
Kemudian Nadia melirik Tiara yang sedang membersihkan bekas piring kotor mereka, "Tiara" Panggilnya.
"Iya nona?".
"Selesai ini, kamu boleh pulang. Aku yakin kamu pasti punya pacar" Tersenyum.
Tiara langsung tertawa kecil, "Tidak nona, aku tidak memiliki kekasih".
"Benarkah? masa iya gadis secantik kamu tidak memiliki kekasih? aku tidak percaya".
"Aku mengatakan yang sebenarnya nona, selama aku berada di kota ini aku belum pernah memiliki kekasih".
"Wah.. Sebenarnya lebih bagus sih, kamu tau sendiri hidup di kota itu sangat menakutkan".
"Tapi aku menyukai seseorang nona".
"Apa? siapa?" Tanya Nadia penasaran.
Tiara tersenyum tipis, "Dia laki-laki yang tidak akan bisa aku gapai".
"Kenapa?" Semakin penasaran Nadia.
"Tidak ada nona, memikirkannya membuat hati ku sakit".
Nadia mendengus, ia tau rasa sakitnya mencintai hanya sepihak. Lalu Nadia mengingat Zico yang selama ini telah mencintainya, tapi ia juga tidak bisa memaksakan diri untuk mencintai orang yang sama sekali tidak ia cintai. "Kamu yang sabar yah, mungkin sebaiknya kamu harus melupakan dia kalau dia adalah pria yang tidak bisa kamu gapai dari pada nantinya kamu sakit hati".
"Kenapa aku harus melupakan dia? sebelum dia bersama dengan wanita itu, aku telah duluan mencintai dia".
"Maksud kamu?".
"Mmmmm.. Dia pria yang kini sudah beristri" Jawab Tiara ketus.
Nadia terkejut, entah kenapa pikirannya tiba-tiba memikirkan mengenai dirinya begitu Tiara mengatakan kalau pria yang ia sukai itu telah beristri. "Tapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kalau dia sudah menikah sebaiknya kamu lupakan saja. Diluaran sana masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik darinya".
"Tidak ada, laki-laki yang jauh lebih baik darinya tidak ada. Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskannya, aku akan lebih berusaha lagi membuat dia mencintai ku" Ujar Tiara menyeringai, setelah itu ia pergi meninggalkan Nadia.
Sedangkan Nadia yang baru saja Tiara tinggalkan ia langsung bergidik ngeri melihat Tiara tiba-tiba sedikit menakutkan. "Ada apa dengannya? harusnya enggak gitu juga ia masih mencintai pria yang sudah beristri. Kan istrinya kasihan juga kalau sampai suaminya meninggalkannya" Gumam Nadia.
Berada di dalam kamar Nadia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia menatap kearah jendela kaca sambil menikmati pemandangan kota, "Sedang apa dia?".
"Apanya sedang apa?".
"Astaga" Kaget Nadia melihat David memasuki kamarnya. "Sedang apa kamu kemari?".
"Aku tidak bisa datang kemari?".
"Aahh.. Bukan seperti itu, aku pikir kamu sudah pergi".
"Kemana?".
"Yang tadi menelpon mu. Bukankah dia memanggil mu?".
David tersenyum tipis mendudukan diri disamping Nadia, lalu ia menyentuh kepalanya dengan sayang. "Kamu memikirkan apa?".
__ADS_1
"Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa" Geleng Nadia mengulum senyuman. "Oohh iya..
"Apa?".
"Mmmmmm" Bingung Nadia mau mengatakan apa. "Itu, bagaimana tanggapan kamu kalau seorang wanita menyukai pria yang sudah beristri?" David menaikkan sebelah alisnya, ia sedikit heran kepada Nadia yang tiba-tiba menanyakan hal seperti itu, "Hahahah.. Bukan apa-apa sih, aku hanya ke ingat Tiara saja. Tadi dia memberitahu ku kalau dia sedang menyukai pria yang sedang beristri".
"Terus?".
"Lupakan saja. Tadi aku hanya ingin tau saja apa tanggapan mu".
"Tidak ada yang salah kalau dia menyukai pria yang beristri".
"Apa?".
"Mmmmm.. Hal wajar kalau di menyukai lawan jenisnya".
"Aaiiss" Kesal Nadia.
David tertawa.
"Kenapa?".
"Tidak, aku hanya ingin tertawa saja".
"Ck, kamu menyebalkan sekali. Aku serius bertanya kamu malah berkata kalau itu hal yang wajar. Berarti kamu...
"Berarti apa?".
"Kamu tidak masalah kalau wanita lain menyukai mu".
