Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 38


__ADS_3

2 hari kemudian, Nadia telah di perbolehkan kembali pulang. Dengan senyum mengembang di wajah Nadia, ia mengucapkan terima kasih banyak kepada sang dokter yang sudah merawatnya selama disana.


"Zico, kita jadi kerumah mu kan? aku sudah sangat rindu menikmati masakan tante".


"Iya, tadi aku sudah memberitahu mama kalau hari ini kamu keluar rumah sakit. Ayo" Dorong Zico di kursi roda Nadia.


.


Saat ini kedua orang tua Nadia sedang sibuk mempersiapkan acara tunangan Elisa dengan Riwan yang akan dilaksanakan malam ini juga di kediaman keluarga Hermawan.


"Pa, apa tidak sebaiknya kita mengudang Nadia dan suaminya?".


"Tidak usah ma, biarkan saja. Oohh iya, papa lupa memberitahu mama".


"Apa itu?".


"David ternyata keponakan tuan Robert".


"Apa?".


"Iya ma. Papa juga baru-baru ini tau itu".


"Ini serius pa? keponakan kandung tuan Robert?".


"Iya ma, papa juga saat itu sangat terkejut sekali ketika tuan Robert memberitahu kalau David adalah keponakannya".


"Terus, kenapa David tidak memberitahu kita selama ini Pa?".


"Papa juga enggak tau ma, sepertinya mereka juga tidak terlalu dekat. Tapi ya sudahlah, berurusan dengannya membuat ku merinding".


"Hhhmmmsss.. Kalau gitu, mama naik dulu pak. Mama mau bantu-bantu Lisa dulu".


"Iya ma".


Di lantai atas ia melihat putrinya Elisa sedang sibuk memilih pakaian yang cocok ia pakai di malam hari nanti.


Tok.. Tok..


"Mama masuk Lisa!".


"Iya ma. Kebetulan sekali ni, Lisa lagi bingung memilih baju yang cocok untuk Lisa pakai nanti malam. Menurut mama, Lisa cocok pakai yang mana?".


"Mmmmmm" Gumamnya memikirkan yang cocok di tubuh Elisa. "Menurut mama cocokan yang ini, coba kamu pakai".

__ADS_1


"Kalau gitu Lisa langsung coba ya ma".


"Iya sayang".



"Ma" Senyum Elisa. "Bagaimana ma? Lisa cantik enggak?".


"OMG.. Putri mama sangat cantik sekali, kamu benar-benar bak putri seorang raja sayang" Senang sang mama menatap putri sulungnya itu dengan tatapan kagum.


"Benarkah ma?".


"Iya sayang, kamu benar-benar cantik sekali. Mama yakin, begitu Riwan melihat mu nanti malam, rasa cintanya akan semakin bertambah kepada mu".


"Aahh.. Mama bisa aja" Senyum Nadia membayangkan Riwan menatapnya dengan tatapan kagum.


"Iya sayang. Sekarang kamu bersiap-siaplah, ini sudah pukul 5 sore lewat. Jam 7 nanti acara sudah di mulai" Ucapnya memberitahu Elisa.


"Iya ma".


"Mmmmm.. Mama tinggal yah, mama juga mau bersiap-siap dulu".


"Iya ma".


"Masih ada waktu 30 menit lagi" Jawab Riwan tetap menandatangi berkas tersebut.


"Tapi tuan acaranya 7 malam, dan juga tuan Robert dan nyonya sudah menelpon sedari tadi".


Riwan mendengus melirik jam tangannya, lalu ia meletakkan pulpennya. "Baiklah, ayo" Geraknya berdiri dari kursi kebesarannya.


Setibanya mereka dirumah, ia melihat Robert menunggunya di depan pintu rumah dengan tatapan marah. "Maaf pa, tadi pekerjaan di kantor sangat banyak".


Robert mencoba menahan emosi, lalu ia menyuruh Riwan segera bersiap-siap karna sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Riwan naik dulu pa" Riwan langsung pergi dari hadapan Robert menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Ceklek!


Riwan menatap kamarnya, ia terlihat sangat lelah sambil berjalan kearah rak buku yang berada di dalam kamarnya. Kemudian Riwan mengeluarkan selembar foto dari dalam sana, ia melihat gambar wanita cantik yang selama ini ia cintai yang tak lain adalah Nadia Zaliva.


