
Begitu David mematikan ponselnya ia tertawa kembali melihat Bagas dan Vincen yang sedang melihatnya. Kemudian David menyuruh salah satu anak buahnya itu mengambil pistol dari dalam laci ruang kerjanya. "Inih tuan" Berinya.
David melihat pistol kesayangannya itu, pistol itu adalah pemberian Beyonce setelah ia di perbolehkan menggunakan benda tersebut. "Kalau sampai peluru pistol ini menembus jantung Hendrawan. Menurut kalian, apa dia akan mati?".
Vincen menyeringai, "Aku ingin sekali kalau aku sendiri yang akan menembakkan peluru itu tepat di jantung Hendrawan" Geram Vincen. "Apa tuan benar-benar ingin bertemu dengannya?".
"Dia tidak akan berani datang sendiri, paling dia akan menyuruh seseorang datang kesana. Tapi kita lihat saja nanti, apa dia akan datang atau tidak".
"Kami akan pergi bersama dengan tuan" Ucap Bagas menyambar pistolnya. "Kami tidak akan membiarkan tuan pergi sendiri. Ayo Vincen".
"Mmmmm" Angguk Vincen.
David mendengus, "Terserah kalian saja" Ia langsung bangkit berdiri meninggalkan tempat tersebut bersama dengan Vincen dan Bagas. Namun sesampainya mereka di lokasi yang tadi David ucapkan, ia tidak melihat Hendrawan menunggunya disana. "Kalian tunggu disini saja" David keluar dari dalam mobil. Ia berdiri di ujung jalan yang sepi melihat sekitarnya.
Tidak lama kemudian, ia melihat tiga mobil berhenti di hadapannya. Lalu ia melihat Hendrawan menuruni mobilnya menggunakan kaca mata hitam. David tertawa, "Kamu lama sekali, aku sudah menunggu mu terlalu lama" Ucapnya melihat orang suruhan Hendrawan keluar dari dalam mobil dengan berbagai benda di tangan mereka masing-masing.
Hendrawan menyeringai melap kaca mata hitamnya, kemudian melihat David berdiri di hadapannya. "Sekarang katakan mau mu apa? aku tidak perduli dengan mu lagi, aku mau kamu segera menceraikan putri ku. Kami sudah menyiapkan laki-laki dari keluarga terpandang untuk calon suami putri ku, tidak seperti kamu" Ejek Hendrawan.
"Benarkah? silahkan. Aku tidak akan melarang mu, sekarang apa putri mu mau menceraikan ku? aku rasa itu tidak akan pernah terjadi. Kamu mau tau alasan apa? karna putri mu yang polos itu sangat mencintai ku hahahhaha".
"Iiissss" Geram Hendra mengepal.
"Ck, orang tua macam apa kamu ini? kamu pikir putri mu itu benda yang bisa kau perjual-belikkan?. Kasihan sekali Nadia memiliki orang tua seperti mu? bahkan ia memiliki seorang ayah yang tidak pernah mengakui putrinya sendiri di depan orang lain. Dan sekarang kamu menganggapnya sebagai putri mu? Wah, kamu benar-benar luar biasa. Seandainya aku jadi Nadia, aku sudah lama pergi meninggalkan keluarga seperti kamu dan juga istri mu".
"Hentikan" Teriak Hendra. Lalu ia mendekati David, ia mengeluarkan sebuah pistol dari dalam jas. Namun David bukannya takut, ia malah tertawa kencang tepat diwajah Hendrawan. "Sial, kamu benar-benar manusia monster".
"Sudah dari dulu. Apa kamu baru menyadarinya mmmm?".
__ADS_1
Hendrawan langsung menodong pistolnya di kapala David, "Kalau kamu tidak menceraikan putri ku dan mengembalikan para investor Vora group. Maka aku akan menarik pelatuk pistol ini".
"Silahkan kalau kamu bisa, aku ingin melihat seberapa hebatnya seorang Hendrawan menembak ku. Ayo silahkan".
"Baiklah, aku akan membunuh mu sekarang juga. Tapi sebelum aku menembak mu, aku akan membiarkan mengucapkan kata terakh..
Doorr.. Doorr
Hendrawan membulatkan mata, ia melihat kebelakang dimana kedua orang suruhannya itu tertembak sangat menggenaskan terkapar diatas aspal. "Siapa kalian?" Teriaknya. David tertawa dari belakangnya, lalu Hendra menodong pistolnya itu lagi di kepala David, tetapi David yang tidak ingin tinggal diam, ia langsung menendang kedua kakinya hingga ia terjatuh. "Ayo bunuh mereka" Teriak Hendra.