"Aahh.. Terserah kamu saja, aku lelah sekali, biarkan aku istirahat".
"Sayang sekali, padahal aku datang kemari ingin mengajak mu ke suatu temp..
"Kemana?" Potong Nadia langsung melihatnya.
David tertawa, "Tadi bukannya kamu ingin beristirahat?".
"Hehehehe.. Maaf. Ayolah, bukannya kamu tadi ingin mengajak ku ke suatu tempat?".
"Iya, tapi..
"Kalau gitu aku siap-siap dulu" Nadia berlari menuruni tempat tidur, ia segera mengganti pakaiannya. Setelah itu ia menghampiri David yang masih berada di dalam kamarnya, "Bagaimana?".
"Bagus, ayo".
"Ok" Senang Nadia menyambar lengang David. Lalu ia tersadar, ia pun melepaskan tangan David. "Maaf, aku terlalu bersemangat".
"Tidak apa-apa" Mereka berdua keluar dari dalam kamar tampa mereka ketahui kalau Tiara sedang melihat mereka dengan tatapan marah.
"Tiara, kami keluar dulu yah. Kalau sudah selesai kamu pulang saja" Ucap Nadia.
"Iya nona" Sekeluarnya mereka dari dalam apertemen. Tiara mengepal tangan dengan perasaan cemburu melihat Nadia dan David sangat dekat. "Tidak, tidak boleh seperti ini" Gumam Tiara.
__ADS_1
Kini David dan Nadia telah berada di dalam mobil, dengan senyum mengambang di wajah Nadia sekali-kali ia melirik David yang sedang fokus menyetir. "Wah, sudah sangat lama sekaki aku tidak pernah menikmati jalan sore lagi. Bisakah kamu membuka penutup mobil ini? akan lebih menyenangkan kalau.." Gantung Nadia begitu David membukanya. "Terima kasih".
Nadia berdiri, ia merentangkan kedua tangannya, ia terlihat sangat menikmati perjalan tersebut tampa memperdulikan pengendara lain yang sedang memperhatikannya. "Hentikan, nanti kamu jatuh" Ujar David melihat Nadia.
"Tidak apa-apa, biarkan aku seperti ini" Teriak Nadia masih saja merentangkan kedua tangannya.
"Nanti kamu bisa terluka Nadia" Balas David menepikan mobilnya. "Duduk".
"Kenapa?".
"Duduk Nadia".
"Ck, kamu tidak asik" Kesal Nadia menuruti perkataan David. Kemudian David menutup penutup mobilnya, "Kamu benar-benar tidak asik" Gumamnya.
"Diamlah, aku tidak perduli" Balas David kembali menjalankan mobilnya.
.
Sesampainya mereka di tempat tujuan, David dan Nadia keluar dari dalam mobil. Lalu David membawa Nadia masuk ke dalam taman tersebut yang selama ini sudah menjadi tempat biasa David bersama dengan Bagas dan Vincen.
"Sepertinya kamu sudah sering datang kemari?".
"Mmmmmm".
"Bersama siapa?".
"Tidak perlu kamu tau".
"Pastinya. Dan aku yakin kamu datang kemari bersama dengan wanita".
David tersenyum, ia tau kalau Nadia saat ini sedang menunjukkan perasaan cemburu, namun ia memilih diam dari pada menanggapi apa yang baru saja keluar dari dalam mulut Nadia.
Kemudian seseorang datang menghampiri mereka, "Selamat datang tuan, sudah lama tidak kemari lagi".
"Mmmmm.. Pekerjaan ku terlalu banyak sehingga aku tidak punya waktu datang kemari lagi".
"Oohh" Senyumnya melihat Nadia. "Dia siapa tuan? cantik".
Nadia tersenyum manis, "Kenalin nama ku Nadia".
Si pria itu melirik David, "Lalu kamu siapanya tuan David?".
"Dia istri ku" Jawab David.
Duar..
Bagaikan disambar petir Nadia menyentuh jantungnya yang hampir saja meledak dan juga kedua pipinya yang merah tomat. "Nona baik-baik saja?" Tanya si pria tersebut.
"Hhhmm? kamu barusan bilang apa?".
"Nona baik-baik saja?".
"Emang aku kenapa?".
__ADS_1
"Wajah nona sangat memerah, makannya saya bertanya kalau nona baik-baik saja atau tidak".
"Hahahahah.. Aku baik-baik saja" Jawab Nadia langsung menutup wajahnya dengan tangan sambil berteriak dalam hatinya. "Aarrkkk.. Aku sangat malu sekali".