai berani kepada David. "Astaga, kenapa aku jadi merasa seakrab ini kepadanya" Senyum Nadia dalam hati.
Tidak lama kemudian, acara tersebut segera dimulai. Nadia melemparkan seluruh arah pandangan matanya kepada tamu yang hadir disana, namun saat itu juga ia melihat Hendrawan berada disana bersama dengan Robert. "Papa? sedang apa papa disini?".
Meskipun David mendengarnya ia memilih mengabaikan Nadia, hingga pada akhirnya Nadia memberitahunya, "Papa ada disana".
"Mmmmmm" Gumam David.
"Kamu sudah tau?".
"Mmmmmm".
"Oohh.. Aku pikir kamu belum tau. Lalu siapa paman yang di samping papa itu? kamu mengenalnya?".
David terlihat kesal, kemudian melihat Nadia yang merasa tidak bersalah, "Kalau kamu tidak bisa diam, sebaiknya kamu keluar dari sini".
"Maaf" Sesal Nadia.
Lalu David melihat kearah Hendrawan yang tertawa bersama dengan Robert dan yang lainnya membuat David merasa tidak suka berada disana. "Ada apa tuan?" Tanya Nadia menahan tangan David.
__ADS_1
"Tuan David, silahkan duduk" Ucap pimpinan hotel A itu tersenyum.
"Hhhmmmsss" David kembali duduk sambil melihat kearah Hendrawan dan Robert yang juga sedang melihatnya dengan wajah tersenyum.