Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 99


__ADS_3

Sesampainya mereka disana, David melirik jam kini sudah menunjukkan pukul 5 pagi, ia meminta kepada anak buahnya itu untuk menunggu disana dan juga Bagas. Lalu David mendekati gudang tua itu, ia melihat orang suruhan Gery sedang berjaga di depan gudang tersebut dengan senjata yang ada ditangan mereka masing-masing.


Kemudian David menghitung mereka sekitar tujuh orang banyaknya. "Tidak terlalu banyak" David memanggil Bagas. "Bagas, aku akan masuk kedalam melalui jalan sebelah sana, bisa kalian bereskan ketujuh orang itu?".


"Mmmm, serahkan mereka kepada kami tuan".


"Terima kasih Gas" David berlari menuju tempat itu dengan pistol di tangan kanannya, namun saat ia hendak ingin masuk melalui jendela, ia melihat dua orang suruh Gery berjaga disana. Tidak menjadi masalah, tampa menimbulkan suara sedikit pun, David melakukannya seperti bisanya dari belakang mereka.


"Kamu siap..


BBBUUNNGGHHH.. BBBUUNNGGHHH..


Tidak membuang banyak waktu, kedua orang itu telah terkapar dibawah tanah. David langsung menyembunyikan pistol mereka dibawah tong kosong yang berada di samping kedua orang tersebut. Kemudian David membuka jendela, terlebih dahulu ia melihat kedalam untuk memastikan disana tidak ada suruhan Gery yang berjaga, setelah merasa tempat itu sudah aman baru David melompat kedalam kamar mandi itu.


Dengan langkah pelan, David berjalan kearah pintu, ia membuka sedikit melihat orang suruh Gery terlihat sangat banyak berjaga disana dan juga Nadia yang terikat diatas kursi. Sedangkan ketiga orang itu sedang menikmati alkohol mereka diatas sofa usang sambil tertawa yang tidak David ketahui apa yang sedang mereka obrolkan.


Melihat mereka, dengan sangat marah David mengepal kedua tangannya, "Steven, aku benar-benar akan membunuh mu hari ini juga" Umpat David. Lalu ia melihat tembok di samping kamar mandi, David pun segera berpindah kesana dengan senjata yang selalu ia genggam. "Bertahanlah Nadia, aku akan menyelamatkan mu" Lihatnya kearah salah satu orang suruhan Gery berlari masuk kedalam memberitahu sebuah anggota kelompok sedang menyerang mereka.


"Apa?" Teriak Gery marah.


"Iya tuan...


BBBRRAAKK..


Tendang Bagas di pintu mereka membawa salah satu orang bawahan Gery masuk kedalam, lalu membuangnya dihadapan Steven. "Hay, apa kabar mu tuan Steven yang terhormat" Seringai Bagas.


Steven tertawa, ia melihat Bagas tidak mengenal takut sama sekali kepadanya yang hendak akan membunuhnya. "Dimana David? aku lebih membutuhkannya dari pada kamu meskipun kalian berdua akan mati bersama?" Tanya Steven mengeluarkan sebuah alat peledak dari dalam jaketnya.


Bagas membulatkan mata, "Suruh dia datang kemari sebelum aku meledakkan wanita it..


"Aku disini" Jawab David dari belakang, ia keluar dari tempat persembunyiannya, lalu melihat Nadia yang sedang melihatnya dengan luka lebam di mata dan juga di sudut bibirnya.


"Da-david?".


"Mmmmm" Senyum David. "Maaf aku datang terlambat".


"Tidak, kenapa kamu datang kemari? kamu harus pergi dari sini, mereka akan membunuh mu. Ayo cepat pergi dari sini David".


"Tidak Nadia, aku tidak akan meninggalkan mu disini. Aku datang kemari untuk menyelematkan mu" Jawab David melihat Steven dan Gery. "Sekarang lepaskan dia, biarkan dia pergi dari sani. Mari kita selesai masalah ini tampa ada dia".


"Hahahahah" Tawa mereka melihat asmara David dan Nadia. Kemudian Steven bertepuk tangan, "Aku tidak menyangka kalau kamu sangat mencintai wanita itu, kini aku percaya dengan perkataan Yanto. Kemarin aku sempat tidak mempercayainya, kalau seorang David yang terkenal dengan playboy tiba-tiba mencintai seorang wanita apalagi wanita itu adalah musuhnya sendiri hahahaha".


"Hentikan, sekarang lepaskan dia. Biarkan dia pergi".


