Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 25


__ADS_3

Di dalam kamar Nadia tengah merias wajahnya di depan cermin, entah kenapa hari ini ia ingin sekali terlihat cantik untuk menyakinkan dirinya kalau suatu saat nanti David meminta cerai.


"David, kamu mau tau alasan aku menjadi seorang polisi wanita? itu semua karna aku ingin melindungi diriku sendiri dari orang seperti kamu. Aku bisa saja memasukkan mu ke penjara karna kamu telah berselingkuh di belakang ku, tapi aku tidak akan melakukan itu karna aku juga berbuat salah sebagai seorang polisi sudah menyembunyikan identitas diriku yang sudah menikah".


"Lalu apa yang akan aku lakukan? haruskah aku meminta dia menceraikan aku. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan seperti ini di hadapannya".


Lama berkata-kata sendiri, ia merasa lapar. "Dari pada memikirkannya, sebaiknya aku mengisi perut saja" Nadia keluar dari dalam kamar. Di dapur ia melihat David yang baru pulang membuka kulkas.


"Kenapa kamu berdiri disitu?".


Nadia terdiam, ia tidak ingin menjawab David.


Kemudian David tersenyum, lalu menahan tangan Nadia, "Lepaskan" Tegas Nadia menatapnya dengan tajam.


David menaikkan sebelah alisnya.


"Dasar bajingan" Umpat Nadia.


"Apa kamu baru saja mengumpat ku?".


"Kalau iya, kenapa?".


"Itu tandanya kamu ingin melihat ku marah".


Nadia menyeringai, "Silahkan. Wanita yang berada di depan mu ini bukanlah sembarang wanita yang bisa kamu permainkan dengan sesuka hati mu biar kamu tahu" David langsung mendorong tubuh Nadia dibalik pintu kulkas, "Aahhh" Pekik Nadia kesakitan. "Kamu..!!".


"Kenapa?" Senyum David menyentuh pipi Nadia. "Kamu berdandan?".


Dengan cepat Nadia menghempaskan tangan David, "Jangan pernah menyentuh ku, aku tidak sudih di sentuh pria seperti mu" Dorong Nadia di tubuh David. "Bajingan".


"Ini sudah kelima kalinya kamu menyebut ku bajingan. Apa kamu benar-benar tidak takut kepada ku?".


Nadia kembali menyeringai, "Sejak kapan aku takut kepada mu hhhmmm? kamu pikir selama ini aku takut kepada mu hahahhaha.. Kamu salah tuan David yang terhormat, aku tidak pernah takut kepada mu. Camkan itu" Nadia keluar dari dalam apertemen, ia benar-benar merasa sangat puas kepada dirinya, "Bagus Nadia, kamu melakukannya dengan benar".


Di dalam Loby, Nadia melihat banyak orang berlalu lalang di sana. Kemudian Nadia tertawa lalu menangis, "Aarrrhhh.. Kenapa aku jadi menangis sih?" Isak Nadia menutup wajahnya.


"Kenapa kamu harus menangisi dia Nadia?".


"Karna kamu mencintai pria itu" Jawab si petugas kebersihan dari belakangnya.


Nadia melap air matanya, lalu melihat siapa orang yang telah menjawabnya. "Maaf, anda siapa?".


Ia tersenyum, "Kamu tidak melihat ini?" Tunjuknya kearah troli sampah. "Jangan menangis disini, kamu bisa membuat tempat ini banjir" Perginya meninggalkan Nadia.


"Apa? banjir?" Nadia merasa terhibur. "Wanita tua itu benar-benar" Geleng Nadia melap air matanya.


"Ini" Si wanita tua itu kembali lagi memberikan Nadia minuman kaleng.

__ADS_1


Nadia mengerutkan keningnya.


"Terimalah, rasanya sangat enak".


"Tidak, terima kasih".


"Minumlah, gadis muda seperti mu tidak sopan menolak pemberian orang tua yang lebih tua dari mu" Berinya ditangan Nadia. Lalu ia melihat sofa dekat tembok, "Kemarilah" Tariknya membawa tangan Nadia.


"Apa ini? Kenapa anda menarik tangan saya".


"Sshhuueettt.. Duduklah, aku akan memberimu beberapa nasihat" Nadia semakin merasa risih dengan wanita itu, "Ayo duduk".


"Hhhmmsss.. Saya tidak mengenal ibu siapa, tapi saya akan menghargainya".


"Gadis pintar. Ayo diminum".


"Mmmmmm" Gumam Nadia membuka penutup minuman kaleng, lalu meminumnya. "Kenapa ibu perduli dengan ku?".