Namun mereka tidak ada yang bergerak, mereka sangat ketakutan melihat Bagas dan Vincen mengenakan pistol yang belum pernah mereka lihat. "Maafkan kami tuan, sebaiknya kita mundur. Kami tidak mau seperti mereka".
"Aarrkkhh, kurang ajar. Kalau kalian tidak membunuh mereka, maka aku sendiri yang akan membunuh kalian semua" Teriak Hendra menembak mereka. Tetapi David telah duluan menendang tangan kanan Hendra sampai pistol itu tercampak dihadapan kelima orang suruhannya itu, yang masih tersisa. "Cepat ambil pistol itu, tembak mereka!".
Namun bukannya memungut pistol tersebut, mereka malah berlari memasuki mobil meninggalkannya seorang diri. "Bagus" Tawa David menginjak tangan kenan Hendra.
"Aarrkkhhh" Teriaknya kesakitan.
"Aarrkkhhh, hentikan".
"Aku bertanya, harusnya kamu menjawab ku bajingan" Kesalnya.
"Hentikan, aarrkkhhh".
"Sebelum kamu menjawab pertanyaan ku aku tidak akan melepaskannya. Apa rasanya sangat sakit?".
"Sakit, rasanya sangat sakit aarrkkhhh" Jawab Hendrawan menarik tangannya.
"Hahahahha" Tawa David. Lalu ia berjongkok dihadapan Hendra sambil mengeluarkan pistolnya dari dalam jaket. "Hendra, kamu tau merek pistol ini apa? kalau sampai peluru pistol ini mengenai jantung mu. Kamu tau apa yang akan terjadi?" Senyumnya melihat wajah garang Hendrawan.
__ADS_1
"Kamu tidak akan akan bernyawa lagi, meskipun kamu memanggil semua dokter terhebat di dunia ini, kamu tetap tidak bisa di selamatkan, dan kamu akan berakhir di bawah tanah, dan tubuh mu ini akan menjadi santapan para cacing hahahah, itu cerita yang sangat menyedihkan" Tawa David kembali bangkit berdiri.
Kemudian ia melihat suruhan Hendrawan tadi, "Ckckck, sayang sekali nyawa mereka berakhir seperti ini hanya karna dirimu. Apa mereka memiliki keluarga? cepat beritahu istri mereka kalau mereka sudah meninggal dunia karna kebodohan mu. Dan jangan lupa beri keluarganya uang pasangon yang kamu janjikan".
Setelah itu David memasuki mobil bersama dengan Bagas dan Vincen, lalu pergi meninggalkan Hendrawan yang masih tergeletak diatas aspal tersebut sambil berteriak "Aarrrkkkhhhh...Aarrkkhhh..." Hendra menghubungi asistennya, ia segera menyuruhnya datang kesana.
.
Di markas, David menyandarkan tubuhnya diatas sofa. Ia menghela nafas berat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Tuan, minumlah" Ucap Bagas memberikan sebotol air putih.
"Mmmmm" Gumam David menyambar botol minum tersebut, ia langsung meneguknya sampai habis.
"Kenapa tuan tidak membunuhnya?" Tanya Vincen. "Kalau tuan tidak bisa, tuan bisa meminta kami membunuhnya".
"Kalau aku membunuhnya, Nadia akan semakin sedih. Jadi biarkan saja dia hidup, tapi bukan untuk kedua kalinya, kalau saja dia masih ingin mengusik hidup ku, maka aku benar-benar akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri".
"Melihat Hendrawan menodong pistolnya, saya benar-benar ingin menembaknya langsung" Kesal Bagas.
David tersenyum tipis, ia menyambar rokok yang tadi ia tinggalkan, namun saat ia ingin membukanya, ia merasa kalau seseorang tadi membuka penutup rokoknya. "Ada apa tuan?" Tanya Bagas.
"Kamu periksa ini" Jawab David memberikan rokok itu ditangan Bagas.
Bagas langsung menerimanya dari tangan David, ia segera membuka lalu mencium aroma rokok tersebut untuk memastikan kalau rokok itu baik-baik saja atau tidak. "Ada apa Bagas?" Tanya Vincen.
"Kamu coba hirup aromanya" Jawab Bagas memberikan ditangan Vincen.
Vincen pun segera menghirup aroma rokok tersebut dengan kening mengerut, "Narkoba tuan, seseorang telah menukar rokok ini" Ucap Vincen memberitahu David.
David tertawa, "Berikan, kamu panggil mereka semua kemari".
__ADS_1
"Baik tuan" Marah Vincen memanggil mereka semua.