"Kenapa harus buru-buru David? akan lebih menyenangkan kalau dia melihat mu mati di hadapannya. Bukankah begitu nona cantik?" Senyum Steven.

__ADS_1


"Tidak" Geleng Nadia. "David pergilah, jangan pedulikan aku, kumohon ayo pergi David" Teriak Nadia meneteskan sebutir air mata. "Kumohon David pergilah".


David mencoba mendekati Nadia, namun Steven telah duluan mengancamnya kalau saja ia berani mendekati Nadia, ia akan menekannya. David menutup mata, dengan sangat marah ia meremas pistolnya lalu menembaki salah satu suruhan Gery sampai ia berada di hadapan Steven dengan pistol di kepalanya. "Aku sudah bilang bajingan lepaskan dia sebelum aku melubangi kepala mu ini" Tegas David menatapnya tajam.


"Coba saja kalau kamu berani, maka wanita itu yang akan menjadi taruhannya" Seringai Steven melihat anak buah David dan orang suruhan Gery sedang menodong pistol kearah mereka berdua. Lalu ia melihat Bagas yang sedang menatapnya dengan tajam, "Hari ini semuanya akan berakh..


"Stop!!" Teriak Nadia melihat Steven hendak menekan alat peledak di tubuhnya. lalu Ia melihat mereka semua siap tembak menebak satu sama lain tampa memikirkan nyawa mereka yang akan melayang. "Sebaiknya kalian bersiap-siap saja, polisi sedang menuju kemari".


Gery menatapnya tajam, "Wanita sialan" Teriaknya mendatangi Nadia.


Doorrr..


Gery menghentikan langkahnya, ia melihat David yang baru saja memberinya peringatan kalau saja dia berani menyentuh Nadia. "Lepaskan dia".


Steven tersenyum, "Baiklah, aku akan melepaskan wanita itu. Tapi sebelumnya kamu harus meletakkan pistol itu dulu dan juga milik anak buah mu. Bagaimana? apa kamu akan melakukannya".


"Tidak tuan, jangan lakukan itu. Tuan sudah berjanji kalau kita akan kembali dari sini dengan keadaan selamat" Teriak Bagas melihat David hendak melepaskan senjatanya.


"Maafkan aku Bagas" David pun akhirnya melepaskan senjatanya menatap Steven yang sedang tersenyum senang tampa ia sadari kalau David langsung memukul wajahnya dan juga David menendang tangan kanannya sampai alat peledak tersebut tercampak tepat di hadapan Nadia. "Nadia tekan tombol merah" Teriak David.


"Yaah..." Teriak Gery mencoba merampas alat tersebut.


Doorrr..


BBBUUNNGGHHH... BBBUUNNGGHHH...


Dooorrr... Dooorrrr... Doorrr....


Sedangkan Steven dan David sedang aduh jotos mereka berdua, begitu juga dengan Bagas dan Yanto. Mereka semua sama-sama kuat, hingga beberapa anak buah dari mereka telah terkapar diatas lantai dengan darah bercucuran dari tubuh mereka masing-masing. Namun saat Bagas dan Yanto saling serang menyerang, ia melihat David sedang di bidik oleh Gery hendak menembak. "David awas" Teriak Bagas berlari kearahnya.


Doorrr.. Doorrr.. Doorrr..


"Aahhh" Muntah Bagas mengeluarkan darah dari dalam mulut melihat David dengan wajah kesakitan. "Tu-tuan" Bagas terjatuh.


"Tidak..!! Bagas, bukan mata mu Bagas" Panggil David memukuli wajah Bagas meneteskan air mata. "Bangun Gas, ayo bangun Bagas" Teriaknya mengepal tangan semakin marah melihat Gery dan Steven dengan mata singa kehausan. Tetapi saat itu juga ia melihat Nadia berada di tangan Yanto dengan tawa menakutkan menodong pistol di kepala Nadia.


"Hahahhaha" Tawa Steven mendekatinya, namun Bagas yang belum sepenuhnya mati, ia membuka mata itu kembali meskipun ia hampir saja kehabisan Darah. Lalu Bagas menyambar pistolnya yang berada di sebelah kaki David, sambil berusaha bangkit berdiri ia menarik pelatuk pistolnya mengarah kepada Yanto.


Doorrr.. Doorrr.. Doorrr..


"Nadia" Kaget David, ia langsung berlari kearah Nadia membawanya bersembunyi di baling tong. Kemudian David melihat Steven yang sangat marah menembaki jantung Bagas sampai ia merasa puas melihat Darah itu bercucuran. "Steven!" Umpat David meremas pistol. "Nadia kamu tunggu disini".