"Nadia, aku sudah lama mencintai mu sebelum aku mengenal Elisa. Tapi kenapa kamu malah menolak ku saat itu juga? aku mencoba mendekati kakak perempuan mu untuk membuat kamu cemburu, namun kamu malah jauh lebih mendukung ku bersamanya. Dan sekarang aku akan bertunangan dengannya dan minggu depan kami akan melangsungkan kepernikahan meskipun sudah berbagai macam cara aku lakukan untuk membuat kami berpisah, orang tua kita selalu menyatukan kami berdua".


Riwan menghela nafas berat, "Kini saatnya aku harus melupakan mu. Selamat tinggal Nadia Zaliva" Riwan langsung membakar gambar Nadia diatas balkon kamarnya. Setelah itu ia memasuki kamar mandi.

__ADS_1


.


Penuh dengan tawa kebahagian di wajah Nadia, ia sangat bahagia bisa singgah di kediaman keluarga Zico yang sangat baik dan ramah kepadanya. "Oohh iya tante om, ini sudah jam 6 lewat Nadia pamit pulang dulu yah".


"Iya sayang. Zico, anterin Nadia ya nak"


"Iya ma" Angguk Zico bangkit berdiri membantu Nadia. Namun dengan cepat Nadia melepaskan tangan Zico. "Kenapa Nad?".


"Kamu ada-ada saja Co" Geleng Nadia tersenyum. "Pamit ya tan om".


"Iya sayang" Nadia dan Zico segera meninggalkan kediaman keluarganya.


Di dalam mobil Zico bertanya kepadanya Nadia alasan ia tidak memberitahu kepada orangnya tentang ia yang menjadi seorang polisi dan juga tentang apa yang terjadi padanya saat ini.


"Sejak dari dulu mereka tidak pernah setuju kalau aku masuk polisi Co. Seandainya aku memberitahu papa dan mama, mereka pasti akan sangat marah, bahkan..." Gantung Nadia mengingat pertemuan mereka waktu di dalam restoran bersama dengan David dan pamannya yang saat itu juga dia tau. "Aahh.. Sudahlah Co, ada saatnya nanti aku memberitahu mereka".


"Tapi ada baiknya sekarang kamu memberitahu mereka Nad. Percaya sama ku, mereka pasti sangat bangga punya putri kebanggan negara seperti kamu".


Nadia tersenyum, "Kalau aku memberitahu mereka, itu tandanya kamu siap kehilangan aku".


"Maksud kamu?".


"Mmmmm.. Mereka akan memaksa ku keluar dari polisi" Zico langsung terlihat kesal dengan nafas berat.


Kini mereka telah tiba di kediaman keluarga Hendrawan. Nadia tampak kebingungan melihat sekitar rumahnya yang di penuhi dengan lampu dan juga tamu-tamu undangan Hendrawan membuat mobil sedang antri di depan pintu gerbang. "Kenapa rumah mu ramai sekali Nad?".


"Tidak tau Co, aku turun disini saja yah" Keluar Nadia dari dalam mobil Zico begitu juga dengan Zico yang ikut keluar dari dalam mobilnya. Lalu ia melihat poster Elisa dan Riwan di depan tembok rumahnya dengan caption selamat berbahagia. "Kak Lisa dan kak Riwan tunangan? tapi kenapa mama dan papa tidak memberitahu ku?" Gumam Nadia berkaca-kaca.


"Ada apa Nad?"


Dengan cepat Nadia melap air matanya, "Itu Co, kak Lisa tunangan hahahha.. Aku bodoh sekali, bagaimana bisa aku melupakan kalau hari ini adalah acara pertunangan kak Lisa" Jawabnya.


"Oohh.. Selamat ya Nad, aku turut bahagia".


"Iya Co terima kasih banyak".


"Iya, kamu masuklah. Aku balik duluan yah, sampai kan salam ku sama om dan tante".


"Mmmm.. Hati-hati dijalan dan terima kasih banyak sudah menemani ku beberapa hari ini Zico".


"Iya Nad" Angguk Zico kembali masuk kedalam mobil.


Kemudian Nadia mengeluarkan ponselnya, ia melihat tidak ada satu pun pesan yang masuk atau panggilan tak terjawab dari kedua orang tuanya atau pun Elisa. "Segitunya kah mereka tidak menganggap ku lagi? lalu aku ini siapa? bagaimana bisa mereka setega itu hiks.. hiks...." Tangis Nadia tak perduli dengan orang yang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2