"Karna kamu membutuh seseorang yang bisa mengerti kamu".


Nadia tersenyum meminum minuman kaleng itu lagi, "Bagaimana bisa ibu yakin kalau saya membutuhkan seseorang yang mengerti saya?".


"aku pernah merasakannya".


"Apa?".


"Lalu? apa ibu menyesalinya?".


"Sangat, aku sangat menyesalinya hingga pada akhirnya aku berakhir disini".


"Maksudnya?".


"Dia sakit dan pada akhirnya dia meninggal dunia".


"Aahh.. Meninggal" Gumam Nadia. "Tapi disini aku yang tersakiti, bukan aku yang telah menyakiti dia".


"Sama saja, jangan sampai kamu menyesalinya. Kesempatan tidak akan datang dua kali" Ucapnya bangkit berdiri. "aku pergi, semoga hari mu di penuhi kebahagian".


"Hey, ada apa dengannya? dia benar-benar sangat aneh. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu, padahal dia tidak tau siapa David yang sebenarnya dan yang telah dia lakukan selama ini di belakang ku. Kalau dia tau, mungkin dia juga akan merasakan apa yang aku rasakan" Dengus Nadia melihat minuman kalengnya, kemudian menatap lurus dengan tatapan kosong.


Dia atas sofa David tengah menikmati segelas alkohol dengan tv menyala meskipun ia tidak menontonnya.


DDDRRRTTTTT... DDDRRRRTTTT...


David melirik ponselnya, ia melihat panggilan itu tidak memiliki nama.


DDDRRRTTTTT... DDDRRRRTTTT...

__ADS_1


Pada akhirnya David mengangkat ponselnya, "Ini siapa?".


"Hahahahahahahha".


Mendengar suara tawa itu David langsung menjauhkan ponsel dari telinga, lalu melihat nomor itu, "Ini siapa?" Tanya David kembali.


"Kamu tidak perlu tau saya siapa" Setelah itu ia mengakhiri panggilan mereka.


David menatap layar ponselnya, namun David yang tidak ingin membuat kepalanya pusing ia memilih mendiamkannya.


Ceklek!


"Kamu dari mana?".


"Kamu tidak perlu tau saya dari mana. Lalu kenapa kamu disini? kenapa kamu tidak pergi kepada wanita itu?".


"Kamu cemburu?".


Nadia tertawa, "Apa? cemburu? yang benar saja saya cemburu dengan pri.." Gantung Nadia begitu David menatapnya dengan tajam. Lalu David menghampirinya, "Ka-kamu sedang apa? jangan mendekat. Aku bilang jangan mendekat".


"Kamu takut?" Kesal David semakin mendekati Nadia.


"Takut? hahahha.. Siapa bilang aku takut kepada mu, bahkan sekarang aku ingin memukul mu".


"Memukul ku? kamu yakin?" Hentinya di hadapan Nadia. "Ayo pukul".


Nadia mengulum bibir mengepal kedua tangannya.


"Ayo pukul" Nadia langsung melayangkan tangan kananya di atas udara, namun sampai disana saja. David tertawa mengejeknya, kemudian Nadia menutup kedua mata, dengan keputusan bulat yang telah ia buat, Nadia menarik kepala David hingga kedua wajah mereka sangat dekat.


"Nadia kamu bisa, kamu harus mengetahui perasaan mu yang sebenarnya" Nadia menciumnya, tetapi ia tidak merasakan sesuatu yang tadi wanita itu ucapkan.


Dengan pelan Nadia membuka mata, "Apa ini?".


"Ck, maafkan aku" Tunduk Nadia.


Lagi-lagi David tersenyum mengejeknya, "Angkat kepala mu".


"Maafkan aku, aku hanya ingin memastikan sesuatu saja".


"Aku bilang angkat kepala mu" Nadia segera mengangkat kepalanya, "Apa yang ingin kamu pastikan?".


"Tidak" Jawabnya. Nadia yang merasa malu, ia berlari dari hadapan David. Tetapi tangan kekar David dengan cepat menahan pergelangan tangannya hingga ia bisa merasakan hembusan nafas David. "Ke-kenap.." Gantungnya begitu David mencium bibirnya dengan panas.


Hampir 1 menit lamanya, Nadia tidak merasakan sesuatu yang berbeda, ia pun langsung mendorong tubuh David. "Maaf".


Menyeringai, "Jangan melakukan kesalahan ini lagi kalau kamu tidak ingin terjadi sesuatu kepada mu" Bisik David. Setelah itu ia memasuki kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2