"Kamu mau kemana David?".


"Membunuhnya".

__ADS_1


"Tidak, kamu tidak boleh keluar David, kumohon. Polisi sedang perjalanan datang kemari, jadi aku mohon jangan keluar David hiks".


David tersenyum menggenggam tangan Nadia yang bergetar, "Maafkan aku Nadia, aku harus menyelamatkan mereka yang tersisa" Ucapnya melap air mata Nadia.


"Tidak David hiks.. hiks.. Kalau kamu pergi aku akan membenci mu seumur hidup ku" Tahan Nadia dengan erat di tangan David.


"Sekali lagi maafkan aku Nadia" David melepaskan tangannya, lalu berlari kearah Steven hendak memukulnya dari belakang. Namun Gery telah duluan menembaknya tepat di bagian jantung David. "Aahhh" Pekik David menyentuh bekas tembakan tersebut.


"Aaaa, tidak aarrkkhhh" Tangis Nadia berlari kearah David.


Doorrr.. Doorrr.. Doorrr..


"Tidak" Semakin tangis Nadia mempercepat langkahnya menghampiri David.


Doorrr.. Doorrr..


Melihat David yang bercucuran darah, tidak lama kemudian mereka mendengar suara serenai mobil polisi tiba disana. "Paman ayo, polisi sudah datang kemari" Teriak Gery menarik Steven pergi dari sana.


"Lepaskan Gery, dia masih belum mati".


"Dia tidak akan bertahan lama lagi paman, ayo" Tariknya lagi ditangan Steven hingga pada akhirnya ia mengikuti langkah Gery.


BBRRAAKK..


"Nadia" Kaget Zico. Mereka melihat semua orang itu telah tergeletak diatas lantai dengan darah bercucuran dari dalam tubuh mereka masing-masing. Kemudian Zico menghampiri Nadia yang sedang menangis, "David jangan tinggalkan aku Aaarrrkkhhh, aku mohon David jangan tutup mata mu".


David mengangkat tangan kananya menyentuh pipi Nadia, "Jangan menangis, aku sudah bilang kalau kamu menangis kamu sangat tidak cantik".


"Aku tidak perduli David hiks.. hiks... Kalau kamu tidak ingin melihat ku menangis, maka bertahanlah, mereka sudah disini menyelamatkan kita Aaarrkkhhh".


"Maafkan aku Nadia, maaf untuk semuanya, aku sudah terlalu banyak melukai mu, maka mulai dari sekarang. Berbahagialah tampa aku".


"Tidak David, aku tidak akan bahagia tampa dirimu, kamu adalah kebahagian ku".


"Terima kasih" Senyum David semakin lebar menggenggam tangan Nadia. Kemudian David mengeluarkan darah dari dalam mulutnya, ia terlihat sangat kesakitan. "Nadia" Panggilnya.


"Jangan bicara lagi David, aku tidak ingin mendengar mu aarrkkhhh".


"Aku mencintai mu, aku benar-benar mencintai mu Nadia dan maafkan aku belum bisa menjadi yang terbaik untuk mu".


"Tidak, kamu yang terbaik untuk ku David. Kamu adalah pria yang terbaik dalam hidup ku, sampai kapan pun kamu tetap akan yang terbaik dalam hidup ku. Jadi kumohon David jangan tinggalkan aku hiks, mari kita hidup seperti yang pernah kita bicarakan. Kemarin kamu memberitahu ku kalau kamu sudah menemukan tempat tinggal kita di Swiss, ayo kita pergi kesana David dan memiliki anak seperti yang kita impikan aarrkkhh".


David meneteskan air matanya, "Maafkan aku Nadia Maafkan aku uhuk.." Muntahnya lagi mengeluarkan darah. Kemudian David mengeluarkan foto yang tadi Bagas berikan kepadanya ditangan Nadia. "Tolong kamu taruh ini dikamar ku, dan tinggallah dikamar itu supaya aku bisa melihat mu setiap kali aku merindukan mu Nadia" David menarik nafas, lalu menghembuskan itu sebagai nafas terakhirnya.


"Aaaa, tidak tidak, David buka mata mu David, buka mata mu David Aarrkkhh.. aarrkkhhh... aarrkkhhh" Teriak Nadia mengguncang tubuh yang tidak berdaya itu lagi di hadapan Zico, Bayus, Diva, Raka, Rico dan Larisa dengan wajah turut berduka.

__ADS_1


__ADS_2